CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 40


__ADS_3

Hati kecil Thania sebetulnya tidak ingin jika Sefti harus merasakan dinginnya jeruji besi atau hal buruk lainnya, namun bagaimanapun Sefti harus mendapatkan balasan dari apa yang telah ia perbuat untuk mendapatkan efek jera sehingga suatu saat ia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sefti tiba-tiba bertekuk lutut di kaki Randy dengan mengatupkan kedua tangannya agar ia tidak di hukum dengan cara apapun namun Randy tetap tidak bergeming malah meminta orang dia untuk membawa Sefti ke tempat yang telah di sepakati sebelumnya membuat Sefti histeris dan meminta pertolongan pada Thania agar ia tidak di bawa namun Thania pun tidak dapat berbuat apapun karena tindakan Sefti sudah di luar batas. Thania hanya dapat melihat Sefti di seret untuk naik ke dalam mobil dengan terus berteriak dan memberontak membuat orang-orang yang berada di sana ikut memperhatikan Sefti bahkan ada yang mengabadikannya dengan ponsel, setelah Sefti hilang bersama mobil itu Thania beranjak menuju ke kamar Putri lagi namun karena kaki nya masih terasa sakit akhirnya Thania hendak terjatuh namun tertahan oleh Chiko yang baru sampai di sana dan hendak ke kamar Putri.


"Apa kamu tidak apa-apa?" kata Chiko.


"Ah tidak hanya pergelangan kaki ku sedikit sakit," jawab Thania melepaskan pelukan Chiko dengan wajah memerah.


"Mau aku antar ke dokter?" tanya Chiko.


"Tidak usah nanti juga hilang sendiri," jawab Thania cepat dan hendak pergi.


Tiba-tiba Thania hendak jatuh kembali dan dengan sigap Chiko menahan Thania lagi, "Kamu tidak sedang baik-baik saja dan aku akan membawamu ke dokter jangan membantah lagi," kata Chiko lalu menggendong Thania.


Thania sontak kaget karena Chiko tiba-tiba menggendong nya ia juga berusaha memberontak untuk turun namun Chiko tidak menghiraukannya dan malah mempererat pegangannya agar Thania tidak terjatuh dan berjalan lebih cepat. Thania pun hanya menyembunyikan wajahnya di dada Chiko karena mereka saat ini tengah menjadi perhatian orang-orang disana. Setelah sampai di depan ruangan dokter Chiko segera menurunkan Thania pelan dan menyuruh Thania untuk duduk terlebih dahulu lalu Chiko mencari perawat untuk membantu Thania. Selang lima menit kemudian perawat pun menghmapiri Thania dengan membawa kursi roda dan mendorong nya ke dalam ruangan dokter sedangkan Chiko menunggu nya di luar, saat di periksa tulang kaki Thania ternyata sedikit bergeser karena saking kencangnya ia terjatuh yang di sebabkan oleh kaki Sefti yang menangkisnya sehingga kaki Thania harus memakai perban khusus untuk beberapa minggu agar tulang kaki nya kembali ke tempat semula dan bormal kembali. Thania pun semakin geram dengan tingkah Sefti yang terlalu kekanak-kanakan sehingga membuat kaki nya bermasalah, setelah selesai dokter memberikan resep untuk obat oral nya agar Thania tidak terlalu merasakan sakit dan Thania pun segera menuju keluar yang di bantu perawat.


Saat Thania keluar ternyata chiko masih setia menunggunya di depan pintu ruangan tempat ia di periksa sehingga membuatnya tidak enak.


"Makasih ya sus saya disini dulu saja?" kata Thania keoada perawat yang mengantarnya.


"Kenapa kamu masih disini?" tanya Thania pada Chiko.


"Aku menunggumu, apa yang terjadi dengan kakimu?" kata Chiko saat melihat kaki Thania memakai perban.


"Ini hanya terjatuh saja," jawab Thania singkat.


"Hmm baiklah lain kali hati-hati ya, oh ya perkenalkan namamu Chiko." kata Chiko tersenyum.


"Aku Thania," jawab Thania membalas senyum.


"Tadi kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu," kata Chiko.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar sahabatku di lantai tiga," kata Thania.


"Baiklah aku akan mengantarmu kesana," jawab Chiko lalu mendorong kursi roda Thania.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Thania.


"Tidak ko kebetulan aku juga akan ke lantai tiga untuk menemui istri sahabatku," kata Chiko sambil menekan tombol lift.


"Baiklah terimkasih ya," kata Thania tersenyum.


Setelah mereka sampai di lantai tiga Chiko segera membawa Thania keluar, Thania pun menunjukkan kamar Putri yang seketika menghentikan langkah Chiko membuat Thania mendongak ke arahnya.


"Ada apa? Kenapa kita berhenti?" kata Thania.


"Sebentar kamu apa sahabatmu bernama Putri?" tanya Chiko.


"Jelas aku mengenalnya dia istri sahabatku juga, wah kebetulan sekali ya," kata Chiko dan kemabli mendorong kursi roda Thania dan segera masuk ke dalam.


Saat mereka masuk ke dalam tampak Putri tengah di suapi bubur oleh Randy dengam mata sembab dan pipi yang sedikit membengkak membuat Thania dan Chiko kaget di buatnya, hal yang sama juga di rasakan Putri dan Randy yang melihat Thania memakai kursi roda dengan kaki yang terbungkus perban membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Thania terlebih ia datang bersama Chiko membuat Randy mengernyitkan dahinya.


"Astaga Than apa yang terjadi denganmu? Kenapa kakimu seperti itu?" kata Putri hendak bangun namun di tahn oleh Randy.


"Iya Ko kenapa kamu bisa datang bersamanya? Apa ini ulahmu?" Selidik Randy.


"Ah tidak ini bukan kesalahan Chiko tadi di pos satpam kakiku di tungkas oleh Sefti sangat keras sehingga aku terjatuh dan Chiko tadi membantuku saat aku hampir terjatuh saat aku hendak kesini lalu membawaku ke dokter yang akhirnya kakiku memakai perban seperti ini untuk beberapa minggu karena tulangnya sedikit bergeser," jelas Thania.


"Jadi ini ulah Sefti lagi? Anak itu betul-betul biang masalah ya sepertinya," kata Chiko dengan nada tinggi.


"Bisakah lo memelankan suaramu karena ini rumah sakit bukan di dalam hutan tempat tinggal lo dulu," kata Randy yang mendapatkan pukulan pelan di tangannya dari Putri.

__ADS_1


"Enak aja lo pikir gue monkey apa!" jawab Chiko kesal.


"Kalian itu ya dari tadi debat terus gak cape apa?" kata Putri melerai.


"Iya tuh Put suamimu dari tadi selalu mengejekku," adu Randy.


"Emang bener kenyataannya begitu kan? Sayang dia yang duluan ko dari tadi," bela Randy dan memegang tangan Putri.


"Aduuhh stop! Kalau kalian terus seperti ini lama-lama aku gak akan sembuh-sembuh tau gak?!" teriak Putri.


"Nah kan lo sih," kata Randy lagi.


"Kenapa nyalahin gue? Kan lo yang duluan," jawab Chiko.


"Aku bilang stop! Kalau kalian masih mau berdebat silahkan keluar," teriak Putri lagi yang membuat Randy dan Chiko terdiam.


Thania dan bi Sumi yang menyaksikan itu hanya bisa menahan senyum karena Randy dan Chiko seperti anak kecil yang habis di marahi oleh ibunya sehingga membuatnya tertunduk lesu tidak dapat berkata apa-apa lagi, di tambah Putri adalah satu-satunya orang yang berani membentak Randy orang nomor satu di Bandung hingga membuatnya patuh dan diam begitupun dengan Chiko.


Suasana saat itu menjadi hening sangat hening sehingga membuat Thania dan bi Sumi saling pandang melihat Putri yang masih tampak kesal sambil memainkan ponsel nya, Randy yang masih tertunduk diam dengan bersedekap tangan dan Chiko yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Thania pun berinisiatif untuk pulang lebih dulu karena ia tidak enak dengan kondisi nya yang di rasa sedang tidak bersahabat.


"Ehem maaf sepertinya aku harus pulang lebih dulu karena kakiku semakin sakit, Put kamu cepet sembuh ya nanti aku kesini lagi kalau kakiku sudah sedikit membaik" kata Thania tersenyum.


"Baiklah kamu juga hati-hati ya maaf kamu jadi ikut celaka karena masalahku, kamu pulang sama siapa?" kata Putri.


"Aku akan pulang sendiri," jawab Thania cepat.


"Biar aku yang mengantarmu pulang, ayo," kata Chiko memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


Belum sempat Thania menolak kursi rodanya langsung di dorong oleh Chiko yang tampak masih kesal dengan Randy dan hanya berpamitan pada Putri saja dan Putri pun menganggukan kepalanya dan menitip pesan pada Chiko agar menjaga sahabatnya dengan baik yang mendapat acungan jempol dari Chiko.

__ADS_1


__ADS_2