CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 47


__ADS_3

Langit sudah mulai menampakkan kecerahannya dan burung-burung berkicau saling bersautan mengiringi langkah Putri dan Randy yang baru saja sampai di pelataran rumah Lira yang kini telah penuh dengan pelayat yang mendoakannya dan memberikan kekuatan untuk ibu Lira yang kini tinggal sendiri setelah kepergian suami dan anaknya Lira. Mata Putri terlihat sudah berkaca-kaca saat ia melihat ibu Lira yang duduk tertunduk di samping jenazah anaknya yang sudah kaku, akhirnya Putri berlari dan langsung memeluk ibu Lira menumpahkan seluruh air matanya di pelukan ibu yang sudah ia anggap ibu kandungnya sendiri.


"Bu maafkan Putri yang baru datang sekarang maafkan Putri juga tidak ada di saat Lira menghembuskan nafas terakhirnnya," kata Putri menangis sesenggukan.


"Nak Putri... Tidak apa-apa sayang Lira sudah tenang disana," kata ibu Lira mengusap punggung Putri.


Thania yang baru saja keluar dari kamar mandi pun segera menghampiri berhambur memeluk Putri dan ibu Lira, "Putri.." kata Thania dengan suara bergetar.


"Than... Lira Than... Kenapa dia begitu cepat meninggalkan kita? Dia berjanji padaku akan menyaksikan anakku lahir, tapi...." kata Putri yang sudah tidak sanggup lagi berbicara.


"Ssst sudah Put, Lira sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi dia sudah bahagia sekarang," jawab Thania berusaha menenangkan Putri meski dirinya pun begitu kehilangan Lira.


"Bu bolehkah aku melihat Lira untuk yang terakhir kalinya?" ijin Putri pada ibu Lira dan langsung mendapat anggukan.


Segera Putri membuka penutup wajah Lira dengan tangan yang gemetar seketika Putri tersenyum di tengah tangisnya saat melihat jenazah Lira yang begitu tenang seperti halnya orang yang sedang tertidur pulas dan sedikit senyuman di sudut bibir Lira, Putri menghapus air matanya dan mencium pipi Lira untuk yang terakhir kalinya ia merasa Lira saat ini berada di samping nya menenangkan Putri.

__ADS_1


"Lira kamu orang baik aku yakin kamu akan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, aku akan selalu berdoa untukmu Lira aku menyayangimu sahabatku, " kata Putri dengan tangisannya.


Setelah Putri puas mencium dan menatap wajah Lira Putri kembali menutup wajah Lira dan tertunduk di samping Lira, Randy yang sejak tadi memperhatikan Putri begitu sangat kehilangan sahabatnya itu pun ikut merasakan sesak di dadanya karena ternyata kedekatan Putri bersama kedua sahabatnya itu seperti ikatan persaudaraan, bahkan Putri juga sangat dekat dengan ibu Lira layaknya kedekatan seorang ibu dan anak. Kehangatan yang juga Randy rasakan saat ketiga wanita itu saling merangkul dan saling memberikan ketenangan.


Sebelum jenazah Lira di kebumikan Putri mengaji terlebih dahulu dan mendoakan Lira agar ia tenang di sisi-Nya dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, setelah Putri selesai mengaji Randy menghampiri Putri yang sedang termenung dengn tatapan kosong sedangkn ibu Lira dn Thania sedang menerima pelayat yang terus berdatangan dan mempersiapkan untuk memandikan jenazah Lira.


"Sayang yang tabah ya ikhlaskan sahabatmu menemui-Nya agar ia tenang," kata Randy memeluk Putri.


"Dia sudah ku anggap saudara sayang dia juga selalu memberiku semangat ketika aku terjatuh dan merasa sendiri, dia tidak pernah sedikitpun membuat masalah denganku sekalipun aku terkadang mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya tapi ia selalu memaafkanku dan kembali tersenyum padaku," jawab Putri mengingat kebaikan Lira padanya.


Putri memeluk Randy dengan sangat erat menenangkan dirinya yang terus saja mengeluarkan air matanya setiap kali ia mengingat Lira, saat itu juga datanglah seseorang yang membuat darah Randy mendidih sedang berjalan menghampiri mereka bersama seorang wanita paruh baya.


"Nak Putri," kata ibu paruh baya itu.


Seketika Putri melepaskan pelukannya pada Randy dan mendongak ke atas mengikuti arah suara yang memanggilnya, seketika membuat Putri terkejut saat melihat laki-laki di belakang ibu paruh baya itu dan kembali melihat suaminya yang sedah memasang wajah masam dan amarah yang tertahankan, Putri yang mengerti dengan apa yang di rasakan suaminya itu pun segera memegang telapak tangan suaminya dan tersenyum pada ibu paruh baya itu.

__ADS_1


"Ibu apa kabar," sapa Putri tersenyum.


"Alhamdulillah baik nak, nak Putri apa kabar? Ibu rindu sekali dengan nak Putri," jawab ibu itu dan melirik ke arah Randy.


"Putri juga rindu sekali dengan ibu, oh iya bu perkenalkan ini Randy suami Putri dan sayang perkenalkan ini ibu Feny ibunya kak Dika," kata Putri memperkenalkan keduanya yang membuat bu Feny kaget dan melihat ke arah anaknya yang sedang memperhatikan percakapan mereka.


"Kapan nak Putri menikah?" tanya ibu Feny.


"Lima bulan yang lalu bu dan sekarang Putri sedang mengandung, jika ibu tidak keberatan tiga hari lagi Putri hendak melaksanakan acara empat bulanan di rumah suami Putri di Bandung, ibu datang ya," kata Putri tersenyum.


"Baiklah insyaAllah nanti ibu datang bersama Dika ya," jawab ibu Feny dengan senyuman yang tidak dapat di artikan.


"Baik bu Putri tunggu," jawab Putri.


Randy pun mengajak Putri untuk pergi dari sana dan menghampiri ibu Lira bersama Thania yang berada tidak jauh dari mereka disaat yang bersamaan ibu Feny dan Dika sedang menyusun rencana ketika di hari empat bulanan Putri. Sebetulnya Randy sangat keberatan jika Dika dan ibunya harus hadir di acara empat bulanan Putri, entah kenapa hatinya merasa bahwa ibu nya Dika akan menghancurkan acara empat bulanan Putri namun karena Putri sudah terlanjur mengundangnya Randy akan memperketat penjagaan di rumanya saat acara empat bulanan nanti.

__ADS_1


Putri dan Randy pun kembali di sibukkan dengan proses pemandian jenazah Lira lalu persiapan untuk menshalatkan jenazah dan berlanjut prosesi pemakaman dimana Randy yang ikut membantu mengangkat keranda jenazah Lira menuju ke pemakaman di iringi ibu Lira, Putri dan Thania di belakangnya, ibu Lira juga sangat berterimakasih kepada Randy karena seluruh pembiayaan pemakaman hingga acara tahlilan di tanggung oleh Randy tak hanya itu Randy juga menawarkan ibu Lira untuk tinggal bersamanya di Bandung yang tentu membuat Putri senang karena ia bisa merawat ibu Lira di rumahnya dan kembali dekat lagi dengan ibu Lira. Namun karena baru saja Lira di makamkan ibu Lira pun belum menyetujui tawaran Randy yang memintanya untuk tinggal disana terlebih ia juga tidak ingin meninggalkan rumah yang penuh kenangan dengan Lira dan suaminya sehingga ibu Lira masih merasa berat untuk meninggalkan rumah ini.


__ADS_2