CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 53


__ADS_3

Setelah beberapa saat Randy masuk di dampingi seorang suster untuk berjaga-jaga dan dengan tangan yang gemetar Randy tak kuasa melihat reaksi Putri saat anak yang ia kandung sedang dalam pangkuannya, perlahan Randy berjalan mendekati Putri yang tampak memandangnya dengan tatapan bingung.


"Sayang kamu bawa apa?" tanya Putri dengan suara lemah.


"Sayang ini... ini... ini anak kita," jawab Randy dengan suara gemetar.


Tampak tak ada jawaban dari Putri dan ia hanya menatap suami dan anak dalam gendongan suaminya itu, seketika Putri memegang perutnya yang memang sudah rata kembali seperti sebelum ia mengandung. Putri mulai berkaca-kaca bibir nya seolah terkunci tak mampu berkata apa-apa lagi dan seketika air matanya pun lolos membasahi pipinya.


"Engga kamu bohong itu bukan anakku! Anakku masih belum lahir! Itu bukan anakku!" teriak Putri pada suaminya.


Dengan lembut Randy mendekati Putri dan memperlihatkan bayinya yang sudah tertutup kain kafan, "Sayang tapi ini betul-betul anak kita, ia tidak dapat di selamatkan sayang maafkan aku," jawab Randy dan air matanya kembali lolos.


Seketika Putri menatap suaminya dan ia tidak menemukan kebohongan dalam manik mata Randy lalu kembali menatap anaknya dengan gemetar Putri memegang kain yang menutupi anaknya.


"Nak..." kata Putri lalu mengambil anaknya dari pangkuan Randy.


Dengan perasaan yang hancur Putri terus menggendong anaknya dan air matanya pun terus-menerus lolos semakin membasahi wajah cantiknya.


"Ini semua gara-gara kamu!" kata Putri menatap tajam Randy.


Randy hanya tertunduk lemah tak mampu menyangkal apa-apa lagi karena memang benar ia lah penyebab Putri keguguran. "Maafkan aku sayang," jawab Randy pelan.


"Puas kamu sudah membuat anak kita lahir sebelum waktunya! Puas kamu membuatku hancur! Andai saja kamu tidak mementingkan egomu dan mencoba pergi dariku, mungkin saat ini anak kita masih hidup! Kamu jahat A kamu jahat!" teriak Putri.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!" sambungnya lagi.


"Sayang tapi anak kita harus segera di makamkan," jawab Randy hendak mengambil anaknya dari gendongan Putri.


"Biar aku saja yang memakamkan anakku!" jawab Putri tanpa melihat suaminya.


"Sayang tapi aku juga ingin memakamkannya," kata Randy memelas.


"Pergi.." jawab Putri pelan.


"Tapi sayang," kata Randy tertahan.


"Pergi aku bilang!" bentak Putri menatap suaminya tajam.


"Ran sadar bro!" kata Chiko yang tidak berpengaruh apa-apa pada Randy yang terus menangis.


Chiko pun berinisiatif hendak masuk ke dalam ruangan Putri namun sebelum ia membuka pintu kamarnya, Putri sudah lebih dulu keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda dan menggendong Putrinya.


"Put..." kata Chiko mendekati Putri.


Putri hanya menatap malas Chiko tanpa menghiraukannya dan hanya melewati Randy yang masih meringkuk di lantai rumah sakit, melihat hal itu Chiko pun berspekulasi bahwa ada yang tidak beres antara Putri dan Randy dengan cepat Chiko kembali membangunkan Randy dan membujuknya agar kita mengikuti kemana Putri pergi. Randy pun tersadar dari tangisnya dan ia pun terbangun mengusap air matanya lalu berjalan pelan di bimbing Chiko, orang-orang yang sedang berkerumun di sekitar Randy pun mendapatkan tatapan tajam dari Chiko hingga membuat mereka membubarkan diri tanpa Chiko minta.


Chiko terus memperhatikan perawat yang membawa Putri dan sesekali melihat ke arah Randy yang masih tertunduk, ia mengerti betapa hancurnya Randy kehilangan calon anaknya namun ia juga masih harus mencari tau lebih lanjut penyebab Putri mengabaikan Randy. Setelah mengumulkan seluruh keberaniannya ia mencoba bertanya pada Randy.

__ADS_1


"Ehem bro sorry, apa lo baik-baik saja dengan Putri?" tanya Chiko yang hanya mendapat tatapan dari Randy.


Hening sesaat dan Chiko tidak berani lagi bertanya pada Randy, "Dia mengusirku dan tidak ingin melihatku lagi karena aku penyebab Putri keguguran," jawab Randy tiba-tiba.


Chiko tampak kaget mendengar jawaban Randy dan kini ia mengerti arti dari sikap Putri pada Randy tadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Chiko.


"Dia terjatuh saat mengejarku yang hendak pergi dalam keadaan marah," jawab Randy.


Chiko hanya menarik nafas kasar karena sahabatnya itu kembali melakukan kesalahan dan lagi-lagi egonya membuat rumah tangganya kembali goyah.


"Gue takut kehilangan Putri," sambung Randy.


Chiko kembali menarik nafas pelan, "Kali ini gue gak bisa menjamin Putri bakalan tetap di samping lo bro apalagi kesalahan lo yang menurut gue sudah melewati batas, tapi gue coba ngobrol sama Putri nanti," jawab Chiko.


"Makasih bro," jawab Randy pelan.


"Oke yasudah kita harus segera menyusul Putri yang sudah masuk ke dalam ambulans," kata Chiko cepat.


Mereka pun berlari kecil lalu memasuki mobil Chiko dan langsung menancap gas karena sudah tertinggal mobil ambulans yang membawa Putri dan anaknya. Selama dalam perjalanan tak ada lagi percakapan di antara mereka dan Randy hanya menatap kosong ke depan dan menyandarkan badannya di kursi, Chiko menatap iba sahabatnya itu yang kembali tak berdaya seperti saat dulu ia kehilangan kedua orangtuanya ia pun memutar otaknya bagaimana caranya membujuk Putri agar ia tidak kembali meninggalkan Randy yang sudah mengubah sosok Randy menjadi lebih hangat lagi setelah kepergian kedua orangtuanya meskipun Chiko tidak tau apakah Putri masih tetap ingin bertahan dengan Randy atau malah pergi meninggalkan Randy terlebih Randy telah membuat Putri kehilangan anak mereka, ia tidak bisa menjamin jika kali ini Putri masih tetap kembali ke pelukan Randy namun ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Randy agar ia dapat kembali lagi bersama Putri dan menata kembali rumah tangga mereka yang sudah goyah ini.


Laju mobil ambulans membawa mereka kembali ke rumah Lira dan mobil ambulans berhenti tepat di pekarangan rumah ibu Lira yang kebetulan baru saja pulang dari rumah Dika bersama Thania yang tentunya kedatangan ambulans membuat keduanya bingung hingga akhirnya Putri turun dari ambulans dengan menggendong anaknya yang sudah tertutup kain kafan itu.

__ADS_1


__ADS_2