
anggi sudah selesai belanja di tangan nya sudah penuh dengan tas kresek yang berisi camilan,sayuran,buah dan perlengkapan yang lain.
Tiinnn.....
suara kelakson mobil yang begitu nyaring membuat nya terkejut setengah mati,pantat nya terasa nyeri ketika berciuman dengan aspal yang keras.
"WOY...nyetir pakek mata apa ngak sih,ngak lihat apa orang sampek jatoh" teriak anggi.
anggi merasa ada sesuatu yang hilang dari mulut nya, mata nya melotot ketika sebuah permen lolipop berada tidak jauh dari diri nya.
"tuh kan permen aku jatuh, cuman punya satu lagi, apes banget" gumam anggi yang masih ingin menangisi permen nya.
anggi tau kalau mobil yang barusan lewat itu berhenti, ia tidak peduli kalau memang mau memarahi nya,ia juga akan lebih mengeluar kan amarah nya.
anggi memungut barang-barang nya, seorang lelaki mendekati anggi,anggi memejam kan mata nya mencoba fokus dengan ucapan yang akan di keluar kan.
"MAU APA SEKARANG KAMU TAU SEMUA BARANG AKU BERANTA KAN DAN permen....." bentak anggi,ia menghentikan ucapan nya ketika melihat siapa yang di depan nya sekarang.
anggi menelan salivan nya kasar, ia mengalih kan pandangan nya,malu.
kenapa bisa bos rohan sih,sial banget.anggi membatin.
"anggi" sapa rohan kaget.
anggi melihat rohan dengan senyum man manis.
"maaf bos,tadi kelepasan kirain siapa" anggi sungguh merasa malu dan takut sekarang.
berani-berani nya mengatai bos nya sendiri dengan keras di depan umum lagi.
"seharus nya saya yang minta maaf karna membuat kamu kaget tadi" kata rohan tenang.
udah ngak ada harapan lagi,kayak nya besok siap-siap di pecat nih. batin anggi.
anggi semakin takut dengan rohan yang terlihat sangat tenang sekarang,mungkin di balik itu ada rencana tersembunyi.
"ngak perlu bos saya tidak apa apa kok, kalau gitu saya permisi" ucap anggi.
anggi mengambil barang belanja an nya, ia tidak merasakan kalau tangan nya terluka.
"Sshhh....Aaww"
anggi melihat tangan nya yang sudah ada bercak darah di punggung tangan nya.
__ADS_1
"tangan kamu terluka, biar aku bantu obati" ucap rohan mengambil alih semua barang anggi.
"ngak perlu tuan,cuman luka kecil nanti biar saya obati sendiri"
"saya tidak suka penolakan,lebih baik kamu ikut saya sebelum saya membatu kamu untuk jalan mengikuti saya" ucap rohan penuh penekanan.
anggi mencoba tersenyum lalu mengikuti perintah rohan, sebelum benar-benar bos nya ingin membantu nya berjalan.
anggi masuk ke mobil rohan dan duduk di sebelah belakang.
"maju ke depan,saya bukan supir kamu" ketus rohan.
anggi harus menahan muka nya dengan senyum ketika berada bersama orang separti rohan.
rohan mulai menjalan kan mobil nya, membelah jalan raya yang kini mulai memadat dengan berbagai kendaran yang melintas.
...----------------...
excel duduk di kasur nya,ia masih setia menatap mata regia yang masih terpejam rapat, dokter pribadi nya baru saja pergi,setelah memeriksa regia.
tak ada yang serius dengan keadaan regia, hanya saja ia kekurangan tenaga hingga pusing dan pingsan.
regia perlahan membuka mata, kepala nya masih terasa pusing, excel binggung apa yang harus di lakukan .
"tidak perlu tuan,boleh saya minta minyak kayu putih" kata regia dengan lemas.
excel langsung mengambil kan di laci kecil samping kasur nya,dan memberikan kepada regia.
"makasih tuan" regia langsung memakai minyak kayu putih itu di kepala nya,memijat dengan pelan.
setelah dirasa agak baikan regia membuka mata nya,memberikan miyak kayu putih nya kembali kepada excel dan tersenyum ke arah nya.
"sudah enakan" tanya excel hawatir.
regia mengangguk,baru pertama kali ini regia melihat tuan nya berganti ekspresi selain wajah datar di hadapan nya.
"kenapa kamu belum sarapan,waktu ngajak saya jalan-jalan, kamu tau itu tidak baik untuk tubuh"
"tuan maaf merepot kan anda"
"jangan mengalih kan pembicaraan,saya tidak suka" excel menatap regia tajam.
"tadi saya cuman sarapan air karna di rumah saya makanan nya sudah habis" regia menunduk takut dengan tatapan tajam excel.
__ADS_1
excel menghela nafas kasar,regia semakin dalam menundukkan kepala nya sungguh ia sangat takut dengan apa yang akan tuan nya lakukan.
excel mengangkat dagu regia dan menatap dalam kedua manik mata regia"jaga diri kamu baik-baik kalau kamu sakit gimana kamu ngejar saya"
regia tersenyum mendengar kan perkata an excel, ia tak percaya kalau tuan nya yang sangat dingin sedang menghibur nya.
"kamu tunggu di sini biar aku mengambil kan makanan ke bawah"
regia menahan tangan excel yang ingin pergi.
"ngak perlu tuan biar saya yang turun saja" regia merasa tidak enak harus merepot kan tuan nya sendiri.
tubuh regia masih lemas, waktu regia memaksakan diri untuk bangun tubuh sempoyo ngan.
untung excel dengan cepat menangkap tubuh lemas regia,dan langsung menduduk kan regia kembali di kasur.
"kalau kamu tidak mau merepot kan saya, lebih baik kamu duduk dengan baik dan tunggu saya"
excel mengerti dengan alasan yang membuat regia memaksa kan diri nya untuk bangun.
regia duduk dengan patuh, ia tidak bisa melawan hanya mampu menuruti perkata an excel.
excel kembali dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan susu putih hangat.
"buka mulut aa.." perintah excel menjulur kan satu sendok bubur ke mulut regia.
"tuan saya masih bisa makan sendiri" ucap regia setelah menelan satu suapan dari excel.
"jangan bicara lagi, kalau kamu makan sendiri ntar ngak kuat terus tumpah ke kasur,tambah bikin saya susah nanti"
yah kalau sudah di atur kayak gini regia bisa apa, terima atau pun tidak ia harus tetap menjawab iya.
setelah bubur nya habis excel langsung memberikan susu putih ke regia "habis kan susu mu" excel tersenyum agak aneh.
regia menerima susu itu dan mengangguk, ia merasa heran dengan senyuman excel, regia melotot ketika menyadari apa yang di maksud excel.
"tuan ngak bilang susu aku kan" ucap regia masih dengan senyum yang di tahan.
"bukan,tapi susu kelinci"
pertahanan regia sudah runtuh, ia mencebikkan bibir nya kesal dengan ejekan excel,tapi berbeda dengan excel,ia merasa regia begini terlihat semakin menggemas kan.
excel semakin percaya kalau perasaaan nya untuk regia semakin jelas,ia akan menunggu sampai kapan regia mampu mengejar nya dan menunjukkan semua sifat asli nya.
__ADS_1