Ceo Kejam Ber Istri Buta

Ceo Kejam Ber Istri Buta
pemecahan masalah


__ADS_3

Matahari kembali menampakkan dirinya dengan begitu cerah.mengaitkan semua makhluk untuk memulai aktivitas yang biasa di jalaninya.


Tangan regia mengelus rambut kepala Excel,penuh sayang " Excel..... Bangun sudah jam set7" ucap regia lembut .


Pria itu tak menjawab" ia menggeliat dan mengangkat kepala nya ke atas pangkuan regia "ngantuk " gumama Excel, dengan suaraserak khas orang bangun tidur.


" Temenin aku tidur, sebentar " tambah nya, mengambil regia yang sedari tadi masih setia mengelus rambut nya.


" Baiklah, kamu tidur sendiri saja. Aku masih harus bantu mama di dapur" jelas regia.


Excel berdecak kesal, dengan mata yang masih enggan di buka. Ia semakin kuat menggenggam tangan regia agar wanita itu tidak bisa pergi.


" Excel... " Protes regia lemah.


" Hmm... "


" Tidur sendiri ya"


excel menggeleng kan kepala" temenin"


" Mama masih nunggu Aku di bawah. Dia masih butuh bantuan aku Excel"


Perlahan Excel membuka matanya dan menatap wajah regia " kiss dulu" ia dapat mendengar hembusan kasar wanita itu.


Regia menunduk dan menyingkap rambutnya supaya tidak mengenai wajah Excel. Awal nya regia hanya ingin mengecup sekilas,tapi tangan kekar Excel menahan kepala nya,untuk berciuman lebih lanjut.


Regia semakin tidak mengerti ketika Excel melepas ciumannya dan menatap nya dalam.


' ada apa dengan pria ini ' batin regia, ber tanya-tanya setelah melihat sorot mata tajam kekasih nya yang tidak dapat di baca.


Excel kembali memejamkan mata dan ******* lembut bibir mungil regia.


" Seperti nya aku datang di waktu yang tidak tepat" ucap Suherli, yang sudah berada di ambang pintu kamar Excel.


" Mama " ucap regia langsung berdiri dari posisi, tanpa peduli kepala Excel yang masih ada di pangkuan nya.


" Akhhh... " Excel meringis kesakitan sambil menyentuh kepala.


" Kalian lanjut saja, mama tidak akan ganggu"


" Ini tidak seperti yang mama fikirkan" regia merasa canggung dengan situasi ini.


" Emang nya apa yang mama fikirkan" sambung Suherli, tersenyum menggoda. Regia sungguh merasa malu bukan kepalang di hadapan ibu mertua nya.


" Regia, kamu di sini saja temein Excel, dia pasti sangat lelah. Mama mau keluar sebentar, ada perlu sama temen mama. Kalau gitu mama pergi sekarang "


" Iya ma, hati-hati " regia melempar senyum manis, mengiringi kepergian Suherli.


" Maaf " tutur regia. Ia menduduk kan diri nya di ranjang Excel dan mengangkat kepala Excel kembali di pangkuan nya.


" Sakit "

__ADS_1


" Hmm... "


" Maaf, kamu masih ngantuk " tanya zaliya yang di jawab anggukan oleh Excel.


" Elus " pinta Excel menarik tangan regia ke atas dada nya.


Regia menurut, tangan kanan nya mengelus dada Excel sedang kan tangan kiri nya, menyentuh rahang Excel yang terlihat seksi. Kemudian berjalan menyentuh bibir kemerahan yang sedikit menganga.


" Aku pikir aku sudah sangat mengenal mu, tapi ternyata tidak. Masih berapa banyak rahasia yang belum aku ketahui tentang mu, Excel" bisik regia, setelah Excel terlelap dalam tidur nya.


...----------------...


Tuan erik kemana bi" Tanya zaliya menghampiri pembantu rumah yang masih sibuk mencuci piring.


" Ehh... Zaliya sudah bangun, tadi den erik pagi-pagi udah berangkat bekerja" Sahut wanita paruh baya yang hanya memaling kan kepala dengan senyum mengembang di wajah keriput nya, tanpa menghentikan pukerja an yang ia lakukan.


" Biar aku saja bi " Ucap zaliya, setelah mendengar suara bel rumah berbunyi.


Zaliya berjalan mendekati pintu utama, tubuh nya mematung ketika melihat orang di balik pintu " Kak " Sapa zaliya.


Ia mengoreksi tubuh nasril dari bawah Sampai atas, tidak ada luka tembakan di mana pun.


" Liya, boleh aku masuk"


" Tentu saja, silahkan"


Nasril melangkah masuk dan duduk di sofa, zaliya juga ikut duduk ber sebelahan dengan kakak nya.


"Kakak tau dari mana aku tinggal di sini" Kata zaliya mengawali pembicara an.


"Lalu... Arah pistol kemarin malam, tidak melukaimu kan kak"


Nasril menggeleng " Rohan menembak tepat di sebelah kepala ku, mengarah keluar jendela. Ketika aku melihat ke belakang ternyata sudah ada orang yang menarget ku mati "


Peluru rohan tepat mengenai dada kanan nya, membuat penyusup itu roboh dan jatuh ke tanah. Liya... Apa kamu membenci ku tentang kejadian semalam"


Zaliya menggenggam tangan kakak nya " Mana bisa liya benci. Liya sayang banget sama kak nasril, semua yang kakak lakukan aku bisa memaklumi. Aku minta maaf karna berbicara kasar sama kakak"


" Tidak perlu, kakak sekarang sadar kalau adik kecil kakak sudah mulai dewasa. Liya, kakak mau peluk. Boleh kan"


Zaliya mengangguk dengan cepat " Tentu saja kak "


Senyum nasril mengembang, bahagia. Tanpa berlama-lama, ia langsung menarik zaliya dalam dekapan nya. Menyalurkan kasih sayang yang selama ini ia beri kan.


...----------------...


Excel sudah siap berangkat ke kantor,regia meminta ikut dengan nya. tapi bukan untuk menemani Excel melainkan ingin pergi ke rumah Anggi.


Setelah mengantar kan Excel, mobil itu kembali melaju menuju kediaman balsiger.


Anggi sudah tau mengenai kedatangan regia, ia menunggu sahabat nya di halaman rumah. Dengan berjalan-jalan mengelilingi berbagai tanaman hias yang sudah tertata rapi.

__ADS_1


Anggi memalingkan wajah ketika mendengar suara mobil berhenti di depan gerbang rumah nya, menampil kan seorang wanita yang sedang menatap nya dengan melempar kan senyuman.


" Aku kira kamu sedang Pergi keluar, meninggal kan ponsel di mobil dan melupa kan ku" ucap regia setelah tiba di depan Anggi.


"Ayolah re, aku bukan kamu yang melupakan teman nya kalau sudah bersama kekasih nya" Anggi memutar bola matanya, malas.


" Buakan kah perkataan itu lebih pantas untuk mu. Rohan mengurung mu dan tidak mengizinkan mu keluar rumah, aku pikir kamu sudah seperti putri raja yang harus betul-betul di jaga karna harus menerus kan warisan" regia tersenyum menggoda dan melipat kedua tangan nya di depan dada.


"Re,kamu berlebihan. Rohan hanya khawatir dengan ku dan calon bayi nya, itu saja"


"Iya aku tahu, aku tahu. Sudah berapa usia kandungan mu sekarang" tanya regia setelah melihat perut Anggi yang agak membuncit.


" Tiga bulan lima belas hari"


" Benarkah. Kenapa begitu cepat?" Tangan regia menyentuh perut Anggi, penasaran "keras" lanjut nya mengamati seksama.


"Bagaimana perasaan mu, sakit, senang, susah atau... Bahagia" Anggi mengedik kan bahu mendengar pertanya an sahabat nya.


"Kamu akan tau sendiri nanti setelah melewati nya, kamu bilang ada yang mau di bicarakan dengan ku?" Regia mengangguk.


" Kalau gitu, kita duduk saja di sana" kata Anggi menunjuk kursi taman memanjang yang berada di bawah pohon mangga.


Tidak ada orang lagi selain Anggi yang bisa mendengar cerita nya. Sebenarnya regia ragu dengan apa yang ingin ia cerita kan, tapi tidak ada jalan lagi selain mencari solusi.


" Ada masalah apa re?" Tanya Anggi, setelah ke dua nya duduk ber sebelahan di kursi taman.


" Pernikahan ku dengan Excel"


"Apa keluarga nya sudah setuju dengan mu"


"Iya bahkan tanggal jadi nya sudah di tentu kan" suara regia terdengar lesu.


" Bagus kalau gitu, bukan kah ini sudah berjalan lancar seperti apa yang kamu harap kan"


Anggi menatap dalam tepat di manik mata coklat regia, ia dapat melihat rasa gelisah dari tatapan tenang sahabat nya.


" Benar. Tapi Anggi, bagaimana aku menjelas kan tentang malam itu sama Excel"


" Malam yang mana re?"


" Malam di mana aku kehilangan keperawanan ku di tangan orang asing. Yang sampai sekarang ini belum tau siapa orang itu" suara regia terdengar frustasi dengan rasa sesak yang menikam dada nya.


" Kamu ngarang cerita saja, kalau pacar mu dulu memaksa mu untuk melakukan itu. Dia pasti ngerti"


"wanita zaman sekarang dengan riasan cinta anak muda, sudah wajar kalau kamu melakukan hubungan intim dengan orang yang kamu suka. Menurut ku masalah itu sangat masuk akal"


Regia menggeleng singkat " aku pasti di sebut penghianat kalau berkata seperti itu"


" Aku sudah menebak,kamu akan menolak. Regia itu jujur, periang dan menghargai perasaan an orang. Lakukan seperti apa yang kamu ingin kan,semua akan terasa seperti mimpi kalau kamu melakukan nya dengan percaya diri"


Anggi menepuk pundak regia kemudian memeluk sahabat nya.

__ADS_1


"Aku mengerti ngi. Terima kasih" ucap regia membalas ucapan Anggi.


Rasa gelisah nya sedikit berkurang. Mencari solusi sudah menjadi kepastian, masalah tidak bisa pecah dengan sendiri nya. Bercerita lah setidak nya hal itu membuat mu merasa sedikit tenang.


__ADS_2