
" bodoh, aku sangat kesepian di sana Liya. Aku merindukan mu. Tempat baru bukan alasan untuk aku bahagia Liya" kata Nasril melepas pelukan dan menatap wajah zaliya.
"Aku juga rindu kak,sejak kapan kakak sampai di kota ini"
"Baru tiga hari dari sekarang"
"Kenapa tidak langsung menemui ku, tapi kakak malah menyuruh orang untuk menculik ku. Kenapa kak? " Tanya zaliya menuntut penjelasan.
" Pria jahat itu pasti tidak akan mengizin kan ku menemui mu" ujar Nasril menunjuk Erik dengan sengit.
"Hanya cara itu yang bisa membawa mu pergi Liya" tambah nya.
" Kak kamu salah faham. Tuan Erik sangat baik pada ku, dia pasti mengizin kan aku menemui mu"
"Mana buktinya kalau kalian orang baik . Dia jahat ,jangan tertipu dengan kata kata manis nya liya "suara Nasril naik satu oktaf , dengan bergetar karena menahan amarah.
dia tidak habis fikir sejak kapan adik nya bisa begitu mempercayai orang asing yang hanya beberapa Minggu ini kenal nya.
" kak, kamu harus percaya. kalau dia memang orang jahat, aku tidak akan seutuh ini. Tidak akan sebaik ini sekarang"
" Kakak tau, perbuatan kakak bisa membuat orang terluka. Kalau saja tuan Erik tidak menyelamat kan ku. Mungkin aku sudah tidak berani menemui orang lagi, menemui mu seperti sekarang ini" ucap zaliya dengan Isak tangis yang mengiringi.
Nasril menangkup wajah zaliya yang masih di banjiri Air mata.
" Maaf, benar aku yang salah mengenai masalah tadi pagi. Tapi Liya orang yang kamu panggil tuan, dia memang jahat. Dia yang sudah membunuh kakak kita. Kak tiran"
" Kakak kandung ku sudah di bunuh oleh nya. Tangan nya kotor Liya, orang seperti itu tidak pantas kamu percayai, Najis... "
Rahang Erik mengeras, mata nya merah menahan emosi. tangan nya mengepal kuat sampai anak kuku nya memutih.
Baru kali ini ada orang yang menghina langsung di depan mata nya, dan di dengar langsung telinga nya.
Zaliya menepis kasar tangan Nasril " CUKUP berhenti membicara kan hal buruk tentang nya" bentak zaliya, menatap kecewa orang yang selama ini ia percaya.
" Kamu membela nya? Ada apa. KENAPA KAMU BERUBAH LIYA "
gadis itu menunduk, tidak menjawab.
" Sudah lah aku tidak ingin berdebat lagi dengan mu. Besok pagi aku akan membawa mu pergi kembali berkumpul di keluarga botero"
Zaliya terkejut, terlebih lagi Erik yang masih menunggu jawaban dari gadis kecil itu.
"Aku tidak mau" ucap zaliya lantang.
__ADS_1
" Kenapa lagi. Jangan bilang kamu menolak hanya karna pria itu. Kamu sudah jatuh cinta kan sama dia, JAWAB AKU LIYA "
Nasril mencengkeram dagu zaliya, untuk mendongak menatap nya ketika gadis itu menunduk kan kepala.
" Aku yang sudah merawat mu, apa kamu lupa hah.... Kamu buta bisa suka sam orang seperti itu"
" S-sakit..." Zaliya mencoba melepas cengkraman di dagu nya.
Nasril memaling kan wajah dengan tubuh tidak seimbang waktu Erik meninju rahang nya keras.
" Liya aku mohon ikut aku pulang. Aku mencintai mu, aku janji tidak akan membiar kan mu tersakiti"
" Kak, kamu harus tau. Aku menyayangi mu sebatas kakak dan adik tidak lebih. Masalah hidup ku yang tersakiti, aku tidak peduli. Aku akan tetap tinggal di sini karena aku mencintai nya aku ingin hidup lebih lanjut dengan Erik"
Erik memaling kan wajah ketika nama nya di panggil, juga karna tangan nya di genggam oleh gadis itu.
" Liya sudah besar kak,Liya juga berhak mengikuti pilihan liya sendiri. Aku harap Kakak bisa menghargai keputusan Liya"
Zaliya berbicara dengan leluasa sampai lupa dengan panggilan tuan yang selama ini ia ucap kan.
Zaliya melangkah pergi ke luar ruangan.
" Aku mencintai mu Liya, kamu penghianat. Memilih pria asing yang bahkan kamu tidak mengenal nya. PENGHIANAT.... "
Tepat setelah berada di luar ruangan, zaliya berhenti melangkah. Pandangan nya memburam dan tubuh nya menggigil, setelah mendengar suara pistol yang menggema di keheningan malam.
Juga berhenti nya Nasril berteriak .
Tubuh zaliya terhuyung ke belakang dengan keadaan yang sudah tidak sadar kan diri. Tidak ada yang bisa di dengar dan di lihat nya. Hanya kegelapan yang ia temukan.
...----------------...
Excel melangkah ringan di ruang tamu rumah nya. Para pembantu sudah terjaga untuk memulai pekerjaan mereka, membersih kan rumah dan menyiap kan apa yang di perlukan tuan mereka.
"Baru pulang " tanya Suherli menatap Excel di depan pintu kamar nya.
" Iya ma, kenapa mama tidak tidur"
" Sudah tadi, mama terbangun karena haus"
" Oh... Kalau gitu, aku balik ke kamar dulu ya ma" Excel cepat-cepat mengakhiri pembicara an nya sebelum Suherli memberi nya bom pertanya an.
" Excel " panggil Suherli.
__ADS_1
Langkah Excel terhenti, dengan berat hati. Ia membalik kan badan dan kembali berhadapan dengan mama nya.
" Kenapa ponsel mu mati? "
" Keaabisan baterai, ada apa? " Ucap Excel bertanya balik. Setelah melihat wajah tidak senang mama nya, padahal ini juga bukan pertama kali nya, ia pulang semalam ini.
" Mama tidak keberatan Kamu pergi kemana pun, karena mama percaya sama kamu. Kamu bisa menjaga diri kamu sendiri. Tapi lain kali kalau kamu mau seperti ini. Kabari regia, kasihan dia. Kemarin malam dia terus menunggu mu di ruang tamu hingga larut. Mama dapat melihat dengan jelas dia sangat menghawatirkan mu, Excel"
Excel merasa mendengar ucapan mama nya. Bisa-bisa nya diri nya lupa dengan regia.
" Iya ma, aku akan minta maaf nanti"
" Sudah lah. Sana pergi ke kamar. Kamu masih harus pergi bekerja besok " ucap Suherli yang hanya mendapat anggukan kecil dari Excel.
Pintu lift terbuka, Excel melangkah memasuki kamar nya. Melepas jaket dan melempar nya ke kasur. Ia buru-buru mengambil handphone miliknya untuk di Chas dan di hidup kan.
Perasa an bersalah semakin menuntut diri nya, setelah melihat begitu banyak pesan dan panggilan masuk dari regia.
" Sial " umpat Excel, meletakkan ponsel dan berjalan keluar menuju kamar regia.
Excel memutar perlahan kenop pintu supaya tidak membuat wanita nya terbangun. Ia mendekati kasur regia, menyingkap selimut dan membaringkan tubuhnya. Di samping wanita yang sekarang membelakangi nya.
Tangan Excel melingkar di pinggang ramping kekasih nya, wajah nya mendekat di ceruk leher regia. Dengan mata terpejam, ia dapat mencium aroma wangi tubuh regia yang memang tidak ada dua nya bagi Excel.
Manis, dan lebih nikmat dari kecanduan alkohol.
'aku tidak habis pikir, bagaimana kalau regia meninggal kan ku. Apa aku masih bisa menemukan kedamaian' batin Excel.
Mata Excel kembali terbuka ketika wanita itu menggeliat, berbalik dan membalas memeluk nya.
"Jam berapa " tanya regia tanpa membuka mata dan kepala bersandar di dada bidang Excel.
" Jam Tiga subuh"
" Kenapa sangat larut pulang nya"
" Masih ada pekerjaan yang perlu aku tangani"
" Eem... Tidur lah, pasti kamu sangat lelah" regia mengusap lembut punggung Excel untuk memberi pria itu kenyamanan.
" Iya" jawab Excel singkat.
Mencoba beristirahat dengan tenang dan menikmati ucapan lembut tangan mungil regia di punggung nya. Tanpa menunggu lama, Excel langsung tertidur begitu pun regia.
__ADS_1