
Erik menunduk, tangan nya mengetik kan suatu pesan untuk seseorang.
Zaliya merasa kasihan ketika mulut pria di depannya merisngis kesakitan.
Erik: tuan aku izin cuti besok.
Excel: kenapa?
Erik: kepala ku terluka, aku di keroyok segerombolan orang tadi.
Excel langsung berdiri di posisinya, ke tiga anggota yang berbeda di ruang makan menatap nya bingung.
" Apa yang terjadi?" Tanya regia, yang duduk ber sebelah an dengan Excel.
"Tidak ada, kalian lanjut saja aku sudah kenyang" jawab Excel meneguk air putih milik nya, kemudian beranjak pergi.
" Hallo. Dimana sekarang? Oke aku mengerti... " hanya ucapan itu yang masih dapat di dengar oleh regia dan yang lain.
sebelum pria itu berjalan terlalu jauh menuju kamar nya.
Ketiga orang itu kembali menatap Excel yang sedang tergesa-gesa berjalan keluar, dengan jaket hitam yang membalut tubuh tegap nya.
" Kalau melihat dari luar, seperti nya memang ada masalah" kata exsino, membuat kedua orang yang ada menatap nya.
" Kakak tidak memberi tahu mu, mau pergi kemana dia sekarang?" Tambah nya, yang mendapat gelengan dari regia.
Tingg....
Regia mengambil ponselnya yang hidup dengan sebuah notif pesan yang tertera di layar kunci.
"Siapa?" Tanya Suherli, membuka suara.
"Excel mengirim pesan ma"
"Apa yang dia katakan" tanya exsino sewot.
Exsayang: aku pergi keluar, ada masalah mendesak. tidak perlu menunggu ku untuk makan malam nanti.
Regia membaca pesan Excel dengan suara sedang, yang dapat di dengar oleh Suherli dan exsino.
Regia: kemana?(read)
Excel tidak membalas pesan regia, ia mempercepat laju mobil Nya menuju markas persembunyian yang terletak tidak jauh dari rumah sakit dimana Erik berada.
__ADS_1
Excel memarkir kan mobil Nya,kemudian melangkah lebar memasuki ruangan.
"Apa kalian sudah menemukan,siapa pelaku di balik semua ini !" Tanya Excel membuka pembicaraan.
" Sudah bos, ternyata mereka orang suruhan Nasril botero yang sengaja di kirim. Tapi target mereka zaliya bukan Erik"
" Tidak peduli siapa target mereka, karena dia berani melukai orang ku. Maka dia harus mati" ucap Excel mutlak.
" Tidak, jangan bunuh kak Nasril. dia baik pada ku, mungkin dia hanya ingin membawa ku pergi. Tuan Excel,aku mohon jangan bunuh kakak ku" pinta zaliya cepat.
" Hal itu tidak bisa di tentukan, kalau dia selamat berarti dia beruntung " Excel berlalu pergi yang di ikuti oleh Rohan.
Zaliya menahan tangan Erik dengan wajah berurai air mata.
" Tuan Erik, aku mohon jangan bunuh kakak ku. Beri dia pelajaran, tapi jangan ambil nyawa nya. Kalau bukan karena dia, mungkin aku tidak akan berada di sini sekarang, tuan... Aku mohon"
Erik merasa iba melihat adik kecil kesayangan nya terisak tangis dengan wajah memerah.
" Aku akan usaha kan supaya Excel tidak membunuh kakak mu. Aku sudah mengutus orang untuk mengantar mu pulang setelah ini, tunggu kabar dari aku ya, anak baik"
tangan Erik mengelus lembut pucuk kepala zaliya, kemudian pergi menyusul Excel dan Rohan yang sudah menunggu nya di dalam mobil.
...----------------...
Suherli dan exsino sudah masuk ke kamar nya masing-masing satu jam yang lalu, suasana hening menyelimuti, karena hanya regia yang masih terjaga di rumah besar kediaman wapurma.
Suara Guntur yang terdengar sangat keras seakan memecah langit, membuat regia menjerit ketakutan.
Tidak lama setelah itu, hujan turun dengan derasnya. Perasaan regia semakin cemas, tidak tahu apa yang di lakukan Excel di luar sana? Lelaki itu tidak mengaktifkan ponsel nya sejak pesan terakhir regia di baca.
Suara pintu terbuka membuat regia menoleh ke belakang. Suherli menatap wajah cengar regia yang terpenuhi dengan raut wajah cemas.
" Regia, kamu masih belum tidur " tanya Suherli berjalan mendekati regia.
" Belum ma"
"Lagi nungguin Excel pulang"
"Iya ma"
"Jangan di tunggu lagi, dia akan pulang sendiri nanti. Excel sering pulang malam. Kalau sudah seperti ini, pasti masalah perusaha an" regia mengangguk faham.
"Mama ngerti, kamu pasti khawatir sama Excel. Tapi kamu juga harus jaga diri. Excel Pasti sedih kalau kamu sakit. Tidur ya,nanti kalau Excel pulang marahi dia, atau pukul dia kalau kamu mau. Mama akan terus mendukung mu" ucap Suherli meyakin kan.
__ADS_1
" Mama bisa aja. Terima kasih ma, regia akan tidur sebentar lagi"
" Ya sudah, kalau gitu mama balik dulu ke kamar " pamit Suherli.
"Iya ma "
Regia memasuki kamar nya masih dengan perasa an cemas yang terselimuti di diri nya. Meskipun ucapan ibu mertua nya bisa dibilang masuk akal, tapi tetap saja dia tidak bisa tenang sebelum melihat langsung keadaan Excel.
...----------------...
Excel bisa menang dengan mudah, Walaupun tidak mengherankan seluruh anggota Nya. Excel hanya membawa dua puluh orang dengan Rohan dan Erik sebagai tangan kanan dan kirinya.
Nasril terduduk di kursi kayu dengan tubuh terlilit tali tampar. Wajah nya penuh lebam dengan beberapa luka yang masih mengeluarkan darah segar.
Zaliya langsung bergegas pergi ke markas milik Excel setelah Erik memberitahu tentang kakak nya,Nasril.
"Lepasin aku,orang keparat seperti kalian tidak pantas hidup. Woii... Jangan pura-pura bodoh,aku tahu kalian masih bisa mendengar. Lepasin aku bangsat.... " Teriak Nasril, suara nya menggema di ruangan yang hanya terisi diri nya seorang.
Zaliya berlari ke arah Erik yang sudah menunggu nya di depan gedung. Erik langsung menggandeng tangan gadis itu, untuk membawa nya masuk.
Tubuh zaliya kaku dengan mata berkaca-kaca, melihat tampilan orang di depan nya.
Ia melepas genggaman tangan Erik dan berjalan mendekati Nasril yang sekarang sedang menatap nya sayu " kak " panggil zaliya lirih.
" Liya... Kamu baik-baik saja kan sayang"
" Liya baik-baik saja kak. Bagaimana kehidupan kakak di sana, pasti sangat senang kan tinggal di negara baru"
Zaliya melepas tali di tubuh kakak nya.
Erik merasa sakit hati melihat zaliya berpelukan begitu erat dengan pria lain, tapi yang paling menyedih kan. Diri nya tidak bisa melakukan apapun dan tidak punya hak apa pun untuk menghalangi.
Erik sedikit tersentak ketika bahu nya tiba-tiba di sentuh seseorang, Rohan menatap Erik dengan menggeleng kan kepala.
Entah sejak kapan kedua orang ini berdiri di samping nya. Mungkin diri nya terlalu larut dalam perasaan nya sampai tidak merasakan kehadiran Rohan dan Excel.
"Kita pergi, jangan mengganggu mereka"
" Tunggu" cegah Excel menahan pundak Erik.
" Lihat saja, akan ada pertunjukan menarik setelah ini"
Erik mengernyit kan kening, tidak mengerti apa yang Excel ucapan kan.
__ADS_1