
Excel pulang cepat hari ini, pekerjaan di kantor tidak terlalu padat karena Erik dapat menangani nya dengan benar.
Ia melangkah lebar di lorong kamar dengan tangan yang memegang tas berisi cake kesukaan regia, Excel terkejut ketika menemu kan kegelapan waktu pintu kamar regia terbuka.
Mata nya masih belum bisa menyamai dengan keadaan ruangan yang gelap gulita. Ia berjalan perlahan, meletak kan tas kecil yang tadi di bawanya di atas nakas samping kasur.
Excel mengedar kan pandangan dan menemu kan wanita nya sedang terduduk di sofa dengan keadaan memeluk lutut nya.
" Regia apa yang terjadi? Kenapa kamu mematikan lampu nya, dan duduk di tengah kegelapan seperti ini"
Regia mengangkat kepala yang tadi ia tenggelam kan di kedua lutut nya " Excel" panggil regia lirih, tanpa berniat menjawab pertanyaan kekasih nya.
Ia dapat melihat pancaran rasa khawatir dari kedua manik mata tajam milik Excel, walau dalam keadaan gelap.
" Apa "
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu"
Excel mengerut kan alis " bicaralah kalau gitu " putus nya, masih belum mengerti dengan wajah sedih yang melanda hati kekasih nya.
" Tapi tidak di sini, di tempat lain"
" Baiklah tunggu di sini, aku akan mandi dan bersiap" Excel berkata tanpa ragu sedikit pun.
Regia menahan tangan Excel ketika pria itu berdiri dan ingin melangkah pergi" kamu tidak bertanya kita akan pergi ke mana"
Excel memaling kan wajah kembali menatap regia dengan tersenyum singkat.
" Tidak perlu, Aku percaya padamu. Kemana pun kamu mau pergi aku akan mengikuti" Excel menarik tangan regia dan mencium punggung tangan nya. Kemudian mendekat, mengecup sekilas pipi lembut regia.
" Tunggu aku " gumam nya berlalu pergi meninggal kan regia.
Mata regia terus melihat punggung tegap pria nya yang semakin menjauh dan hilang tertelan jarak.
" Apa kamu akan tetap seperti ini setelah mendengar ucapan ku nanti, Excel " bisik regia lirih, dengan air mata yang keluar meluncur membasahi pipi nya sedih.
...----------------...
Excel Tampil lebih segar setelah mandi, rambut hitam nya menempel di kepala karena basah. Tertata rapi yang semakin meningkat kan ketampanan nya secara natural.
Penampilan nya tidak seperti seorang CEO, melain kan remaja tampan dengan celana jeans hitam, kaus oblong dan jaket kulit yang terbuka lebar.
Regia juga bersalin, sebuah dres berwarna biru muda dengan corak tulip putih. Rambut panjang nya tidak di ikat dan di biarkan tergerai menutupi leher jenjang nya.
" Rumah siap" tanya excel.
Regia berhenti melangkah, menjawab tanpa memaling kan wajah " nanti akan aku jelas kan"
Seorang wanita paruh baya berusia lanjut, muncul dari pintu yang tadi regia ketuk " nak regia" ucap wanita itu kaget, juga senang.
__ADS_1
" Iya mbok, maaf selama ini regia tidak bisa datang melihat mbok. Bagaimana kabar disini semua nya baik kan"
" Tidak masalah.... Kamu pasti juga sibuk bekerja di sana. Semua sama seperti dulu, tidak berubah dan baik-baik saja. Hanya saja sedikit sepi karena tidak ada kamu gia, kan biasa nya memang Kamu yang berteriak heboh sama Julio"
Regia tersenyum begitu pun wanita tua di depan nya " ah... Mbo bisa aja. Aku rindu sama Julio, dia dimana mbok"
" Ada di dalam. Kamu kesini sama pria itu, siapa dia? " Tanay mbok watih menunjuk Excel dengan dagu nya.
Regia memaling kan wajah menatap Excel yang menyandar kan tubuh di depan mobil nya.iya, setiap saat pria itu akan terlihat keren di mana pun itu.
" Dia tunangan ku, mbok " perkara an itu keluar dengan ringan dari mulut regia.
" Benarkah, bagus kalau gitu. Bawa dia masuk ke rumah, biar mbok siap kan beberapa camilan" kata mbok watih.
Excel berjalan ke arah regia, ketika wanita itu melambai kan tangan nya untuk mendekat.
Kedua nya melangkah masuk dan menduduki kursi tua yang masih mampu menampung berat badan mereka.
" Egia" pekik seorang pemuda yang baru keluar dari balik selambu.
" Julio " regia ikut berteriak dengan semangat, berpelukan erat menyalurkan rasa rindu setelah lama tidak bertemu.
" Kamu banyak lonjakan ya, lebih tinggi dan Tampan. Sampai aku terkesima melihat mu" puji regia yang tiada henti.
" Iya iyalah siapa dulu? Julio... Ingat kamu akan kalah telak di permainan basket setelah ini. Lebih baik kamu mengaku kalah saja mulai sekarang"
Bibir Julio melengkung, menampil kan senyuman licik nya. Tapi tak kalah licik dari senyum an regia.
" Oke jangan peduli kan aku" suara berat itu membuat regia teringat satu orang yang ia abaikan karena terlalu asyik mengobrol.
Regia memaling kan wajah, mendapati yang sudah membuang muka dengan wajah tertekuk karena kesal.
" Siapa pria tampan itu?" Tanya Julio meneliti.
" Dia tunangan ku"
" What? Aku tidak salah dengar kan"
Julio meminta penjelasan tapi tidak di hirau kan oleh regia. Excel masih membuang muka walaupun regia sudah terduduk di sebelah nya.
" Excel " tak ada Jawaban dari orang yang di panggil nya " kenalin, dia adik ku. Julio. Dan mbok yang tadi itu mbok watih nama nya, orang yang sudah merawat aku dari kecil"
Tidak ada reaksi apa pun dari excel.
" Maaf cuman ini yang ada di rumah. Silahkan di minum nak" ucap mbok watih yang meletak kan sebuah nampan berisi teh hangat dengan sebuah kukis buatan nya sendiri.
" Terima kasih mbok. Mbok regia mau minta kunci rumah, masih mbok simpan kan"
" Iya ada tunggu sebentar "
__ADS_1
...----------------...
Mbok watih kembali dengan sebuah kunci di genggaman nya " ini " serah nya pada regia.
" Terima kasih mbok"
" Pria yang tadi kemana?" Tanya mbok watih yang hanya melihat regia dan Julio dalam rumah nya.
" Ada di luar mbok, dia dapet telfon dari rekan kerja nya"
" Nak,apa kamu sudah yakin dengan pria itu. Menikah itu bukan hal kecil gia, kamu harus betul-betul memikir kan nya"
" Iya gia. Dia terlihat seperti pria kasar, kamu tidak takut KDRT. menurut aku, kamu pikirkan dulu deh. Sebelum terlambat.... " Sambung Julio, mengalih kan pandangan dari heandfone nya.
" Dia orang baik Lio. Mungkin hanya tampilan nya saja yang seperti itu" suara regia meninggi, tidak terima dengan perkataan Julio.
" Aku percaya mbok sama Excel, dia sudah berbuat banyak untuk ku. Termasuk penyakit lama yang di bilang mustahil untuk sembuh, tapi bukti nya. Excel mampu mencari dokter yang bisa menyembuh kan penyakit buta malam ku"
Julio dan mbok watih menatap regia tak percaya, setelah mendengar ucapan terakhir regia.
" Benarkah" pekik Julio yang mendapat anggukan dari regia.
" Pasti dia orang kaya, kalau gitu aku harus dekat dengan nya" lanjut nya tersenyum girang.
" Aku tidak akan membiarkan itu, kamu mau meminta uang kan dari nya. Jangan harap " balas regia sengit.
Julio berdecak kesal dengan meluncurkan tatapan tajam " pelit, lagian pria mu juga bukan orang hebat dari keluarga ter pandang. Pasti anak pengusaha yang suka menghabis kan uang orang tua nya"
" Lio, aku rasa kamu pasti pernah dengar tentang pemilik perusahaan WR dari keluarga wapurma. Bukan "
" Tentu aku selalu mengikuti berita tentang pria itu. Kenapa? Kamu juga sama seperti aku"
" Tidak, baut apa aku mengikuti berita nya. Kalau tangan nya saja sudah aku genggam"
" Hppf... Hahaha... Mimpi. Aku saranin ngayal nya jangan terlalu tinggi. Ntar jatuh nangis hahaha.... " Tawa Julio pecah.
Suatu pemikiran terlintas di otak kecil nya, membuat nya berhenti tertawa dan menatap regia intens.
" Tunggu, tadi kamu memanggil pria itu siapa?"
" Excel, panjang nya Excel wapurma"
Julio melotot, ia tak bicara melainkan menatap layar di ponsel nya, sedang membaca berita. Mata nya semakin terbuka lebar melihat regia.
" Inisial 'R' .Regia berarti yang sekarang berada di depan adalah dewa ku. Pria yang selama ini ku kagumi. Kalau gitu aku harus berfoto dengan nya, setelah itu aku akan memposting nya. Pasti semua teman ku akan takjub melihat ku besok"
" Eee.... Tidak boleh sekarang. Lain kali saja, mbok regia mau ke rumah. Ada barang yang perlu aku ambil" pamit regia.
" Iya, nanti kalau butuh sesuatu bilang saja Sama mbok" ucap mbok watih yang sedari tadi bungkam. Regia mengganguk kecil kemudian beranjak pergi.
__ADS_1