
“Aku hanya bertanya kenapa dia terlihat kesal, tapi ia justru membentakku, dan aku membandingkannya dengan Cellyn yang bahkan lebih baik darinya, mengerjakan semua pekerjaan rumah dan juga tidak membentakku, namun ia justru menuduhku di depan kak Kendra.”
Jelas Avika dengan perasaan menggebu gebu, jika mengingat hal itu rasanya benar benar kesal, sedangkan Liliana hanya terdiam kenapa Rachel bisa menuduh Avika? Kenapa wanita itu berubah setelah sehari menjadi menantunya? Padahal mereka juga tidak memperlakukannya seperti memperlakukan Cellyn.
“Nanti mama yang akan bicara pada Rachel, mungkin dia hanya sedikit kesal.”
Avika hanya memutar bola matanya malas, mamanya sama saja dengan kakaknya yang selalu membela Rachel, padahal Avik benar benar tidak bersalah disini, entahlah rasanya ia lebih baik memiliki kakak ipar seperti Cellyn dari pada Rachel.
“Apa kami salah sudah memisahkan Kendra dari Cellyn?”
Avika membatin, setidaknya Cellyn tidak pernah memprovokasi kakaknya hingga berbuat kasar pada Avika, tapi perempuan itu? Ia benar benar sangat berbeda dari Cellyn, Avika pun kembali melanjutkan tugasnya dari pada harus bingung memikirkan hal itu.
Sedangkan kini Liliana tengah berjalan menuju kamar Kendra dan Rachel, ia harus menanyakan kejelasannya dari keduanya, namun baru saja akan mengetuk pintu kamar mereka, Liliana dikejutkan dengan kehadiran Kendra dan Rachel yang baru saja keluar dari kamar mereka.
Mata wanita itu kini tertuju pada dua koper yang sedang mereka pegang, tentu saja hal itu membuat Liliana bertanya tanya kemana tujuan mereka membawa koper dari rumah ini? Bulan madu? Rasanya tidak mungkin lantaran mereka belum mendiskusikannya pada Liliana atau Pramudana.
“Kalian mau kemana?”
Tanya Liliana menatap Kendra dan Rachel secara bergantian, Kendra tak menjawab dan kembali menarik kopernya sedangkan Rachel kini tersenyum miring menatap mertuanya yang terlihat sangat kebingungan saat ini.
“Rachel.”
Ucap Liliana menahan tangan Rachel, wanita itu menoleh menatap jutek pada mertuanya itu lalu segera menepis tangan Liliana lantaran kini Kendra sudah melangkah jauh meninggalkan mereka.
“Bisa jelaskan kalian mau kemana?”
Lagi Liliana bertanya.
“Kami mau pindah karena Kendra tidak ingin aku diperlakukan sama seperti kalian memperlakukan Cellyn dulu.”
Ucap Rachel membuat Liliana terkejut, apa maksudnya? Memang kapan mereka memperlakukan Rachel seperti mereka memperlakukan Cellyn? Bahkan mereka tidak mengizinkan Rachel menyentuh pekerjaan apapun di sana selain memasak karena ingin mengambil hati Kendra.
“Tapi kami tidak pernah memperlakukanmu seperti itu.”
__ADS_1
Ucap Liliana tak terima.
“Mungkin saja belum saat ini, tapi kita tidak tahu beberapa hari kedepan, sama seperti Cellyn yang juga diperlakukan sangat baik saat baru tiba di rumah ini, tapi keesokan harinya kalian memperlakukannya seperti sampah!”
Deg!
Plak!
“Jaga ucapanmu Rachel! Beginilah balasanmu padaku setelah aku membantumu untuk mendapatkan putraku?”
Sentak Liliana yang sudah sangat kesal mendengar semua ucapan Rachel, entah mengapa wanita itu bersikap sangat berbeda dari sebelumnya, tak ada lagi rasa sopan dan takutnya pada Liliana seperti sebelum ia menikah dengan Kendra, dan mengharapkan bantuan dari Liliana.
Rachel memegangi pipinya yang terasa panas, hampir saja ia akan membalas tamparan dari mertuanya itu jika saja ia tidak melihat Kendra yang menghampirinya, Rachel pun segera berakting hingga menjatuhkan dirinya ke lantai membuat Liliana sedikit kebingungan.
“Rachel! Kau kenapa?”
Tanya Kendra segera menghampiri Rachel dan membantunya berdiri, Rachel berpura pura menangis seraya memegang pipinya, wanita itu tak kunjung menjawab hingga membuat Kendra menatap tajam pada sang mama.
Liliana pun ikut terkejut mendengar suara Kendra yang meninggi, sedangkan Rachel yang berada di belakang Kendra kini tersenyum lantaran rencananya berhasil membuat Kendra semakin percaya jika mamanya memang ingin memperlakukannya dengan buruk.
”Kendra dia hanya bersandiwara, jangan percaya dengan wanita itu!”
Sentak Liliana mencoba untuk membela dirinya namun terlambat lantaran Kendra benar benar sudah tidak mempercayai ucapannya, bagaimana bisa ia mempercayai ucapan mamanya yang bahkan sering menuduh Cellyn di hadapannya.
“Sudahlah ma! Jika dulu aku mungkin akan percaya dengan ucapan mama, tapi tidak dengan sekarang, aku sudah belajar dari masa lalu dan aku tidak ingin mengulang hal yang sama pada orang yang berbeda.”
Kendra kemudian segera menarik tangan Rachel dan juga koper wanita itu, namun lagi lagi Liliana menahan kepergian mereka, wanita itu bahkan memohon agar putranya tidak pergi dari rumah itu, ia bahkan rela melakukan apapun asalkan putranya tidak pergi dari sana.
“Mama akan menuruti semua kemauan Rachel, yang penting kalian tetap tinggal disini.”
Pinta Liliana, Rachel yang awalnya bersikeras untuk tetap pergi kini memilih untuk tinggal, ia bisa saja memerintahkan apapun pada orang orang dirumah itu semaunya, Kendra menoleh pada Rachel, keputusan ada di tangan wanita itu lantaran semua tergantung kenyamanan Rachel.
Rachel mengangguk hingga membuat Kendra akhirnya memutuskan untuk membatalkan niatnya itu untuk pergi dari rumahnya, Liliana pun segera meminta maaf pada menantunya itu atas keinginan Rachel tentunya.
__ADS_1
“Maafkan mama Rachel, mama yang salah.”
Ucap Liliana tidak begitu tulus sebenarnya namun karena ada Kendra disana Liliana berpura-pura baik dihadapan Rachel, nyatanya ia benar benar menyesal karena sudah menjodohkan Kendra dengan wanita yang ia anggap sangat serasi dengan putranya.
“mama!! Kenapa mama meminta maaf padanya?!”
Ucap Avika tiba tiba yang kesal melihat mamanya meminta maaf pada Rachel, entah apa yang terjadi sebenarnya yang jelas Avika benar benar tidak terima mamanya harus meminta maaf pada wanita itu karena ia tahu wanita itu yang bersalah.
“Kau juga harus minta maaf padaku!”
Sentak Rachel membuat Avika membulatkan mata.
“What?!! Aku??!!”
.
.
.
Sedangkan di negara lain kini Cellyn sedang berada di luar rumahnya menatap langit malam yang sangat indah bersama Dellon, hari sudah larut tapi Cellyn masih ingin disana, di atas tikar yang mereka bentang di atas rumput, rasanya benar benar menyenangkan.
“Masih ingin disini? Ini sudah sangat larut.”
Tanya Dellon pada Cellyn, wanita itu hanya mengangguk seraya tersenyum menatap langit yang dipenuhi taburan bintang, meskipun matanya kini benar benar sudah tidak bisa di tahan namun Cellyn benar benar enggan untuk meninggalkan pemandangan indah seperti ini.
“Kau terlihat sudah sangat mengantuk Cellyn, dan bayimu apa kau tidak kasihan padanya yang kedinginan? Tapi apa kau tahu Cellyn? Saat aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku tujuanku hanya satu yaitu membahagiakan mu nanti, meskipun akhirnya aku merasa harapan ku pupus begitu mendengar kabar pernikahan mu dengan pria lain, aku selalu berdo'a semoga aku di pertemukan dengan wanita yang benar benar mirip dengan mu, wajahnya dan kepribadiannya, tapi sekarang tuhan justru mengirimkanmu kembali padaku, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih memiliki perasaan yang sama dengan mu, apa kau mau menjadi teman hidupku?”
Ucap Dellon mengungkapkan isi hatinya pada Cellyn, namun ketika menoleh pria itu hanya bisa menghela nafas kala melihat Cellyn yang sudah terlelap dengan begitu pulas bahkan di saat cuaca sedingin ini.
Dellon pun mengangkat tubuh Cellyn membawanya masuk ke dalam rumah, di temani Berryn, Dellon merebahkan tubuh Cellyn di atas ranjang lalu mengusap pipi dingin wanita itu.
“Selamat malam.”
__ADS_1