CINTA DALAM DENDAM

CINTA DALAM DENDAM
BAB 52


__ADS_3

Hari berlalu dengan begitu cepatnya, tidak terasa sudah sebulan berlalu Rachel menjadi istri Kendra, kehidupannya benar benar berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan, pasalnya Liliana dan Avika benar benar menuruti semua keinginan Rachel dirumah itu lantaran wanita itu selalu mengancam akan membawa Kendra pergi dari rumah itu.


Namun meskipun bisa mengendalikan mertua dan adik iparnya itu, Rachel masih belum bisa mengendalikan Kendra, nyatanya pria itu masih sering menghindarinya jika malam sudah tiba, pria itu terus saja berada di ruangan kerjanya bahkan hingga pagi membuat Rachel benar benar tidak bisa memiliki Kendra seutuhnya.


“Iya mom, Rachel baik baik saja disini, mertua Rachel juga tidak bisa berbuat apapun pada Rachel karena Rachel selalu mengancam mereka.”


Ucap Rachel yang sedang menghubungi mommy nya yang berada di negara lain, namun tanpa ia sadari Kendra yang baru saja pulang dari kantor kini berada di balik pintu mendengar semua percakapan Rachel dengan mommynya, Kendra hanya bisa tersenyum miring mendengar semua ucapan Rachel.


Ceklek!


Pintu dibuka membuat Rachel tersentak dan segera menoleh pada pintu dimana kini Kendra berada seraya menatapnya tajam, tentu saja wanita itu kini keringat dingin takut jika Kendra mendengar semua yang ia katakan, di tambah tatapan pria itu yang begitu tajam membuatnya sudah berpikiran jauh.


“Ka-kau sudah pulang?”


Tanya Rachel gugup, Kendra mengangguk lalu segera melangkahkan kaki memasuki kamar lalu meletakkan tas kerjanya di atas sofa, pria itu bersikap seolah olah tidak mendengar apapun dari pembicaraan Rachel dan juga mommynya, bukan tanpa alasan namun ia hanya ingin membuat mama dan adik iparnya itu sadar jika perbuatan mereka salah memaksa Kendra menikahi Rachel.


Sedangkan Rachel kini menghela nafas kala mengira Kendra yang kemungkinan tidak mendengar apapun, lantaran pria itu masih bersikap lembut padanya, Rachel segera menghampiri Kendra lalu duduk di samping pria itu memeluk lengan Kendra dengan erat membuat pria itu segera menepisnya.


“Aku lelah.”


Ucap Kendra seraya meraih handuk lalu segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Rachel hanya bisa mengerutkan bibirnya, lagi lagi Kendra bersikap seperti itu padanya jika ia tengah ingin bermanja dengan pria itu, entah mengapa begitu sulit membuat Kendra melupakan Cellyn.


“Syukurlah di tidak dengar pembicaraan ku dengan mommy tadi.”


Rachel membatin, sedangkan Kendra kini menghela nafas begitu menghindar dari Rachel, entah mengapa belakangan ini ia selalu memimpikan Cellyn bahkan dengan mimpi yang sama jika wanita itu tengah hamil, hal ini membuat Kendra benar benar ingin mencaritahu tentang Cellyn sebenarnya, apa mungkin wanita itu benar benar hamil?


.


.


.

__ADS_1


Sedangkan di negara lain kini Cellyn merasa sangat ketakutan kala orang tuanya mengatakan akan segera terbang ke London tentunya untuk bertemu dengan Cellyn yang sudah sebulan tinggal di negeri orang itu, tak ada yang salah sebenarnya hanya saja tidak memungkinkan jika mereka tidak akan bertemu Dellon, mengingat pria itu sering kerumahnya.


“Apa aku bilang ke Dellon saja untuk tidak kerumah mu selama beberapa hari? Tapi pria itu sangat keras kepala, bukannya menurut dia mungkin bahkan akan datang meskipun sudah ku larang."


Gumam Cellyn yang benar benar hafal dengan sifat Dellon, sejak dulu pria itu memang begitu lebih suka tantangan meskipun Cellyn sudah melarang, sedangkan Cellyn benar benar belum siap jika memang nanti daddynya memintanya untuk pindah rumah demi menjauhi Dellon.


Baru saja dibicarakan pria itu kini sudah menghubungi Cellyn, Cellyn yang sedang di landa pusing mau tak mau harus tetap mengangkat telepon dari Dellon, jika tidak pria itu akan kerumahnya karena mengira terjadi sesuatu pada Cellyn.


“Iya, ada apa?”


Tanya Cellyn sedikit kesal, tidak heran bagi Dellon lantaran memang belakangan ini suasana hati Cellyn selalu berubah, nenek Erlin bilang itu sudah biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil di karenakan hormonnya yang berubah ubah.


“Kenapa tidak kerumah? Apa kau baik baik saja?”


Sudah Cellyn duga pria itu hanya ingin menanyakan keadaannya saja sama seperti saat malam hari, dimana Dellon tidak bisa tidur dan memilih menghubungi Cellyn yang bahkan sudah bermimpi di tidurnya, pria itu menghubunginya membuat Cellyn mau tak mau harus terbangun meskipun dengan sedikit memaksa matanya.


Di tengah percakapan Cellyn tertidur hingga tak menjawab beberapa panggilan dari Dellon membuat pria itu merasa khawatir, pikirannya sudah kemana mana di tengah malam yang begitu dingin Dellon pun datang kerumah Cellyn, bahkan pria itu sampai demam karena terlalu lama berada diluar.


“Aku baik baik saja Dellon.”


Cellyn yang tak tahu pria itu akan kerumahnya tentu saja bingung lantaran pria itu tak bersuara hingga tak lama ia mendengar ketukan pintu membuatnya segera berjalan untuk membukanya, keningnya berkerut kala melihat sosok Dellon di balik pintu.


“Kau disini?”


Dellon mengangguk lalu Cellyn segera membawa Dellon masuk lantaran diluar sedang hujan, namun kening Cellyn berkerut kala melihat wajah pria itu yang sedikit memucat, tangan Cellyn terangkat menyentuh kening Dellon yang terasa panas.


“Kau demam?”


Tanya Cellyn khawatir, sontak saja Cellyn menarik tangan Dellon ke sofa, Cellyn pun mengambil kotak obat dan memberikannya pada Dellon, entah apa yang ada dipikiran pria itu padahal tengah sakit namun nekat untuk datang kerumah Cellyn dalam keadaan hujan seperti ini.


Sedangkan Dellon hanya mengulum senyum melihat perhatian dari Cellyn, memang itu niatnya datang kerumah wanita itu lantaran ingin melihat seberapa perhatian Cellyn padanya, nyatanya wanita itu benar benar terlihat khawatir saat mengetahui dirinya sakit.

__ADS_1


Cellyn juga membantu Dellon untuk minum obat, namun di saat yang bersamaan tiba tiba saja Dellon menggenggam tangan Cellyn membuat wanita itu menoleh lalu menatap lekat pada kedua manik mata pria itu yang begitu menenangkan.


“Cellyn, ada yang ingin ku katakan padamu.”


Ucap Dellon, Cellyn pun menganggukkan kepalanya namun entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang kala tangan Dellon mulai mengusap pipinya yang memerah sempurna, dengan susah payah wanita itu menelan Saliva nya melihat senyum Dellon.


“Aku- aku men..”


Deg!


Dellon harus menunda pengakuannya kala mendengar suara telpon Cellyn yang berbunyi, dengan cepat Cellyn mengangkatnya kala melihat nama sang Daddy tertera di layar ponsel nya.


“Iya dad, besok? Baiklah.”


Ucap Cellyn mengakhiri panggilan tersebut, wanita itu hanya bisa menggigit jari kala mendengar ucapan sang Daddy yang mengatakan mereka akan terbang ke London besok.


”Ada apa? Apa terjadi sesuatu di sana?”


Tanya Dellon yang sedikit penasaran, Cellyn menggelengkan kepalanya seperti nya ia memang harus jujur dan berkompromi dengan pria itu.


“Besok orang tuaku akan ke London, dan aku ingin kau tidak datang kesini selama beberapa hari, kau paham?”


Ucap Cellyn sebenarnya merasa bersalah mengatakan hal itu pada Dellon namun ia juga tidak ingin jika daddynya lagi lagi merendahkan Dellon dan memintanya untuk menjauhi pria itu, Sedangkan pria itu hanya diam seraya mengerutkan kening nya, kenapa ia harus menghindar? Padahal ia justru inginkan bertemu dengan orang tua Cellyn.


“Baiklah aku akan pulang.”


Ucap Dellon seraya beranjak dari sofa namun segera ditahan oleh Cellyn.


“Besok Dellon bukan sekarang!” ketus Cellyn yang sedikit kesal pada pria itu.


“Iya, aku pergi sekarang, besok aku akan kesini bertemu dengan orang tuamu.”

__ADS_1


Deg!


“Apa??!!”


__ADS_2