CINTA DALAM DENDAM

CINTA DALAM DENDAM
BAB 60


__ADS_3

Kendra kini tengah duduk di sofa rumahnya seraya menunggu kepulangan Rachel, jika ditanya kesal tentu saja kesal lantaran ia selalu meminta Rachel untuk izin terlebih dahulu jika memang ingin keluar, pasalnya ia benar benar tidak ingin jika terjadi sesuatu pada wanita itu lantaran sedang mengandung anaknya.


“Dari mana saja?”


Cecar Kendra begitu melihat Rachel yang baru saja masuk, Rachel hanya diam seraya menunduk, entah apa yang harus ia katakan saat ini, selama perjalanan ia tak memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kendra nanti lantaran terlalu khawatir memikirkan Kendra.


“Dan kenapa penampilan mu sangat berantakan? Kau dari mana sebenarnya?!”


Tanya Kendra kini mulai meninggikan suaranya lantaran Rachel yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, Sedangkan Rachel kini hanya bisa terbata bata, bingung dan takut menjadi satu ketika mendengar suara Kendra yang mulai meninggi.


“A-aku sebenarnya aku dari..”


Tak lama terdengar suara ponsel Rachel yang berbunyi membuat wanita itu menghela nafas lega, beruntung ponselnya berbunyi hingga ia bisa menunda menjawab pertanyaan Kendra, namun kala melihat nama yang tertera di layar ponsel nya, wanita itu seketika terkejut.


Bagaimana tidak? Jika tertera nama Gilang di layar ponselnya, raut wajah terkejut Rachel pun mengundang rasa penasaran Kendra, di tambah wanita itu tak kunjung mengangkat teleponnya dan hanya menatapnya dengan raut wajah ketakutan bahkan tangannya gemetar.


Kendra pun menghampiri Rachel lalu mengambil ponsel wanita itu dengan cepat, entah mengapa ia merasa curiga pada apa yang wanita itu lakukan saat berada di luar rumah, keningnya berkerut kala melihat nama pria yang tidak pernah terdengar olehnya menjadi teman Rachel.


“Gilang? Kau punya teman bernama Gilang?”


Tanya Kendra, lagi lagi Rachel hanya diam seraya meremas jari jarinya, sedangkan Kendra kini mulai mengangkat telepon itu membuat Rachel benar benar ketakutan, bagaimana jika Gilang tiba tiba mengatakan hal hal yang baru saja terjadi pada mereka nanti?


“Halo?”


Ucap Kendra, pria itu diam seraya mengerutkan kening nya, lalu menoleh pada Rachel yang kini tengah gemetar setengah m*ti menahan rasa takut, namun tiba tiba saja pria itu menatap layar ponsel Rachel yang sudah menghitam, Kendra menghela nafas kala menyadari baterai ponsel Rachel habis.

__ADS_1


“Ponselmu kehabisan baterai.”


Ucapnya seraya menyerahkan ponsel Rachel, Rachel kini menghela nafas lega, beruntung ponselnya mati di saat yang tepat jika tidak maka mungkin saja kehidupan rumah tangga nya yang sedang berbahagia akan hancur dalam sekejap mata.


“Lain kali jangan keluar sebelum izin padaku, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita?”


Rachel menganggukkan kepalanya lalu Kendra pun mengajaknya untuk segera masuk ke dalam kamar, wanita itu memilih untuk segera membersihkan diri nya sedangkan Kendra kini tengah menunggu nya di atas ranjang, tentu ia ingin berbicara pada calon bayinya.


“Sial!! Kenapa dia harus menelpon?!”


Rachel membatin begitu sampai di dalam kamar mandi, ia benar benar kesal saat ini pada Gilang yang benar benar tidak mengerti keadaanya saat ini, padahal Rachel selalu memberitahunya untuk tidak sembarangan menghubunginya, takut saja jika ia berada di dalam suasana yang tidak tepat seperti sebelum nya.


.


.


.


“Dia sangat tampan.”


Bisik Dellon yang masih setia berada di samping Cellyn di saat semua orang tengah sibuk menatap wajah bayi Cellyn, Cellyn tersenyum mendengar pujian dari Dellon, wajah pria itu terlihat begitu bahagia sama seperti dirinya saat ini meskipun dihati nya masih memikirkan kehidupannya nanti setelah bayinya dewasa.


“Ingat, jangan memikirkan masa lalu mu, cukup tatap aku saja sebagai masa depanmu.”


Kali ini pria itu tidak berbisik membuat semua orang yang ada di ruangan itu mendengar nya, Cellyn pun hanya bisa mencubit tangan Dellon yang sudah membuatnya merasa malu lantaran saat ini semua orang tengah menatap mereka seraya menahan senyum.

__ADS_1


“Sudah punya nama untuk nya?”


Tanya Aaron pada Cellyn, wanita itu menggelengkan kepala nya lantaran memang belum memikirkan nama untuk bayi kecilnya itu, mereka juga tidak ingin sembarangan memberi nama untuk putra pertama Cellyn, yang terpenting tidak ada nama Kendra di dalam nama bayi Cellyn nanti.


“Bagaimana jika berikan namaku saja, lagi pula dia juga putraku karena aku yang menuruti semua keinginan nya saat masih berada di dalam perutmu ini.”


Ucap Dellon membuat Cellyn seketika diam, entah mengapa ada rasa haru saat mendengar usulan dari Dellon, ia semakin yakin jika Dellon benar benar serius dengannya, mengingat bagaimana perjuangan pria itu memenuhi keinginannya saat sedang hamil juga membuat Cellyn sangat terharu.


Wanita itu mengangguk setuju membuat Dellon tersenyum, jika ia sudah memberikan namanya pada bayi itu maka tidak akan ada yang bisa merebut bayi itu darinya, ia juga berjanji akan selalu menjaga Cellyn dan bayinya, hanya perlu dua tahun lagi untuk dirinya bisa menjadi calon yang baik untuk Cellyn.


“Terima kasih sayang.”


Bisik Cellyn membuat Dellon seketika membeku, panggilan yang selama beberapa bulan ini ingin sekali ia dengar keluar dari mulut Cellyn akhirnya kini tercapai, Dellon hanya bisa mengulum senyum, pria itu salah tingkah dan hampir saja mengecup Cellyn jika saja ia tidak mengingat orang orang yang ada di ruangan itu.


“Ya tuhan, kamu tau? Satu kata itu saja sudah memporak-porandakan hatiku.”


Bisik Dellon seraya mengelal kedua tangannya dengan gemas, bahkan semua orang kini tengah menatap aneh pada Dellon yang terlihat tidak bisa diam, entah apa yang terjadi pada pria itu saat ini, yang jelas Cellyn juga tengah menahan senyum menatap tingkah Dellon.


“Diam Dellon, kau ingin di anggap gila sama semua orang?”


Bisik Cellyn, Dellon pun mengangguk membuat Cellyn merasa bingung, aneh memang pria yang satu ini padahal Cellyn hanya ingin mengabulkan permintaan Dellon yang memang sejak lama ia inginkan, namun reaksi pria itu justru membuat Cellyn merasa malu sendiri.


“Ya tuhan, anak ini kenapa? kenapa sejak tadi tubuhnya tidak bisa berhenti bergerak? apa dia salah makan?”


Nenek Erlin berbicara setelah melihat keadaan Dellon yang seperti cacing kepanasan, semua orang hanya bisa tertawa lantaran memang benar apa yang nenek Erlin katakan, sedangkan yang di tertawakan hanya diam tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

__ADS_1


“Om, Tante apa bisa aku nikahkan Cellyn sekarang saja?”


__ADS_2