CINTA DALAM DENDAM

CINTA DALAM DENDAM
BAB 57


__ADS_3

Pagi itu sebelum Kendra terbangun, Rachel bangun lebih dulu entah mengapa mendadak perutnya merasa sangat mual, apa ini yang dinamakan morning sickness yang di alami ibu ibu hamil? Tapi kenapa sekarang setelah kandungan nya berusia dua bulan?


“Oh ya tuhan rasanya benar benar tidak enak.”


Gumam Rachel seraya keluar dari kamar mandi, disana matanya membulat melihat Kendra yang sudah duduk di tepi ranjang seraya menatapnya aneh, bagaimana tidak? Jika biasanya ia akan melihat wajah fresh Rachel karena selalu merawat tubuh dan wajahnya, pagi ini Kendra di suguhkan dengan wajah pucat wanita itu.


“Kau kenapa? Kenapa wajahmu pucat sekali?”


Jelas saja pria itu bertanya karena memang masih ada rasa khawatirnya pada Rachel, Rachel pun menggelengkan kepalanya seraya duduk di samping Kendra, berpura-pura tidak tahu apapun agar semua terlihat lebih nyata, melihat hal itu tentu saja Kendra merasa bingung.


“Sakit? Tapi tidak biasanya kau sakit begini.”


Kendra kemudian mulai menyentuh kening Rachel, tidak panas namun tubuh wanita itu benar benar terlihat sangat lemas, Kendra pun segera beranjak dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan apapun, tentu hal itu membuat Rachel sangat kesal karena menganggap Kendra tidak peduli padanya.


“Apa tidak ada rasa kasihan sedikit pun? Aku ini istrinya!”


Rachel membatin, wanita itu memilih untuk merebahkan dirinya dia atas ranjang hingga tak lama kemudian Kendra pun keluar setelah selesai membersihkan diri nya, Kendra menatap pada Rachel entah mengapa ada rasa kasihan melihat wanita itu begitu lemah.


“Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke dokter.”


Mendengar hal itu tentu saja Rachel sontak menoleh pada Kendra yang kini sudah menuju lemari pakaiannya, Rachel tersenyum lalu segera beranjak dari sana mengganti pakaiannya, tak lupa ia menghubungi salah satu temannya yang juga seorang dokter kandungan agar bisa di ajak kerja sama.


Sepanjang perjalanan Rachel hanya tersenyum menatap Kendra, entahlah ini pertama kalinya pria itu menawarkan diri untuk mengantarnya meskipun ia tidak akan ikut masuk ke dalam ruangan dokter, namun Rachel akan berusaha sebaik mungkin agar nanti Kendra ikut dengannya.


“Sudah, turunlah aku akan berangkat kekantor.”


Ucap Kendra begitu mereka sampai di rumah sakit, sedangkan Rachel kini berpura-pura pusing agar Kendra mengantarnya keruangan dokter, melihat Rachel yang terlihat benar benar sakit membuat Kendra mau tidak mau mengantarkan nya kedalam rumah sakit.


“Maaf, sudah merepotkan mu.”

__ADS_1


Ucap Rachel saat Kendra merangkul nya namun ia tak mendapat respon apapun dari pria itu hingga akhirnya kini mereka tiba di ruangan dokter yaitu teman Rachel, Kendra yang hendak kembali ke mobil pun terpaksa mengurungkan niatnya lantaran Rachel yang memintanya untuk tetap tinggal.


Tak ingin berdebat di hadapan dokter membuat Kendra memilih menurut saja, dan dengan malas ia mendengar percakapan dokter itu dengan Rachel yang menanyakan seputar keluhan Rachel, hingga akhirnya dokter itu mengajak Rachel untuk USG namun Kendra masih belum peduli.


“Pak Kendra, apa anda tidak ingin menemani istri anda?”


Tanya dokter muda itu pada Kendra, Kendra pun menggelengkan kepalanya seraya fokus pada ponselnya hingga tak lama mereka pun kembal duduk, Rachel yang sejak tadi tegang pun kini mulai menatap Kendra, takut saja jika pria itu akan mengamuk dan menolak bayinya.


“Selamat untuk kalian berdua, kalian akan menjadi orang tua.”


Deg!


Sontak saja Kendra menghentikan kesibukannya pada ponselnya, pria itu mengangkat wajah nya lalu menatap sang dokter yang kini tersenyum menatap keduanya, lalu kini tatapan Kendra beralih pada Rachel yang berpura-pura terkejut.


“Maksudnya saya hamil?”


Dokter itu mengangguk membuat Kendra semakin terkejut, entahlah ia benar benar tidak mengerti dengan perasaannya saat ini entah harus bahagia atau justru sedih dan marah karena ia melakukan hal itu dalam keadaan tidak sadar dan jujur saja ia tidak bisa menerima fakta bahwa ia telah menyentuh Rachel.


Dokter itu menggelengkan kepala nya membuat Kendra sontak beranjak dari sana lalu keluar dari ruangan itu membuat Rachel terdiam, benar saja apa yang ia duga, jika Kendra tidak mungkin bisa menerima kabar ini, Rachel hanya bisa memijat pangkal hidung nya, ia benar benar bingung saat ini.


“Rachel, bagaimana? Kau yakin akan tetap mempertahankan kandungan mu? Kau tidak lihat reaksi suami mu? Dia terlihat tidak menerima kehadiran bayi di dalam perutmu itu.”


Rachel yang sedikit kesal pun memilih untuk pergi dari sana, ia memang sudah banyak pikiran kini temannya itu justru menambah beban pikirannya, sedangkan Kendra kini berada di dalam mobil nya seraya sesekali memukul setir lantaran merasa sangat marah pada dirinya sendiri.


“Kenapa Ken!! Kenapa kau justru merasa marah? Seharusnya kau merasa bahagia karena kau akan menjadi seorang ayah!!”


Pekik Kendra, entahlahh anehnya ia justru merasa belum terima dengan kabar kehamilan Rachel, entah mengapa ia masih berharap jika dirinya dan Cellyn akan bertemu dan kembali bersama, memperbaiki semua yang telah rusak.


Jika Kendra memilih untuk ke kantor nya, maka Rachel memilih untuk bertemu dengan Gilang, ya wanita itu masih berhubungan dengan Gilang yang tentu saja masih sudi bersama dengannya lantaran merasa sangat untung.

__ADS_1


“Kenapa sayang? Kenapa wajahmu seperti itu?”


Tanya Gilang melihat wajah Rachel yang ditekuk kesal, Rachel tak menjawab dan hanya merebahkan dirinya di apartemen Gilang yang tentu saja ia beli untuk pria itu agar mereka lebih leluasa berdua tanpa harus memesan hotel lagi.


“bagaimana ini? Kendra terlihat tidak menerima bayi ini, apa yang harus kita lakukan?”


Tanya Rachel akhirnya membuat Gilang seketika merubah raut wajahnya, jika sudah membahas bayi yang ada di dalam perut Rachel ia benar benar sangat kesal, lantaran sejak awal ia sudah menyuruh Rachel untuk menyingkirkannya tapi wanita itu menolak.


“Salahmu! Bukan kah sudah ku bilang singkirkan saja dia?”


Rachel menatap Gilang dengan tajam, pria itu benar benar tidak punya pikiran atau bagaimana? Jika ia tak menuruti ucapan Rachel malam itu maka tidak akan ada yang berkembang di perut Rachel.


Plak!


“Kau mengira ini hanya kesalahan ku? Kau lupa, kalau kau yang terburu-buru tanpa memakai itu?”


Gilang terdiam menunduk namun tidak dengan hatinya yang rasanya ingin sekali membalas tamparan dari wanita itu, jika saja ia tak mengingat ia sekarang tinggal di apartemen yang Rachel beli dan hidup dari uang wanita itu maka mungkin ia sudah memb*nuhnya saat ini juga.


“Kau sama saja! Hanya bisa membuat ku tambah kesal!”


Ucap Rachel mengambil tasnya lalu segera pergi dari sana sedangkan Gilang kini mengusap pipinya yang terasa panas seraya menatap pintu yang baru saja Rachel banting lantaran merasa sangat kesal dengan semua orang.


Rachel memilih untuk pulang dan beristirahat, entah mengapa tubuhnya merasa sangat lelah padahal biasanya ia lebih banyak melangkah dari sekarang dan semua baik baik saja, Rachel masuk ke dalam kamar lalu segera merebahkan diri hingga akhirnya tertidur pulas.


Hingga sore hari, Kendra yang baru saja pulang dari kantor pun kini menatap Rachel yang tengah terlelap di atas ranjang, entah mengapa pria itu merasa iba dan menghampiri Rachel seraya menyelimuti tubuh wanita itu, namun matanya kini tertuju pada perut Rachel.


“Maafkan papa sayang, papa janji akan bersikap lebih baik padamu dan juga mamamu.”


Ucap Kendra mengusap perut Rachel membuat wanita itu terbangun dari tidurnya lalu menatap Kendra yang tiba tiba saja berada di hadapan nya, Kendra tersenyum melihat Rachel yang baru saja terbangun membuat Rachel merasa bingung.

__ADS_1


“Kau sudah makan?”


Deg!


__ADS_2