
Dua tahun berlalu, kini Kendra semakin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan di negara Singapura, pria itu benar benar fokus pada pekerjaannya membuat Pramudana sebagai papanya merasa sangat khawatir karena umurnya semakin bertambah namun ia belum juga berminat untuk mencari pasangan.
“Ken, kau bilang sudah melupakan Cellyn tapi kenapa belum mencari pasangan hidup? Apa kau ingin menghabiskan hidupmu hanya dengan kesendirian?”
Kendra hanya bilang menghela nafas panjang mendengar omelan sang papa dari sambungan telepon, dalam dua tahun ini ia selalu saja mendapatkan omelan dari sang papa yang memintanya untuk segera mencari pasangan hidup padahal ia masih belum ingin menikah untuk yang ketiga kalinya.
“Iya pa, nanti Kendra cari pasangan hidup Kendra.”
Ucap Kendra untuk yang kesekian kalinya pada sang papa, Pramudana hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban yang itu itu saja dari Kendra, namun apa boleh buat ia juga tidak ingin Kendra menjadi kesal nantinya, mungkin ia masih membutuhkan waktu untuk membuka hatinya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu papa jenguk mama mu dulu.”
Ucap Pramudana, Kendra pun mengiyakan lalu segera mematikan sambungan telepon, sedangkan Pramudana kini tengah menghela nafas menatap layar ponselnya yang sudah mati, pria itu kemudian mengambil bekal makanan yang akan ia bawa pada Liliana.
Pria itu segera masuk ke dalam mobil melajukannya kesebuah tempat dimana kini Liliana berada, tak butuh waktu lama untuk Pramudana sampai di sana karena memang jaraknya yang tak begitu jauh, Pramudana kemudian masuk namun langkahnya terhenti begitu melihat Liliana yang termenung menatap jendela.
“Liana.”
“Liana, aku bawakan makan siang untukmu.”
__ADS_1
Ucap Pramudana, tak lama wanita itu pun menoleh pada Pramudana seraya mengerutkan keningnya, melihat itu jelas saja Pramudana menyadari jika kini Liana kembali lupa padanya, tak lama kemudian Liana pun tertawa seraya menepuk tangannya dengan semangat membuat Pramudana merasa iba.
“Sudah hampir setahun sejak aku menemukanmu Liana, tapi kau masih saja belum sembuh, apa sebegitu merasa bersalahnya kau pada orang orang yang kau sakiti hingga pada setiap orang yang kau temui kau selalu meminta maaf.”
Ucap Pramudana menatap Liliana yang terlihat sangat lusuh, Ya beberapa bulan yang lalu Pramudana menemukan Liliana dalam kondisi yang sangat menyedihkan dimana ia tidak mengingat apapun, dan juga suka membuat keributan, sarafnya terganggu dan hal itulah yang membuat Pramudana memutuskan untuk merawatnya dirumah sakit j*wa yang berada tak jauh dari rumahnya.
Bahkan beberapa kali Liana hampir saja akan menyakiti dirinya jika saja tidak diketahui oleh perawat disana, entahlah meskipun kesalahannya sangat fatal namun melihat kondisi wanita itu membuat Pramudana benar benar merasa iba, Kendra dan Avika juga mengetahui kondisi Liana namun Pramudana melarang mereka untuk menemui Liana, cukup ia saja.
”Maafkan akuu, aku bersalah maafkan akuu!!”
__ADS_1
Pekik Liana tiba tiba membuat Pramudana panik, padahal baru saja wanita itu tertawa tapi sekarang sudah kembali mengamuk hingga membuat dokter harus menyuntikkan obat penenang pada wanita itu dan akhirnya Liana pun tertidur, Pramudana hanya bisa menatap wanita itu dari kejauhan setelah dokter memintanya untuk memberi waktu istirahat pada Liana.
“Cepat sembuh Liana, dan temui orang orang yang kau sakiti selama ini!”