
Pagi datang menyingsing, Amine menghubungi sekretarisnya dan menyuruh dia membatalkan semua jadwal pertemuannya di kantor. Hari ini Amine akan datang menemui Kemal. Amine melihat Ishla masih mengenakan pakaian biasa.
"Kau belum bersiap, sayang?" tanya Amine.
"Hari ini aku libur kuliah, Ibu." ucap Ishla.
Amine terlihat sangat terburu-buru. Selesai menghabiskan sarapannya, Amine mencium Ishla lalu pergi.
Pagi ini Ishla menyuruh Arash untuk tidak datang ke rumahnya, entah kenapa hari ini dia ingin menghabiskan waktunya di rumah.
Semua orang sudah turun untuk sarapan. Ethan yang biasanya datang terlambat, dia sudah ada di meja makan. Ethan menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara.
"Kemana kalian pergi semalam?" Pertanyaan Adlar membuat jantung Aiyla terasa akan copot. Tidak ada satupun yang menjawab, mereka diam tak berkutik.
"Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu kemana kalian pergi semalam." Adlar melihat Ethan yang dari tadi menatap Nilam. Aiyla hanya diam menghabiskan sarapannya.
"Ethan, jika kau ada masalah katakan saja padaku. Tapi jika kau mencoba untuk menutupi semua masalah mu itu, jangan salahkan aku jika nanti aku akan mengirim mu kembali ke Amerika." Ethan terdiam mendengar perkataan Adlar.
Pagi itu Aiyaz sudah tidak sabar ingin menemui sosok Ishla yang diceritakan Aghna. Sesampainya di kampus, Aghna menyuruh Aiyaz untuk menunggunya sebentar. Tidak lama lagi Ishla dan Arash akan tiba.
"Itu dia!" Aghna melihat Arash yang baru saja turun dari mobil. Aghna menghampirinya, "Apakah Ishla tidak datang hari ini?" tanya Aghna.
"Hari ini dia libur," Aghna memperkenalkan Aiyaz pada Arash.
"Kakak, ini Mr. Arash dosen ku."
Aiyaz tidak lupa untuk berterimakasih pada Arash karena sudah menyelamatkan Aghna dari kecelakaan itu. Aiyaz menanyakan tentang Ishla pada Aghna, tapi sepertinya ini bukanlah hari keberuntungannya, hari ini Ishla libur, karena itu dia tidak datang. Aiyaz sedikit kecewa, tapi masih banyak kesempatan lain untuk bisa menemui Ishla.
Pagi ini seseorang menghubungi Adlar,
"Tuan aku sudah mendapatkan alamat yang kau cari."
"Baiklah, kirimkan padaku sekarang juga!" Adlar menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaan Amine, alamat itu sudah terkirim ke ponsel Adlar. Dia segera membawa mobilnya ke alamat itu.
Hari itu Ishla menyibukkan dirinya dengan mengerjakan tugas kuliahnya. Dia akan membuat sebuah seni lukis, saat dilihat ternyata kertas yang dia gunakan untuk melukis sudah habis. Ishla menemui Bibi Selma di dapur, kebetulan saat itu Selma sedang duduk santai karena semua pekerjaan rumah sudah selesai.
"Bibi Selma, apa kau sibuk hari ini?" tanya Ishla.
"Tidak sama sekali, sayang. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Selma.
Ishla memberitahu bibi Selma jika dia membutuhkan kertas untuk melukis. Dengan senang hati Selma akan pergi membeli kertas itu dengan diantar sopir.
Setibanya di kantor, sekretaris Aiyaz memberitahunya jika Aiyla sedang menunggu di ruangannya.
"Sepagi ini?" ucap Aiyaz. "Tidak siang, tidak malam dia selalu saja menghantui ku," Aiyaz pergi ke ruangannya. Dia terkejut melihat Aiyla dengan membawa beberapa orang wartawan ke kantornya.
"Apa semua ini?" tanya Aiyaz.
Dia meminta wartawan itu untuk keluar dari ruangan Aiyaz secepatnya.
"Tunggu dulu!" ucap Aiyla. "Kenapa kau mengusir mereka?"
"Kau dan orang-orang mu ini sudah membuatku tidak nyaman, aku bisa saja melaporkan mereka kepada atasannya dan mereka akan kehilangan pekerjaannya."
Wartawan itu segera pergi dari ruangan Aiyaz.
"Kenapa kau masih disini?" Aiyaz menatap Aiyla kesal.
"Apa kau tidak dengar apa yang baru saja aku katakan? Keluar!" teriak Aiyaz pada Aiyla. Ini kali kedua Aiyaz berteriak padanya, dia tidak bisa menerimanya, dia akan membuat Aiyaz untuk meminta maaf padanya.
Azizah meminta pelayan memanggil Nilam dan Ethan untuk turun. Tidak lama mereka datang dan duduk.
__ADS_1
"Kau memanggil kami, Ibu?" tanya Nilam. Tadi malam, Azizah melihat Nilam datang bersama Ethan dan Aiyla. Pagi ini Azizah tidak melihat mobil Ethan terparkir di dalam rumah.
"Apa kau kalah dalam balapan tadi malam? Sampai-sampai mobil mu yang jadi taruhannya." Perkataan Azizah seperti sebuah bom yang baru saja meledak.
"Dari mana nenek tahu?" Nilam dan Ethan bingung. Azizah tersenyum sambil meminum tehnya,
"Ethan, Ethan. Azizah menggeleng, "Tidak ada yang bisa membodohiku di rumahku sendiri. Aku tahu setiap gerak-gerik semua orang di rumah ini, termasuk kau."
Jika orang menganggap Azizah hanya diam saja tanpa tahu apapun, itu sebuah kesalahan besar. Banyak mata-mata yang Azizah pekerjakan untuk memantau mereka semua.
"Terimakasih, Ibu. Kau tidak memberitahu apapun pada Adlar tentang masalah ini." ucap Nilam.
"Kau beruntung karena kau adalah cucuku, semua kesalahanmu aku tutupi dari ayahmu, tapi sepertinya sikapmu tidak akan pernah berubah." Azizah menyuruh Ethan untuk mengemasi semua barang-barangnya.
"Untuk apa, Nenek?" tanya Ethan.
"Kau akan kembali ke Amerika." Azizah sudah memesan tiket untuk keberangkatan Ethan ke Amerika. Penerbangannya pukul lima sore nanti. Azizah berharap jika Ethan kembali nanti dia sudah berubah.
"Ibu, aku tidak ingin kembali ke Amerika." Ethan meminta ibunya untuk membujuk Azizah agar tidak mengirimnya kembali ke Amerika.
Amine sudah berada di depan rumah Kemal. Dia akan menghadapi apapun yang terjadi.
Tok... Tok... Tok...
Ashika berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang?" tanya Bahar dari dalam. Ashika membawa Amine masuk ke dalam. Bahar sangat marah ketika melihat Amine datang lagi ke rumahnya.
"Untuk apa lagi kau datang kemari?" tanya Bahar menahan amarahnya.
Zafer yang baru saja selesai mandi mendengar suara keributan dari bawah. Dia pergi untuk melihatnya.
"Siapa dia?" tanya Zafer yang baru saja datang. Amine melihat penampilan Zafer dari atas sampai bawah.
"Apa dia perempuan yang sudah memfitnah ayah kemarin?" Bahar mengangguk mengiyakan.
"Hey! Berani sekali kau datang kemari, apa kau pikir karena kau orang kaya kami akan diam saja jika kau menginjak-injak harga diri kami? Tidak!"
"Zafer! teriak Kemal.
"Apa aku mendidikmu seperti itu? Orang yang ada di hadapanmu itu seorang perempuan, dan dia jauh lebih tua darimu. Kau mengatakan hal seperti itu, sama saja kau melakukannya pada ibumu."
Kemal menyuruh Amine duduk dan meminta Ashika untuk membuatkan teh untuknya. Secara baik-baik Kemal menanyakan tujuan Amine datang menemuinya. Semua berkumpul di ruangan untuk mendengar penjelasan Amine.
"Aku datang kesini untuk mencari tahu tentang suatu hal,"
"Apa itu?" tanya Bahar.
Adlar baru saja tiba di depan sebuah rumah.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi!!!"
Ishla yang mendengar suara itu dari kamar, langsung keluar untuk membukanya. Ketika di lihat ternyata tidak ada orang. Lalu dari mana suara itu berasal?
Seorang perempuan tua keluar dan menemui Adlar.
"Kau mencari siapa?"
"Apa ini rumah Amine?"
"Amine?" perempuan tua itu terlihat bingung. Dia tidak mengenal yang namanya Amine. Di rumah ini dia hanya tinggal sendiri, tidak ada nama Amine di rumahnya.
__ADS_1
"Maaf sudah mengganggu mu, nyonya." Adlar pergi dari rumah itu. Dia melihat kembali alamat rumah yang dikirimkan padanya. Alamat rumah itu sama, tapi kenapa pemilik rumah itu bukan Amine, melainkan orang lain?
Setelah mendengar semua cerita Amine, Bahar ikut sedih dengan kecelakaan yang menimpa Ishla. Kedatangan Amine karena dia mendapat informasi bahwa pemilik plat mobil ini adalah Kemal.
"Dimana mobil itu?" tanya Amine.
Kemal menceritakan jika putranya, Zafer tadi malam ikut balapan liar dan kalah. Dia harus memberikan mobil itu pada orang lain. Jika bukan Kemal pemilik sebenarnya mobil itu, lalu siapa?
"Dimana kau mendapatkan mobil itu?" tanya Amine.
Tiga tahun yang lalu, ada seseorang yang datang ke bengkel Kemal untuk memperbaiki mobilnya yang rusak. Mobilnya saat itu rusak parah, dan seperti ada darah yang menempel di bagian depan mobil itu.
Selama dua Minggu, Kemal berhasil memperbaiki mobil itu seperti baru lagi. Hanya saja pemilik mobil meminta Kemal untuk merubah warna mobilnya yang semula hitam menjadi Putih. Entah apa yang terjadi, setelah menerima telepon dia tiba-tiba saja memberikan mobil itu pada Kemal. Dia sudah tidak lagi menginginkannya, dia akan membeli mobil baru. Kebetulan saat itu Zafer berulang tahun, dengan sangat senang hati Kemal memberikan mobil itu sebagai hadiah untuknya. Mobil itu selalu Zafer bawa ke tempat kerjanya. Dia juga mengantar Ashika kuliah dengan mobil itu, tapi sayang mobil itu sudah menjadi milik orang lain.
"Apa kau masih ingat siapa pemilik dari mobil itu?" tanya Amine.
"Aku sudah lupa dengan wajahnya, dia juga tidak menyebutkan siapa namanya."
Nilam menemui Azizah di kamarnya. Dia memohon untuk tidak mengirim Ethan kembali.
"Apa yang bisa aku harapkan darinya? ucap Azizah.
"Ibu, aku mohon beri dia kesempatan satu kali lagi!"
"Baiklah, satu kali lagi. Jika dia melakukannya lagi, tidak ada lagi kesempatan baginya."
Nilam pergi memberitahu kabar bahagia ini pada Ethan.
"Terimakasih banyak, Ibu." Nilam mengingatkan hanya satu kesempatan yang harus Ethan gunakan dengan baik, jika tidak Nilam tidak bisa lagi membantunya.
"Bagaimana dengan CCTV itu? Apa kau sudah menemukannya?" Nilam mengalihkan topik pembicaraannya.
"Tidak ada, Ibu. Aku sudah mencarinya tapi pemilik toko buku dekat kejadian itu tidak memiliki CCTV." Nilam sangat lega mendengarnya.
Siang itu Aiyla kembali dengan wajah sangat kesal. Dia pergi ke kamar dan membanting pintu kamarnya.
Bruk!!! Kamar Aiyla tidak jauh dari kamar Ethan, sampai suara bantingan pintu itu terdengar Nilam.
"Suara apa itu?" Nilam keluar untuk melihatnya. Kebetulan siang itu pelayan sedang merapikan kamar tidur Aiyla.
"Keluar dari kamarku sekarang juga!" bentak Aiyla pada pelayan itu. Nilam datang dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini? Kenapa datang-datang kau langsung marah seperti ini?" tanya Nilam.
"Sudahlah, Ibu! Jangan ganggu aku, aku ingin sendiri!" Aiyla menyuruh Nilam untuk pergi dari kamarnya.
Selesai sudah kesalahpahaman keluarga Kemal pada Amine. Dia pamit pulang, dan meminta maaf karena sudah menuduh Kemal yang bukan-bukan. Amine melihat Ashika yang seharian itu ada di rumah.
"Kau tidak pergi kuliah, Nak?" tanya Amine. Ashika hanya menatap ibunya, biar dia saja yang menjelaskannya. Bahar menceritakan perekonomian keluarganya pada Amine. Ashika harus menunda kuliahnya sampai uang kuliah yang selama empat semester itu dilunasi.
"Jurusan apa yang kau ambil?" tanya Amine.
"Arsitektur," ucap Ashika.
"Putriku juga mengambil jurusan arsitektur." ucap Amine.
Amine memberikan alamat rumahnya pada Ashika. Dia meminta Ashika untuk datang kerumahnya besok pagi.
"Apa kau tidak bekerja?" tanya Amine pada Zafer. Hari ini Zafer akan keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru yang gajinya lebih besar.
"Kau bisa menyetir bukan?" tanya Amine. Mulai besok Amine meminta Zafer untuk menjadi sopir pribadinya. Dia akan membayar berapapun yang Zafer minta.
__ADS_1
"Benarkah?" Kemal dan Bahar tidak bisa berkata apa-apa, dia sangat bersyukur karena Allah sudah mendatangkan orang baik seperti Amine kepadanya, dia tidak lagi harus meminjam uang kepada tetangganya.
"Terimakasih banyak, Nyonya." ucap Bahar terharu.