
Setelah kejadian itu Nilam pergi menemui pengacaranya, Antonio untuk menyelesaikan kasus putranya. Setelah menceritakan semuanya, Antonio merasa kasus itu sangat serius. Dia tidak bisa melakukan apapun karena semua bukti yang dimiliki lawan sangat kuat dan dengan mudah akan membuat Ethan masuk ke dalam penjara. Sementara itu, sepulang dari kediaman Diaz, Amine pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan rekaman CCTV itu. Setelah melihat semuanya, polisi akan memastikan jika pelaku tabrak lari itu akan segera ditangkap. Setelah darisana, Amine melanjutkan perjalanannya menuju kantor penyiaran berita. Disana dia bertemu dengan Devan Alexen.
"Selamat datang, nyonya." sambut Devan ramah.
"Terima kasih,"
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Devan.
Amine memberitahu Devan jika besok pagi akan ada penangkapan di rumah kediaman Diaz.
"Ini akan menjadi berita yang sangat besar, nyonya." ucap Devan.
"Karena itu aku ingin kau meliput beritanya lalu menyebarkannya ke semua penjuru dunia." pinta Amine.
"Baiklah, aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik." ucap Devan.
Setelah Amine pergi, Devan mengerahkan semua timnya untuk bersiap-siap. Mereka harus sudah ada di kediaman Diaz besok pagi. Berita ini akan membawa keuntungan yang besar baginya juga perusahaannya. Harga diri dan kehormatan yang dijunjung tinggi keluarga Diaz akhirnya akan runtuh besok pagi. Devan tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi di kediaman Diaz untuk itu dia sendiri ikut turun dalam meliput berita ini.
***
Malam ini Azizah tidak bisa tidur karena semua perkataan Amine masih terngiang di telinganya. Ucapannya itu terdengar sangat meyakinkan. Azizah takut jika kehormatan dan nama baik keluarga Diaz yang selama ini dia jaga akan hancur. Sementara itu, Adlar pergi untuk menemui Ishla. Sesampainya disana, Ishla terlihat sedang membuat bahan untuk presentasinya besok. Saat melihat kedatangan Adlar, Selma tidak langsung menyuruhnya masuk. Dia pergi menemui Ishla untuk memberitahunya. Melihat kedatangan Adlar, sikap Ishla terlihat dingin.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Ishla. "Jika untuk bertemu dengan ibuku, dia sedang tidak ada di rumah."
"Aku ingin menemuimu untuk membicarakan hal penting." ucap Adlar.
Ishla menyuruhnya masuk dan meminta Selma untuk menyuguhkan segelas teh.
"Maafkan aku, nak. Maafkan semua kesalahan yang aku perbuat di masa lalu. Aku sudah meninggalkanmu dan juga ibumu." ucap Adlar sambil menatap dalam wajah Ishla.
Adlar memberitahu Ishla jika dia sampai saat ini masih mencintai ibunya. Pernikahannya dengan Nilam itu semua tidak lepas dari permintaan ibunya, bukan keinginannya. Setelah tahu Amine memiliki seorang putri, dia terus mencaritahu keberadaannya. Tapi, Amine bersikeras menyembunyikan identitasnya.
"Aku ini ayah yang sangat buruk, nak. Apa kau sangat membencimu sampai kau tidak bisa memaafkanku? Apa tidak ada kesempatan kedua bagiku?" ucap Adlar.
Ishla sangat sedih mendengar semua perkataan Adlar tetapi dia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
Di sisi lain, malam itu Aiyla pergi ke kamar neneknya untuk melihat keadaannya. Tiba disana, Aiyla melihat neneknya sudah tergeletak di lantai.
"Nenek, bangunlah!" ucap Aiyla dengan perasaan cemas. Dia mencoba menghubungi ponsel ibunya tapi tidak aktif.
Sementara itu, saat hati Ishla mulai tersentuh, suasana berubah setelah ponsel Adlar berbunyi. Saat tahu panggilan itu dari Aiyla, dia langsung menjawabnya di depan Ishla.
__ADS_1
"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Adlar.
"Nenek tidak sadarkan diri, ayah. Tidak ada siapapun di rumah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Cepatlah datang!" suara Aiyla terdengar sangat khawatir. Adlar menutup teleponnya dan langsung pergi ke sana. Dia meminta maaf pada Ishla karena harus pergi.
"Pergilah!" Langkah Adlar berhenti saat mendengar perkataan Ishla. Dia membalikkan badannya ke belakang.
"Jika kau ingin pergi, silahkan saja. Kau tidak perlu izin dariku. Lagi pula, mereka jauh lebih penting bagimu daripada aku." Ishla langsung berlari ke kamarnya. Disana dia melepas semua kesedihannya. Air mata yang sempat terbendung mengalir dengan deras dari kelopak matanya.
"Untuk apa kau datang jika pada akhirnya kau lagi-lagi pergi meninggalkan aku?" ucapnya.
Selma yang melihat semua itu langsung menghubungi Amine dan memberitahu semuanya. Sesampainya di rumah, Amine langsung pergi ke kamar putrinya. Disana Amine melihat putrinya itu sudah tidur. Amine menyelimuti tubuh Ishla, dia mengelus-elus rambutnya sambil mencium keningnya. Saat tertidur, Amine melihat air mata putrinya jatuh dan membasahi pipinya. Dia langsung menghapusnya. Ishla yang merasakan sentuhan itu, langsung terbangun.
"Ibu?" ucapnya. Ishla langsung menghapus air matanya. "Kapan kau datang? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Ibu tidak ingin menggangu tidurmu. Kau pasti sangat lelah karena pekerjaanmu di kantor, bukan? Oh iya, kenapa kau menangis sayang? Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Ishla menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada apapun yang terjadi, tetapi matanya menjelaskan begitu banyak kesedihan yang tersimpan di dalamnya.
Walau tidak menjelaskan apapun, Amine tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja dia tidak ingin memaksa putrinya untuk mengatakan hal yang dia sendiri tidak ingin mengatakannya. Malam semakin larut, semua orang lelap dalam tidurnya tapi tidak dengan Nilam. Dia masih memikirkan cara untuk bisa menyelamatkan putranya dari kasus itu. Sepulangnya dari rumah pengacara, Nilam meminta Adlar untuk mengemas semua barang miliknya. Nilam akan mengirim Ethan kembali ke Amerika. Untuk sekarang ini Ethan harus pergi jauh dari negara ini agar polisi tidak bisa menangkapnya. Saat akan memesan tiket pesawat, Nilam diberitahu jika malam ini tidak ada penerbangan karena cuaca sangat buruk. Penerbangan akan dibuka kembali pukul 7 pagi.
\*\*\*
"Ibu, kalian akan pergi kemana?" tanya Aiyla yang baru saja datang.
"Ibu akan mengirim kakakmu ke luar negeri. Jika kau mau ikut, ayolah segera bersiap!"
"Tapi ibu, bagaimana bisa kita keluar darisini? Di depan sudah banyak wartawan yang menunggu."
Nilam terkejut mendengarnya. Usaha Ethan untuk pergi semakin kecil. Nilam berpikir untuk apa semua wartawan mendatangi rumahnya sepagi ini. Dia sangat yakin jika Amine yang melakukan semua ini pada keluarganya. Tidak lama kemudian, terlihat beberapa mobil polisi masuk ke kediaman Diaz.
"Ibu, polisi datang." ucap Aiyla.
Ethan terlihat sangat khawatir semua tubuhnya gemetar. Pelayan membiarkan polisi itu untuk masuk.
"Selamat pagi, nyonya. Kami datang dengan membawa surat penangkapan atas nama Ethan Diaz."
Sebelum menjelaskan apapun, polisi itu dengan tegas langsung membawa Ethan ke kantor.
"Tolong jangan bawa kakakku!" ucap Aiylam mencoba menahan kepergian Ethan.
"Putraku tidak bersalah pak, tolong lepaskan dia!" ucap Nilam.
__ADS_1
"Kau bisa menjelaskan semuanya di kantor," ucap polisi itu.
Semua wartawan sudah menunggu di depan. Mereka mengambil foto Ethan bersama polisi itu dalam keadaan tangan sudah terborgol. Mereka menghampiri Nilam dan Aiyla untuk dimintai penjelasan. Tapi mereka tidak angkat bicara. Devan menghampiri kepala komisaris yang saat itu juga ikut dalam penangkapan Ethan.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak komisaris?" tanya Devan.
Pak komisaris berdiri dengan mengahadap ke sebuah kamera untuk mengatakan kebenarannya.
"Ethan Diaz, selaku cucu tertua keluarga Diaz pagi ini kami tangkap karena kasus tabrak lari yang dia lakukan terhadap seorang gadis tiga tahun yang lalu." jelas komisaris.
"Bagaimana dengan gadis itu, pak? Apa dia bisa diselamatkan?" tambah Devan.
"Gadis itu sempat mengalami koma selama tiga tahun, namun Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup. Bukan hanya itu, setelah bangun dari koma gadis itu mengalami kelumpuhan dan amnesia."
"Apa kau tahu siapa gadis yang menjadi korban tabrak lari itu?" tanya Devan kembali.
"Iya, dia adalah Ishla Diannova Laraz. Putri dari Amine Laraz."
Setelah membeberkan semuanya, komisaris itu langsung pergi untuk melakukan tindak lebih lanjut terhadap kasus ini. Setelah mendapat semua informasinya, Devan kembali ke kantor untuk menulis berita itu dan segera menerbitkannya.
\*\*\*
Pagi itu, Adlar mendapat kabar jika Ethan baru saja dibawa ke kantor polisi. Dia mengutus pengacaranya untuk segera menangani kasus Ethan. Sementara itu, Adlar belum bisa melihat putranya karena harus menjaga ibunya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Tidak berselang lama, akhirnya berita itu tersebar di surat kabar juga internet. Semua saluran tv membicarakan berita besar itu. Saat itu Azizah merasa bosan dan menyuruh perawat untuk menyalakan televisi. Dia sangat terkejut melihat kedatangan polisi ke rumahnya dan membawa Ethan.
"Bukankah dia cucumu nyonya? Apa kau tau dia seorang pelaku tabrak lari?" tanya perawat itu. Kondisi Azizah semakin buruk, perawat pergi untuk memanggil dokter. Adlar yang saat itu sedang berada di bagian administrasi, cemas melihat dokter dan perawat bergegas pergi menuju kamar ibunya.
"Ada apa? Apa yang terjadi pada ibuku?" tanya Adlar.
"Dia mengalami drop setelah tau cucu pertamanya di tangkap polisi karena kasus tabrak lari."
Adlar sangat menyesali karena Azizah harus melihat semua itu. Setelah beberapa menit, akhirnya dokter keluar dan memberitahu jika Azizah mengalami shock berat dan sekarang kondisinya kritis. Adlar sangat sedih mendengarnya. Keluarganya kini tidak baik-baik saja. Ethan harus dipenjara, dan kini ibunya kritis. Berita itu tersebar di seluruh penjuru dunia, Ishla sendiri sudah melihat berita itu. Dia sangat terkejut ketika tahu yang menabraknya tiga tahun lalu adalah Ethan. Dia tidak tau harus senang atau sedih mendengar semua berita ini. Dia senang akhirnya pelakunya sudah berada di tangan polisi tapi dia juga memikirkan perasaan Adlar yang saat ini pasti sangat sedih karena tahu polisi menangkap putranya.
\*\*\*
Siang itu, Nilam pergi menemui kepala komisaris. Dia meminta agar melepaskan Ethan. Semua yang terjadi malam itu karena unsur ketidaksengajaan. Ethan sedang mabuk saat itu dan hilang kendali sampai akhirnya menabrak seorang gadis. Nilam bahkan menyuap komisaris agar bersedia membebaskan Ethan dari semua tuduhan itu. Dengan sangat bijak dan adil, komisaris itu menolak tawaran Nilam. Keadilan harus ditegakkan di negeri ini, orang yang bersalah harus menerima semua hukumannya. Tidak memandang berasal dari keluarga terpandang ataupun tidak, hukum akan terus berjalan.
"Bagaimana putraku bebas tanpa harus menjalani semua aturan yang ada disini?" tanya Nilam.
"Putramu akan bebas jika korban mencabut semua tuntutannya. Itu hanya berlaku dalam satu hari saja. Lebih dari itu, maka putramu akan aku pastikan masuk ke meja hijau untuk diadili. Dan kau tahu nyonya? Hukuman bagi seorang tabrak lari sekurang-kurangnya lima sampai sepuluh tahun." ucap komisaris itu.
"Apa?" ucap Nilam terkejut. Dia tidak bisa melihat putranya mendekam di dalam penjara selama itu. Dia segera pergi menemui Adlar untuk membicarakan semua ini. Saat akan pergi, Nilam bertemu dengan pengacara Adlar. Dia datang untuk melihat Ethan. Dia juga memberitahu Nilam jika Adlar belum bisa datang karena kondisi ibunya yang sedang kritis di rumah sakit.
__ADS_1