
Pagi ini Ishla diantar oleh Glan ke kantornya. Sebelum itu mereka pergi ke restoran untuk sarapan bersama. Sedangkan di kantor sudah ada Myra yang datang lebih awal. Terlihat dia sedang memakan sarapan yang dibuat sang ibu khusus untuknya. Saat sedang makan, Amine datang untuk menemui Ishla.
"Selamat pagi, nyonya?"
"Selamat pagi,"
"Dimana Ishla?" tanya Amine.
"Dia sedang sarapan diluar bersama Glan, nyonya." Amine sempat bertanya pada Myra tentang Ishla yang menginap dirumahnya tadi malam.
"Jam berapa kalian tidur semalam?" tanya Amine. "Ishla bilang kalian sibuk mengerjakan tugas untuk presentasi pagi ini. Myra sempat bingung dengan pertanyaan Amine. Dia berpikir sekaan Ishla ada bersamanya tadi malam.
"Semalam kami tidak bersama, nyonya." Amine sedikit terkejut mendengarnya. Dia memberitahu Myra jika pukul 3 tadi malam dia sempat menghubungi Ishla untuk menanyakan keberadaannya dan dia memberitahu jika dia sedang menginap di rumahnya. Seketika Myra langsung membantahnya. Ishla sama sekali tidak datang ke rumahnya.
"Lalu, dimana dia semalam?" Myra memberitahu Amine jika kemarin sore Ishla pergi menemui Aiyaz di tempat favorit mereka.
"Apa mungkin mereka berbincang sampai larut malam seperti itu?" pikir Amine. Saat mereka masih berbincang, tidak lama Ishla datang.
"Ibu? Kau disini?" ucap Ishla.
"Ibu datang membawa berkasmu yang tertinggal di meja," jawabnya.
"Dimana kau semalam?" tanya Amine.
"Kenapa kau bertanya lagi, ibu? Sudah aku katakan tadi malam aku menginap di rumah Myra."
"Jangan berbohong pada ibu, Myra memberitahu ibu jika kau tidak ada bersamanya tadi malam."
Ishla lupa untuk memberitahu Myra sebelumnya. Dia terlihat sibuk dengan semua dokumen yang ada di atas mejanya. Sebelum Amine mendengar penjelasan putrinya, ponselnya berbunyi. Dia pergi untuk mengangkatnya. Saat kembali sang ibu memberitahu Ishla jika dia harus kembali karena akan ada tamu penting yang datang ke kantornya.
"Ibu akan menunggumu di rumah dan kau harus menjelaskan semuanya pada ibu." Saat Amine pergi, Ishla terlihat sangat sedih. Myra datang menghampiri dan meminta maaf karena dia tidak tahu harus mengatakan apa saat Amine bertanya tentang dirinya.
"Ada apa?" tanya Myra. Ishla langsung memeluk Myra dan menceritakan semuanya. Myra benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah Aiyaz lakukan pada Ishla. Dia benar-benar sudah mempermainkan perasaannya. Ishla tidak bisa terus diam, dia akan menemui Aiyaz untuk meminta penjelasan. Ishla meminta Myra untuk memimpin meeting pagi ini. Dia langsung membawa tasnya dan pergi. Myra sangat takut jika Aiyaz menyakiti Ishla. Dia tidak ada pilihan lain selain menghubungi Glan hanya dia yang bisa membantunya.
***
Pagi itu Glan sedang ada meeting penting. Saat rekan kerjanya sedang presentasi tiba-tiba ponselnya berdering. Saat dilihat, ternyata Myra yang baru saja menghubunginya. Glan langsung mematikan ponselnya dan kembali fokus pada presentasi yang ada di depannya. Sedangkan di sisi lain, Myra sangat kesal karena Glan tidak menjawab teleponnya bahkan saat dia menghubunginya kembali ponsel Glan tidak aktif.
"Kau sebenarnya dimana Glan? Kenapa kau tidak mengangkat teleponnya? Jika saja kau tahu hal ini menyangkut tentang Ishla, kau pasti sudah menjawabnya." gerutu Myra. Ingin sekali Myra menemui Glan di kantornya, tapi sayangnya dia tidak bisa karena harus memimpin meeting pagi ini. Tidak lama seorang sekretaris datang dan memberitahu Myra jika semua orang sudah berada di ruang meeting. Myra langsung pergi dengan membawa beberapa berkas penting. Sementara itu Ishla baru saja tiba di kantor Aiyaz. Dia meminta sekretaris untuk mengantarnya menemui Aiyaz.
"Maaf, nona hari ini tuan Aiyaz tidak masuk." ucap sekretaris itu.
__ADS_1
"Kenapa? Apa dia sakit?" tanya Ishla.
"Mengenai hal itu aku tidak tahu," Saat akan pergi Ishla melihat Aiyla yang berjalan ke luar kantor. Dia pergi dengan mobilnya. Ishla mengikuti Aiyla dari belakang dia yakin jika Aiyla pergi untuk menemui Aiyaz. Selesai meeting Glan langsung menghubungi Myra namun sayang kini giliran Myra yang tak mengangkat teleponnya karena ponselnya yang tertinggal di meja kerjanya.
"Ada apa? Kenapa dia menghubungiku pagi ini?" pikir Glan. Seketika perasaan Glan berubah menjadi gelisah. Dia langsung teringat pada Ishla. Glan pergi untuk memastikan Ishla baik-baik saja. Sesampainya di kantor Ishla, dia melihat Myra yang baru saja mengantar kliennya sampai ke depan.
"Myra!" panggil Glan.
"Glan? Kau darimana saja? Kenapa kau tidak m mengangkat teleponnya?"
"Maaf, baru saja aku selesai meeting."
Myra memberitahu Glan jika Ishla pergi menemui Aiyaz untuk meminta penjelasan padanya. Myra takut jika Aiyaz menyakiti Ishla. Mendengar hal itu, Glan langsung pergi menyusul Ishla.
***
Mobil Aiyla berhenti di sebuah proyek yang sedang di bangun. Dia masuk ke dalam dan ternyata dugaan Ishla benar, dia pergi untuk menemui Aiyaz. Melihat kedatangan Aiyla, wajah Aiyaz berubah seketika. Dia terlihat seperti tidak suka dengan kehadiran Aiyla.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Aiyaz. Aiyla mengandeng tangan Aiyaz dan bersikap manja padanya di depan para pekerjanya. "Jaga sikapmu ini, jangan membuatku malu dihadapan banyak orang." Aiyla sangat senang bisa menemani Aiyaz bekerja. Sementara itu di dalam mobil Ishla sudah tidak sabar lagi ingin menemui Aiyaz. Dia keluar dan langsung menemuinya.
"Aiyaz!" panggi Ishla.
"Ishla? Sedang apa dia disini?" tanyanya dalam hati.
Aiyaz melepas tangan Aiyla, dan membawa Ishla pergi dari tempat itu.
"Ada apa?" tanya Aiyaz.
Ishla sangat aneh dengan sikap Aiyaz yang seolah semuanya baik-baik saja, padahal dia sering sekali membuat janji dan mengingkari janjinya itu.
"Kenapa kau tidak datang kemarin malam? Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk pergi ke tempat itu?" tanya Ishla.
"Aku tidak tahu hubungan apa yang sebenarnya ada diantara kita. Kau bukan hanya dekat denganku, tapi juga pria lain."
Ishla sangat marah saat Aiyaz mengatakan semua itu. "Apa kau pikir aku ini bermain dengan pria lain di belakangmu? Seperti itukah pemikiran mu?" Aiyaz memberitahu Ishla jika kemarin malam dia berniat untuk melamarnya. Tapi saat tahu Ishla berpelukan dengan Glan saat di selat Aiyaz sangat marah dan mengurungkan niatnya itu. Dia bahkan membuang cincin lamarannya itu ke laut. Ishla sangat terharu mendengar Aiyaz yang akan melamarnya.
"Jika kau mencintai pria lain, kau bisa mengatakannya padaku. Bukan dengan cara seperti ini." Ishla menegaskan pada Aiyaz jika dia dengan Glan tidak ada apapun. Kemarin Glan datang untuk menenangkannya. Belakangan ini banyak sekali masalah yang dihadapinya sampai dia tidak kuat lagi menanggung semuanya.
"Mengenai Glan yang memelukku, saat itu aku benar-benar sangat kedinginan dan sampai akhirnya aku pingsan lalu Glan yang membawaku pulang."
"Kenapa kau tidak menghubungiku saat ada dalam masalah?" tanya Aiyaz.
__ADS_1
"Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi ponselmu selalu tidak aktif."
"Apa harus Glan yang selalu ada untukmu?" tanya Aiyaz.
"Apa kau pikir aku menginginkan semua ini? Tidak! Tapi pada kenyataannya Glan lah orang yang selalu ada disaat aku benar-benar butuh seseorang untuk mendengar semua masalahku." Di satu sisi, Aiyla pergi ke atas proyek untuk menarik perhatian Glan.
"Hey lihatlah!" ucap salah seorang pekerja. "Apa dia sudah gila? Untuk apa dia diatas sana? Seseorang datang memberitahu Aiyaz jika perempuan yang bersamanya tadi sedang ada di atas proyek. Aiyaz dan Ishla berlari untuk melihatnya.
"Ya ampun Aiyla... Sedang apa dia diatas sana?" ucap Ishla tidak percaya.
"Aiyaz... I love you..." ucap Aiyla diatas sana. Ishla yang melihat tembok bangunan belum kokoh betul, dia langsung berlari menyusul Aiyla. Di satu sisi, Glan melacak keberadaan Ishla dan dia menemukan titik lokasinya. Dia langsung bergegas kesana.
***
Tangga demi tangga Ishla naiki, akhirnya dia sampai di atas. Dia meminta Aiyla untuk turun karena yang dilakukannya itu sangat berbahaya. Aiyla menatap Ishla dengan penuh amarah.
"Ayolah kita turun!" pinta Ishla.
"Apa pedulimu? Bukankah jika aku mati kau bisa memiliki Aiyaz seutuhnya?" ucap Aiyla. Dia memberitahu Ishla jika dia tidak seberuntung dirinya. Dia sangat iri pada kehidupan yang dimiliki Ishla. Seorang ibu yang sangat mencintainya, sahabat yang selalu ada untuknya, juga Aiyaz pria yang begitu mencintainya. Dia memiliki semuanya.
"Kenapa kau harus merasa iri padaku? Kau juga bisa mendapatkan semuanya."
Ishla mungkin bisa memiliki semuanya, tapi tidak dengan seorang ayah. Sejak kecil dia tidak memiliki seorang ayah. Saat tahu ayahnya menikah lagi dan memiliki seorang putri yang ternyata itu Aiyla semua dunianya seakan hancur. Saat tahu ayahnya lebih memilih Aiyla daripada dirinya saat itulah dia tidak berharap lagi jika dia memiliki sosok seorang ayah.
"Kita sama-sama memiliki kekurangan, jadi untuk apa kau melakukan semua ini?" ucap Ishla. Aiyla tidak tersentuh sedikitpun dengan perkataan Ishla. Dia bersikeras menyalahkan Ishla atas semua yang terjadi dalam hidupnya. Aiyla berjalan mendekati Ishla.
"Apa?" ucap Ishla.
"Kau harus mati, dengan itu aku akan merasa puas dan Aiyaz hanya akan menjadi milikku seorang." Aiyla mendorong tubuh Ishla namun dengan sekuat tenaga Ishla menahannya dan akhirnya membuat mereka terjatuh.
"Ishla!!! teriak Aiyaz. Dia langsung pergi ke atas. Mereka sama-sama memegang pada ujung tembok. Aiyla hampir melepaskan satu tangannya. "Bertahanlah Aiyla!" ucap Ishla. Saat tiba di atas, Aiyaz bingung harus menolong siapa lebih dulu. Dia terus menatap kedua perempuan itu.
"Aiyaz, tolong aku! Tanganku sudah tidak kuat lagi." pinta Aiyla. Aiyaz terus menatap Ishla. Dia sudah memutuskan untuk menolong Ishla lebih dulu.
"Jangan lakukan itu, Aiyaz. Apa kau lupa jika dia sudah menghianatimu? Dia bukan hanya mencintaimu tapi juga orang lain. Apa kau lupa dengan semua foto-foto itu? Dia membiarkan dirinya dalam pelukan pria lain."
"Sudah aku katakan yang sebenarnya padamu, jadi tolonglah percaya padaku."
Saat kedua tangan mereka terlepas, Aiyaz berlari menolong Aiyla. Dia mengangkat Aiyla dan memeluknya. "Apa kau tidak apa-apa?" Melihat semua itu Ishla sangat sedih, karena ternyata laki-laki yang dicintainya itu lebih percaya pada orang lain dibandingkan dengan dirinya. Ishla menatap ke bawah dan memejamkan matanya. Saat kedua tangannya terlepas, seseorang datang menolongnya. Dia menarik tangan Ishla sampai akhirnya dia selamat.
"Glan?" ucap Ishla.
__ADS_1
"Aku sangat takut jika harus kehilanganmu," ucap Glan sambil memeluk Ishla erat. Ishla masih terlihat sangat shock. Dia masih belum percaya jika Aiyaz lebih memilih Aiyla dari pada dirinya. Glan langsung membawa Ishla pergi dari sana. Sebelum itu, dia memperingatkan Aiyaz jika ini adalah pertemuannya yang terkahir. Setelah ini tidak akan ada lagi pertemuan diantara mereka. "Aku tidak masalah jika kau lebih dulu menolong Aiyla, tapi yang membuatku sedih adalah karena kau tidak percaya padaku, kau lebih percaya pada perkataan orang lain. Aku pikir sudah cukup hubungan kita sampai disini, mulai sekarang dan seterusnya kita bukan lagi siapa-siapa. Kita hanya dua orang asing yang saling dipertemukan tetapi tidak untuk saling memiliki."