CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
SEMUA TAK LAGI SAMA


__ADS_3

Rumah besar keluarga Diaz kini berubah hening tidak seperti biasanya. Hanya ada pelayan yang sedang menyiapkan makan malam untuk semua orang. Azizah yang masih terbaring di rumah sakit, Adlar dan Aiyla yang masih sibuk bekerja, semua berubah setelah Ethan dipenjara. Terdengar bunyi bel berbunyi, pelayan pergi untuk membukanya.


"Nyonya Nilam?" ucap pelayan itu sedikit terkejut. Aiyla membawa ibunya kembali ke rumah supaya ada yang menjaganya. Dia takut jika ibunya ditinggal terus sendirian, dia akan mengalami sebuah depresi yang sangat berat. Aiyla menyuruh pelayan untuk membawa ibunya ke kamar. Tiba di kamar, Nilam bersikap sedikit aneh. Dia terus melihat ke sekeliling kamar seakan dia tidak tahu jika itu adalah kamarnya sendiri. Dia juga menyentuh semua barang yang ada di dalam kamar itu. Dia melihat fotonya bersama dengan Ethan juga Aiyla.


"Siapa pria yang ada di dalam foto ini?" tanya Nilam pada pelayan.


Pelayan sedikit terkejut karena dia baru saja mendapat pertanyaan konyol seperti itu. Dia pikir nyonya besarnya itu sedang bercanda dengannya.


"Kenapa kau pura-pura tidak tahu, nyonya? Itu adalah tuan muda Ethan, putramu." jawab pelayan itu.


"Ethan? Apa dia putraku?" tanya Nilam kembali. "Dimana dia? Aku ingin bertemu dengannya."


Pelayan itu semakin bingung dengan sikap aneh Nilam. "Apakah nyonya mengalami amnesia?" tanyanya dalam hati.


Tidak lama Aiyla datang dan meminta pelayan menyiapkan air hangat untuk ibunya mandi. Nilam sempat bertanya tentang foto itu pada Aiyla, tapi dia tidak langsung menjawabnya. Dia menyuruh ibunya untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu. Saat ibunya mandi, Aiyla menyuruh pelayan untuk menyingkirkan semua foto Ethan dari rumah itu. Pelayan mengumpulkan semua foto itu di halaman rumah seperti apa yang Aiyla minta. Saat Adlar tiba dia terkejut melihat foto putranya berserakan di depan rumah.


"Kenapa semua foto-foto itu ada disana?" tanya Adlar pada pelayan.


"Nona Aiyla yang menyuruhku untuk menyingkirkan semua foto-foto itu."


Tidak lama Aiyla datang dan mengguyurnya dengan minyak lalu membakarnya.


"Apa yang kau lakukan, sayang? Kenapa kau membakar semua foto kakakmu?" tanya Adlar.


Aiyla mengajak ayahnya masuk ke dalam dan menceritakan semuanya. Dia memberitahu ayahnya jika ibunya ada disini. Dia membawa ibunya kembali pulang ke rumah ini. Aiyla memberitahu sang ayah jika ibunya sedang sakit. Dia tinggal di rumah baru itu hanya dengan seorang pelayan.


"Sakit apa yang diderita ibumu?" tanya Adlar. Aiyla menunjukkan sebuah obat yang membuat Adlar sedikit terkejut. "Bukankah ini obat untuk pereda depresi? Apa ibumu mengalami depresi?"


Aiyla sedih harus memberitahu ayahnya seperti apa. Setelah Ethan dipenjara ibunya sering banyak melamun, dia selalu merasa ketakutan seperti dihantui sosok Amine dan Ishla. Sejak saat itu ibunya mengkonsumsi obat itu sampai hari ini. Jika penyakitnya kambuh obat itu yang akan menenangkannya. Aiyla sangat takut jika ibunya itu lama kelamaan akan ketergantungan terhadap obat. Mengenai semua foto Ethan yang dibakar tadi dia melakukan semu itu untuk ibunya. Dia tidak ingin jika ibunya melihat foto itu penyakitnya akan kambuh kembali. Saat mereka berbincang di ruang tengah, tiba-tiba Nilam datang dan langsung memeluk Adlar.


"Apa kabar Adlar? Aku sangat merindukanmu!" ucap Nilam dengan pelukan yang sangat erat.

__ADS_1


"Aku baik, bagaimana denganmu?" tanya Adlar.


"Hidupku sudah hancur setelah putraku masuk ke dalam penjara." ucap Nilam.


Adlar mengalihkan topik pembicaraan dia mengajak Nilam juga putrinya untuk makan malam bersama.


\*\*\*


Tiba di tempat itu, Glan melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa. Dia melihat tempat itu sudah dihias dengan sangat indah. Glan yakin jika ini bukanlah acara biasa. Aiyaz mungkin akan mengatakan hal penting pada Ishla di tempat itu. Disana Glan melihat Ishla yang sedang menunggu kedatangan Aiyaz. Glan melihat jam yang ada di tangannya, "Dimana Glan? Kenapa sampai detik ini juga dia belum datang? Apa dia terjebak macet? Tapi... Setahuku baru saja jalanan kota terlihat lancar tanpa macet sedikitpun." Glan kembali ke dalam mobil dan mengawasi Ishla dari jauh. Dia tidak ingin kehadirannya diketahui Ishla. Jam sudah menunjukkan pukul 24.00 malam. Ishla terus saja menghubungi ponsel Aiyaz tapi tidak aktif. Angin malam berhembus dengan sangat kencang. Lilin-lilin yang terdapat di atas meja kini cahayanya menghilang ditelan gelapnya malam. Ishla merasa sudah sangat lelah. Dia tidak bisa membiarkan Aiyaz mempermainkan perasaannya terus. Ishla merusak semua hiasan tempat itu.


Arrrghhh.... Ishla melihat satu lilin yang masih menyisakan cahayanya. Dia menggenggam lilin itu sampai apinya melukai tangan.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Glan yang muncul dari belakang. Dia menjauhkan bekas lilin itu dari tangan Ishla. Glan melihat wajah Ishla yang sangat kacau sambil berlinang air mata. Dia langsung memeluk Ishla untuk menenangkannya. Dia pergi ke mobilnya untuk mengambil kotak obat. Glan langsung mengobati tangan Ishla yang terluka.


"Ayo kita pergi! Aku akan mengantarmu pulang," ucap Glan.


"Aku tidak ingin. Jika kau ingin pergi, pergi saja! Aku masih ingin tetap disini."


"Halo sayang! Kau dimana?" tanya Amine.


"Maaf ibu aku lupa memberitahumu jika malam ini aku menginap di rumah Myra untuk menyiapkan presentasi besok."


"Baiklah, kalau begitu ibu tutup dulu teleponnya." Ishla terpaksa harus bohong, dia tidak ingin ibunya merasa khawatir. Malam yang panjang akhirnya pergi, pagi kembali datang menyapa. Saat Ishla membuka matanya orang yang pertama kali dia lihat adalah Glan.


"Apa kau tidak tidur semalam?" tanya Ishla.


"Tidak, jika aku tidur siapa yang akan menjagamu?" ucap Glan.


"Apa aku sangat berarti baginya sampai dia harus melakukan semua ini untukku?" tanya Ishla dalam batinnya.


Glan meminta Ishla untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Apapun yang terjadi Glan akan selalu ada untuknya. Walau bukan dia laki-laki yang Ishla cintai, tapi Glan akan tetap memperjuangkan rasa cintanya itu. Ishla segalanya bagi Glan, dia tidak akan membiarkan perempuannya itu bersedih ataupun terluka.

__ADS_1


"Jika saja aku adalah pilihanmu, aku akan langsung menikahimu. Aku akan menggenggam tanganmu ini dan takkan pernah melepaskannya. Aku akan tunjukkan pada dunia bahwa bahagiaku hanya ada ketika bersamamu." ucap Glan sambil menggenggam tangan Ishla. Glan menyudahi perbincangan mereka. Dia harus kembali karena ada rapat pagi ini di kantor tapi sebelum itu dia akan mengantar Ishla terlebih dahulu ke rumahnya.


\*\*\*


Pagi ini Adlar pergi ke rumah sakit untuk menjemput kepulangan ibunya. Sedangkan Aiyla dia pergi mengajak ibunya untuk menemui psikiater. Mobil yang ditumpangi Aiyla sempat berhenti di supermarket untuk membeli sesuatu. Ketika itu Nilam yang berada di dalam mobil berlari keluar dan tiba-tiba menjambak rambut seorang perempuan. Terjadi pertengkaran diantara mereka. Saat Aiyla kembali dari supermarket dia terkejut melihat ibunya tidak ada di dalam mobil. Dia mendengar suara keributan dan melihatnya.


"Sudah hentikan! Apa yang kalian lakukan pada ibuku?" tanya Aiyla.


"Dasar orang gila!" ucap salah satu perempuan. "Tadi dia menjambak rambutku dari belakang,"


"Apa masalah ibu dengannya? Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Aiyla.


"Dia perempuan yang sudah menghancurkan hidupku, dia itu Amine!" tegas Nilam. "Coba kau lihat! Dia sedang mentertawakanku sekarang ini."


Aiyla meminta maaf kepada si perempuan yang dijambak tadi. Dia memberitahu perempuan itu jika ibunya itu tidak gila, dia hanya sedang sakit. Perempuan tadi menyarankan Aiyla untuk membawa ibunya itu ke rumah sakit jiwa agar ada orang yang selalu mendampinginya, jika dibiarkan terus berkeliaran itu akan membahayakan keselamatan orang lain. Aiyla langsung membawa ibunya kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Aiyla terus memperhatikan ibunya, dia teringat dengan perkataan perempuan tadi.


"Tidak! Ibu tidak gila, dia pasti akan sembuh." ucap Aiyla. Sesampainya di tempat psikiater, Nilam menolak lebih dulu. Dia terlihat ketakutan saat Aiyla akan membawanya masuk ke dalam.


"Kenapa kau membawa ibu ke tempat ini? Apa kau pikir ibu ini sudah gila?" ucap Nilam ketakutan.


"Tenanglah ibu, kita hanya berkunjung saja kemari. Mereka tidak akan melakukan apapun padamu." Aiyla mencoba untuk menenangkan ibunya.


Nilam terus saja menolak dia kembali masuk ke dalam mobil. Dia meminta pada Aiyla untuk membawanya pulang. Aiyla merasa sedih melihat keadaan ibunya seperti saat ini. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang.


Siang itu Azizah sudah sampai di rumah. Dia melihat seisi rumah yang masih tetap sama namun tidak dengan situasinya. Kehormatan keluarganya tidak lagi baik setelah kasus Ethan menyebar luas ke setiap sudut kota. Bahkan, dia bukan lagi seorang Azizah Diaz yang dihormati juga disegani banyak orang sepeti dulu, kini nama besar itu sudah hancur dimata semua orang. Saat Azizah berjalan-jalan di sekitar rumah, dia melihat sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. Saat melihat neneknya sudah kembali ke rumah, Aiyla langsung berlari memeluknya.


"Nenek, aku sangat merindukanmu," ucap Aiyla dengan pelukan erat. Sedangkan itu Nilam yang melihat Azizah tidak bereaksi apapun, dia langsung pergi ke kamarnya dengan wajah yang masih ketakutan. Azizah yang melihat hal itu merasa sangat aneh.


"Kenapa dengan ibumu?" tanya Azizah pada Aiyla.


Aiyla menceritakan semua pada neneknya. Setelah mendengar semua itu Azizah benar-benar terkejut. Dia tidak bisa membayangkan jika Nilam tidak segera diobati dia bisa mengalami depresi berat dan akan berpengaruh pada kejiwaannya. Aiyla meminta tolong pada neneknya supaya ibunya itu sembuh. Dia tidak bisa melihat ibunya jika harus dirawat di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


__ADS_2