
Sesampainya di dermaga, Amine menyuruh Will untuk menunggunya di mobil. Will menunjuk seorang pria yang ada di kapal itu yang tidak lain adalah pemilik kapal. Amine pergi dengan pura-pura untuk membeli sebuah kapal.
"Permisi, tuan!" kata amine. "Apa kau tahu siapa pemilik kapal-kapal yang ada di dermaga ini?"
"Aku sendiri nyonya, apa kau ingin membeli kapal di tempat ini?"
Pemilik kapal menunjukkan kapal miliknya pada Amine, tapi Amine tertarik dengan kapal yang sudah dibeli Azizah.
"Apa nyonya tertarik dengan kapal-kapal yang baru saja aku tunjukkan?"
"Semua kapal milikmu sangat mewah, tapi rasanya aku tertarik dengan kapal yang ada disana."
"Maaf nyonya, kapal itu sudah menjadi milik orang lain."
"Siapa?" tanya Amine.
"Nyonya Azizah membeli kapal itu atas nama cucunya nyonya,"
"Apa mereka akan menggunakan kapal itu untuk berlibur?"
"Aku tidak tahu nyonya, yang aku tahu mereka akan menggunakan kapal itu dua hari lagi untuk perjalanan yang sangat jauh."
"Untuk apa mereka menggunakan kapal itu?" ucap Amine dalam hati.
Untuk mengetahui rencana Azizah dan Ethan, satu-satunya cara hanya dengan membeli kapal di tempat yang sama. Dengan begitu, Amine akan tahu semua yang dilakukan Ethan di kapal itu. Amine membeli satu kapal dan langsung membayarnya hari itu juga. Dia meminta pemilik kapal untuk merahasiakan semua itu dari siapapun. Amine tidak ingin Azizah tahu jika dia juga membeli kapal di tempat itu. Setelah semuanya beres, Amine kembali masuk ke dalam mobil.
"Apa kau membeli kapal di tempat yang sama nyonya?" tanya Will.
"Hanya itu cara agar kita tahu semua rencana Azizah dan Ethan." jawab Amine.
"Apa kau bisa mengendarai kapal?"
"Tidak nyonya, tapi aku memiliki seorang teman yang bekerja sebagai nahkoda, kebetulan dia sudah pensiun."
"Pertemukan aku dengannya!"
"Baik, nyonya. Akan aku urus jadwal pertemuan kau dengan dia."
\*\*\*
Siang itu, Ishla pergi menemui Myra di tempat pemotretan. Beberapa hari lagi, akan ada fashion show terbesar yang diadakan di Perancis, dimana setiap perusahaan mengirimkan model terbaik mereka, dan Ishla memilih Myra untuk menjadi model perusahaannya. Tiba disana, kebetulan Myra sedang jam istirahat.
"Kau datang?" tanya Myra.
"Aku ingin melihatmu, lagi pula semua pekerjaanku di kantor telah selesai," ucap Ishla.
"Kau sudah makan siang?" tanya Myra.
"Belum,"
"Ingin makan siang bersamaku?"
"Maaf, aku sedang tidak nafsu makan. Jika kau ingin makan siang, pergilah! Jadwalmu hari ini lumayan padat untuk pemotretan."
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi untuk makan siang."
Saat Myra pergi, seorang fotografer menghampiri Ishla. Dia menunjukkan foto Myra saat pemotretan.
"Hasil pemotretannya sangat indah, aku tidak salah memilihmu sebagai fotografernya," ucap Ishla.
"Apa aku boleh memotretmu, nona Ishla?"
"Untuk apa?"
Fotografer itu meminta potret foto Ishla untuk hadiah ulang tahun putrinya ke 17. Dia sangat ingin memiliki fotonya, baginya kehidupan dia sama persis dengan Ishla, dimana putrinya yang bernama Clara, memiliki seorang ibu, namun sayang ibunya lebih memilih tinggal bersama keluarga barunya dan pergi meninggalkan dia dan ayahnya. Ishla ikut terharu mendengar cerita singkat fotografer itu.
"Baiklah, kau bisa memotretku sekarang juga!" Fotografer meminta Ishla untuk mengambil pemotretan di atas gedung. Setelah beberapa kali pemotretan, tiba-tiba saat berpose kepala Ishla terasa pusing, penglihatannya tak lagi jelas, tidak lama akhirnya Ishla jatuh pingsan. Fotografer itu segera membawa Ishla ke rumah sakit.
__ADS_1
\*\*\*
Sekembalinya makan siang, Myra sempat mencari Ishla. Dia mencoba menghubungi ponselnya, tapi ternyata ponsel itu tertinggal di dekat tempat duduknya tadi.
"Kemana Ishla pergi? Kenapa ponselnya ditinggal begitu saja?" Myra sempat bertanya pada pegawai yang ada disitu, dia memberitahu Myra jika Ishla sedang melakukan pemotretan di atas gedung. Myra langsung pergi untuk melihatnya, tiba disana dia tidak melihat siapapun. "Bukankah orang tadi bilang jika disini ada pemotretan? Tapi, dimana semua orang?" Myra kembali turun ke bawah. Sementara itu, Ishla sudah ditangani dokter. Kurang lebih satu jam akhirnya Ishla sadarkan diri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya fotografer itu.
"Aku baik," ucap Ishla pelan.
Fotografer meminta suster untuk menghubungi kerabat Ishla agar bisa menjaganya di rumah sakit, dia harus kembali dan melanjutkan pekerjaannya. Jadwal Minggu ini terbilang sangat sibuk, jika pemotretan Myra tidak selesai hari ini juga, kemungkinan dia akan kembali dalam dua minggu lagi. Fotografer itu meminta maaf pada Ishla karena tidak bisa menunggunya di rumah sakit. Saat suster akan menghubungi Amine, Ishla langsung mencegahnya. Dia tidak ingin ibunya itu khawatir. Tidak lama dokter datang dengan membawa hasil lab. Dia memberitahu Ishla jika ternyata dia menderita Leukimia stadium awal.
"Tidak mungkin dokter! Kau pasti salah. Selama ini, aku baik-baik saja dan tidak pernah terjadi hal seperti ini padaku sebelumnya," ucap Ishla.
"Apa belakangan ini kau merasa pusing dan letih?" Ishla memberitahu dokter jika belakangan ini dia sering merasa pusing dan letih walau dengan hal kecil sekalipun.
"Itu gejala awal seseorang yang memiliki penyakit leukimia, nona. Tapi kau tidak perlu khawatir karena penyakitmu masih berada pada stadium awal." ucap dokter. Ishla meminta dokter untuk merahasiakan penyakitnya itu dari siapapun. Dia tidak tahu bagaimana khawatirnya Amine saat tahu ternyata putrinya menderita penyakit leukimia stadium awal. Dokter menyarankan Ishla untuk selalu berada di dalam ruangan, karena seseorang yang menderita penyakit leukimia tidak akan bertahan lama jika berada di luar ruangan, mereka tidak akan tahan dengan cahaya sinar matahari yang mengenai tubuhnya. Jika itu sampai terjadi, maka orang itu akan langsung merasakan pusing dan biasanya akan keluar darah dari hidungnya. Ishla sudah mengerti dengan semua saran dari dokter.
"Apa aku sudah bisa pulang dokter?" tanya Ishla.
"Silahkan, nona! Sebelum itu, aku akan memberimu jadwal untuk terapinya. Kau akan melakukan terapi selama dua kali dalam satu Minggu."
"Baik dokter, terimakasih." Ishla pergi untuk memesan taksi karena seingat dia ponselnya tertinggal di tempat pemotretan itu. Ishla mendapat beberapa obat dari dokter untuk mengurangi rasa pusingnya.
\*\*\*
Sore itu, Myra baru menyelesaikan pemotretannya. Dia sempat menemui fotografer itu untuk menanyakan tentang Ishla.
"Apa tadi Ishla bersamamu?"
"Ya, tapi saat akan pemotretan Ishla tiba-tiba saja pingsan."
"Pingsan? Lalu, dimana dia sekarang?"
"Tadi aku membawanya ke rumah sakit."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," ucap Myra.
"Menemui Ishla di rumah sakit,"
"Baru saja aku menghubungi perawat yang tadi menangani Ishla, dia bilang Ishla sudah pulang sejak tadi siang."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke rumahnya, sekaligus mengembalikan ponselnya yang tadi tertinggal disini."
"Baiklah, hati-hati."
Hari sudah menjelang malam. Di kamarnya, Ishla kembali merasakan pusing di kepalanya, "Kau kuat, Ishla! Kau bisa menghadapi semua ini," ucap Ishla mencoba menguatkan dirinya sendiri. Dia meraih obat yang ada diatas mejanya. Saat mendengar suara langkah kaki, Ishla langsung mengambil obat itu dan menyembunyikannya. Tidak lama, Amine datang untuk menemui putrinya.
"Selamat datang ibu!" ucap Ishla.
"Terimakasih, sayang. Apa kau akan tidur lebih awal?" Amine melihat wajah Ishla yang sedikit pucat. "Apa kau sakit?"
"Hanya kelelahan saja, ibu. Setelah istirahat sejenak, tubuhku akan kembali segar."
"Apa kau sudah makan malam ?"
"Sudah, tadi bibi mengantar makanannya ke kamarku," ucap Ishla
"Baiklah, kalau begitu kau istirahat saja. Selamat malam, sayang!"
"Selamat malam,"
Ishla terpaksa harus berbohong pada ibunya. Dia tidak ingin jika Amine khawatir terhadap penyakitnya itu. Jam menunjukan pukul 22.00. Malam itu Glan tidak bisa tidur. Untuk menghilangkan rasa sepinya, dia mencoba menghubungi Ishla untuk berbincang dengannya. Beberapa kali Glan menghubungi Ishla, ponselnya berdering hanya saja Ishla tidak mengangkatnya.
"Apa Ishla sudah tidur di jam segini?" ucapnya. Glan mencoba menghubungi Myra untuk menanyakan keadaan Ishla.
"Halo, Glan! Ada apa kau menghubungiku malam-malam seperti ini?"
__ADS_1
"Aku mencoba menghubungi Ishla, tapi dia tidak mengangkatnya."
Myra memberitahu Glan jika dia sempat ke rumahnya, dan ternyata Ishla sudah tidur. Dia merasa khawatir karena Ishla sempat pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Glan sangat khawatir mendengar penjelasan Myra. "Bagaimana Ishla bisa pingsan?" tanya Glan. Myra menceritakan semuanya.
\*\*\*
Saat tengah malam, Ishla merasa sangat haus. Dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat akan menuangkan air kedalam gelas, Ishla kembali merasakan pusing di kepalanya. Dia mencoba menahan rasa sakitnya, semua penglihatannya kabur, saat akan mengambil gelas minumnya Ishla tidak sengaja menjatuhkannya dan pecahan gelas itu berserakan di lantai. Mendengar suara itu, Selma terbangun dan langsung pergi ke dapur. Saat dilihat, ternyata disana ada Ishla yang sedang berdiri menatap pecahan gelas itu.
"Nona, apa kau baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa, bi. Tadi, aku akan mengambil segelas air, tapi tidak sengaja aku menyenggolnya dan gelasnya pecah." ucap Ishla sambil menahan rasa pusingnya.
"Biar bibi yang bereskan, nona kembali saja ke kamar, nanti bibi akan antar air minumnya ke kamar,"
"Terimakasih, bi. Maaf sudah merepotkanmu tengah malam seperti ini. Kau harus membersihkan pecahan kaca itu karena aku,"
"Tidak apa-apa, non. Ini sudah menjadi tugas bibi."
Ishla kembali ke kamarnya, tidak lama bibi Selma datang dengan membawa segelas air.
"Ini airnya, non. Jika kau membutuhkan yang lain, panggil saja bibi." Ishla langsung meminum obatnya, tanpa disadari Selma sempat melihat Ishla meminum sebuah obat. "Obat apa yang diminum nona Ishla?" ucap Selma dalam hati.
\*\*\*
Pagi datang menyapa. Amine sudah ada di meja makan. Saat dia akan memanggil Ishla untuk sarapan, Selma lebih dulu memberitahu Amine jika dia sudah mengantar makanan ke kamar Ishla.
"Apa dia akan sarapan di kamarnya?" tanya Amine.
"Sepertinya begitu, nyonya."
Amine merasa aneh dengan sikap Ishla sejak kemarin. Dia pergi untuk melihat kondisi putrinya. Tiba di kamar, Amine melihat makanan itu masih utuh belum sedikitpun dimakan oleh Ishla.
"Ishla, kau dimana sayang?" Amine mencari-cari keberadaan Ishla. Tidak lama Ishla keluar dari kamar mandinya.
"Ibu, kau disini?" tanya Ishla.
"Ada apa? Kenapa kau sarapan di kamar?" tanya Amine.
"Badanku sedikit lemas, ibu. Karena itu aku meminta bibi untuk membawa sarapannya ke kamar," ucap Ishla.
"Apa kau sakit, sayang?"
"Tidak ibu," ucap Ishla.
Kembalinya dari kamar, Amine terlihat seperti memikirkan sesuatu saat di meja makan.
"Nyonya, apa boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Katakan saja!"
Selma memberitahu Amine jika kemarin Ishla pulang lebih awal. Sikapnya sedikit aneh, dia langsung pergi ke kamarnya dengan membawa sesuatu.
"Apa kau tahu apa yang dibawa Ishla?" tanya Amine.
"Tidak, nyonya. Tapi...
"Tapi apa, bi? Katakanlah!"
Bukan hanya itu saja, Selma juga menceritakan tentang kejadian tadi malam dimana dia harus membersihkan pecahan gelas yang tidak sengaja jatuh karena Ishla.
"Wajah nona saat itu sangat pucat, tubuhnya terlihat lemas, dia juga seperti mencari pegangan untuk bisa berjalan ke kamarnya. Saat aku mengantar segelas air ke kamarnya, nona langsung meminum sebuah obat, nyonya."
"Obat apa yang sebenarnya diminum Ishla?" ucap Amine dalam hatinya. "Jika obat itu untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya, tidak mungkin dia harus meminum obat itu setiap hari."
Amine meminta Selma untuk menjaga Ishla di rumah karena hari ini dia tidak akan masuk bekerja.
"Jika terjadi apapun pada putriku, langsung hubungi aku!" pinta Amine.
__ADS_1
"Baik, nyonya."
Saat akan pergi, Amine sempat melihat Ishla di kamarnya. Dia melihat putrinya kembali tertidur. Sementara itu, makanannya masih tersisa banyak. Amine meminta Selma untuk mengambil makanan itu dari kamar putrinya, dan membuat makanan lain untuk Ishla. Di dalam perjalanan, Amine yakin jika ada yang disembunyikan dari putrinya itu. Dia tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Amine menghubungi Myra untuk mengajaknya nanti makan siang bersama. Amine akan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu.