
Di kamarnya, Ethan merasa sangat gelisah. Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan rekaman CCTV itu. Dia tidak bisa menyelesaikan semua masalahnya sendiri, ibu dan neneknya harus tahu semua ini. Pagi itu, Azizah baru saja menyelesaikan sarapannya. Dia duduk berbincang di ruang tengah bersama Nilam.
"Ibu, nenek, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian!" Wajah Ethan terlihat sangat serius.
"Ada apa? Katakan saja!" ucap Azizah.
"Bisakah kita bicara di kamarku?" pinta Ethan.
"Tentu saja."
Sesampainya di kamar, Ethan memberitahu Azizah dan Nilam jika mereka harus lebih berhati-hati pada Amine. Dia bukanlah perempuan lemah seperti apa yang dibayangkan. Dia seorang perempuan yang sangat berbahaya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Nilam.
Ethan menceritakan kejadian semalam. Amine sudah mengelabuinya dengan alasan akan mempertemukan dirinya dengan Zafer. Dia wanita yang sangat cerdik, dia menyuruh anak buahnya untuk memukul dirinya sampai terluka seperti itu.
"Apa masalahmu dengan wanita itu?" tanya Azizah.
"Aku menculik Ashika, adik dari Zafer."
"Apa? Kau menculik gadis itu? Untuk apa, nak?" tanya Nilam.
"Aku terpaksa melakukan semua itu, supaya Zafer memberitahuku dimana mobil milikku yang sebenarnya." Nilam tidak tinggal diam, dia mencoba menghubungi Adlar untuk memberitahu semua kebenarannya, tapi Ethan langsung merebut ponsel milik ibunya dan mematikan panggilannya.
"Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponsel itu! Ibu akan memberitahu ayahmu semua kebenarannya."
"Tidak, Ibu."
"Kenapa? Apa kau takut pada wanita itu?"
"Dia mengetahui semuanya, Ibu." ucap Ethan.
"Apa maksudmu?"
"Dia tahu jika tiga tahun yang lalu, aku pernah menabrak seorang gadis, dan dia memiliki semua rekaman kejadian saat itu." Azizah dan Nilam dibuat terkejut dengan perkataan Ethan.
"Bagaimana bisa?" tanya Nilam.
"Entahlah, tapi dia menunjukkan rekaman CCTV itu padaku, dan mengancamku jika aku mengatakan semuanya, maka rekaman itu akan sampai pada polisi." Semua terlihat sangat bingung juga terkejut.
"Apa yang harus kita lakukan, Ibu? Aku tidak ingin masuk ke dalam penjara." ucap Ethan. Nilam tidak punya cara lain selain menanyakan langsung tentang rekaman CCTV itu pada Amine.
Pagi-pagi sekali, Aiyaz pergi untuk menemui Ishla di kantornya. Sesampainya disana, dia melihat Ishla yang masih tertidur di sofa. Aiyaz mencari keberadaan Glan di ruangan itu.
"Dimana dia?" ucapnya. Tidak lama, terdengar suara pintu terbuka. Saat dilihat, ternyata itu Glan.
"Hey! Kapan kau datang?" tanya Glan.
"Baru saja, Oh iya... Apa semalam kau menginap disini?" tanya Aiyaz.
"Apa ada masalah? Sebagai teman yang baik, aku hanya menemani Ishla lembur tadi malam." Sebelum Ishla bangun, Aiyaz terpaksa harus segera pergi ke kantor. Pagi ini dia ada janji untuk bertemu dengan seorang klien. Walau sudah mendengar penjelasan dari Glan, tetap saja hati Aiyaz rasanya tidak tenang meninggalkan Ishla bersama Glan di ruangan itu.
__ADS_1
"Hilangkan pikiran burukmu itu! Aku bukan pria seperti apa yang ada dalam pikiranmu." Aiyaz terkejut seakan Glan tahu apa yang terlintas dalam pikirannya. Setelah Aiyaz pergi, tidak lama Ishla bangun. Dia merasa sangat silau karena cahaya mentari yang mulai menyoroti wajahnya.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi." Ishla pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Saat kembali, dia baru sadar jika dia baru saja tidur di sofa, padahal seingatnya tadi malam dia tertidur di atas meja kerjanya. Ishla langsung menatap Glan.
"Siapa yang sudah memindahkanku ke sofa?" ucap Ishla dalam hati. Ishla tidak berhenti menatap Glan. Pikiran buruk muncul satu persatu dalam kepalanya.
"Kenapa aku tidak mengingat apapun?" Glan yang melihat sikap aneh Ishla hanya bisa tersenyum dan duduk dengan santai. Dia tidak tahu jika sekarang ini Ishla sedang memikirkan hal buruk tentangnya.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Glan.
"A-aku.. Ah, aku merasa sangat lapar, aku akan pergi untuk memesan makanan." Ishla bertingkah sangat aneh. Saat berada di bawah, Ishla bertemu dengan ibunya.
"Selamat pagi, Ibu."
"Selamat pagi, sayang. Oh, putriku... Wajahmu terlihat sedikit pucat. Apa kau sakit?"
"Tidak, Ibu. Mungkin hanya kelelahan saja."
"Baiklah, kalau begitu pulang, dan istirahatlah!"
"Bagaimana dengan meeting pagi ini? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
"Jangan pikirkan tentang itu, ibu yang akan membereskan semuanya."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Muachh!" ucap Ishla sambil mencium pipi ibunya. Di ruangan, Glan merasa sangat gelisah, sudah cukup lama Ishla pergi, tapi dia belum juga kembali. Glan pergi untuk memeriksanya. Di luar, Glan tidak sengaja bertemu dengan Amine.
"Selamat pagi, Glan. Kau disini? Sejak kapan?" tanya Amine.
"Maafkan aku, jika sikapku ini lancang. Aku berada disini sejak tadi malam, aku melihat Ishla lembur dan menemaninya disini." Amine melihat ada selimut yang masih berantakan di sofa.
" Kau tenang saja, aku dan putrimu tidur di sofa yang berbeda."
"Tidak masalah, jika putriku baik-baik saja, dan merasa nyaman, It's Okay! Aku tidak masalah." ucap Amine dengan santai. Setelah meeting selesai, Amine sibuk mengirim surat undangan pada setiap perusahaan-perusahaan yang ada di kota. Malam ini akan menjadi hari yang sangat spesial untuk putrinya, dimana Amine akan memberikannya sebuah perusahan besar sekaligus menjadikannya pemilik dari perusahaan itu. Saat undangan itu sampai ke perusahaan milik Tuan Halim, kebetulan pagi itu dia sedang meeting bersama Adlar.
"Ada apa, Tuan Halim? Kau terlihat sangat senang setelah membuka surat undangan itu." tanya Adlar.
"Apa yang bisa aku katakan Tuan Adlar? Undangan ini langsung dikirim dari Nyonya Amine Laraz. Dia mengundangku untuk ke acara peresmian perusahan barunya nanti malam."
"Benarkah?" Adlar merasa sangat heran kenapa Amine tidak mengundangnya ke acara itu. Adlar menghubungi sekretarisnya untuk memastikan jika undangan itu juga datang untuknya, tetapi sepertinya Amine memang tidak menginginkan Adlar untuk datang ke acaranya. Adlar sedikit kecewa, dia pikir hubungannya dengan Amine bisa kembali membaik, tetapi Amine seakan sangat membencinya. Jangankan tentang masalah pribadinya, tentang perusahaan saja dia enggan untuk mengikutsertakan Adlar di dalamnya.
Hari sudah semakin gelap. Amine menyuruh Ishla untuk mengenakan gaun yang sudah disiapkan untuknya. Dalam beberapa menit, Ishla turun dengan penampilan yang sangat memukau.
"Kau terlihat sangat cantik, putriku." ucap Amine sambil membelai wajah putrinya.
"Terimakasih. Kenapa ibu menyuruhku untuk mengenakan pakaian seperti ini? Ada apa sebenarnya?" tanya Ishla.
Amine membawa Ishla masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat, dia menutup mata Ishla dengan kain.
__ADS_1
"Ibu, kenapa mataku harus di tutup?"
"Kau akan melihatnya nanti, sayang.
Semua tamu undangan sudah berdatangan silih berganti, termasuk Aiyaz dan Glan, mereka sudah tiba disana. Banyak wartawan yang meliput acara penting itu. Tidak lama, mobil yang dikendarai Amine dan Ishla tiba disana. Sebelum turun, Amine menyuruh Ishla untuk membuka penutup matanya. Ketika akan masuk, sudah ada foto Ishla yang terpajang di depan.
"Apa ini, Ibu?" tanya Ishla.
"Ayo kita masuk! Surprise... Ini perusahaan baru yang sengaja ibu buat untukmu, sayang. Ini acara yang sangat penting untukmu, sebentar lagi kau akan menjadi seorang pemilik perusahaan." Ishla sangat terharu mendengarnya.
"Terimakasih banyak, ibu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, ini hal yang sangat besar bagiku." Aiyaz melihat kedatangan Ishla dan menghampirinya. Dia mengajak Ishla untuk duduk disampingnya. Di sisi lain, Amine merasakan sedih karena dia harus mengingat kembali masa lalunya. Acara ini bukan hanya tentang peresmian Ishla sebagai pemilik perusahaan, tetapi dia juga akan mengumumkan siapa Ishla yang sebenarnya. Semua rahasia yang sempat Amine tutup-tutupi dari semua orang akan terungkap malam ini juga. Sementara itu, saat makan malam tiba, terlihat Aiyla yang terus melamun dan mengaduk-aduk makanannya. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa kau tidak makan makanannya?" tanya Nilam.
"Aku sedang tidak nafsu makan, Ibu." Aiyla beranjak dari tempat duduknya, dan dan pergi meninggalkan meja makan.
"Ada apa dengannya?" tanya Nilam.
"Tentu saja karena Aiyaz, dia membatalkan acara makan malamnya dengan Aiyla hanya untuk menghadiri undangan perusahannya." ucap Ethan. Ketika semua orang sedang berkumpul di meja makan, lain dengan Adlar. Dia berada di ruang kerjanya. Dia masih penasaran dengan perusahaan baru milik Amine.
"Kenapa Amine tidak mengundangku ke acaranya? Apa dia ingin menghindar dariku?" ucapnya. Adlar tidak banyak berfikir lagi, dia segera bersiap dan memutuskan untuk datang ke acara itu, walaupun tanpa kartu undangan.
Di sisi lain, Amine mengajak Ishla untuk mengambil foto bersama. Dari kejauhan, Amine melihat tamu spesialnya sudah datang. Mereka adalah keluarga Kemal. Semua orang datang untuk menyaksikan acara penting itu.
"Ashika?" Ishla langsung pergi menghampirinya.
"Hey, kau terlihat sangat cantik malam ini." ucap Ashika.
"Terimakasih, kau juga sangat cantik." Ishla mengajak Ashika untuk duduk disebelahnya. Banyak sekali yang mereka bicarakan sebelum acara berlangsung. Aiyaz yang sedari tadi memperhatikan mereka, merasa sedikit kesal karena tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan Ishla.
Semua tamu undangan sudah memenuhi ruangan, Amine menyuruh pembawa acara untuk memulai acaranya. Acara demi acara, akhirnya tiba pada acara inti, dimana Amine sendiri yang akan maju ke depan untuk mengenalkan perusahaan baru miliknya.
"Selamat malam, semua! Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk bisa hadir dalam acara penting ini." ucap Amine. Amine memperkenalkan setiap detail perusahan barunya pada semua orang.
Amine menamai perusahaan barunya, IDL Company, dimana IDL sendiri adalah nama putrinya, Ishla Diannova Laraz sedangkan untuk company sendiri artinya perusahaan. Perusahaan ini bergerak di bidang industri. Sejauh ini, walau masih terbilang perusahaan baru, tetapi sudah ada kurang lebih lima ratus orang yang sudah mendaftar untuk menjadi bagian dari perusahaan itu. Semua memberikan tepuk tangan untuk apa yang sudah Amine raih sejauh ini. Perusahan ini menjadi perusahaan terbesar kedua setelah perusahaan AL Group. Setelah selesai, Amine membuka pertanyaan tanya jawab seputar perusahaan barunya.
"Maaf nyonya, siapa yang akan memimpin perusahaan barumu itu? Apa kau sendiri?" tanya salah satu jurnalis yang ada di ruangan itu.
"Tidak, perusahaan ini aku berikan untuk putriku, dia yang akan menjadi pemilik, sekaligus pemimpin dari perusahaan ini."ucap Amine.
"Lalu, dimana putrimu itu?"
"Dia ada disana!" tunjuk Amine ke arah tempat duduk Ishla. "Kemarilah!"
Ishla berdiri dari tempat duduknya, dan dengan sangat anggun dia berjalan ke depan. Waw... semua orang terpukau dengan kecantikan yang dimiliki Ishla. Semua rekan kerja Amine terkejut ketika tahu Amine memiliki seorang putri yang sangat cantik.
"Dia putriku, Ishla Diannova Laraz." ucap Amine. Ishla berdiri di samping ibunya. Semua wartawan maju ke depan untuk mengambil foto mereka berdua. Setelah pengambilan foto selesai, seorang jurnalis meminta izin untuk menanyakan beberapa hal mengenai kehidupan Ishla. Sebelum menyetujuinya, Amine menanyakan terlebih dahulu pada putrinya itu.
"Bagaimana? Apa kau siap? Jika kau tidak mau, ibu bisa mengatakannya pada mereka."
"Tidak, Ibu. Aku siap dengan pertanyaan apapun yang mereka tujukan padaku." ucap Ishla.
__ADS_1
"Baiklah." Amine kembali ke tempat duduknya, hanya ada Ishla sendiri yang berdiri di depan untuk menjawab semua pertanyaan yang diberikan jurnalis itu.