
Siang itu, Ethan pergi untuk menemui Ashika di kampus. Kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya Ethan melihat Ashika berjalan ke luar kampus.
"Ashika... teriak Ethan. Ashika saat itu terus saja berjalan, dia sedang mengobrol dengan salah satu mahasiswa kampus sampai tidak bisa mendengar teriakan Ethan.
"Ada apa dengannya?" Ethan menyusul Ashika dari belakangan. Ashika sangat terkejut saat ada orang yang memegang tangannya.
"Lepaskan!" Ashika terkejut melihat Ethan di kampusnya. "Untuk apa kau disini?" Ethan membawa Ashika menjauh dari keramaian. Dia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
"Aku harus pergi."
"Tunggu sebentar! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa malam itu kau bisa mabuk? Jika bukan kau yang bertanya padaku tentang banyak hal, lalu siapa?" Ashika sudah menduga jika Ethan akan menanyakan hal semacam itu. Wajah Ashika berubah menjadi sangat serius. Dia menceritakan semua kejadian malam itu pada Ethan. Setelah memberikan Ethan minuman, seseorang menepuk pundak Ashika dari belakang dan memberikannya segelas minuman. Saat Ashika minum, dia merasa kepalanya sangat berat dan tidak sadarkan diri. Dia juga tidak tahu siapa orang yang sudah mengantarnya pulang.
"Kenapa kau terlihat sangat khawatir?" tanya Ashika. "Bagaimana jika orang yang bertanya padamu itu seorang polisi yang sedang menyamar?" Ashika melihat wajah Ethan yang mulai cemas.
"Apa maksudmu ini sebuah penjebakan?"
"Tepat sekali." Saat Ethan dan Ashika sedang berbincang, muncul Ishla dari belakang.
"Kau sedang apa?" tanya Ishla. Ethan memperhatikan wajah Ishla baik-baik, dia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.
"Halo... Ethan tersadar dari lamunannya. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Ishla.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ethan terus mengingat dimana dia melihat wajah itu.
"Kau ini sangat aneh. Sudahlah ayo kita pergi!" Ashika membawa Ishla pergi darisana. Siang ini dia akan mengunjungi Kemal dan Bahar.
Siang itu Zuhairah pergi ke rumah sakit tempat Arash bekerja. Dia membawa bekal makan siang untuk suaminya. Arash mulai nyaman dengan perhatian kecil yang selalu istrinya berikan padanya. Saat Arash sedang menyantap makanannya, Airah pergi untuk menerima telepon. Arash terus memandangi wajah istrinya itu, tiba-tiba wajahnya berubah serius.
"Ada apa?" tanya Arash.
Zuhairah memberitahu Arash jika ibunya menyuruh dia untuk kembali. Orang yang diberi kepercayaan untuk memegang restoran milik keluarganya memundurkan diri secara mendadak. Ibunya tidak bisa mempercayai orang begitu saja. Dia meminta Zuhairah untuk meneruskan usaha restoran keluarganya.
"Baiklah, kita akan pergi hari ini juga. Sebelumnya, aku akan memesan tiket terlebih dahulu." Saat Arash bangun dari tempat duduknya, tangan Airah menahannya.
"Tidak. Biar aku saja yang pergi, kau tetap disini dengan pekerjaanmu." Zuhairah tidak ingin Arash meninggalkan pekerjaannya hanya untuknya. Menjadi dokter adalah mimpinya sejak kecil.
"Kau adalah istriku, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Apapun masalahnya kita harus menghadapinya bersama."
"Terimakasih," ucap Airah sambil memeluk suaminya.
Siang itu Kemal dan Bahar dikejutkan dengan kehadiran Ishla di rumahnya.
"Masya Allah, nak... Bahar memperhatikan Ishla dari atas sampai bawah. "Kau sudah berjalan kembali?" Bahar langsung memeluk Ishla dengan penuh kebahagiaan.
"Kemal! Cepatlah kemari! Lihatlah siapa yang datang?" Kemal baru saja kembali dari kebun belakang.
__ADS_1
"Ishla?"
"Apa kabarmu, Paman?"
"Aku baik."
"Syukurlah kau sudah bisa berjalan kembali...
Bahar mempersilahkan Ishla untuk duduk. Dia akan pergi untuk membuatkan teh. Makanan yang ada di rumah Bahar kebetulan habis, dia meminta Ashika untuk pergi membelinya ke toko.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Ishla.
"Aku akan pergi ke toko untuk membeli beberapa makanan."
"Baiklah, kalau begitu aku ikut." Ashika dan Ishla pergi ke toko jalan kaki. Kebetulan, tokonya tidak jauh dari rumah Ashika. Tokonya terletak di seberang jalan. Di jalan, tidak sedikit orang yang menyapa Ashika ramah. Mereka tahu jika Ashika itu putri Bahar. Mereka memang keluarga yang baik, pantas saja setiap orang yang bertemu pasti akan memberi hormat ataupun salam.
"Assalamu'alaikum, Ashika." ucap seorang perempuan tua.
"Wa'alaikum salam, Bibi Arumi. Kau darimana?" Ashika melihat barang belanjaan perempuan itu cukup banyak dan meminta Ishla untuk membantu membawakan semua barang itu ke rumahnya.
"Terimakasih, Nak. Kalian sudah mau menolongku."
"Sama-sama, Bibi. Jika kau akan pergi ke pasar lagi, kau bisa mengajakku. Aku akan membawa semua barang belanjanmu dan kau tidak akan kelelahan seperti tadi."
"Terimakasih, kau memang anak yang baik." Ashika dan Ishla langsung berpamitan karena mereka harus pergi ke toko. Saat akan menyeberang jalan, tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna silver hampir menabrak Ishla. Seorang pria tampan keluar dari mobil itu. Dari pakaiannya sudah terlihat jelas jika dia seorang CEO.
"Maaf, apa kau tidak apa-apa?" ucap pria itu sambil membuka kaca matanya. Ashika terpana melihat ketampanan pria itu.
"Apa itu sebuah perhatian, atau peringatan?" Pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi.
Siang itu sebuah surat kembali datang ke kediaman Diaz. Kebetulan, hari ini Adlar sedang libur. Dia yang menerima surat itu dan membukanya, '*Saat waktunya tiba nanti, aku akan membongkar semuanya*.'
"Apa maksud dari surat ini?" Tidak lama Nilam datang dan melihat Adlar memegang sebuah surat.
"Apakah itu sebuah surat?"
"Ya." Adlar memberikan surat itu pada Nilam. Saat akan melihatnya, dia yakin jika Adlar sudah lebih dulu membacanya. Nilam sangat geram dengan surat yang belakangan ini meneror dirinya.
"Apa maksud surat itu?" tanya Adlar.
"Kenapa kau bertanya padaku? Tentu saja aku tidak tahu."
"Ya sudah, cukup! Aku kan hanya bertanya padamu, kenapa kau harus marah?" Adlar pergi meninggalkan Nilam. Saat sedang menikmati sebuah teh di taman belakang, Azizah melihat Nilam berjalan dengan terburu-buru ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Azizah.
"Lihatlah, Ibu! Lagi-lagi surat ini datang ke rumah kita dan baru saja Adlar yang menerima surat itu."
__ADS_1
"Apa Adlar membacanya?"
"Tentu saja, dia menanyakan padaku tentang surat itu. Jika kau melihat wajahnya, dia seperti sedang mencurigaiku." Azizah tidak akan tinggal diam, beberapa kali surat misterius ini datang ke rumahnya.
"Apa kau mencurigai seseorang?"
"Iya, Ibu. Aku mencurigai Amine. Saat dia datang kembali ke rumah ini banyak sekali masalah baru yang muncul." Saat itu juga Azizah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencaritahu tentang Amine.
Hari sudah sore. Amine dan Ishla dikejutkan dengan kehadiran Arash dan Zuhairah di rumahnya.
"Aku senang kalian akhirnya bisa berkunjung kemari. Ada apa?" Arash menatap Zuhairah, dia memberitahu Amine dan Ishla jika hari ini juga mereka akan kembali ke Kanada dan menetap disana. Amine sedikit terkejut dengan pernyataan Arash.
"Apa pekerjaanmu dialihkan ke Kanada?"
"Tidak, Nyonya." Arash memberitahu Amine jika Ibu Zuhairah meminta dia untuk meneruskan usaha restoran milik keluarganya. Arash tidak bisa membiarkan Airah pergi sendiri, bagaimanapun juga Airah sudah menjadi tanggung jawabnya. Mereka sudah memutuskan akan menetap disana untuk mengurus restoran bersama.
"Baiklah, jika memang itu sudah menjadi keputusan kalian berdua aku akan mendukungnya."
"Jangan lupakan kami, ya! Jika ada kesempatan datanglah kemari! Kami akan sangat merindukan kalian." Amine memeluk mereka berdua begitupun Ishla.
"Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Setelah selesai mandi, Ishla mulai menyiapkan semua materi untuk presentasi besok. Untuk sekarang ini Ishla akan lebih banyak menghabiskan waktunya di perusahaan.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah! Ibu?" Amine datang dengan membawa segelas susu hangat untuk Ishla.
"Minum dulu susunya, sayang!"
"Terimakasih, Ibu." Amine melihat laptop Ishla menyala.
"Kau sudah siap untuk presentasi besok, sayang?"
"Tentu saja, Ibu. Aku sedang menyiapkan semua materinya." Amine memberitahu Ishla jika besok akan datang seseorang yang istimewa di perusahaannya. Dia seorang CEO muda dari New Zealand. Dia sedang mencari rekan kerja yang cocok untuk perusahaannya. Mendengar hal itu, Ishla semakin semangat untuk membuat materi presentasinya. Dia meyakinkan Amine akan menjadi rekan kerja CEO itu dan mendapatkan kontrak kerjasamanya.
Saat sedang mengerjakan materi presentasi, tiba-tiba ponsel Ishla berbunyi.
"Halo! Kau sedang apa?" tanya Aiyaz.
"Aku sedang mengerjakan materi presentasi untuk besok." Aiyaz meminta maaf pada Ishla karena belakangan ini dia sangat sibuk dan belum sempat menemuinya lagi. Tapi, Aiyaz sangat senang jika ingatan Ishla sudah kembali lagi dan dia juga sudah bisa berjalan kembali.
"Apa besok kau sangat sibuk?" tanya Aiyaz.
"Hmm... Aku akan ada pertemuan besok siang, mungkin besok sore aku sudah selesai bekerja."
__ADS_1
"Baiklah, besok sore kita bertemu di tempat biasa."
"Baiklah, sampai jumpa besok." Ishla menutup teleponnya dan kembali fokus pada layar laptopnya. Aiyaz akan membuat kejutan untuk Ishla. Dia akan membuat pertemuan mereka seperti kencan pertama yang pernah dilakukannya dulu. Aiyaz akan menghias tempat itu supaya Ishla dapat mengingat kembali kenangan indah bersamanya dulu.