CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KEDATANGAN TAMU


__ADS_3

Amine tiba di alamat yang Selim berikan. Mobilnya berhenti di sebuah rumah sederhana dengan halamannya yang cukup luas. Dia turun dan mendatangi rumah itu.


Tok... Tok... Tok...


Tidak lama seorang perempuan membuka pintu. Dia menatap Amine dari atas sampai bawah.


"Maaf, kau mencari siapa?" tanya perempuan itu.


"Aku ingin bertemu dengan Kemal."


"Ada apa kau mencari suamiku?" tanya perempuan itu dengan tatapan sinis.


"Siapa yang datang, Ibu?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Dia mencari ayahmu."


Gadis itu dengan senang hati membawa Amine menemui ayahnya. Kemal siang itu berada di bengkel, sedang memperbaiki sebuah mobil.


"Ayah!" panggil gadis itu.


"Kenapa kau kesini?" tanya Kemal.


Kemal melihat putrinya, Ashika datang dengan seorang perempuan.


"Siapa kau?" tanya Kemal.


Amine tidak bisa menjelaskannya di sana, Kemal membawa Amine ke rumahnya.


Kemal membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena kotor dan bau. Bahar, istri Kemal membawa secangkir teh dan kue kering.


"Silahkan diminum teh nya, Bibi!" ucap Ashika sopan.


"Terimakasih." Tidak lama Kemal keluar dan menemui Amine di ruangan.


"Kau siapa? Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Kemal.


Tanpa banyak basa-basi, Amine langsung memberikan sebuah plat nomor mobil.


"Apa kau pemilik dari plat nomor mobil ini?" tanya Amine.


"Iya, aku pemilik mobil ini."


"Itu berarti, kau pelaku tabrak lari tiga tahun yang lalu." Amine langsung menuduh Kemal pelakunya.


"Hey, jaga bicaramu itu! Bahar terlihat sangat marah. "Suamiku ini orang baik, tidak mungkin dia melakukan hal kotor seperti itu."


Bahar tidak lagi bersikap ramah pada Amine. Dia langsung menyuruh Amine untuk pergi dari rumahnya.


"Aku akan datang lagi, dan menanyakan banyak hal padamu," Amine mencoba memperingatkan Kemal.


"Apa dia ini pengacara? Tiba-tiba saja datang, dan menuduhmu yang bukan-bukan." Bahar terlihat sangat kesal. Berbeda dengan sikap Kemal yang sedari tadi diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ayah, kau kenapa?" tanya Ashika.


"Kepala ayah hanya sedikit pusing." Ashika membawa Kemal ke kamarnya. Dia membawa obat dan segelas air.


"Minum dulu obatnya!" ucap Ashika.


"Terimakasih, Nak."


Hari sudah sore. Ishla baru saja selesai terapi. Dia mengajak Arash untuk segera mengantarnya pulang. Sore itu Aiyaz pergi untuk menjemput Aghna di kampus. Tiba-tiba ponsel Aiyaz berdering,


"Halo, Kakak! Kau tidak perlu menjemput ku, aku sudah pulang dari tadi siang, sekarang aku sedang ada di toko buku."


"Baiklah, aku akan datang kesana."



Sebelum pulang, Ishla meminta Arash untuk mengantarnya ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus dia beli untuk tugasnya besok. Sesampainya disana, Arash tidak membiarkan Ishla untuk turun, dia yang akan membeli semua buku itu.


"Buku apa saja yang kau butuhkan?" tanya Arash. Ishla memberikan catatan tentang buku yang akan dibelinya.


"Baiklah, kau tetap disini!" Saat masuk ke toko buku, Arash bertabrakan dengan Aghna.


"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Arash.

__ADS_1


"Kau?" ucap Aghna sambil menunjuk tangannya ke wajah Arash. Dia langsung menurunkan tangannya dan tersenyum manis, "Untuk apa kau disini?" tanya Aghna. Pertanyaan bodoh apa yang baru saja dilontarkan Aghna pada Arash. Ini adalah toko buku, jika dia kesini itu berarti dia akan membeli buku.


"Dasar bodoh!" ucap Aghna pelan.


"Apa yang kau katakan? Kau bilang aku ini bodoh, Hah?"


"Itu bukan untukmu, aku sedang bicara pada diriku sendiri."


"Kau masih beruntung karena kau tidak sedang di kampus, jika kau di kampus aku pasti sudah menghukum dirimu." Aghna langsung pergi dari hadapan Arash. Dia tidak ingin lagi berurusan dengannya. Sudah cukup hukuman tadi untuk Aghna, jangan sampai ada hukuman yang kedua kalinya.


Aghna masih menunggu kedatangan Aiyaz.


"Kakak, kau dimana?" ucap Aghna di telepon.


"Aku sedang menuju kesana," ucap Aiyaz.


"Baiklah, cepat sedikit!"



Ishla melihat Aghna di depan toko buku. Dia membuka kaca mobilnya, dan memanggilnya, "Aghna!" teriak Ishla sambil melambaikan tangannya.


"Ishla?" Ketika Aghna akan berlari ke arah Ishla, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencang.


"Aghna, awas!!!" Aghna hanya mematung dan menutup kedua matanya,


"Ahh...


Bruk!


Aghna sempat membuka matanya, dia melihat tubuhnya baik-baik saja. Dia melihat lengan Arash terluka karena menahan tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Aghna sambil membangunkan Arash.


"Aku baik-baik saja."


"Tapi lukamu itu...


Arash segera merapikan buku yang tadi berserakan karena menolong Aghna.


"Kau harus lebih berhati-hati! Jika akan menyebrang jalan, lihatlah kanan dan kiri mu!" ucap Arash sambil pergi.


Arash masuk ke dalam mobilnya, "Kau tidak apa-apa? ucap Ishla. "Kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati lukamu itu."


"Tidak perlu, aku akan mengobati luka ini setelah mengantarmu pulang."


Ketika Arash pergi, tidak berselang lama Aiyaz datang. Dia melihat buku Aghna berserakan dan membantunya.


"Apa yang terjadi? Kenapa buku-buku ini berserakan?"


"Baru saja aku akan tertabrak mobil," Aiyaz terkejut mendengarnya. Dia memeriksa seluruh tubuh Ishla takut ada yang terluka.


"Kau tidak apa-apa kan?"


Aghna memberitahu Aiyaz bahwa Arash yang sudah menyelamatkannya. Jika tidak mungkin saat ini Aiyaz hanya bisa melihat jasadnya. Aiyaz membawa Aghna masuk ke dalam mobil.


Ethan mencoba mengingat dimana tempat dia menabrak gadis itu. Ethan memberhentikan mobilnya di sebuah toko buku. Dia seperti orang yang kebingungan.


"Ayolah Ethan, ayo! Ingat-ingat lagi dimana kau menabrak gadis itu?" Bayangan Ethan sekarang terlihat sangat jelas, dia menabrak gadis itu di depan toko buku ini. Ethan keluar dan menemui pemilik toko buku itu.


"Selamat datang, Nak. sapa Mustafa ramah. "Buku apa yang sedang kau cari?" tanya Mustafa.


Ethan berbisik pelan di telinga Mustafa,


"Aku sedang mencari CCTV, apa kau melihatnya?" Mustafa tertawa mendengar lelucon Ethan.


"Disini hanya ada buku-buku, tidak ada CCTV yang kau maksud."


"Benarkah?" Ethan melihat ke sekeliling memang tidak ada CCTV di toko buku itu.


"Aneh sekali, kenapa anak muda itu datang hanya untuk menanyakan CCTV," ucap Mustafa.



Tidak lama Ethan kembali masuk dan menanyakan suatu hal pada Mustafa, "Apa kau disini sudah lama?" tanya Ethan.

__ADS_1


Sejak tahun 90 an toko buku ini sudah berdiri, dan Mustafa sendiri yang mengelolanya.


"Apa kau pernah melihat kejadian tabrak lari di sekitar sini?" tanya Ethan.


Mustafa mencoba mengingatnya, tapi setahu dia kawasan ini sangat aman dan jauh dari kecelakaan.


"Maksudku, tiga tahun yang lalu. Apa kau pernah melihatnya?" Pertanyaan Ethan membuat Mustafa berfikir, apa hubungan Ethan dengan kecelakaan tiga tahun yang lalu. Kenapa dia ingin tahu banyak tentang kecelakaan itu. Mustafa yakin Ethan terlibat dalam kecelakaan itu, bisa jadi dia adalah pelakunya.


"Aku tidak tahu, Nak. Kenapa kau bertanya hal semacam itu?"


"Jika tidak tahu, kenapa kau lama sekali menjawabnya?" Ethan sedikit kesal dan pergi dari toko buku itu.


Hari sudah semakin gelap. Arash dan Ishla baru saja tiba di rumah. Amine kaget melihat tangan Arash yang terluka.


"Apa yang terjadi? kenapa lenganmu itu sampai terluka seperti itu?" tanya Amine.


"Hanya kecelakaan kecil, Nyonya."


Amine menyuruh Selma untuk membawakan kotak obat.


"Biar aku obati lukamu ini," Amine mengobati luka Arash perlahan. Dia sudah menganggap Arash seperti putranya sendiri. Saat mengobati Arash, Ishla hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


"Ishla? Kau kenapa sayang?"


Ahh..


Ishla meringis kesakitan, "Kepalaku sangat sakit, lbu." Ishla menangis tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya dan akhirnya dia pingsan.


"Ishla... Bangunlah, sayang!' Amine sangat khawatir dengan keadaan Ishla. Dia langsung membawa Ishla ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter meminta Amine untuk ke ruangannya.


"Bagaimana keadaan putriku, Dok?"


Tidak ada yang perlu Amine khawatirkan terhadap kondisi Ishla. Tapi dokter sangat takut jika Ishla sering mengalami seperti ini, dia akan dalam bahaya. Dokter menyarankan agar Ishla tidak banyak memikirkan sesuatu yang ada hubungannya dengan masa lalunya, karena jika dia bersikeras mengingat masa lalunya, dia tidak akan mencapainya, yang ada kepalanya akan terasa sangat sakit. Dan itu keadaan yang sangat berbahaya untuk Ishla.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Amine.


"Dia tidak boleh terlalu lelah, kau harus tetap menjaga moodnya supaya baik, jangan biarkan dia terus mengingat masa lalunya, biar saja masa lalunya kembali dengan sendirinya."


"Baiklah, terimakasih dok." Amine menemui Ishla di ruang rawat inap. Tidak lama Ishla sadarkan diri.


"Ibu...


Ssstt.. sudahlah, jangan banyak bicara dulu!"


"Aku ingin pulang ibu, aku tidak mau disini," pinta Ishla. Amine meminta dokter untuk mengizinkannya pulang. Keadaan Ishla sudah lebih baik, Amine bisa membawanya pulang malam ini.


"Apa yang terjadi, Nyonya?" tanya Arash saat di perjalanan. Sebelum Amine menjawab, dia melihat Ishla di bangku belakang yang sudah tertidur. Amine menceritakan pada Arash semua yang dikatakan dokter padanya. Amine sangat takut apa yang terjadi pada Ishla hari ini akan terjadi lagi nanti. Arash berjanji akan selalu menjaga Ishla, dia akan terus menemaninya melewati masa sulit.


Malam itu, Zafer baru saja tiba di rumah.


"Selamat datang, Kakak." ucap Ashika.


"Dimana ibu dan ayah?" tanya Zafer.


"Ibu sedang menyiapkan makan malam di dapur, jika ayah dia sedang istirahat di kamar, tadi siang kepalanya terasa pusing lagi." ucap Ashika.


Zafer menyalami ibunya di dapur. Dia adalah anak yang penurut dan pekerja keras. Zafer melihat wajah ibunya yang berbeda dari biasanya.


"Kenapa dengan wajah Ibu? Apa ada yang membuat Ibu marah?" tanya Zafer.


Bahar menceritakan semua kejadian siang tadi. Mendengar hal itu Zafer pun ikut marah. Bisa-bisanya ada orang asing datang dan menuduh ayahnya sebagai pelaku tabrak lari.


"Apa ibu mengenalnya? Akan aku buat perhitungan padanya!"


"Kau tidak perlu repot-repot mencarinya, dia bilang akan datang lagi kemari."


"Baiklah, jika dia datang aku berjanji akan membuatnya menyesal karena mengatakan hal buruk pada ayahku."


Ashika menghampiri ibunya di dapur. Wajahnya sedikit murung.


"Ada apa?" tanya Bahar.


Baru saja pihak kampus menghubunginya, dia menagih uang kuliah yang belum dibayar selama empat semester, ditambah lagi Minggu depan Ashika akan ada ujian dan harus membayar lagi, jika tidak dia tidak akan bisa ikut ujian. Bahar akan berusaha untuk mencari uang untuk membayar kuliah Ashika.


Zafer mendengar pembicaraan mereka, dia sangat sedih dengan keadaan keluarganya. Ayahnya hanya bisa membuka bengkel, dia sebagai pelayan restoran, dan Ashika dia sangat ingin kuliah. Jikapun gaji Kemal dan Zafer digabungkan, itu tidak akan cukup membayar kuliah Ashika selama empat semester. Zafer memikirkan cara untuk bisa mendapatkan uang sebanyak itu.

__ADS_1


Malam itu Amine membawa Ishla ke kamarnya. Dia memberitahu Ishla untuk tidak memikirkan banyak hal, dan juga jangan terlalu letih. Ishla mulai memejamkan matanya dan tidur. Amine keluar untuk menemui Arash, "Terimakasih untuk semuanya. Aku tidak tahu lagi harus membalas kebaikanmu seperti apa."


"Jika kau menganggap ku sebagai putramu, aku mohon jangan mengatakan hal seperti itu lagi, aku sama sekali tidak keberatan untuk membantumu ataupun Ishla."


__ADS_2