CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PERHATIAN GLAN PADA ISHLA


__ADS_3

Siang itu Glan pergi ke kantor Ishla. Tiba disana, dia melihat pintu ruangan Ishla terbuka, dan langsung masuk ke dalam.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, tuan?" ucap Myra.


"Aku lihat tadi pintunya terbuka, jadi aku langsung masuk." ucap Glan. "Dimana Ishla?"


"Dia sedang meeting. Jika kau mau, kau bisa menunggunya disini!" ucap Myra.


Myra melihat penampilan Glan dari atas sampai bawah. Dia terlihat sangat tidak sabaran ingin bertemu dengan Ishla.


"Siapa sebenarnya pemuda ini? Apa dia kekasihnya Ishla?" tanya Myra dalam hatinya. "Ah, sudahlah! Itu bukan urusanku."


Sudah lama Glan menunggu, akhirnya Ishla datang.


"Glan?" ucap Ishla.


Glan yang melihat kedatangan Ishla langsung lari dan memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Glan.


"Benarkah?" ucap Ishla sambil melepas pelukannya dari Glan. "Baiklah, sekarang kau bisa ceritakan apa yang kau rindukan dari diriku!"


Glan menjadi salah tingkah di depan Ishla, apa yang dilakukannya baru saja benar-benar diluar kendalinya. Glan merasa gugup, dia mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Glan.


"Belum, aku baru saja akan pergi dengan Myra untuk makan siang." ucap Ishla.


"Baiklah, kalau begitu mari kita pergi bersama." ajak Glan.


Siang itu, Glan mengajak Ishla dan Myra makan siang di restoran yang sangat mewah dengan suguhan pemandangan kota yang begitu indah. Bukan hanya itu, restoran ini juga sangat terkenal sampai orang yang akan makan di tempat itu harus memesan meja lebih dulu. Tiba disana, hanya ada satu tempat lagi yang tersisa. Glan sangat senang karena masih bisa mendapat tempat makan disana. Di satu sisi, Aiyaz dan Aiyla baru saja tiba di restoran yang sama. Mereka mencari meja kosong dan menemukan satu meja yang belum terisi. Setelah Myra memesan makanannya, dia melihat seseorang sudah menempati meja makannya.


"Permisi! Ini mejaku," ucap Myra. "Jika kalian mau, kalian bisa mencari tempat lain."


Aiyla ingat dengan jelas siapa gadis itu. Dia adalah orang yang bekerja di kantor Ishla.


"Permisi, apa ada tempat yang masih kosong disini?" tanya Aiyaz pada salah satu pelayan.


"Maaf, tuan. Ini tempat terkahir. Semua tempat sudah dipesan beberapa waktu lalu," jawab si pelayan.


Sempat terjadi sedikit pertengkaran diantara Myra dan Aiyla.


"Kau bisa tanyakan pada pelayan, siapa yang lebih dulu memesan tempat ini!" ucap Myra.


Si pelayan sangat minta maaf karena memang Myra lah yang lebih dulu memesan tempat itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Glan yang baru saja datang.


"Ishla?" ucap Aiyaz.


Myra memberitahu Ishla jika mereka mencoba merebut meja makannya, padahal dia yang sudah memesannya lebih dulu. Aiyaz melihat Ishla yang sedari tadi terus saja memalingkan wajah darinya. Terlihat kekesalan yang sangat jelas diwajahnya. Dia melihat kaki Ishla yang lecet dan bengkak.


"Apa kakimu tidak apa-apa?" tanya Aiyaz khawatir.


"Jika saja kau datang malam itu, kakiku tidak akan terluka seperti ini." ucap Ishla sambil menyembunyikan rasa kekecewaannya.


Glan baru menyadari jika kaki Ishla terluka, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aiyaz juga Ishla. Di satu sisi, Aiyaz mengkhawatirkan tentang pekerjaannya. Dia akan bertemu dengan seorang klien penting di tempat itu. Jika Aiyaz tidak bisa mendapatkan tempat disana, mungkin saja pertemuannya ini akan batal. Klien ini baru saja tiba dari London, namun dia lahir di Istanbul, Turki. Kebetulan klien ini sangat menyukai semua tempat kuliner yang ada di Turki, termasuk restoran ini. Dia meminta sendiri pada Aiyaz jika pertemuannya harus berlangsung di restoran ini.


"Bagaimana ini? Sebentar lagi klien kita akan datang. Jika dia tau pertemuannya tidak jadi disini, apa kerja sama ini akan batal?" tanya Aiyla.


"Sudahlah, aku akan bicara padanya nanti. Kau cari saja tempat lain untuk pertemuan ini!" pinta Aiyaz.


Mendengar hal itu, Ishla tidak ingin kerja sama Aiyaz harus batal karena hal kecil seperti ini.


"Glan, apa kita bisa kembali sekarang? Aku lupa jika pukul dua siang nanti, aku ada meeting dan harus menyiapkan semuanya." ucap Ishla.


"Lalu, semua makanan ini?" tanya Myra.


"Kita akan membungkus semuanya, dan memakannya di kantor." ucap Ishla.


Glan pergi untuk meminta pelayan membungkus semua makanannya. Aiyaz tahu Ishla melakukan semua itu karena dirinya, dia masih peduli padanya hanya saja dia tidak menunjukkannya.


"Dasar tidak tau berterimakasih! Jika Ishla tidak memberikan tempat ini pada kalian, mungkin kerja sama yang kalian bicarakan itu sudah batal." timbal Myra.


"Sudahlah, terserah padanya ingin mengatakan apapun, aku tidak ingin lagi mendengarnya." ucap Ishla.


Tidak lama Glan datang dengan membawa beberapa bungkus makanan. Myra membantunya untuk membawakan ke mobil. Ishla berjalan dengan pelan, karena kakinya yang masih sakit. Melihat itu, Glan merasa sangat kasihan dan langsung menggendong Ishla ke mobil. Melihat perlakuan Glan pada Ishla, Aiyaz merasa cemburu. Dia tidak akan membiarkan Glan merebut Ishla darinya.


\*\*\*


Siang itu, Nilam baru mendapat kabar jika seseorang pernah melihat mobil Ethan terparkir di samping rumah Amine, setelah itu tidak ada lagi kabar mengenai dirinya.


"Untuk apa dia pergi kesana?" ucapnya dalam hati.


Nilam langsung teringat dengan rekaman CCTV itu. Dia yakin Ethan mencoba untuk mengambil rekaman itu dari tangan Amine. Hari itu juga, Nilam pergi menemui Amine.


Di satu sisi, Ethan yang masih terperangkap di dalam gudang terus saja berteriak. Dia meminta Zafer untuk melepaskannya. Saat itu, Selma datang membawa makanan untuk Ethan.


"Cepat lepaskan ikatan ini dari tubuhku!" pinta Ethan pada Selma.


"Coba saja jika kau bisa!" timbal Selma.

__ADS_1


Sebelumnya, Amine meminta salah satu penjaganya untuk menyuapi Ethan saat makan, karena dia tidak mungkin bisa makan dengan tangan yang terikat. Di samping itu, Amine juga tidak ingin jika Ethan lepas begitu saja dari genggamannya. Saat penjaga masuk dan mulai menyuapi makanan pada Ethan, dia langsung menyembur makanan itu ke wajah si penjaga.


"Rasakan itu! Apa kau pikir aku mau makan-makanan itu? Haha... Jangan harap!" ucap Ethan sambil tertawa.


Si penjaga langsung keluar dari ruangan itu, dan memberitahu Selma jika Ethan tidak mau memakan makanannya.


"Baguslah, biarkan saja dia kelaparan!" ucap Zafer yang muncul dari belakang. "Kau tidak perlu lagi memberinya makan, bi. Aku akan memberitahu nyonya Amine semua ini."


"Baiklah," ucap Selma.


\*\*\*


Sesampainya di kantor, Myra membawa semua makanannya ke ruang Ishla. Mereka makan bersama disana, sebelum melakukan pekerjaannya kembali.


"Makanannya terlalu banyak. Aku tidak sanggup jika harus menghabiskannya sendiri." ucap Myra.


"Baiklah, kau bisa mengambilnya separuh dan memberikan kepada pegawai yang belum sempat makan siang. Jadi, semua makanan ini tidak akan terbuang sia-sia." ucap Ishla.


Myra membagikan makanannya ke pegawai lain, kebetulan banyak dari mereka yang belum makan siang. Selesai makan, Glan meminta Myra untuk membawakan kotak obat.


"Untuk apa? Apa kau terluka?" tanya Ishla.


"Ini yang kau minta!" ucap Myra.


Setelah membuka kotak itu, Glan langsung mengambil obat dan mengoleskannya pada kaki Ishla.


"Apa yang kau lakukan? Sudahlah, aku bisa mengobatinya sendiri." ucap Ishla.


"Sudahlah, kau diam saja. Biar aku yang mengobatinya." jawab Glan.


Myra melihat perhatian Glan yang begitu besar pada Ishla. Dia yakin jika Glan memiliki perasaan pada Ishla, tapi tidak dengan Ishla. Saat di restoran tadi, tatapan Ishla sangat dalam pada Aiyaz. Dia benar-benar kecewa karena Aiyaz tidak datang malam itu. Tatapan itu membuat Myra berpikir jika ada hubungan yang kuat diantara Ishla dan Aiyaz. Setelah mengobati luka Ishla, Glan harus pergi karena ada urusan lain. Dia berjanji akan mengunjungi Ishla kembali.


"Terima kasih sudah mau mengobati luka ku," ucap Ishla sambil tersenyum.


"Tidak masalah, andai saja aku bisa mengobati semua luka yang kau rasakan, pasti aku sudah melakukannya, termasuk luka dalam hatimu!" ucap Glan sambil bergegas pergi.


Mendengar hal itu, Ishla langsung terdiam dan mulai memikirkan sesuatu. Dia merasa aneh dengan sikap Glan padanya belakangan ini. Dia sangat perhatian, juga peduli padanya.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" tanya Myra.


"Tentu saja," ucap Ishla.


"Aku lihat, Glan sangat menyukaimu. Semua terlihat dari sikapnya, mulai dari menggendongmu saat di restoran, mengobati luka di kakimu, terus perkataannya barusan menunjukkan seperti dia itu memang memiliki perasaan padamu." ucap Myra.


"Entahlah," ucap Ishla.

__ADS_1


Dia sendiri merasa bingung dengan perasaannya yang sekarang. Dia merasa seperti ada jarak diantara dirinya dan Aiyaz. Mereka sudah sangat jarang untuk berkomunikasi, maupun bertemu. Hubungannya dengan Aiyaz sekarang ini, seperti tidak jelas ke arah mana. Tetapi, Glan hadir di dalam hidupnya. Dia seperti seorang penyelamat yang Allah kirimkan untuknya. Setiap kali dia dalam bahaya Glan selalu datang untuk menyelamatkannya. Tapi bagaimanapun, Ishla tidak bisa membohongi perasaannya jika dia masih berharap pada Aiyaz. Dia ingin hubungannya dengan Aiyaz kembali seperti dulu. Dia ingin cinta pertamanya itu kembali dalam pelukannya.


__ADS_2