CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
BERDUA BERSAMAMU


__ADS_3

Siang itu, Amine menemui Myra dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Myra masih khawatir dengan kondisi Ishla yang sempat pingsan kemarin. Dia belum sempat menemuinya kembali karena pekerjaannya yang sibuk dan tidak bisa ditinggalkan. Tidak lama seorang pelayan datang membawa makanan pesanan Amine dan Myra.


"Silahkan makan makanannya!" ucap Amine.


"Terimakasih nyonya," jawab Myra.


"Bagaimana dengan kondisi Ishla, nyonya?"


"Dia masih terbaring lemas, memang apa yang sebenarnya terjadi Myra?"


Myra memberitahu Amine jika kemarin Ishla sempat pingsan di tempat pemotretan. Fotografer yang membawanya ke rumah sakit.


"Apa kau tahu alamat rumah sakitnya?" tanya Amine.


Myra meminta pena dan selembar kertas pada pelayan. "Ini alamatnya, nyonya!" Setelah makan siang, Amine pergi ke rumah sakit yang menangani Ishla kemarin. Tiba disana, seorang dokter menghampiri Amine.


"Nyonya Amine Laraz? Sedang apa kau disini? Apa salah satu anggota keluargamu ada yang sakit?"


"Tidak dokter! Kemarin siang, putriku pingsan dan dilarikan ke rumah sakit ini,"


"Siapa nama putrimu itu nyonya?"


"Ishla Diannova Laraz,"


Dokter memberitahu Amine jika dia sendiri yang menangani Ishla kemarin. Dokter membawa Amine ke ruangannya.


"Apa terjadi sesuatu pada putrimu, nyonya?" tanya dokter.


"Sejak kemarin, dia terlihat aneh dokter. Dia bilang padaku jika dia mengalami sakit kepala biasa, tapi aku melihat ada yang berbeda di wajah putriku. Wajahnya terlihat pucat, dan badannya sangat lemas."


Dokter sempat terdiam sejenak, dia pikir Ishla akan memberitahu penyakitnya itu pada Amine, ternyata tidak.


"Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku memberitahu nyonya Amine tentang penyakit putrinya itu?" ucap dokter dalam hati.


"Kenapa kau diam saja dokter? Apa putriku memiliki penyakit yang serius?"


"Sebenarnya putrimu itu...


Dokter mengingat permohonan Ishla kembali jika dia tidak boleh memberitahu siapapun tentang penyakitnya itu pada orang lain.


"Kenapa dengan putriku?"


"Dia hanya mengalami lelah dan membutuhkan banyak waktu untuk istirahat," ucap dokter.


Mendengar pernyataan dokter Amine merasa cukup lega. Setelah menemui dokter, Amine kembali ke kantornya.


"Maafkan aku nyonya, karena aku menyembunyikan semua kebenaran ini, aku sudah berjanji pada putrimu untuk tidak memberitahu siapapun tentang penyakitnya itu," ucap dokter.


\*\*\*


Siang itu, Ishla memiliki jadwal untuk terapi. Dia pergi dengan menggunakan taksi. Tidak lama Ishla pergi, Glan datang.


"Selamat datang tuan muda," ucap Selma.


"Terimakasih, bi. Aku ingin bertemu Ishla, apa dia ada?"


"Maaf, tuan. Tapi, baru saja nona pergi."


"Kemana bi?" tanya Glan.


"Bibi kurang tahu, tuan. Dia pergi dengan taksi." jawab Selma.


Glan mencoba menghubungi ponsel Ishla, tapi ternyata ponselnya itu tertinggal di kamar. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?" Selma pergi untuk memeriksa kamar Ishla, dan tidak lama dia datang. "Ponselnya tertinggal di kamar, tuan." ucap Selma sebari memberikan ponsel itu pada Glan. Di dalam perjalanan, Glan menghubungi Myra untuk menanyakan keberadaan Ishla, tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya. Glan sangat merindukan Ishla, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengannya karena suatu pekerjaan. Setelah kembali dari rumah sakit, sekretaris menghampiri Amine saat di pintu masuk. Dia memberitahu Amine jika Glan datang dan menunggu di ruangannya. Tiba di ruangan, Glan langsung menanyakan keberadaan Ishla pada Amine.


"Apa kau tahu dimana Ishla berada, nyonya?" tanya Glan.


"Ishla? Bukankah dia ada di rumah?"


"Baru saja aku dari rumahmu, nyonya. Tapi bibi mengatakan jika Ishla sedang pergi ke luar. Aku pikir dia pergi untuk menemuimu," ucap Glan.


"Apa kau sudah menghubungi ponselnya?" tanya Amine.


"Ponselnya tertinggal di kamar," ucap Glan sambil memberikan ponsel milik Ishla pada Amine.


"Jika dia tidak ada dimana pun, lalu kemana Ishla pergi?" ucap Amine.

__ADS_1


Di satu sisi, Ishla telah selesai melakukan kemoterapi. Dia terlihat sangat lemas, dokter menyuruhnya untuk istirahat sejenak. Dokter meminta perawat untuk menyiapkan ruang khusus untuk Ishla istirahat tapi Ishla menolaknya. Dia ingin langsung pulang dan beristirahat di rumah. Sebelum pergi, dokter sempat memberitahu Ishla jika tadi Amine datang menemuinya. Dia bertanya tentang penyakitnya.


"Apa kau memberitahu ibu tentang penyakitku ini, dokter?" tanya Ishla.


"Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak memberitahu ibumu tentang ini," ucap dokter. Ishla merasa lega karena Amine tidak mengetahui penyakitnya itu.


"Kenapa kau merahasiakan semua ini dari ibumu?" tanya dokter.


"Aku tidak ingin jika ibu terus menerus khawatir dengan penyakitku ini, lebih baik dia tidak tahu sama sekali," ucap Ishla.


"Baiklah, kau akan melakukan kemoterapi dalam dua hari lagi," ucap dokter.


"Baik, dokter. Terimakasih."


Sesampainya di rumah, Ishla merasa sangat pusing dan mual. Dia mencari pegangan untuknya berjalan, dia terus berjalan menuju kamarnya, tapi tubuhnya itu benar-benar lemas karena sudah melakukan kemoterapi. Tidak lama Selma datang.


"Nona, kau kenapa?"


"Tolong bantu aku ke kamarku, bi." ucap Ishla.


"Baiklah, nona." Selma membantu Ishla untuk berdiri. Tiba di kamar, Ishla langsung pergi ke toilet. Dia memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Selma yang mendengar Ishla muntah-muntah merasa sangat khawatir, dia langsung menghubungi Amine untuk memberitahu tentang keadaannya. Siang itu, Amine sedang melakukan meeting penting. Ponselnya dia matikan agar tidak menganggu saat meeting. Sementara itu, Selma dikejutkan dengan suara yang berasal dari dalam kamar mandi. " Ya ampun, suara apa itu?" Selma mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Saat dibuka, dia sudah melihat Ishla yang terbaring dilantai. "Nona, bangunlah!" Mata Ishla terlihat sadar tidak sadar. Saat Selma akan menghubungi ambulan, Ishla langsung merebut teleponnya. "Jangan hubungi siapapun, bi! Aku baik-baik saja," ucap Ishla.


"Tapi, non... kau harus segera dibawa ke rumah sakit."


"Tidak, bi. Aku tidak ingin membuat semua orang cemas. Tolong bantu aku untuk berjalan ke tempat tidurku!" Selma dengan sekuat tenaga membantu Ishla berdiri dan membaringkannya di tempat tidur.


"Nona...


"Ada apa bi?"


"Hidungmu berdarah." Ishla meminta kain untuk mengelap darahnya itu. "Tolong ambilkan obatku di dekat meja kerjaku, bi!" Tidak lama Ishla meminum obat itu dan matanya mulai berat. Akhirnya dia tidur. Selma menatap Ishla lama, dia yakin jika ada yang disembunyikan olehnya, terutama tentang penyakitnya itu.


Sore itu, Amine melihat layar ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari Selma. "Ada apa Selma menghubungiku?" ucapnya. Amine menghubungi Selma kembali.


"Ada apa, bi? Kenapa kau menghubungiku? Apa terjadi sesuatu pada Ishla?" tanya Amine.


Selma sempat terdiam. Dia ingin sekali memberitahu Amine tentang kejadian tadi siang, tapi bagaimanapun dia sudah berjanji pada Ishla untuk tidak memberitahu siapapun.


"Tapi, bagaimanapun nyonya harus tahu semua ini," ucap Selma dalam hati.


"Ini tentang nona Ishla, nyonya...


"Tadi, dia...


Saat Selma akan memberitahu semuanya, Ishla menemuk pundak Selma dan membuatnya terkejut. Saat tahu Selma sedang berbicara dengan ibunya, Ishla memohon untuk tidak mengatakan apapun. Melihat Ishla memohon seperti itu, rasanya Selma tidak tega. Dia mencari alasan lain untuk meyakinkan Amine jika putrinya itu baik-baik saja.


"Tidak, nyonya. Aku hanya ingin memberitahumu jika nona Ishla sudah pulang. Kau tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja, nyonya."


Selma menutup teleponnya. Ishla sangat berterimakasih karena Selma mau merahasiakan kejadian siang tadi.


"Kau ingin makan apa, nona? Biar bibi yang siapkan!"


"Aku tidak tahu, bi."


"Kalau begitu, biarkan bibi membuat makanan kesukaan non," ucapnya.


"Baiklah, aku akan menunggunya disini," ucap Ishla.


"Itu tidak perlu, kau kembali saja ke kamarmu, nanti bibi yang akan mengantar makanannya kesana," ucap Selma.


"Aku bosan berada di dalam kamar terus, biarkan aku duduk disini dan melihatmu memasak," ucap Ishla.


"Jika itu mau nona, baiklah bibi tidak akan melarangnya."


Saat memasak, Selma sempat memberitahu Ishla jika tadi siang Glan datang untuk menemuinya. "Memangnya... tadi siang kau pergi kemana?" tanya Selma sambil mengiris bahan-bahan. Ishla sempat terdiam sejenak. "Aku pergi untuk membeli sesuatu, bi." Tiba-tiba saja, Selma memberikannya ponselnya.


"Untuk apa ponsel ini?" tanya Ishla sedikit bingung.


"Kau harus menelepon tuan muda, dia terlihat begitu mencemaskanmu. Beberapa hari ini tuan muda sangat sibuk. Jadi, dia tidak sempat menemuimu," ucap Selma.


Ishla hanya menatap ponselnya. "Apa kau tidak merindukan tuan muda, nona?" tanya Selma lagi. Ishla akhirnya menelepon Glan dengan ponsel Selma.


"Halo, bi! Ada apa?" ucap Glan.


"Halo, Glan!" suara lembut Ishla kembali Glan dengar ditelinganya. "Apa kabar?"

__ADS_1


"Aku baik, kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu," ucap Glan.


"Aku ada disini, memangnya aku akan pergi kemana?" tanya Ishla terlihat sedikit becanda.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Glan.


"Aku sangat merindukanmu lebih dari apapun, Glan." ucap Ishla dalam hati. Hanya saja, dia tidak bisa mengungkapkannya karena mengingat penyakit yang sedang dideritanya. Tanpa Ishla sadari, air matanya menetes membasahi pipinya.


"Kau kenapa menangis nona?" perkataan Selma sampai terdengar Glan.


"Apa kau menangis?" sambung Glan.


"Tidak! Apa kau sedang sibuk?" tanya Ishla.


"Aku baru saja pulang dari kantor, tapi katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu!"


"Bisakah kau datang ke rumah? Malam ini, aku sangat ingin menonton film. Ibu akan datang terlambat, apa kau mau menemaniku menonton film?" tanya Ishla.


"Tentu saja, aku akan segera datang menemuimu," ucap Glan.


Ishla mengembalikan ponselnya pada Selma. Dia meminta Selma untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Glan. "Bibi, jika Glan datang suruh saja dia ke ruang tengah. Aku akan pergi lebih dulu kesana untuk menyiapkan film yang akan kami tonton," ucap Ishla.


"Lalu, bagaimana dengan makan malamnya, nona?"


"Kau antar saja makanannya ke ruang tengah, aku dan Glan akan makan malam disana."


\*\*\*


Malam itu, Aiyla sangat sibuk mempersipakan pernikahannya yang akan diadakan satu hari lagi. Dia sibuk memilih baju yang akan digunakan nanti untuk foto prewedding. Begitupun Aiyaz, dia tidak banyak bicara hanya saja mengikuti arahan Aiyla. Adlar sangat senang melihat putrinya sangat bahagia karena hari yang dinanti-nantikan akhirnya akan tiba. Adlar menyiapkan tempat juga catering untuk acara pernikahan putrinya. Sementara itu, saat semua orang sibuk menyiapkan acara pernikahan, Azizah pergi untuk menemui Ethan. Dia sudah tidak sabar ingin segera meluncurkan rencana besarnya itu. Di satu sisi, Amine baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan klien. Malam itu, Amine meminta Will untuk mengantarnya menemui seorang pria tua yang pernah diceritakan Will sebagai nahkoda kapal. Tiba disana, Amine dan Will mendengar suara teriakan seseorang di dalam rumah.


"Dari mana asal suara teriakan itu, Will? tanya Amine.


"Suaranya berasal dari sana, nyonya!" jawab Will smabil menunjuk salah satu rumah. Will bergegas mencari asal suara itu. Saat dilihat, seorang pria tua yang mencoba bunuh diri dengan pistol yang ada ditangannya. Pistol itu siap ditembakkan ke kepalanya.


"Tuan Dave?" ucap Will. "Apa yang kau lakukan?" Will langsung merampas pistol itu dari tangan Dave.


"Biarkan aku mati, Will...


Isak tangis Dave terdengar Amine. Dia langsung masuk untuk menemuinya.


"Siapa perempuan ini?" tanya Dave bingung.


"Dia nyonya Amine Laraz, majikanku," jawab Will.


"Untuk apa dia disini?" tanya Dave kembali.


Will menceritakan semua maksud dan tujuan dia membawa Amine ke rumahnya.


\*\*\*


Malam itu, Glan sudah tiba di rumah Ishla. Selma menyuruh Glan untuk datang ke ruang tengah. Di sana sudah ada Ishla yang sedang menunggunya.


"Kau sudah datang?" tanya Ishla.


Glan langsung memeluk Ishla erat, dia benar-benar sangat merindukannya. Tidak lama Selma datang dengan membawa hidangan makan malam untuk Ishla dan Glan.


"Apa kau ingin menyuapiku?" pinta Ishla manja.


"Tentu saja, aku akan menyuapi tuan putri cantik ini," ucap Glan. Selesai makan malam, Ishla langsung menyetel filmnya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Glan. Saat film berlangsung, Ishla tidak menyadari jika air matanya menetes. Glan yang merasakan tetesan air mata itu langsung tersadar.


"Apa kau menangis?" tanya Glan.


"Tidak! Aku hanya terbawa suasana saja saat melihat film ini," ucap Ishla. "Bagaimana jika perempuan dalam film itu adalah aku, dan pria itu adalah kau?"


"Ya, bisa dibilang seperti itu tapi akhir dari cerita cinta kita tidak sama seperti mereka. Kita akan hidup bahagia selamanya," ucap Glan.


"Andai saja kau tahu Glan, jika apa yang aku alami sekarang ini sama persis dengan perempuan dalam film itu," ucap Ishla dalam hati.


"Bagaimana jika suatu hari nanti aku pergi, apa kau akan mencari perempuan lain dan menikah lagi?" tanya Ishla.


"Itu tidak mungkin! Sampai kapanpun kau tidak akan pernah terganti oleh siapapun," ucap Glan.


"Tapi kau tetap harus melanjutkan hidupmu! Kau butuh seorang perempuan untuk mendampingimu," ucap Ishla.


"Kenapa kau terus bicara seakan kau akan pergi saja?" ucap Glan.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


Kurang lebih satu jam filmnya berlangsung, Glan melihat Ishla tertidur dipangkuannya. Dia menggendong Ishla ke kamar, dan menyelimutinya. Selepas itu Glan pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.


__ADS_2