
Selesai makan siang, Aiyaz menanyakan kembali pada Ishy keberadaan Amine.
"Apa kau sudah mendapatkannya?"
"Sudah, Tuan Aiyaz. Ini alamat rumah yang kau minta. Dari informasi yang aku dapat, Nyonya Amine tinggal bersama putrinya." Aiyaz akan mendatangi rumah Amine hari ini juga, dia akan membantu Adlar mencaritahu siapa anak kandungnya.
Selesai kuliah, Ashika meminta Zafer untuk segera menjemputnya di kampus. Dia akan pergi menemui Ishla siang ini. Aghna terus memantau Ashika dari jauh, dia akan mengikuti Ashika dari belakang.
"Aku akan melihat, kemana dia akan pergi?" ucap Aghna.
Tidak lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan Ashika, dia masuk ke dalam mobil itu. Aghna berlari dan mengejar Ashika dengan menggunakan taksi.
"Tolong ikuti mobil itu, Pak!" pinta Aghna pada sopir taksi.
"Apa aku langsung mengantarmu ke rumah?" tanya Zafer.
"Tidak, Kakak. Aku ingin menemui Ishla dan mengobrol sebentar dengannya."
Tidak lama lagi, Ashika akan sampai di rumah Ishla. Aiyaz merasa curiga dengan taksi yang mengikutinya dari belakang.
"Ada apa, Kakak? Kenapa kau mengambil jalan yang salah? Seharusnya kau mengambil arah ke kiri, bukan ke kanan." ucap Ashika.
Zafer memberitahu jika mereka sedang diikuti. Ashika membalikkan badannya, dan melihat taksi di belakangnya.
"Apa kau yakin taksi itu mengikuti kita?" tanya Ashika.
"Kita lihat, nanti."
Zafer memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Dia mengajak Ashika untuk masuk.
"Ini rumah siapa, Kakak?"
"Sudahlah, kau ikuti saja aku!"
Zafer dan Ashika melangkahkan kakinya menuju rumah itu.
"Berhenti, Pak!" Aghna melihat mereka dari jauh. "Rumah siapa itu? Apa mungkin.... Itu rumah Ishla?"
"Kakak, bagaimana kita bisa masuk? Pemilik rumah ini saja kita tidak tahu, bagaimana jika pintunya dikunci?" Zafer melihat taksi itu berhenti. Dia mengajak Ashika untuk masuk lewat pintu belakang.
"Kemana mereka akan pergi?" Aghna keluar dari taksi dan memantaunya dari dekat.
"Tidak ada pintu belakang, Kakak. Bagaimana ini?" tanya Ashika.
Zafer dan Ashika bersembunyi, mereka akan melihat siapa orang yang sudah mengikutinya dari tadi. Aghna kehilangan jejak mereka. Dia melihat ke sekeliling rumah, tetapi tidak ada siapapun.
"Kemana mereka pergi?" Ashika terkejut saat tahu Aghna yang sudah mengikutinya. Dia langsung keluar dan menemuinya.
"Untuk apa kau mengikuti ku?"
Aghna terkejut dan langsung membalikkan badannya.
"Kau..." ucapnya.
"Apa yang kau ingin tahu dariku? Kenapa kau mengikuti ku sejak tadi?" tanya Ashika. "Kenapa diam saja? Cepat jawab pertanyaan ku itu! Apa jangan-jangan.... Kau mengikuti ku untuk mencaritahu keberadaan Ishla?"
"Kau benar, aku ingin tahu dimana Ishla tinggal. Sebelum kau, aku lebih dulu menjadi temannya. Jadi, aku berhak tahu dimana Ishla tinggal."
__ADS_1
"Coba saja kalau kau bisa." Ashika meminta Zafer untuk mengantarnya pulang. Hari ini, dia tidak akan menemui Ishla. Jika mau, dia akan berbicara padanya nanti di telepon.
"Sial! Kenapa aku harus ketahuan seperti ini?" Ini kali kedua Aghna gagal mencari informasi tentang Ishla.
Siang itu, Ishla sedang asyik membaca buku di kamarnya. Dia merasa sangat lapar, dan pergi ke luar untuk menemui Selma. Terdengar bel rumah berbunyi. Selma pergi untuk melihatnya. Saat di buka...
"Bibi, apa kau membuat makanan? Aku merasa lapar." ucap Ishla yang berada di belakang Selma.
Selma belum sempat membuka pintunya, dia meminta Ishla untuk menunggunya di kamar. Sebentar lagi, Selma akan membawa makanannya. Ishla mendorong kursi rodanya kembali ke kamar.
"Maaf, kau siapa?" tanya Selma.
"Aku rekan bisnis Nyonya Amine, apa dia ada di dalam?" tanya Aiyaz.
"Nyonya belum pulang, dia masih ada di kantornya." Aiyaz melihat keadaan rumah yang sepi. Tidak ada siapapun disana, kecuali Selma. Tetapi... Aiyaz sempat mendengar suara perempuan dari dalam rumah itu. Jika bukan Amine, apa jangan-jangan... Itu putrinya? Selma memerintahkan Aiyaz untuk masuk. Sangat disayangkan, Aiyaz harus kembali ke kantornya, mungkin lain waktu dia akan menikmati minuman buatan Selma.
Adlar menyuruh orang untuk mengawasi setiap pergerakan Amine.
Hari sudah sore, Amine mampir ke toko buku untuk membeli buku pesanan Ishla. Dia bertemu Mustafa disana.
"Semoga harimu mudah, Kakek."
"Terimakasih, Nak."
"Bagaimana? Apa sudah ada informasi siapa pelaku tabrak lari itu?" tanya Mustafa.
"Belum, tapi aku yakin cepat atau lambat, pelaku itu akan ditemukan."
Seseorang memantau Amine dari dalam mobilnya. Dia adalah orang suruhan Adlar. Tidak lama, Amine pergi dari toko buku itu. Orang itu terus mengikuti Amine dari belakang, dia mencoba menjaga jarak supaya Amine tidak curiga.
Tidak lama, akhirnya Amine sampai di depan rumah. Orang yang sedari tadi mengikutinya, langsung menghubungi Adlar.
"Aku sudah ada di depan rumahnya, Tuan."
"Kirimkan alamatnya padaku!"
Malam itu juga Adlar pergi untuk menemui Amine.
Amine menemui Ishla di kamarnya. Dia mendapati Ishla sedang berbincang bersama seseorang di telepon.
"Siapa itu?" tanya Amine.
"Ashika, dia bilang sangat merindukanku, Ibu." Ishla tersenyum.
"Benarkah?" Amine menyimpan buku yang Ishla minta di atas meja yang ada di kamarnya. Dia pergi untuk membersihkan dirinya. Sebelum itu, Amine pergi menemui Selma di dapur.
"Apa makan malamnya sudah siap?" tanya Amine.
"Sudah, Nyonya."
Selma memberitahu Amine jika siang tadi ada seseorang yang datang ke rumah dan menanyakannya.
"Seseorang datang mencariku? Siapa?" Amine berharap jika itu bukanlah Adlar.
"Aku lupa tidak menanyakan namanya, tapi... Dia bilang jika dia rekan bisnis mu." Amine memiliki rekan bisnis yang sangat banyak, tidak mungkin dia menanyakan satu persatu pada Selma.
"Dia tampan dan masih muda, Nyonya. Sepertinya pemuda itu seusia Ishla." Tidak ada lagi rekan kerja Amine yang masih muda, kecuali Aiyaz.
__ADS_1
"Untuk apa dia datang kemari?" tanya Amine dalam hatinya. "Apa dia bertemu Ishla?"
"Tidak, Nyonya. Kebetulan sejak tadi siang Ishla terus berada di kamarnya."
"Syukurlah...
Suara bel rumah berbunyi. Saat itu Selma sedang sibuk menyiapkan makan malam, jadi Amine yang pergi membukanya.
Setelah membukanya, Amine terkejut saat melihat Adlar yang datang dan berdiri di hadapannya. Amine mencoba menutup pintu itu kembali, tapi kaki Adlar menahannya.
"Kau tidak bisa mengusirku dari sini." Adlar memaksa masuk ke rumah Amine.
"Untuk apa kau datang? Apa kau belum puas menggangguku?" Amine terlihat sangat marah.
"Dimana putriku?" Adlar masuk begitu saja dan mencari keberadaan putrinya di setiap sudut rumah.
"Sudah cukup!" teriak Amine. "Cepat keluar dari rumahku ini!" Ishla menyudahi pembicaraannya dengan Ashika. Dia baru saja mendengar teriakan Amine.
"Apa yang terjadi pada Ibu? Kenapa dia berteriak seperti itu?"
"Selma!" teriak Amine.
"Iya, Nyonya."
"Tolong panggilkan keamanan, dan bawa pria ini keluar dari rumahku!"
"Baik, Nyonya."
Ishla pergi untuk melihatnya.
"Ibu.... panggil Ishla. Hati Amine rasanya akan copot, dia mendengar Ishla memanggilnya dan sedang berjalan ke arahnya.
"Suara siapa itu?" Adlar langsung pergi mencarinya, tapi Amine tidak membiarkan itu. Dia menahan Adlar untuk pergi. Tidak lama, beberapa keamanan datang dan membawa Adlar pergi dari sana.
"Lepaskan aku! Aku bisa pergi sendiri." Adlar masih penasaran dengan suara tadi, apakah itu putrinya?
Setelah Adlar pergi, Ishla datang menghampiri Amine.
"Ibu, kau kenapa? Tadi aku mendengar teriakan mu." Ishla melihat ke arah pintu. "Apa ada yang datang menemuimu?"
"Tidak sayang, maafkan Ibu membuatmu terkejut seperti ini." Amine akhirnya bernapas lega, dia tidak bisa membayangkan hampir saja Adlar melihat Ishla. Amine membawa Ishla untuk makan malam.
Sesampainya di rumah, Adlar langsung menyenderkan tubuhnya di sofa. Suara itu... Apa mungkin itu suara putrinya?
"Kau kemana saja seharian ini? Aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu mati." ucap Nilam yang baru saja datang.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin diganggu. Tinggalkan aku sendiri!" Adlar pergi ke kamarnya.
"Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya aneh seperti itu?"
Malam itu, Aiyaz sedang bekerja di ruangannya. Aghna datang untuk memberitahu jika dia gagal lagi untuk mendapatkan informasi tentang Ishla.
"Apa kau marah, Kakak?" tanya Aghna.
"Untuk apa aku marah? Kau fokus saja pada kuliahmu, biar nanti aku sendiri yang akan mencari tahu tentang Ishla."
__ADS_1
Selesai makan malam, Amine menghubungi Aiyaz. Dia memintanya untuk tidak lagi datang ke rumahnya. Amine dan Aiyaz hanya sebatas rekan kerja, jika ada keperluan apapun, dia bisa langsung menghubungi Amine dan menemuinya di kantor. Amine sangat tidak suka jika ada orang yang berusaha mencari tahu tentang kehidupannya.
Aiyaz merasa sangat aneh, kenapa Amine tidak ingin ada orang yang datang ke rumahnya? Ishy bilang... Amine tinggal bersama putrinya. Itu berarti... Amine tidak ingin ada orang yang tahu siapa putrinya. Sebab itu, dia menyembunyikannya dari semua orang.