CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Ashika meminta Zafer untuk pergi ke rumah ibunya. Dia ingin memberitahu semua kabar baik ini, dia juga akan meminta izin untuk tinggal di rumah Amine.


Saat itu, Bahar sedang menjemur baju di halamannya, dia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


"Ibu... Ashika langsung menghampiri Bahar dan memeluknya.


"Apa yang membuatmu sangat bahagia seperti ini?"


"Aku akan menceritakannya di dalam, Ibu."


Ashika memberitahu ibunya jika Amine sudah menanggung semua biaya kuliahnya sampai selesai. Dia juga memberikan tempat tinggal untuknya dan juga Zafer. Bahar ikut senang mendengarnya.


"Ibu, apa boleh aku tinggal di rumah nyonya Amine?" Bahar terdiam, dia tidak bisa jika harus jauh dari putrinya. Amine sudah memperlakukan Ashika dengan sangat baik, dia juga memiliki seorang putri, namanya Ishla. Dia sangat cantik, tetapi dia lumpuh karena sebuah kecelakaan. Ashika ingin membalas kebaikan Amine dengan tinggal disana, menjadi teman baru Ishla.


Selama ini, Ashika terus saja berdiam diri di rumah, dia tidak mudah dekat dengan siapapun. Jikapun ada teman Ashika dia hanya bisa bertemu saat di kampus saja.


"Ibu, apa kau mengizinkannya?" tanya Ashika penuh harap.


"Pergilah! Ibu memberimu izin, tapi ingat! Jangan lupakan ibu dan ayahmu disini!" Bahar menahan air matanya, dia akan memberikan apapun untuk membuat putrinya itu bahagia.



Sore itu selesai terapi, Ishla mengajak Arash untuk menikmati secangkir teh di dekat selat. Disana terlihat sebuah mobil box yang menjual teh juga kebab. Arash memesan dua cangkir teh. Mereka sangat menikmati sore itu, ditambah lagi cahaya senja yang terukir indah di perairan selat Bosphorus.



Amine tiba di rumah lebih awal. Keadaan rumah terlihat sangat sepi.


"Selma, dimana semua orang?" tanya Amine.


"Mereka belum kembali, nyonya."


"Nyonya Amine...


Amine melihat Ashika dan Zafer yang baru saja tiba. Dia melihat Ashika membawa sebuah koper berukuran sedang.


"Apa ibumu mengizinkanmu untuk tinggal disini?" tanya Amine.


"Iya, Nyonya." Amine sangat senang mendengarnya. Dia meminta Selma untuk menunjukkan kamar Ashika. Zafer terlihat masih berdiri, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Ada apa?" tanya Amine."Katakan saja! Jangan sungkan."


Zafer meminta izin untuk pulang lebih awal. Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Dia ingin membuat sebuah pesta kecil untuknya.


"Kau harus profesional dengan pekerjaanmu itu, kau baru satu hari bekerja, dan ingin meminta izin, begitu? Aku tidak akan mengizinkanmu pulang," ucap Amine tegas. Zafer melangkah pergi dengan wajah yang terlihat sedih.


"Tunggu! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara."


"Maaf, nyonya."


"Kau tidak akan pulang, tapi orangtuamu yang akan datang kemari." Wajah Zafer berubah seketika. Amine menyuruh Zafer untuk membawa orangtuanya ke rumah ini. Amine akan membuat pesta untuknya seperti yang diinginkan Zafer. Amine memberikan sebuah alamat kepada Zafer,


"Ini apa Nyonya?


"Pergilah ke sana, aku sudah memesan barang, dan kau harus membawanya nanti malam."


Hari sudah mulai gelap. Adlar kembali lebih cepat karena harus menghadiri undangan perusahan. Adlar adalah tamu spesial dalam undangan ini, dia meminta seluruh keluarganya untuk ikut hadir ke acara itu.



Aiyla baru saja selesai pemotretan, dia menjadi model terlaris tahun ini. Dia baru saja mengiklankan sebuah produk kecantikan. Sudah seharian ini dia sibuk bekerja sampai tidak sempat untuk menanyakan kabar Aiyaz. Aiyla mencoba menghubungi Aiyaz, tapi seperti biasa dia tidak menjawabnya. Aiyla sangat marah karena Aiyaz terus mengabaikannya. Dia tidak akan tinggal diam, bagaimanapun caranya Aiyaz harus meminta maaf padanya.



Sesampainya di rumah, Aiyla melihat semua orang telah bersiap untuk pergi.


"Ada apa ini?" tanya Aiyla.


Nilam menghampiri Aiyla dan membelainya lembut, "Ayahmu meminta kami untuk menghadiri undangan perusahaan teman kerjanya, untuk itu kau juga harus ikut."

__ADS_1


"Untuk apa aku ikut?" Nilam memberitahu Aiyla bahwa Aiyaz akan hadir disana, dia ingin Aiyla menggunakan kesempatan itu untuk mengumumkan dihadapan semua orang bahwa dia dan Aiyaz akan segera bertunangan. Nilam sedang meluncurkan pikiran liciknya, dan Aiyla menyambutnya dengan tangan terbuka. Dia akan melakukan semua yang disarankan ibunya. Dia segera bersiap, dia harus menjadi gadis tercantik dalam acara itu.


Arash dan Ishla baru saja tiba di rumah. Saat masuk terlihat semua sudut ruangan di dekor dengan sangat indah.


"Selamat datang, sayang."


"Terimakasih, Ibu."


"Kenapa dengan rumah ini?" tanya Ishla.


Amine memberitahu Ishla bahwa hari ini adalah hari ulang tahun ibu Zafer, dia melakukan semua ini untuk merayakannya. Zafer akan membawa orangtuanya ke rumah ini, sebentar lagi mereka akan datang. Amine menyuruh Ishla untuk segera bersiap. Saat mereka datang nanti, Amine ingin Ishla juga ikut menyambutnya. Tidak lupa, Amine mengajak Arash dalam perayaan ini. Tapi dengan sangat berat Arash harus menolaknya. Malam ini dia memiliki jadwal untuk melakukan operasi. Amine sangat memahaminya, peran Arash di rumah sakit sangat penting.



Aiyaz mengajak Aghna untuk menemaninya ke acara perusahaan. Dari pada Aghna terus berdiam diri di rumah, rasanya juga sangat membosankan, lebih baik dia ikut Aiyaz. Mereka segera bersiap dan pergi dengan diantar sopir.



Zafer tiba di alamat yang diberikan Amine padanya. Sebuah toko berlian yang sangat terkenal. Zafer masuk untuk membawa pesanan Amine.


"Selamat datang, Tuan." ucap pelayan toko itu. "Kau ingin mencari berlian seperti apa?" Zafer memberitahu pelayan itu jika dia datang hanya untuk mengambil pesanan Amine.


"Apa yang kau maksud adalah nyonya Laraz?"


"Iya, aku ingin mengambil pesanan atas nama nyonya Amine Laraz."


Pelayan itu membawa Zafer untuk melihat-lihat berlian yang ada disana.


"Jangan membuang waktuku, kau berikan saja pesanan nyonya Amine padaku, karena aku harus segera pergi."


"Apa yang harus aku siapkan? Kau sendiri saja belum memilih berlian mana yang kau inginkan," Zafer semakin tidak mengerti ucapan pelayan itu.


"Apa maksudmu?" tanya Zafer.


"Nyonya Amine memesan berlian ini untukmu, kau bisa memilih berlian manapun yang kau suka, jangan pikirkan harganya, karena nyonya Amine sudah membayarnya." Zafer sangat terkejut mendengarnya, dia menghubungi Amine untuk memastikannya.


"Apa kau sudah memilih berlian yang cocok untuk ibumu?"


"Apa kau..


"Sudahlah, jangan membuang waktu lagi. Pilih berlian yang kau suka, dan ajak orangtuamu kesini."


"Baiklah, Nyonya."


Semua orang sudah bersiap. Azizah satu mobil dengan Adlar, sedangkan Ethan dan Aiyaz satu mobil dengan ibunya.



Selepas dari toko, Zafer menjemput orangtuanya. Sesampainya disana, ternyata mereka sudah menunggunya sejak tadi.


"Maafkan aku, ayah, ibu. Aku terlambat menjemput kalian."


"Memangnya kau akan mengajak kami kemana, Nak?" tanya Kemal.


"Sudahlah ayah, kau ikut saja!"



Sudah saatnya Amine pergi. Dia tidak bisa lagi menunggu kedatangan orang tua Zafer.


Sebelum pergi, Amine menghampiri Ishla di kamarnya. Ishla saat itu sedang bersiap,


"Kau terlihat sangat cantik," Amine memuji kecantikan putrinya itu.


"Apa ibu akan pergi?" tanya Ishla.


"Ibu akan menghadiri undangan perusahan, jaga dirimu dengan baik!" Amine mencium kening Ishla. Tidak lama, Ashika datang ke kamar Ishla.


"Aku akan pergi ke luar, jika Ishla membutuhkan apapun, tolong bantu dia!" ucap Amine pada Ashika.

__ADS_1


"Tentu saja, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga dia untukmu."



Malam itu terlihat banyak mobil mewah datang silih berganti. Orang yang turun dari mobil itu tidak lain adalah para pengusaha besar. Mereka datang bersama orang terkasihnya. Di situ juga banyak sekali wartawan yang sedang melakukan tugasnya. Mereka memotret dan menggambil gambar untuk menayangkannya dalam koran maupun internet pagi nanti. Pertemuan mereka akan menjadi perbincangan hangat warga kota.


Saat keluarga Diaz tiba, semua kamera tertuju pada mereka. Bukan hanya dipandang sebagai orang kaya nomor tiga dunia, mereka juga keluarga yang sangat harmonis. Cucu kelurga Diaz tidak lain adalah seorang model dan seorang pengusaha terkenal di Amerika. Keluarga Diaz sepeti sebuah keluarga sempurna, yang dimimpikan banyak orang.


Mereka masuk dan menempati tempat duduk yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. Kedatangan mereka disusul dengan kedatangan Amine. Saat turun dari mobil semua terpesona melihat kecantikan Amine. Dia terlihat sangat cantik juga elegan. Amine berjalan masuk, dan duduk bersebelahan dengan keluarga Diaz.



Mobil yang dikendarai Zafer akhirnya sampai juga. Saat turun dari mobil Kemal dan Bahar takjub melihat rumah dihadapan mereka yang begitu besar seperti sebuah istana.


"Apa kau bekerja di rumah sebesar ini?" tanya Bahar tidak berhenti melihat sekeliling rumah itu. Zafer memberitahu jika itu adalah rumah Amine. Bahar baru tahu jika Amine seorang perempuan yang kaya raya. Itu sebabnya dia rela menanggung semua biaya kuliah Ashika sampai selesai.


Zafer membawa orangtuanya masuk ke dalam. Disana sudah ada kejutan menanti mereka. Sudah tiba saatnya...


"Selamat ulang tahun!" Bahar terkejut dibuatnya. Ashika dan Zafer memeluk ibunya, "Selamat ulang tahun, Ibu!" Bahar tidak bisa lagi menahan air mata kebahagiaan.


"Terimakasih banyak, Nak."


"Selamat ulang tahun, Bibi." ucap Ishla.


"Terimakasih, Nak. Apa kau putri Amine?" tanya Bahar.


"Iya, aku putrinya. Namaku Ishla."


Bahar melihat Ishla sangat cantik seperti Amine.


"Permisi! Semua makanannya sudah siap," Ishla mengajak semua orang ke meja makan. Sudah banyak sekali makanan yang tersaji di meja makan, tugas mereka adalah menghabiskan semua makan itu. Ishla juga mengajak bibi Selma untuk ikut makan bersamanya. Ini adalah hari yang sangat spesial jangan sampai melewatkannya.


Setelah banyak sekali pesan yang disampaikan, akhirnya perusahan baru resmi dibuka, sudah ada kurang lebih lima ratus orang yang sudah mendaftar menjadi pegawai perusahan itu. Semua berdiri sambil memberikan tepuk tangan yang sangat meriah atas pencapaian yang sudah diraih. Pembawa acara meminta semua tamu undangan untuk tidak pergi dari tempat duduknya, ada hal penting yang ingin disampaikan. Terlihat Aiyla maju ke depan.


"Selamat malam, semua. Maaf jika aku membuat kalian sedikit menuggu. Aku, Aiyla Shahinaz Diaz, ingin memberitahukan pada kalian semua jika aku, dan kekasihku yang bernama Aiyaz Aksel Diaz akan segera bertunangan." Aiyaz sangat terkejut mendengar pernyataan Aiyla. Dia seperti terkena sengatan listrik yang bertegangan tinggi. Semua memberi tepukan yang sangat bergemuruh. Aiyla berjalan ke arah Aiyaz dan membawanya untuk maju ke depan. Saat itu Amine bangun dari tempat duduknya, dia melihat Aiyaz dengan sangat jelas.


"Ternyata, dia sudah kembali dari Kanada." ucap Amine dalam hatinya.


Aiyaz diam saja seperti dia menerima pertunangan itu.


"Ayo tolak pertunangan itu! ucap Amine pelan. "Jika kau masih mencintai putriku, kau pasti akan menolaknya."


Aiyla memutar sebuah film pendek tentang kebersamaan mereka berdua, dimana sejak kecelakaan yang menimpa Aiyaz tiga tahun yang lalu, Aiyla lah yang terus ada disampingnya. Dalam film itu memeperlihatkan kebersamaan mereka saat di kampus. Film itu selesai, Aiyla tinggal menunggu jawaban dari Aiyaz.


"Terimakasih sudah selalu ada untukku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai seorang gadis yang bernama Ishla Diannova Laraz." Pernyataan Aiyaz membuat semua orang tercengang, terutama keluarga Diaz. Mereka sudah dibuat malu dengan pernyataan bodoh Aiyaz itu. Bagaimana tidak, semua wartawan ada disana, tidak akan lama lagi kabar itu akan tersebar cepat besok pagi. Aiyla tidak bisa lagi menahan rasa malunya, dia pergi meninggalkan tempat itu. Nilam menyuruh Ethan untuk mengejarnya. Seluruh keluarga Diaz sangat kecewa pada Aiyaz, mereka tidak akan melupakan kejadian malam ini. Saat menuju parkiran mobil, Amine berpapasan dengan Azizah dan Nilam.


"Dia? Bukankah dia mantan istri Adlar?" tanya Nilam. Mereka sama terkejutnya ketika melihat Amine ada di depannya.


"Apa kabar Nyonya?" sapa Amine.


Nilam melihat penampilan Amine yang berubah drastis. Dia bukan lagi seperti wanita malam yang pernah Azizah ceritakan padanya.


"Pria mana yang kau tiduri sampai-sampai penampilanmu berubah seperti ini?" Amine sangat marah mendengar Nilam merendahkannya. Tapi Amine tetap sabar, dia tidak ingin sampai terpancing emosi.


"Bukankah kau sendiri tahu siapa pria itu?" Perkataan Amine membuat Nilam bingung.


"Adlar." bisik Amine pelan.


"Beraninya kau...


Amine tersenyum senang karena membuat Nillam sangat marah.


"Sudahlah, ayo kita pergi!


"Kenapa kau diam saja nyonya? Apa harga dirimu itu sudah hilang?"


"Jaga bicaramu itu!"


"Ingat ini nyonya! Kau bisa melakukan apapun untuk membuat Adlar menikah dengan perempuan lain, dan menceraikan ku. Tapi kau tidak akan bisa memaksa orang lain untuk menerima cucumu itu." Azizah sudah tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya ingin segera sampai di rumah. Belum lagi dia harus memikirkan berita besok pagi yang akan membuat nama keluarga yang selama ini dia jaga dengan baik akan rusak.

__ADS_1


__ADS_2