CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PENYELAMATAN ISHLA


__ADS_3

Selesai bekerja, Ishla bersiap untuk menemui Aiyaz sore ini. Saat dalam perjalanan Ishla mendapat sebuah pesan yang isinya, '*Temui aku sore ini di dermaga*!


"Kenapa Aiyaz merubah rencananya? Bukankah kita akan bertemu di tempat biasa?" Ishla mencoba menghubungi Aiyaz tapi ponselnya tidak aktif. Tanpa berfikir lagi sore itu Ishla pergi ke dermaga.



Saat akan pergi, Aiyaz baru menyadari jika ponselnya tidak ada. Dia mencoba untuk menghubungi sekretaris di kantornya dan meminta dia untuk mencarikan ponselnya. Aiyaz sudah mencari ponselnya di kamar, tapi tidak menemukannya.


"Dimana ponselku?" ucapnya. Aiyaz sangat yakin jika ponselnya tertinggal di kantor saat dia pergi untuk menyiapkan semuanya. Sesampainya di dermaga, Ishla tidak melihat siapapun. Dia terus melihat jam di tangannya, hari sudah mulai gelap cahaya senja tidak akan lama lagi tenggelam, tetapi Aiyaz belum juga datang. Sedari tadi Aiyla memantau Ishla dari dalam mobil.


"Sampai kapanpun, Aiyaz tidak akan datang menemuimu." ucap Ishla tersenyum picik. Hari sudah semakin gelap, Aiyaz sudah tiba di tempat itu. Seorang pelayan datang dan menyuguhkan beberapa menu makanan.


"Aku akan pesan nanti." ucap Aiyaz.


"Baiklah, Tuan." Sudah tiga puluh menit Aiyaz menunggu, tapi Ishla belum juga datang. Aiyaz akan terus menunggu Ishla, dia yakin jika Ishla akan datang, dia tidak pernah mengingkari janjinya.


Ishla melihat di sekitar dermaga yang sangat sepi. Angin berhembus dengan kencang, Ishla sudah merasa kedinginan. Tidak lama dua orang datang menghampiri Ishla.


"Siapa kalian?" tanya Ishla.


"Kami disuruh Tuan Aiyaz untuk membawamu pergi dari sini." Ishla tidak percaya begitu saja. Mereka terlihat sangat mencurigakan. Tidak lama salah satu dari mereka pergi untuk menerima telepon. Setelah selesai, orang itu seperti membisikkan sesuatu pada temannya. Tidak lama lagi mereka langsung membawa paksa Ishla naik ke atas kapal.


"Apa yang akan kalian lakukan padaku?" Ishla mencoba untuk memberontak.


"Tolong... Tolong aku... Penjahat itu membungkam mulut Ishla dengan sebuah kain. Mereka juga mengikat tangan dan kaki Ishla. Di dalam mobil, Aiyla terlihat sangat senang. Dua orang yang membawa Ishla tidak lain adalah anak buahnya. Dia menyuruh mereka untuk melenyapkan Ishla dengan membuangnya ke laut.



Malam itu, Glan sedang menikmati makan malam di atas kapal miliknya. Dari jauh Ishla melihat ada seseorang di atas kapal. Dia mencari cara untuk memancing perhatian orang itu. Ishla mendapati sebuah benda yang ada di atas kapal lalu menjatuhkannya. Sepertinya Glan belum menyadarinya. Ishla mencari cara lain, dia membawa sebuah benda dan memukulkannya ke samping kapal sampai mengeluarkan suara.


"Suara apa itu?" Saat Glan sedang mencari asal suara itu, Ishla melambaikan tangannya. Tidak lama penjahat itu datang dan merebut benda yang ada di tangan Ishla sampai mengenai wajah Ishla dan meninggalkan luka. Mereka membawa Ishla masuk ke dalam kapal. Walau dari kejauhan, Glan seperti mengenal gadis itu.


"Ishla?" Glan teringat dengan pakaian yang Ishla kenakan siang tadi ternyata sama persis dengan pakaian gadis yang baru saja melambaikan tangan padanya. Glan langsung menyusul kapal itu. Di dalam kapal, ponsel milik penjahat itu berdering dan dia mengangkatnya di depan Ishla.


"Halo, Nona!"


"Lakukan pekerjaan kalian sekarang juga! Jangan ada orang yang tahu tentang ini! Oh, Iya... Pastikan jika gadis itu benar-benar lenyap!"


"Baiklah, kami akan melakukan seperti apa yang kau perintahkan." Penjahat itu membawa Ishla dan melemparnya ke laut. Glan melihat sesuatu yang baru saja di lemparkan ke laut.

__ADS_1


"Apa itu?" ucapnya. Apa jangan-jangan... Glan langsung menceburkan dirinya ke laut dan mencari Ishla. Di dalam laut, Ishla tidak bisa apa-apa, dia mencoba untuk melepas ikatan yang ada di tangan dan kakinya.



Sudah dua jam menunggu, akhirnya Aiyaz memutuskan untuk pergi ke rumah Amine. Malam itu, Amine sedang mengerjakan tugas kantor di ruangannya. Tidak lama Selma datang dan memberitahunya jika Aiyaz ingin menemuinya. Amine langsung menutup laptopnya, dan pergi menemui Aiyaz.


"Selamat malam, Nyonya."


"Selamat malam." Amine mencari-cari keberadaan putrinya. "Dimana Ishla? Kenapa kau hanya datang sendiri?" Aiyaz merasa sangat bingung.


"Apa yang kau katakan, Nyonya? Aku datang kesini justru ingin menanyakan Ishla padamu."


"Jika Ishla tidak bersamamu, lalu dimana dia?" Amine memberitahu Aiyaz jika sejak sore tadi Ishla sudah pergi untuk menemuinya. Amine mencoba untuk menghubungi ponsel Ishla tapi tidak dijawab.


"Ayo angkatlah teleponnya, sayang!" Amine merasa sangat cemas. Dia takut jika hal buruk kembali terjadi pada putrinya. Dia langsung pergi untuk mencarinya.



Saat Ishla akan tenggelam karena kehabisan napas, disitulah Glan datang dan langsung membawa Ishla berenang ke dekat kapal. Glan memanggil orang-orangnya dan meminta bantuan mereka untuk menaikkan Ishla ke atas kapal.


"Ishla, bangunlah!" Glan melepas tali yang ada di tangan dan kaki Ishla. Dia mencoba menekan dada Ishla agar airnya keluar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Glan. Ishla hanya diam, tubuhnya sudah mulai gemetar karena kedinginan. Glan melepas jas bajunya dan memakaikannya pada Ishla.


"Terimakasih." ucap Ishla.


Tidak lama kapal Glan mendarat. Dia langsung membawa Ishla masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang. Aiyaz sangat bingung kemana Ishla pergi. Dia melihat Amine yang baru kembali dari luar.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan Ishla?"


"Kenapa kau masih disini?" Amine terlihat sangat marah. "Pergi dan cari Ishla! Dia menghilang karena mu." Amine sangat bingung setiap kali Ishla akan bertemu dengan Aiyaz ada saja hal buruk yang terjadi padanya. Saat mereka sedang bingung, terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah Amine. Dia sangat terkejut melihat Ishla yang basah kuyup.


"Ishla? Kau kenapa sayang?" Amine langsung membawa Ishla masuk ke dalam. Ishla hanya melirik Aiyaz dan tidak mengatakan apapun. Dia langsung pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Amine pergi ke dapur untuk membuat teh panas untuk Ishla. Dia juga meminta Selma membuatkan teh untuk Glan. Ishla baru saja selesai mengganti pakaiannya, dia langsung meminum teh untuk menghangatkan tubuhnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Amine.


"Aku akan menceritakannya nanti, untuk saat ini Ibu temui saja Glan! Jangan membuatnya menunggu lama!" Di ruang tengah, Glan memberitahu Amine jika seseorang telah melempar Ishla ke laut dengan tangan dan kaki yang terikat. Amine menutup mulutnya tidak percaya, begitupun dengan Aiyaz, dia sangat terkejut mendengarnya.


"Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Amine.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya melihat dua orang laki-laki. Ya... Mereka seperti seorang preman atau bisa jadi orang bayaran? Aku tidak tahu." Amine langsung menebak jika dua orang itu suruhan Nilam. Dia ingin kembali melenyapkan Ishla karena dulu dia sudah gagal untuk melenyapkannya. Amine sangat berterimakasih pada Glan karena sudah menyelamatkan Ishla. Tidak lama Glan berpamitan pulang, tetapi Aiyaz dia meminta pada Amine untuk bertemu dengan Ishla. Dengan keras Amine melarang Aiyaz untuk berhubungan lagi dengan Ishla. Setiap kali Ishla ada bersamanya, dia selalu saja dalam bahaya.


"Cepat pergi darisini!" Setelah Aiyaz pergi, Amine kembali menemui Ishla di kamarnya. Ishla masih memikirkan siapa orang yang berusaha untuk melenyapkannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Amine duduk di sebelah Ishla. Dia menunjukkan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Ishla merasa curiga jika seseorang mengirim pesan ini menggunakan ponsel milik Aiyaz.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"


"Semenjak pesan ini masuk, aku sudah merasa curiga kenapa Aiyaz tiba-tiba saja mengubah rencananya. Setiap aku akan menghubunginya, ponselnya selalu mati. Jika memang ponsel itu ada pada Aiyaz, dia akan langsung menjawabnya. Sepertinya seseorang telah mengambil ponsel milik Aiyaz dan berusaha untuk melenyapkan ku." Siapapun orang itu, Amine tidak akan tinggal diam. Jika sampai Nilam dalang dibalik semua ini, Amine tidak akan membuatnya tenang, setiap menit dalam hidupnya akan Amine buat seperti di neraka.



Aiyla baru saja tiba di rumah. Saat akan pergi ke kamarnya, Azizah menyuruhnya untuk duduk berbincang bersamanya.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini di kantor?"


"Cukup baik, Nenek." Azizah memberitahu Aiyla jika tadi dia sempat melihat tayangan Aiyla di media sosial. Dia sangat bangga pada cucunya itu. Azizah akan terus mendukung Aiyla dalam hal apapun.


"Halo Nenek!" Ethan baru saja kembali dari luar. Dia melihat wajah Aiyla yang biasa-biasa saja. "Apa kau sudah melihat film terbaru hari ini?"


"Film apa?"


"Jadi kau belum melihatnya?"


"Ada apa ini?" tanya Nilam yang tiba-tiba muncul dari belakang. Saat Aiyla membuka ponselnya, dia melihat video yang baru saja rilis. Video itu berkenan dengan perusahaan Glan yang bekerja sama dengan perusahaan AL Group. Di sana juga Aiyla melihat ada Ishla yang sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan. Di akhir video itu tertulis jika Ishla Diannova Laraz seorang perempuan muda berbakat yang berhasil menjadi partner kerja Glan Devano Arktik. Wajah Aiyla berubah sedih bercampur kesal, dia langsung pergi ke kamarnya. Ethan hanya tertawa melihat sikap adiknya itu.


"Film apa yang kau katakan tadi, Ethan?" tanya Azizah.


"Itu hanya sebuah video, Nenek. Disana tertulis jika Ishla Diannova Laraz berhasil menjadi partner kerja Glan Devano Arktik. Dia perempuan muda yang sangat berbakat."


"Sudah cukup! Lelucon apa yang sedang kau mainkan ini, Hah?" ucap Nilam.


"Jika Ibu tidak percaya, lihat saja sendiri! Berita ini sudah tersebar, siapapun bisa melihatnya." Ethan pergi begitu saja. Nilam sangat penasaran apa yang dikatakan Ethan. Dia menonton video itu bersama Azizah.


"Ternyata benar apa yang dikatakan Ethan." Nilam sangat tahu jika putrinya itu merasa sangat terpukul dan sedih karena harus kalah dalam kontrak kerja sama itu.


"Gadis itu selalu ada satu langkah di depan Aiyla. Dia selalu menjadi penghalang untuk apa yang ingin Aiyla dapatkan dalam hidupnya." ucap Nilam dalam hati.


Azizah pergi menemui Adlar di kamarnya. Dia memintanya untuk pergi menghibur Aiyla. Dia merasa sangat sedih karena kalah dalam presentasinya hari ini. Azizah tidak ingin jika Aiyla menjadi gadis yang mudah bersedih dan putus asa. Dia perempuan yang masih muda, masih banyak perjalanan panjang yang akan dia lewati ke depannya dan itu semua tidak akan berjalan mulus, selalu ada duri kecil di setiap langkahnya, dia harus pandai untuk bisa melewatinya.

__ADS_1


__ADS_2