CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MENONTON FILM


__ADS_3

Pagi ini, Ethan pergi mengunjungi ibunya di Rumah sakit Jiwa. Dia pergi dengan melakukan penyamaran. Sampai disana, dia melihat ibunya yang sedang duduk di taman. Ethan pergi untuk menghampirinya.


"Ibu?" ucap Ethan sambil memeluknya.


Nilam langsung melepas pelukan Ethan. "Siapa kau?" tanya Nilam heran. Ethan langsung membuka penutup wajahnya. Nilam memperhatikan penampilan Ethan dari atas sampai bawah. "Ethan, putraku?" ucap Nilam tersenyum kecil. Dia langsung memeluk putranya itu. "Kau dari mana saja? Ibu sangat merindukanmu," Tidak lama perawat datang dengan membawa makanan untuk Nilam.


"Aku tidak mau makan! Aku hanya ingin pulang," ucapnya. Suster memberi tahu Ethan jika sudah beberapa hari ini ibunya tidak mau makan. Dia terus saja meminta pulang.


"Berikan padaku, suster! Biar aku yang akan menyuapinya. Kau bisa pergi!" Suster pergi meninggalkan Ethan dengan ibunya.


"Ibu, kau harus makan. Jika tidak, nanti kau bisa sakit." bujuk Ethan.


Ethan merasa sangat sedih melihat kondisi ibunya. "Mereka semua jahat padaku! Mereka membawaku ke tempat ini. Aku kesepian disini," ucap Nilam sambil menangis. "Jangan menangis ibu! Aku berjanji padamu akan secepatnya membawamu pergi dari sini." ucap Ethan sambil menyuapi ibunya.


"Apa kau juga mengira aku ini gila?"


"Tidak ibu, tapi kau harus tetap disini. Kau harus sembuh," ucap Ethan.


"Aku ini tidak gila!" teriak Nilam sambil melempar piring makanannya. "Aku ini tidak gila!" Nilam pergi entah kemana.


"Ibu... Kau akan pergi kemana?" Ethan langsung mengejar ibunya. Suster yang melihat Ethan kebingungan, datang menghampiri.


"Kau sedang apa, tuan?"


"Ibuku pergi entah kemana." Suster itu memberitahu Ethan jika ibunya itu pergi ke ruang atas. Dia berkumpul dengan teman-temannya disana.


"Teman?"


"Kau bisa melihatnya sendiri di atas." Tiba di atas, Ethan melihat ibunya sedang bermain dengan orang yang sama sepertinya. Dia melihat ibunya berbincang sendiri dengan sebuah boneka. Saat melihat Ethan, Nilam langsung ketakutan. Dia bersembunyi di belakang temannya.


"Maaf, tuan. Waktumu untuk berkunjung telah habis. Kau bisa kembali dalam satu minggu lagi." Ethan tidak tega jika harus meninggalkan ibunya disana. Tapi bagaimanapun, itu semua demi kebaikannya. Saat Ethan keluar, Will mengikutinya diam-diam.


\*\*\*


Pagi itu, Amine sedang sarapan bersama Keenan juga putrinya. Saat makan, Keenan memberikan satu tiket pada Ishla. "Ini tiketmu untuk menonton, " ucapnya. Ishla terlihat sangat senang. Selesai sarapan, Ishla menghubungi Myra.


"Halo, Myra. Bagaimana? Apa kau sudah memesan tiketnya?" tanya Ishla.


"Kau tenang saja, semuanya sudah siap."


"Jam berapa filmnya dimulai?"


"Jam satu siang,"


"Baiklah, kita akan bertemu pukul 12.00 siang nanti." Tidak lama Ishla menutup teleponnya. Dia melihat tiket miliknya. Film yang akan dia tonton dengan Keenan akan dimulai pukul 11.00 siang nanti. "Bagaimana ini?" gumamnya. Ishla kembali turun untuk menemui ibunya juga Keenan. Mereka sedang berbincang di ruang tengah. Ishla datang dan duduk bersama mereka.


"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Amine.


"Sepertinya aku tidak jadi menonton, ibu."


"Kenapa?"


"Baru saja Myra meneleponku. Dia lupa memberitahuku jika hari ini ada pertemuan penting dengan klien."

__ADS_1


"Tidak masalah, kita bisa pergi lain waktu." Ishla terlihat sangat kecewa. Dia memberikan tiket itu pada ibunya.


"Kenapa kau memberikan tiket ini pada ibu?"


"Kau bisa pergi untuk menggantikanku, ibu." Amine menatap Keenan. "Kalian bisa menonton film bersama." Amine langsung menolaknya. Dia sudah terlanjur berbohong pada Keenan jika hari ini dia ada pertemuan penting. Ishla terus saja memaksa ibunya.


"Kenapa kau tidak bisa pergi, ibu? Bukankah hari ini kau libur?" tanya Ishla.


"Tidak, sayang. Ibu masih ada beberapa pertemuan." Ishla meminjam ponsel Amine untuk menghubungi Celine.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tidak lama Celine mengangkat telepon. Ishla menggunakan pengeras suara agar mereka mendengar percakapannya.


"Selamat pagi, nona Celine. Ini aku, Ishla."


"Selamat pagi, nona. Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Apa hari ini ibuku memiliki jadwal pertemuan dengan klien?"


"Tunggu, aku akan memeriksanya terlebih dahulu." Amine sedikit panik jika nanti Keenan tahu bahwa dirinya telah berbohong. Tidak lama Celine memberitahu Ishla jika hari ini Amine tidak memiliki jadwal apapun. Dalam tiga hari ke depan, jadwal Amine kosong.


"Ibu dengar? Kau tidak memiliki jadwal apapun, bahkan dalam tiga hari ke depan."


"Terima kasih, nona Celine."


"Sama-sama, nona Ishla."


Amine melihat Keenan yang menatapnya.


"Tidak apa-apa,"


"Sudahlah, jangan berdebat seperti itu. Kalian harus segera bersiap karena hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan.


"Tidak, aku tidak akan pergi."


"Ayolah, ibu! Aku mohon...


Amine tidak bisa melihat putrinya memohon seperti itu. Akhirnya Amine setuju untuk pergi menonton.


"Yes! Akhirnya...


"Apa ini rencanamu? Kau sebenarnya bisa pergi bukan?"


"Hmm... tidak! Baiklah, aku harus pergi bertemu Myra hari ini." ucap Ishla sambil tersenyum senang. Pagi itu, Amine dan putrinya pulang ke rumah. Ishla pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Saat akan pergi, dia menemui ibunya di kamar.


"Mengapa ibu mengeluarkan banyak sekali baju?" tanya Ishla.


"Mmm... Ibu hanya sedang memilih baju mana yang cocok dikenakan." Ishla melihat sikap ibunya yang berbeda dari biasanya. Dia terlihat sangat gugup saat akan pergi bersama Keenan.


"Ooow... Aku tahu! Mungkin karena ibu akan pergi menonton dengan paman Keenan, karena itu dia terlihat sangat gugup," ucap Ishla dalam hati. Dia terus saja tersenyum melihat ibunya kebingungan memilih pakaian. "Kenapa kau masih berdiri disana?" Ishla memeluk ibunya itu, dan membantunya untuk memilih pakaian yang cocok.


"Apa warna kesukaan paman Keenan?"


"Hitam," ucap Amine spontan. Ishla sangat senang ketika tahu ternyata ibunya itu masih mengingat warna kesukaan Keenan. "Baiklah, kalau begitu kau harus memakai gaun ini." Dia pikir itu adalah sebuah gaun yang simpel juga elegan. Terlebih lagi warna gaunnya hitam. Sangat pas dengan selera Keenan. Amine mencoba gaun itu, dan benar saja saat dia melihat dirinya di cermin, gaun itu sangat cocok melekat di tubuhnya. "Baiklah, ternyata selera putriku ini sangat bagus. Terima kasih, sayang." Ishla langsung pergi menemui Myra di rumahnya. Tiba disana, Myra sudah menunggunya di depan. Ishla turun untuk menemui bibi Lea sebentar. Kebetulan pagi itu, bibi Lea sedang libur.

__ADS_1


"Selamat datang, nak." sambut Lea.


"Terima kasih, bibi. Apa kabar?"


"Aku sangat baik, kau jarang sekali berkunjung kemari."


"Maafkan aku, bibi. Pekerjaan di kantor sangat banyak. Terkadang aku dan Myra harus lembur mengerjakan semuanya."


"Kau ingin makan apa? Biar nanti bibi siapkan."


"Tidak perlu, bi. Aku sudah sarapan di rumah. Maaf... Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku dan Myra akan pergi menonton."


"Pergilah! Semoga harimu menyenangkan," ucapnya. Ishla dan Myra pergi ke bioskop. Di dalam perjalanan, tanpa sepengetahuan Ishla, Myra memberitahu Glan jika mereka sudah jalan menuju bioskop. "Maafkan aku karena tidak memberitahumu jika Glan juga akan bergabung bersama kita," ucap Myra dalam hati. Tiba disana, Ishla melihat ada Aiyaz dan Aiyla.


"Kenapa aku harus bertemu mereka disini?" ucap Ishla pelan. Dia mencoba memalingkan wajahnya, tapi Aiyla dia langsung menghampirinya.


"Kau disini juga?" tanya Aiyla.


"Ya," jawab Ishla malas.


"Apa kau sendiri?" Tidak lama Myra datang bersama Glan.


"Ouh, jadi kalian datang bertiga. Baiklah, sampai bertemu di dalam." Saat di dalam, Myra dan Ishla mendapat kursi nomor 134 dan 135, sedangkan Glan dia mendapat nomor 98. Saat melihat ada Aiyla dan Aiyaz di samping kursi mereka, Ishla menolaknya. "Aku tidak ingin berdekatan dengan mereka," ucapnya. Myra memberikan nomor kursinya pada Glan. "Glan akan duduk bersamamu, tenang saja kau akan tetap duduk disana, tetapi Glan yang akan bersebelahan dengan Aiyaz." Myra mengambil nomor kursi milik Glan dan pergi ke tempat duduknya. "Aku duduk di depan sana, selamat menikmati filmnya,"


Aiyaz melihat Glan yang duduk disebelahnya diikuti oleh Ishla.


"Hey! Kalian disini?" sapa Aiyla.


Glan meraih tangan Ishla dan menyuruhnya untuk duduk. Aiyaz yang melihat sikap Glan pada Ishla mulai tidak nyaman. Film akan segera dimulai. Sementara itu, Keenan menjemput Amine di rumahnya. Saat keluar, penampilan Amine membuat Keenan sangat terpesona padanya.


"Kau terlihat sangat cantik," ucap Keenan.


"Terima kasih," Amine tersipu malu. Tidak lama merekapun pergi. Di satu sisi, Film yang ditonton Ishla adalah film horor. Ishla begitu tegang saat menontonnya. Walau begitu, dia tetap menikmati popcorn yang ditawarkan Glan untuknya. Saat film itu mempertontonkan hal yang mencekam, semua orang di ruangan teriak termasuk Ishla. Dia memegang tangan Glan erat.


"Maaf," ucapnya.


"Tidak masalah," Saat akan melepaskan tangannya dari Glan, dia malah mencekalnya kuat. "Kenapa harus dilepas, biarkan saja seperti ini sampai filmnya selesai." Ishla menurut saja apa perkataan Glan. Walau mereka duduk sangat dekat, tetapi tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Aiyaz melihat tangan Glan dan Ishla yang saling menggenggam. "Kenapa harus melihat pemandangan seperti ini?" gumamnya. Aiyla melirik ke sampingnya. Dia tahu jika hati Aiyaz terbakar melihat kemesraan yang ada diantara Glan dan Ishla.


\*\*\*


Di tempat lain, Amine dan Keenan sudah berada di ruangan. Amine melihat semua kursi masih kosong, " Dimana yang lainnya?" Keenan tersenyum kecil. Dia memberitahu Amine jika tidak akan lagi ada orang di ruangan itu selain mereka berdua. Keenan sengaja menyewa tempat itu untuk Amine.


"Kenapa kau melakukan semua ini untukku?" tanya Amine.


"Karena kau adalah hidupku, dulu sampai sekarang. Aku akan melakukan apapun untukmu," ucap Keenan. Tidak lama muncul sebuah rekaman di layar besar itu. Amine sangat terharu karena rekaman itu berisi tentang masa kuliahnya dulu.


"Apa kau yang membuatnya sendiri?"


"Dulu... Tanpa sepengetahuanmu, aku sering memotret setiap hal kecil yang kau lakukan. Sampai akhirnya kau lulus kuliah. Saat aku pergi ke New Zealand untuk menemuimu, aku ingin mengungkapkan semua perasaanku melalu rekaman yang ku buat ini. Setelah aku tahu kau sudah menikah, aku memutuskan untuk menyimpan rekaman ini." Kurang lebih dua jam Amine menyaksikan tayangan itu, dia sangat terharu saat menyaksikan akhir dari tayangan itu, disana Keenan mengungkapkan semua perasaan yang ada untuknya.


"Kenapa kau menangis?" tanya Keenan."


"Aku hanya terharu saja melihatnya," ucap Amine sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


__ADS_2