CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
PENJEBAKAN


__ADS_3

Pagi ini semua dikejutkan dengan edaran surat kabar yang memberitakan tentang kaburnya Ethan dari penjara. Surat kabar itu telah sampai ditangan Azizah. Dia sangat terkejut saat mengetahuinya. Dituliskan dalam surat kabar itu, jika Ethan Diaz cucu tertua keluarga besar Diaz telah melarikan diri saat perjalanan menuju rumah sakit karena suatu insiden. Pihak polisi sekarang ini sedang mencari keberadaan Ethan, mereka memasang wajah Ethan disetiap sudut kota. Pagi itu pihak polisi mendatangi kediaman Diaz, dan Azizah yang mengahadap ke depan. Polisi memeriksa semua ruangan karena takut jika Ethan mencoba datang dan bersembunyi di rumahnya. Saat mendapati polisi di rumahnya, Adlar sempat bingung.


"Ada apa ini, ibu? Kenapa ada polisi di rumah kita?" Azizah menunjukkan surat kabar pada Adlar, dan dia sangat terkejut saat membacanya. Tidak lama pihak kepolisian pergi dan meminta kerja sama pihak keluarga untuk segera melapor jika Ethan datang berkunjung.



\*\*\*


Pagi itu, Ethan yang tertidur di hutan terbangun karena pantulan cahaya mentari yang mengenai wajahnya. Dia melihat lukanya yang belum sembuh betul. Ethan pergi ke klinik untuk membeli obat dan perban. Ethan berjalan cukup jauh, dan berhasil keluar dari hutan. Dia melihat sebuah apotek di sudut jalan. Saat menuju kesana, Ethan melihat wajahnya yang terpampang dimana-mana. Dia sekarang sudah menjadi buronan polisi. Di arah yang sama, berjalan seorang anak perempuan bersama ibunya ke arah Ethan.


"Ibu, lihatlah! Bukankah orang itu yang ada difoto?"


"Ya, kau benar sayang. Orang itu yang sedang dicari oleh polisi." Ethan melihat ke arah anak kecil itu, sang ibu terlihat sedang berbicara di telepon. Ethan langsung melarikan diri. Dia yakin jika ibu tadi mengetahui identitasnya. Beberapa jam kemudian, tidak lama pihak kepolisian datang ke tempat yang ditunjukkan si ibu tadi. Polisi mencoba mencari informasi dari si ibu.


"Apa kau yakin melihat orang ini disini?" tanya polisi.


"Aku sangat yakin, pak. Dia tadi berlari ke arah sana." jawab si ibu.


"Terima kasih untuk informasinya, nyonya." Polisi langsung menelusuri tempat itu. Sementara itu, Ethan masuk ke sebuah toko baju. Dia membeli beberapa baju dan barang lain untuk penyamarannya.


LONDON, MALAM HARI


Jam menunjukan pukul 2 malam. Saat itu Amine terbangun karena bunyi ponselnya yang terus berbunyi.


"Halo, Farah! Ada apa? Kenapa kau menghubungi di jam seperti ini?" Farah Ainun, asisten pribadi Amine. Dia memberitahu Amine jika Ethan Diaz melarikan diri dari penjara Istanbul tadi malam. Mendengar semua itu, Amine terkejut dan langsung terperanjat dari tempat tidurnya.


"Apa kau yakin dengan berita itu?" tanya Amine yang terus mundar mandir tidak karuan.


"Berita itu sudah tersebar dimana-mana, nyonya. Kau bisa melihatnya langsung di internet." Tidak lama Amine mematikan teleponnya dan langsung mencari kebenaran dari berita itu. Saat semua kebenarannya terungkap, tubuh Amine terasa lemas. Dia duduk termenung di pinggir tempat tidur. Amine sangat mengkhawatirkan putrinya. Dia takut jika kepergiaan Ethan memang sudah direncakan, dan dia akan kembali untuk membalas dendam.


ISTANBUL, PAGI HARI


Setelah sarapan, Ishla dan Myra pergi ke kantor. Di tengah perjalanan Ishla mendapat telepon dari ibunya.


"Halo ibu! Apa kabar?"


"Ibu baik sayang, bagaimana denganmu?


"Aku baik, ada Myra yang menemaniku di rumah. Pagi ini kami sedang berjalan menuju kantor.


"Syukurlah jika kau baik-baik saja,"


"Apa kau sudah membaca berita pagi ini?


"Ya, Ethan baru saja melarikan diri dan sekarang dia menjadi tahanan.


Amine mengungkapkan perasaan takutnya pada Ishla, dia sangat takut jika Ethan kembali untuk menyakitinya. Ishla berpikiran yang sama dengan ibunya, tapi jika memang nanti Ethan datang Ishla harus sudah siap menghadapinya. Walau dalam diri Ishla ada sedikit ketakutan, tapi dia mencoba untuk menguatkan ibunya. Dia tidak ingin Amine khawatir dan mencemaskannya karena itu akan berpengaruh pada pekerjaannya di London.


"Bukankah disana masih malam? Kenapa ibu tidak tidur?

__ADS_1


"Ibu terbangun karena telepon dari Farah. Dia memberitahu ibu jika Ethan kabur, setelah ibu mengeceknya ternyata semua itu benar. Ibu langsung menghubungimu karena merasa khawatir."


"Ibu tenang saja, ada Myra bersamaku.


"Kau tenang saja, bibi. Aku berjanji untuk selalu ada bersama Ishla." sambung Myra.


"Kau dengar ibu?"


"Ya, sayang. Ibu mendengarnya."


"Terima kasih, Myra."


Tidak lama akhirnya Myra dan Ishla sampai di kantor. "Selamat pagi, nona." ucap salah satu karyawan disana. Ishla dan Myra tersenyum ramah. "Selamat pagi," Myra melihat jam tangan yang ada ditangannya, masih tersisa dua puluh menit lagi sebelum dia mulai bekerja.


"Apa aku boleh pergi sebentar?" tanya Myra.


"Kemana kau akan pergi?"


"Aku ingin menemui ibuku, toko kuenya tidak jauh dari sini. Aku akan kembali tepat waktu."


"Pergilah! Katakan pada bibi Leah jika aku belum bisa mengunjunginya!"


"Baiklah, terima kasih."


Saat Ishla ke ruangannya, dia melihat sebuah kotak berukuran sedang yang sudah ada di atas meja kerjanya. "Kotak apa ini?" Tidak lama sekretaris masuk dan memberikan beberapa berkas.


"Maaf, nona. Ada beberapa berkas yang harus kau tandatangani,"


"Kotak apa ini?" tanya Ishla pada sekretarisnya.


"Aku tidak tahu pasti, nona. Tadi seorang kurir datang membawa kotak itu mengatasnamakan nona."


"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi." Ishla belum sempat membuka kotak itu, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sementara itu, di kantor Glan sudah mendapat informasi jika kotak itu sudah sampai pada Ishla. Seorang pria datang dan memberitahu Glan jika pagi ini ada pertemuan penting dengan perusahaan Aiyaz Group.


"Batalkan pertemuan hari ini!" ucap Glan.


"Jika aku boleh tahu, kenapa pak?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku malas berurusan dengan pemilik perusahaan itu."


"Baiklah, aku akan lakukan seperti apa yang bapak perintahkan."


\*\*\*


Saat Myra tiba di ruangannya, dia tidak melihat Ishla disana. Perhatian Myra tertuju pada kotak yang ada di atas meja kerja Ishla. "Kotak apa ini?" Myra mencari-cari keberadaan Ishla. "Dimana dia?" Myra pergi keluar untuk mencarinya. Kebetulan di dekat tangga Myra bertemu dengan sekretaris Ishla.


"Dimana Ishla?" tanya Myra.


"Dia pergi untuk meeting. Kebetulan, jadwal meeting pagi ini dimajukan dan dilakukan di out door, jadi nona Ishla pergi lebih awal."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih."


\*\*\*


Tidak lama akhirnya Ishla sampai. Tanpa Ishla ketahui, ternyata sejak dia pergi dari kantor menuju tempat meeting ada seseorang yang mengintainya. Orang itu tidak lain adalah Ethan. Sudah kurang lebih satu jam Ishla menunggu, dia baru mendapat kabar jika Tuan Marvell mengalami kecelakaan. Semua benar-benar di luar dugaan. Menurut sekretarisnya, Tuan Marvell mengalami kecelakaan saat dia hendak pergi menemui Ishla untuk meeting pagi ini. Ishla turut berduka mendengarnya.


Saat akan pulang, mobil yang dibawa Ishla ternyata ban belakangnya bocor. "Kenapa ban mobilnya bocor?" Saat Ishla di dalam tadi, secara diam-diam Ethan menusuk ban mobil Ishla dengan paku. Karena jarak bengkel yang kurang lebih dua meter dari tempat itu, Ishla meminta sopir kantor untuk menjemputnya.


\*\*\*


Saat jam makan siang, Glan pergi menemui Ishla. Dia ingin memastikan jika Ishla sudah membuka kotaknya. Saat tiba disana, Glan bertemu dengan Myra. Dia terlihat masih sibuk bekerja.


"Selamat siang!" ucap Glan.


"Selamat siang!" jawab Myra tanpa menoleh ke arah Glan. "Jika kau ingin bertemu dengan Ishla, dia tidak ada. Sejak pagi tadi Ishla pergi meeting di out door."


"Dimana tempat itu?" tanya Glan.


"Aku tidak tahu," Glan mencoba menghubungi Ishla, tapi ponselnya mati.


"Bagaimana? Apa Ishla mengangkatnya?" tanya Myra.


"Tidak,"


"Apa kau tidak berpikir, dimana orang meeting selama ini?" ucap Glan yang mulai kesal. "Jika Ishla pergi pukul 7 pagi, dan sekarang pukul 14.00, tidak mungkin mereka meeting selama 7 jam. Meeting apa yang selama itu? Konyol!"


Myra mulai mencerna perkataan Glan sedikit demi sedikit. Sudah lama Ishla pergi, tapi sampai ini dia belum juga kembali. Myra meninggalkan pekerjaannya, dan berfokus pada Ishla. Myra menelepon sekretaris Ishla untuk datang ke ruangannya. Tidak lama dia datang.


"Selamat siang, nona. Apa kau memanggilku?"


"Dimana tempat Ishla meeting?" tanya Myra.


"Di sebuah kafe baru, jaraknya kurang lebih 4km dari sini, nona."


"Kafe apa itu? Apa kau sudah memastikan jika kafe itu aman atau tidak?"


Sekretaris Ishla terdiam. Glan merasa sangat marah karena kelalaian sekretarisnya itu. Tidak lama seorang karyawan datang.


"Permisi, nona. Di bawah sudah ada Tuan Marvell. Dia ingin bertemu dengan nona Ishla." Myra sangat terkejut mendengarnya. "Lalu, siapa yang akan Ishla temui di tempat itu?" Myra sangat marah pada sekretarisnya. "Apa kau mencoba membohongi Ishla?" Sekretarisnya juga merasa sangat bingung. Dia memberitahu Myra jika tadi pagi sekretaris Tuan Marvell menghubunginya dan meminta meeting dimajukan. Dia meminta Ishla pergi ke tempat itu. Untuk lebih jelasnya lagi, Glan pergi menemui Tuan Marvell. Saat bertemu, Glan sangat terkejut karena dia sendiri tidak memiliki sekretaris bernama Zea, itu adalah sekretaris lamanya, sedangkan sekretaris barunya bernama Zuhayna. Glan kembali menemui Myra dan menceritakan semuanya.


"Lalu, siapa yang menghubungi Ishla tadi pagi?"


"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah Ishla."


"Ayo kita pergi Glan! Mungkin ini semua jebakan. Aku takut jika Ishla kenapa-kenapa disana." Glan dan Myra menyusul Ishla kesana.


\*\*\*


Hari sudah mulai sore. Ishla mencoba menghubungi Myra, tapi baterai ponselnya habis. "Ya ampun, kenapa disaat seperti ini ponselku mati?" Sore ini jalanan kota sangat macet. "Bagaimana ini Glan? Kemacetannya sangat panjang. Akan memakan waktu kurang lebih satu jam." Glan mengajak Myra keluar. Mereka menyewa motor yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan mobilmu?"


"Aku sudah menyuruh orang untuk mengambilnya." Ishla berjalan mencari kendaraan. Tapi, ditempat itu terlihat sangat sepi. Tidak ada satupun kendaraan yang melintasi jalan itu. Saat Ishla berbalik badan, dia melihat seorang pria bertopeng di hadapannya. "Siapa kau?" Pria itu membuka topengnya, dan membuat Ishla sangat terkejut. "Ethan?"


__ADS_2