
Selesai makan siang, Aiyla tidak mendapatkan Adlar di ruangannya. Dia pergi menemui Ishy di tempat kerjanya.
"Apa kau melihat ayahku?" tanya Aiyla.
"Tuan Adlar sedang ke luar untuk urusan pekerjaan."
"Kenapa ayah tidak memberitahuku? Kemana ayahku pergi?" Ishy sangat ragu untuk memberitahu yang sebenarnya pada Aiyla. Adlar memintanya untuk tidak mengatakan pada siapapun kemana dia pergi.
"Kenapa kau diam saja? Aku bertanya kemana ayahku pergi?"
"Dia pergi ke perusahaan AL Group untuk menemui Nyonya Amine, Nona." Aiyla langsung meminta sopir untuk mengantarnya ke perusahaan AL Group.
Amine meminta Adlar untuk pergi dari perusahaannya. Dia tidak ingin jika Adlar masuk kembali dalam kehidupannya. Bagi Amine, Adlar yang dia cintai sudah lenyap saat Adlar menikahi perempuan lain dan menceraikannya. Saat Adlar pergi, Amine meminta sekretarisnya untuk membawa Ishla kembali ke ruangannya. Dari jauh terlihat Adlar dan Ishla mengambil jalan yang sama. Sekretaris Amine tidak tahu jika di depannya ada Adlar yang berjalan ke arahnya. Dia terus saja mendorong kursi roda Ishla. Saat itu, Adlar sedang menatap layar ponselnya, dia tidak menyadari jika Ishla baru saja lewat di depannya. Saat Adlar pergi, mobil yang dikendarai Aiyla baru saja tiba di kantor. Dia bertanya pada karyawan ruangan tempat Amine bekerja.
"Maaf, Nona. Kau ini siapa?"
"Aku Aiyla Shahinaz Diaz, putri dari Adlar Diaz." Salah satu karyawan ada yang mengetahui jika Aiyla itu seorang model iklan.
"Maaf, kau harus membuat janji terlebih dahulu." Aiyla meminta karyawan untuk membawanya menemui Amine, tapi tidak ada satupun yang mau, mereka tahu dan sangat disiplin dengan semua peraturan perusahaan, salah satunya harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin menemui Amine.
Ishla tiba di ruang kerja Amine. Dia langsung menunjukkan kontrak perusahaannya pada Amine.
"Apa ini?" tanya Amine.
Saat dibuka ternyata sebuah kontrak yang sudah ditandatangani perusahaan Lee terhadap perusahaan AL Group.
"Apa kau memenangkan kontrak kerja sama ini?"
"Aku sudah bilang padamu, aku akan melakukan semua yang terbaik untuk perusahaan ini." Amine langsung memeluk putrinya, dia tidak percaya Ishla mampu membawa perusahaannya sampai sejauh ini. Kerja sama yang Amine impikan sejak lama akhirnya terwujud atas kerja keras dan kepandaian putrinya, Ishla.
Aiyla nekat masuk dan mencari ruangan Amine. Salah seorang karyawan mencoba untuk menahannya, dia menghubungi penjaga keamanan untuk membawa Aiyla pergi dari sana. Dia sudah membuat kegaduhan di kantor Amine.
"Lepaskan tanganku! Kalian tidak bisa melakukan hal ini padaku." Teriakan Aiyla terdengar oleh Amine. Dia pergi untuk melihatnya. Ishla meminta sekretaris untuk membantu mendorong kursi rodanya. Dari atas Amine dapat melihat Aiyla yang dibawa penjaga keamanan.
__ADS_1
"Berhenti! teriak Amine dari atas. "Lepaskan dia!" Amine turun untuk menemui Aiyla.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Nyonya."
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Amine.
"Aku kesini untuk mencari ayahku." Amine memberitahu Aiyla jika Adlar sudah pergi sejak tadi. Dia datang untuk membahas tentang pekerjaan, tidak lebih. Aiyla sedikit kesal karena Adlar sudah berkata bohong padanya. Saat Aiyla bertanya tentang kantor Amine, Adlar mengatakan tidak tahu, padahal Adlar dan Amine adalah mitra kerja.
"Apa ada lowongan pekerjaan di perusahaanmu, Nyonya?"
"Untuk apa?" tanya Amine heran.
Aiyla sangat ingin bekerja di perusahaan Amine, dia ingin bisa bertemu Amine setiap hari. Walaupun menjadi cleaning servis sekalipun, akan Aiyla jalani untuk bisa terus dekat dengan Amine.
"Maaf, Nak. Tapi kau tidak cocok untuk itu." Amine memberitahu Aiyla jika dia itu berasal dari keluarga Diaz, dimana setiap pekerjaan yang dia lakukan akan berpengaruh pada kehormatan dan harga dirinya. Jika Aiyla bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain, orang akan memandangnya rendah. Seseorang dari keluarga Diaz bekerja di perusahaannya sendiri, bukan menjadi karyawan di perusahaan lain. Seorang Diaz hanya bisa mempekerjakan orang lain, mereka tidak mengizinkan diri mereka sendiri untuk dipekerjakan.
Saat akan melangkah pergi, tatapan Aiyla mengarah ke atas. Di sana sudah ada Ishla yang sedari tadi memperhatikan mereka. Aiyla sangat terkejut dengan kehadiran Ishla di perusahaan Amine. Tidak ada tatapan yang Aiyla berikan pada Ishla selain dari kebencian. Dia pergi menemui Ishla di atas.
"Kau akan kemana?" Amine melihat di atas sudah ada Ishla, dia takut Aiyla akan melakukan hal buruk pada Ishla, dia segera mengikuti langkah Aiyla dari belakang.
"Apa masalahmu dengan ku? Untuk apa aku disini, itu urusanku. Kenapa kau sangat ingin tahu?" Aiyla terlihat sangat marah, dia mendorong kursi roda Ishla ke tangga.
"Ishla!" Teriak Amine. Dia mencoba mengejar kursi roda Ishla. Semua orang yang melihat ikut tegang melihat kursi roda Ishla yang berputar sangat kencang. Ishla mencoba mengerem kursi rodanya, tapi tidak berfungsi. Tangga itu sudah terlihat di depan matanya. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Ishla menutup matanya, dia berpegang kuat pada kursi rodanya. Kursi roda itu berhasil ditarik sebelum jatuh ke tangga. Jantung Ishla ikut berhenti saat kursi roda itu berhenti. Amine langsung memeluk Ishla, "Kau tidak apa-apa sayang?"
"Aku baik-baik saja, Ibu. Jika Ibu tidak ada, mungkin...
"Sudahlah, Nak. Semua sudah berlalu." Amine memarahi Aiyla untuk apa yang sudah dia lakukan pada Ishla.
"Apa yang sudah kau lakukan? Bagaimana jika Ishla celaka? Apa kau akan bertanggung jawab?" Pertama kalinya Aiyla melihat Amine semarah itu.
"Memang apa hubunganmu dengan gadis itu? Kenapa kau sangat peduli sekali padanya? Tidak seharusnya kau membela dia, jika saja kau tahu...
"Apa? Tidak ada yang tahu dia sebaik diriku. Ingatkan itu!" Amine memanggil penjaga keamanan untuk membawa Aiyla pergi dari kantornya. Amine membawa Ishla kembali ke ruangannya. Ishla memberitahu Amine jika setiap pertemuannya dengan Aiyla tidak pernah baik.
"Kenapa dia sangat membenciku, Ibu? Apa hubunganku dengannya di masa lalu? Kenapa aku tidak ingat apapun?" Amine tidak bisa menceritakan banyak pada Ishla, semua bukanlah salahnya, Aiyla hadir sebagai orang ketiga diantara hubungan Ishla dan Aiyaz.
__ADS_1
Siang itu Zafer datang menemui orangtuanya. Kemal dan Bahar terkejut saat melihat putra mereka datang dengan mobil barunya.
"Mobil siapa ini?" tanya Bahar.
"Nyonya Amine yang memberikan mobil ini padaku." Satu mobil lagi datang dengan dibawa sopir. Zafer menceritakan pada Bahar dan Kemal tentang rencana Amine. Setidaknya dengan mobil itu Ethan tidak akan lagi datang, karena sudah mendapatkan mobilnya kembali. Zafer meminta ayahnya untuk mengubah mobil itu sama persis dengan milik Ethan, dia juga sudah menyiapkan plat mobil yang sama dengannya.
"Kira-kira berapa lama mobil itu akan selesai, Ayah?"
"Secepat mungkin aku akan segera menyelesaikannya."
Sesampainya di kantor, Aiyla terlihat sangat marah. Dia menemui Adlar di ruangannya.
"Kau darimana saja? Aku mencarimu dari tadi."
"Aku pergi ke perusahaan AL Group."
"Untuk apa?"
"Sekretarismu bilang kau ada disana, jadi aku pergi untuk mencarimu."
"Lalu?" Aiyla memberitahu Adlar jika disana dia bertemu dengan Ishla. Terjadi sedikit pertengkaran diantara mereka.
"Aku mendorong kursi roda Ishla ke tangga, tapi Amine berhasil menyelamatkannya."
"Bagaimana jika gadis itu celaka, Nak? Kau bisa berurusan dengan polisi." Bukan hanya itu, Aiyla juga sangat kesal ketika Amine memarahinya karena sikapnya yang sudah membahayakan Ishla.
"Dia terlihat sangat peduli pada gadis itu. Entah ada hubungan apa diantara mereka, Amine memarahiku di hadapan banyak orang hanya untuk membela gadis itu."
"Apa yang gadis itu lakukan di kantor Amine?" tanya Adlar.
"Aku tidak tahu, tapi terlihat dengan jelas dari sikap Amine barusan jika dia memiliki hubungan dengan Ishla. Jika Ishla hanya karyawan biasa tidak mungkin Amine sepeduli itu padanya."
"Lalu, apa lagi yang Amine katakan padamu?" Aiyla mencoba untuk mengingat sesuatu.
"Tidak ada yang mengenal Ishla lebih baik darinya," itu kata-kata terakhir yang Amine ucapkan padanya. Adlar bersikeras untuk memikirkan sesuatu.
"Apa jangan-jangan Ishla itu putri Amine?" ucapnya dalam hati. Jika memang benar, Adlar sudah sangat bersalah karena sikapnya selama ini tidak pernah baik pada Ishla. Dia tidak menyukai Ishla karena dia mencoba merebut Aiyaz dari Aiyla, dia juga sangat bersalah saat Nilam mempermalukan Ishla di depan semua orang.
__ADS_1
"Semoga saja yang aku pikirkan ini salah," ucapnya. "Jika benar, aku sudah menjadi ayah yang buruk sebelum bertemu dengan putriku."