CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
ETHAN KEMBALI BERULAH


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Ishla langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia menatap langit kamar yang dipenuhi hiasan bintang-bintang.


"Andai saja aku ini bintang, mungkin aku tidak akan merasakan semua rasa sakit ini." ucapnya.


Semua yang Ishla lihat di rumah sakit masih terlintas jelas dalam kepalanya. Dia pikir... Adlar benar-benar menginginkannya, tapi ternyata masih ada putri lain yang lebih dia pedulikan, dan dia sayangi, yaitu Aiyla. Ishla merasa sangat sedih, karena dia tidak seberuntung Aiyla yang sejak lahir sampai dia tumbuh dewasa seorang ayah selalu ada disampingnya. Luka yang pernah ada di masa lalu, tidak bisa Ishla lupakan begitu saja. Ishla menganggap Aiyla sudah merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya. Pertama, saat Ishla hilang ingatan, dia berusaha untuk merebut Aiyaz darinya. Kedua, dia juga ingin merebut Adlar darinya. Walau hati Ishla belum bisa menerima Adlar sebagai ayah kandungnya, tepati dia sangat cemburu melihat kedekatan Adlar dengan Aiyla.


"Sudah cukup! Aku tidak akan membiarkanmu merebut Aiyaz, ataupun ayahku!" ucapnya. "Kau harus merasakan apa yang selama ini aku rasakan, kau harus terbiasa hidup tanpa seorang ayah."


\*\*\*


Sesampainya di rumah sakit, sopir segera memanggil perawat. Tidak lama, mereka datang dan membantu Azizah turun dari mobil dan mendudukkannya di atas kursi roda, karena dia tidak sanggup lagi untuk berjalan. Di arah yang sama, Adlar dan Nilam berjalan ke luar untuk membawa Aiyla pulang. Mereka terkejut saat melihat Azizah berada di rumah sakit dengan duduk di atas kursi roda.


"Ibu, kau kenapa? Apa penyakitmu kambuh lagi?" tanya Adlar.


Tidak ada jawaban dari Azizah, dia hanya memegang dadanya yang sakit, dan napasnya terdengar putus-putus. Adlar segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ibunya.


"Ibu, ada apa dengan nenek? Dia akan baik-baik saja, bukan?" tanya Aiyla pada Nilam.


"Kau jangan khawatir, sayang. Nenekmu pasti akan baik-baik saja. Ada dokter yang akan memeriksanya." ucap Nilam menenangkan putrinya. Beberapa lama mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dan meminta seseorang untuk ikut dengannya ke ruangan. Akhirnya, Adlar sendiri yang ikut bersama dokter.


"Bagaimana keadaan ibuku, dok?" tanya Adlar.


"Ibumu mengalami sesak, dan sakit di bagian dadanya, tekanan darahnya sangat tinggi, dia seperti orang yang baru saja mengalami shock yang luar biasa sampai membuat dirinya tidak berdaya seperti itu. Jika tidak secepatnya dibawa ke rumah sakit, mungkin keadaanya akan berbeda." ucap dokter.


"Apa dia akan kembali membaik?" tanya Adlar dengan penuh kekhawatiran.


"Untuk saat ini, kami sudah memasang tabung oksigen untuk membantu pernapasannya, dia harus dirawat selama beberapa hari disini supaya kami bisa terus mengawasinya."


"Baiklah, dok. Terima kasih."


Adlar kembali ke kamar dimana ibunya dirawat. Dia melihat Nilam dan Aiyla yang masih ada disana.


"Ayah, bagaimana keadaan nenek?" tanya Aiyla.


"Kau tidak perlu khawatir, sayang. Nenekmu baik-baik saja. Hanya saja, dia harus dirawat disini untuk beberapa hari."


"Baiklah, kalau begitu aku juga akan menunggu nenek disini." ucap Aiyla.


"Tidak perlu, sayang. Pulanglah bersama ibumu! Ayah yang akan menjaga nenekmu disini."


"Tapi ayah...


"Sudahlah, kau masih harus banyak istirahat. Setelah sembuh nanti, kau bisa datang untuk menengok nenekmu."

__ADS_1


"Baiklah, tapi kau harus janji untuk memberitahuku keadaan nenek setiap waktu."


"Baiklah, tuan putri...


Setelah Aiyla pergi, Adlar pergi untuk menemui sopir.


"Apa yang terjadi pada ibuku?" tanya Adlar pada sopir itu.


"Maaf, tuan. Tadi, nyonya besar pergi untuk menemui Nyonya Amine di kantornya, setelah mereka lama berbincang, nyonya besar meneleponku untuk membantunya turun ke bawah. Saat perjalanan pulang, nyonya besar terlihat tidak baik-baik saja. Dia memintaku untuk membawanya ke rumah sakit." Adlar sedikit kaget mendengar perkataan sopir, dia tidak tahu untuk apa ibunya pergi menemui Amine. Adlar meminta sopir untuk berjaga di depan kamar Azizah. Dia juga meminta perawat khusus untuk menjaga ibunya. Sebelum Azizah bangun, dia akan pergi menemui Amine untuk menanyakan langsung padanya tujuan ibunya datang menemuinya.


\*\*\*


Siang itu, Aiyaz banyak sekali urusan yang harus diselesaikan di kantor, sampai dia lupa untuk menghubungi Ishla dan menanyakan keadaannya. Saat waktu makan siang, Aiyaz mencoba menghubungi ponsel Ishla, tapi tidak tersambung. Dia merasa sangat khawatir jika belum berbicara dengan Ishla. Setelah makan siang, Aiyaz pergi ke kantor AL Group untuk menemui Ishla. Di saat yang bersamaan, Glan juga datang untuk menemui Ishla. Mereka saling berpasangan di pintu masuk.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Aiyaz.


"Pertanyaan macam apa itu? Apa kau lupa, jika aku ini partner kerja Ishla, jadi aku bisa kapan saja datang kesini." ucap Glan.


Mereka masuk bersamaan. Kebetulan saat itu, Amine baru saja kembali dari luar. Dia melihat Aiyaz dan Glan yang sudah ada di ruang kerja Ishla.


"Kalian disini?" tanya Amine.


"Kami datang untuk bertemu dengan Ishla." ucap Glan. Amine memberitahu mereka jika hari ini Ishla tidak masuk bekerja, dia sedang istirahat di rumah.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemuinya di rumah." ucap Aiyaz.


"Apa terjadi masalah dengan Ishla?" tanya Glan. Amine belum sempat menjawab pertanyaan Glan, dia lebih dulu dipanggil sekretarisnya untuk menandatangani dokumen penting. Saat ada di ruangannya, tiba-tiba saja Adlar datang.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Amine.


"Apa yang sudah kau lakukan pada ibuku, sampai dia masuk rumah sakit seperti itu?"


"Apa memangnya yang sudah aku lakukan?" ucap Amine tidak mengerti.


"Bukankah dia datang untuk menemuimu? Apa saja yang kalian bicarakan?" Adlar mulai penasaran dengan perbincangan Amine dengan ibunya.


"Tanya saja pada ibumu itu! Kenapa harus bertanya padaku?" Amine terus fokus pada dokumen yang sedang dia tanda tangani. Sikapnya itu membuat Adlar seperti tidak dihargai. Dia merampas dokumen itu dari tangan Amine dan menyobeknya.


"Apa yang kau lakukan? Itu dokumen penting perusahaan."


"Aku tidak peduli dokumen apa ini, aku paling tidak suka jika kau berbicara seperti itu padaku!"


"Pergi darisini! ucap Amine dengan nada marah. "Jangan kau pikir aku ini Amine yang dulu, yang selalu patuh terhadap apa yang kau perintahkan. Apapun yang terjadi pada ibumu, aku sama sekali tidak peduli! Yang aku pedulikan sekarang ini, hanya putriku. Kau dengar? Cepat keluar dari ruangan ku sebelum kesabaran ku benar-benar habis!" Saat Adlar akan pergi, dia sempat menjatuhkan sesuatu. Amine langsung mengambilnya. Dia mendapatkan sebuah kunci mobil seperti miliknya.

__ADS_1


"Darimana kau mendapatkan kunci ini?" tanya Amine.


"Kenapa aku harus menjawab pertanyaan mu itu? Tidak perlu kau tahu kunci siapa ini." Amine memberitahu Adlar jika kunci mobil itu miliknya. Jika memang kunci mobil itu milik Amine, kenapa kunci itu bisa tertinggal di rumah sakit?


"Apa Ishla yang menggunakan mobilmu untuk pergi ke rumah sakit?" tanya Adlar.


"Rumah sakit? Untuk apa putriku pergi kesana?" Amine menghubungi Selma untuk memastikan jika Ishla ada di rumah. Setelah menerima kabar, Amine sedikit terkejut karena Ishla pergi dengan menggunakan mobilnya. Itu berarti benar, kunci mobil itu miliknya. Amine mencoba untuk menghubungi ponsel Ishla, tapi tidak tersambung.


"Kau dimana sayang? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Adlar melihat kekhawatiran di wajah Amine.


"Bagaimana jika kita mencari Ishla bersama?" ucap Adlar.


"Tidak perlu, aku bisa mencari putriku sendiri." Amine pergi untuk mencari Ishla, sedangkan Adlar dia tidak tinggal diam. Dia mengikuti mobil Amine dari belakang.


\*\*\*


Ethan sudah sampai di depan rumah Amine. Dia memiliki dendam pada Amine setelah apa yang dia lakukan padanya. Siang itu, kebetulan rumah Amine kosong dari penjagaan, membuat Ethan dengan mudah masuk ke dalam.


Tok... Tok... Tok...


"Maaf, kau cari siapa?" tanya Selma.


Tidak banyak bicara, Ethan langsung menerobos masuk ke dalam.


"Hey! Apa yang akan kau lakukan? Tolong... Selma berteriak minta tolong, tapi tidak ada satupun penjaga yang datang. Ethan mengambil tali dan sebuah kain. Dia mengikat tubuh Selma dan menutup mulutnya dengan kain. Ethan dengan bebas bisa mencari rekaman CCTV itu. Dia pergi ke setiap ruangan, dan mengacak-acak semua barang yang ada di rumah itu. Selma berusaha untuk meraih ponsel yang ada di saku bajunya. Dengan susah payah, Selma berhasil mendapatkan ponsel itu dan mencoba untuk menelepon Amine, tapi dia tidak menjawabnya. Usaha Selma tidak sampai disitu, dia menulis pesan pada Zafer yang isinya, 'Tolong aku !'


\*\*\*


Setelah mengantar ibunya dan Ashika ke rumah sakit, Zafer kembali bekerja. Dalam perjalanan ponselnya berbunyi. Saat dilihat ternyata sebuah pesan dari Selma. 'Tolong aku !' isi pesannya membuat Zafer sangat terkejut. Dia langsung menancap gas mobilnya dan kembali ke rumah besar itu. Sesampainya disana, Zafer melihat pintu rumah yang terbuka. Saat masuk ke dalam, dia melihat Selma yang terikat dan mulutnya tertutup kain.


"Apa kau tidak apa-apa, bi?" tanya Zafer.


"Aku tidak apa-apa, nak. Terima kasih sudah menolongku." Selma memberitahu jika ada penyusup yang masuk dan memberantakan semuanya. Zafer pergi untuk melihat penyusup itu, sedangkan Selma pergi ke dapur untuk membawa barang yang bisa digunakan untuk memukul orang itu.


"Siapa kau?" tanya Zafer.


Ethan tidak bisa lagi menghindar. Dia sudah tertangkap basah. Saat membalikkan badannya, Zafer sangat terkejut.


"Ethan? Jadi... Kau yang melakukan ini semua?" Ethan langsung menyerang Zafer dan mencoba untuk melarikan diri. Tetapi beruntungnya, ada Selma yang memukul kepala Ethan dari belakang dengan wajan. Ethan langsung pingsan tak sadarkan diri. Selma sangat takut jika Ethan ternyata mati. Dia tidak ingin masuk penjara karena sudah melakukan tindak kejahatan pada Ethan.


"Bagaimana jika dia mati? Aku sangat takut...


Zafer tertawa melihat tingkah lucu bibi Selma saat ketakutan.

__ADS_1


"Kau tenang saja, bi. Dia hanya pingsan. Kau tadi terlalu keras memukulnya." Zafer tertawa geli. "Darimana bibi mendapatkan ide seperti itu?"


"Aku sering melihatnya di TV, jika sedang dalam keadaan darurat, kita boleh mengambil benda apapun untuk melindungi diri kita." ucap Selma tertunduk malu.


__ADS_2