CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
SALING MENGUNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Amine memberitahu Keenan jika dia akan datang terlambat karena masih ada beberapa pertemuan lagi dengan kliennya. Saat Amine di ruangannya, datang seorang pria menemuinya. Dia adalah William seorang mata-mata suruhan Amine. Semenjak kejadian itu, Amine menyuruh penjaga untuk lebih memperketat lagi keamanan rumahnya, juga memerintahkan orang untuk mencari keberadaan Ethan.


"Bagaimana Will? Informasi apa yang kau dapat?" tanya Amine.


"Kemarin malam aku melihat Ethan datang menemui keluarganya, nyonya."


"Lalu?" William memberitahu Amine jika Azizah dan cucunya, Aiyla terlibat dalam masalah ini, mereka mencoba menyembunyikan Ethan dari polisi. Sudah lama Ethan di dalam, tidak lama dia pergi dengan mobil lamanya.


"Apa kau tahu kemana dia pergi?" tanya Amine penasaran.


"Ini dia alamatnya, nyonya!" Will memberikan sebuah kertas yang bertuliskan alamat. "Dia tinggal di rumah Azizah yang sudah lama tidak ditempati."


"Apakah Adlar tahu dimana putranya itu berada?"


"Sepertinya tidak, saat Ethan masuk, tidak lama Adlar pergi meninggalkan rumah. Aku pikir dia tidak terlibat dalam masalah ini, nyonya." Saat mereka sedang berbincang, Celine datang dan memberitahu Amine jika semua orang sudah berkumpul di ruang rapat. "Terus kabari aku tentang informasi terbarunya! Oh iya, jangan sampai Ethan lolos dari pengintaian mu!"


\*\*\*


Malam itu, Aiyla melihat mobil Adlar yang sudah terparkir di depan kantornya. "Untuk apa ayah disini?" ucapnya dalam hati. Tidak lama Adlar membuka kaca mobilnya dan menyuruh putrinya itu untuk masuk.


"Kenapa ayah menjemput ku?" Adlar langsung menjalankan mobilnya. "Ada yang ingin ayah tanyakan padamu." Aiyla merasa ada yang aneh dengan sikap ayahnya. Dia terlihat sedikit dingin berbeda dari biasanya. Adlar mengajak Aiyla ke sebuah restoran untuk makan malam. Sementara itu, Ishla baru saja membersihkan tubuhnya lalu turun menemui Keenan. Saat menuruni anak tangga, Ishla melihat beberapa foto yang terpampang disana.


"Itu foto saat aku kuliah, nak." ucap Keenan yang muncul entah dari mana. Keenan mengambil foto itu dan menunjukkannya pada Ishla.


"Ini ibumu saat masih kuliah dulu,"


"Benarkah? Dia sangat berbeda sampai aku tidak mengenalinya, paman." ucap Ishla dengan polosnya. Setiap foto yang Ishla lihat, Keenan selalu berdiri didekat Amine. Dia terlihat begitu bahagia.


"Kenapa kau selalu didekat ibu, paman? Apa kalian pernah pacaran saat kuliah dulu?" tanya Ishla.


Keenan memberitahu Ishla jika Amine adalah cinta pertamanya. Dia bukan hanya sahabat, tetapi juga cinta dalam hidupnya.


"Kenapa paman tidak memberitahu ibu sebelumnya tentang ini?"


"Aku sudah didahului oleh orang lain, nak. Saat aku akan memberitahu semua ini, ibumu telah bersanding dengan yang lain."


"Apa paman sudah menikah?"


"Belum,"


"Kenapa? Apa karena paman sampai saat ini masih mencintai ibu?"


"Sudahlah, kenapa kita harus membahas hal yang sudah berlalu?" Keenan pergi ke ruang kerjanya, sedangkan Ishla dia masih melihat-lihat foto itu. Ishla melihat cinta yang begitu besar dalam diri Keenan pada ibunya. Walau semua itu tidak pernah terucap, tapi Ishla bisa melihat itu dari sikap Keenan yang begitu perhatian dan juga tatapan matanya yang begitu dalam pada Amine. "Jika memang kisah cinta ini belum usai, aku sendiri yang akan menyatukan mereka. Aku pastikan paman Keenan mendapatkan cinta sejatinya."


\*\*\*


Saat sedang menikmati makan malamnya, Aiyla tersedak dengan pertanyaan ayahnya.


"Dimana kakakmu berada?"


"Kakak?" Aiyla sejenak diam, dia ingat pesan neneknya untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaan Ethan, termasuk ayahnya sendiri.


"Apa yang harus aku katakan pada ayah?" kata Aiyla dalam hatinya.


"Kenapa kau diam saja?"


"Aku tidak tahu, ayah. Tadi malam, aku merasa sangat ngantuk jadi aku pergi ke kamarku lebih dulu. Aku tidak tahu kemana kakak pergi, aku juga tidak bertanya pada nenek."


"Apa ayah bisa memegang ucapanmu itu?"


"Tentu saja," Aiyla merasa tidak enak dengan ayahnya. Dia terpaksa harus berbohong karena takut jika ayahnya itu benar-benar melaporkan Ethan ke kantor polisi. Dia tidak ingin kakaknya itu kembali mendekam dipenjara. Sementara itu, selesai bekerja Amine tidak langsung pergi ke rumah Keenan, dia pergi menuju kediaman Diaz. Tiba disana, Azizah langsung menyambutnya seakan tahu apa tujuan Amine datang ke rumahnya. Azizah meminta pelayan untuk membuatkan minuman untuknya juga Amine.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang?" tanya Azizah.


"Biarkan aku menikmati minumannya dulu, kenapa harus terburu-buru seperti itu?" ucap Amine tersenyum lebar.


"Bagaimana dengan kabar cucumu, Ethan?"


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah, tidak perlu bersikap seolah kau tidak tahu apa-apa." Amine memberitahu Azizah jika dia tahu semuanya. Bahkan, saat Ethan datang ke rumahnya kemarin malam. Saat mereka masih berbincang, Adlar dan Aiyla datang. Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Amine di rumahnya.


"Sedang apa kau disini?" tanya Aiyla.


"Tidak bisakah kau bertanya sedikit lebih sopan padaku?"


"Untuk apa aku bersikap sopan padamu? Kau hanyalah seorang perempuan yang sudah membuat keluarga ini hancur!" Amine langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia memperingatkan semua orang untuk menjauhi kehidupannya, terutama kehidupan putrinya.


"Siapa juga yang tertarik dengan kehidupan putrimu itu, nyonya ?" ucap Aiyla dengan angkuhnya. "Lagi pula, tidak ada untungnya kami berhubungan dengan mu, ataupun putrimu."


"Ethan! Dua hari yang lalu saat dia kabur dari penjara, dia langsung menemui putriku." jelas Amine.


"Untuk apa Ethan menemui Ishla?" tanya Adlar.


"Dia mengikat putriku dalam sebuah gubuk di dalam hutan. Apa kau tahu apa yang dilakukan laki-laki pengecut itu? Dia mencoba membakar putriku hidup-hidup!"


Semua orang terkejut mendengar perkataan Amine.


"Apa kau punya bukti untuk tuduhanmu itu?" tanya Aiyla.


"Tentu saja, dan untuk masalah satu ini aku tidak akan melibatkan polisi. Kalian tenang saja, karena akan aku pastikan Ethan aman dari kejaran polisi. Tapi tidak dari genggamanku! Lihat saja apa yang aku lakukan pada anak itu!" Sebelum pergi, Amine sempat mendekat pada Aiyla dan menatapnya tajam. "Aku tahu bagaimana membuat dia keluar dari tempat persembunyiannya." Tidak lama Amine pergi meninggalkan kediaman Diaz. Dia bergegas menuju rumah Keenan untuk menjemput putrinya. Adlar sangat tidak tahan lagi dengan perilaku Ethan yang semakin menjadi-jadi.


"Kau sembunyikan dia dimana ibu?" tanya Adlar dengan sedikit emosi.


"Aku tidak tahu," ucap Azizah mencoba menutupi semuanya.


"Bagaimana ini, nek?"


"Sudah cukup! Masuklah ke kamarmu, jangan lagi menambah beban pikiranku!" bentak Azizah pada Aiyla.


Aiyla pergi ke kamarnya dengan wajah berkaca-kaca. Ini pertama kali Azizah membentaknya.


\*\*\*


Malam itu, Ishla sedang asyik menonton televisi sambil menunggu kedatangan ibunya. Tidak lama Keenan datang dan duduk bersamanya.


"Apa kau sering menonton film bersama ibumu?" tanya Keenan.


"Tidak paman, kami sama-sama sibuk dengan urusan pekerjaan."


"Bagaimana jika besok kita pergi menonton?" ajak Keenan pada Ishla.


"Baiklah, aku mau." Saat mereka menikmati filmnya, Amine datang dan langsung memeluk putrinya.


"Aku sangat merindukanmu, sayang."


"Aku juga sangat merindukan ibu,"


"Kalian sedang apa? tanya Amine.


"Kami sedang menonton film terbaru tahun ini, ibu."


Tidak lama pelayan datang untuk memberitahu jika makan malam sudah siap. Mereka pergi menuju meja makan. Saat makan, Ishla memberitahu ibunya jika Keenan pernah menyukainya saat kuliah dulu. Mendengar itu, Amine langsung menyudahi makannya. Dia merasa sudah kenyang dan pergi ke teras atas untuk mencari udara segar. Melihat sikap Amine, Keenan langsung menyusulnya. Setelah makan, Ishla penasaran dengan percakapan antara Keenan juga ibunya di teras atas. Dia pergi untuk mencari tahu sambil mengambil buah apel. Sementara itu, di teras atas udara terasa sangat dingin, angin berhembus begitu kencang. Keenan dengan cepat melepas jaketnya dan memasangkannya pada Amine.

__ADS_1


"Tidak perlu, kau bisa kedinginan nanti."


"Pakailah! Aku akan baik-baik saja." Amine dan Keenan membicarakan tentang masa-masa kuliah dulu. Mereka seorang sahabat yang sangat dekat. Amine tidak tahu jika Keenan pernah menaruh hati padanya.


"Kenapa kau tidak mengatakan semua itu sejak lama?" tanya Amine.


"Aku tidak memiliki keberanian untuk semua itu." Dulu, saat masih kuliah Keenan sedikit menghindar dari Amine karena kehidupan Amine yang bisa dibilang berkecukupan juga kedua orang tuanya adalah orang yang terpandang. Dia takut jika keluarga Amine menolak hubungan yang ada diantara mereka.


"Apa kau tidak pernah sedikitpun menyukaiku? tanya Keenan.


"Aku sangat menyukaimu, Keenan. Bahkan, aku berharap jika orang yang datang melamar ku adalah dirimu." Keenan sungguh terkejut dengan semua kebenaran itu.


"Benarkah?"


"Iya," Amine sangat sedih saat tahu ternyata orang tuanya sudah menyiapkan calon suami untuknya. Tidak lama setelah lamaran, mereka menikah. Semenjak itu, perlahan Amine menghilangkan semua perasaan yang ada untuk Keenan.


"Dimana suamimu sekarang ini? Apa dia sedang bertugas di luar negeri?"


"Kami sudah tidak bersama lagi,"


"Bagaimana itu bisa?"


"Ceritanya sangat panjang, setiap hari yang ku lalui bersama putriku tidaklah mudah, Keenan. Semua penuh dengan rintangan dan cobaan."


"Siapa nama suamimu?" tanya Keenan penasaran. Waktu Keenan datang melihat pernikahan Amine, dia tidak sempat melihat suaminya karena rasa sakit yang luar biasa membuatnya langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Adlar Diaz," Amine menunjukkan foto Adlar pada Keenan. "Pria ini... Aku bertemu dengannya tadi siang."


"Bagaimana bisa?" Keenan menceritakan pertemuannya dengan Adlar tadi siang. Anehnya lagi saat Ishla melihat ayahnya dia seperti menyimpan luka yang sangat mendalam. Bahkan dia sempat menangis di dalam mobil.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara Ishla dengan ayahnya?" Malam itu, Amine menceritakan semua detail tentang kehidupannya setelah Adlar meninggalkannya.


\*\*\*


Malam itu, Myra menghubungi Ishla untuk mengajaknya pergi menonton. Dia sepertinya sangat butuh hiburan. Pekerjaan yang ada di kantor membuatnya bosan juga penat. Ishla memiliki rencana yang sangat bagus. Besok adalah hari libur. Keenan sudah memesan dua tiket untuknya menonton. Di satu sisi Ishla akan pergi menonton bersama Myra, sedangkan satu tiket lagi dia akan berikan pada ibunya. Besok adalah hari yang akan sangat menyenangkan untuk Keenan dimana dia bisa menonton film hanya berdua dengan ibunya.


"Ide yang sangat cemerlang, Ishla. Tidak lama lagi, dua hati akan bersatu." ucapnya pada diri sendiri. Sudah kurang lebih dua jam, Ishla akhirnya menemui ibunya di teras atas. Mereka sedikit kaget dengan kehadiran Ishla yang tiba-tiba.


"Untuk apa kau kemari, sayang? Disini sangat dingin. Kau bisa sakit nanti."


"Kenapa kalian tidak menikah saja? Ibu sudah sendiri, dan paman Keenan belum menikah. Kalian pasangan yang sangat cocok." Amine dan Keenan saling menatap.


"Apa yang kau bicarakan ini, sudahlah masuk ke dalam!"


"Jika saja dulu ibu menikah dengan paman Keenan, mungkin aku tumbuh tidak seperti sekarang ini. Aku tidak harus memanggilnya paman, melainkan seorang ayah." Ishla sempat berkaca-kaca, tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum.


"Kemarilah!" pinta Keenan. Dia memeluk Ishla dengan penuh kasih sayang.


"Kau bisa memanggilku apapun yang kau suka," ucapnya. Amine meneteskan air mata melihat sikap baik Keenan pada putrinya. Keenan menghapus air mata Ishla, dia meyakinkan Ishla jika kapanpun dia membutuhkannya, Keenan akan selalu ada untuknya.


"Apa aku boleh menginap disini malam ini, ibu?" tanya Ishla.


"Tentu saja, ini sudah larut malam. Besok pagi kita akan pulang ke rumah."


"Oh iya, paman. Jangan lupa dua tiket untuk besok!" ucap Ishla bergegas pergi.


"Tiket apa?" tanya Amine. Keenan memberitahu Amine jika besok dia dan Ishla akan pergi menonton.


"Kalian akan menonton hanya berdua saja?" tanya Amine.


Keenan mengangguk mengiyakan. Dalam hatinya, Amine sedikit kesal karena mereka pergi tanpa mengajaknya.

__ADS_1


"Apa kau juga ingin ikut?" tanya Keenan.


"Tidak, aku masih memiliki janji dengan klien besok." Setelah pembicaraan itu selesai, mereka kembali masuk karena udara semakin dingin dan tidak baik untuk kesehatan.


__ADS_2