CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
TAK KUNJUNG DATANG


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Myra menghubungi ibunya untuk memberitahunya jika dia akan pulang terlambat karena masih banyak pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan hari itu juga. Saat ditelepon, Myra mendengar ibunya batuk-batuk. Dia sangat khawatir dengan kondisi ibunya. Saat bekerja, Myra hilang fokus karena terus teringat dengan ibunya. Ishla yang melihat Myra melamun datang menghampirinya.


"Ada apa? Aku lihat sejak tadi kau terus saja melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ishla.


"Tadi, aku bicara dengan ibuku ditelepon. Dia terdengar batuk-batuk. Aku takut jika penyakit ibuku kambuh kembali, sedangkan untuk saat ini aku belum bisa membelikannya obat." ucap Myra.


Malam itu juga Ishla menyuruh Myra untuk segera pulang. Dia harus memastikan jika keadaan ibunya baik-baik saja. Myra merasa tidak enak karena harus meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, tetapi Ishla terus saja memaksanya untuk segera pulang.


"Ini dia!" ucap Ishla sambil memberikan sejumlah uang pada Myra.


"Untuk apa uang ini?" tanya Myra.


"Pakai semua uang ini untuk membeli obat ibumu!"


"Tapi... uang ini sangat banyak. Aku takut jika tidak bisa mengembalikannya padamu."


"Tidak perlu kau kembalikan, ambil saja!"


Myra sangat berterimakasih pada Ishla, dia sudah sangat baik dengan memberikannya pekerjaaan. Dia segera pulang dan membeli obat untuk ibunya dengan uang yang diberikan Ishla.


\*\*\*


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ishla segera bersiap untuk pergi menemui Aiyaz di tempat biasa. Sementara itu, Aiyaz yang sedang dalam perjalanan tiba-tiba saja mendapat telepon dari orang yang tidak dikenal. Orang itu meminta sejumlah uang tebusan pada Aiyaz.


"Apa maksud semua ini? Kenapa mereka meminta uang tebusan padaku?" ucapnya.


Tidak lama akhirnya Aiyaz sampai di tempat biasa. Saat berjalan masuk, Aiyaz mendapat pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Saat dilihat, sebuah foto Aiyla dimana dia sedang disekap di sebuah tempat gelap.


"Aiyla?" ucapnya.


Aiyaz mencoba menghubungi orang itu kembali.


Tut... Tut... Tut...


"Sial! Kenapa mereka tidak mengangkatnya?" Aiyaz kembali masuk ke mobilnya dan pergi untuk mencaritahu keberadaan Aiyla. Tidak lama Aiyaz pergi, taksi yang ditumpangi Ishla baru saja tiba. Saat berjalan masuk, Ishla mencari-cari keberadaan Aiyaz. Saat ditanya pada pelayan yang ada disana, ternyata Aiyaz belum memesan tempat. Ishla pergi memilih tempat yang nyaman untuknya nanti berbincang dengan Aiyaz. Di tengah perjalanan, Aiyaz mendapat pesan dari orang tidak dikenal itu yang isinya, 'Jika kau ingin dia selamat, bawa uang tebusan sebesar 100 juta ! Orang itu mengirim pesan kembali tempat dimana mereka menyekap Aiyla. Aiyaz langsung pergi kesana dengan membawa uang tebusan itu. Sedangkan Ishla, sudah satu jam dia menunggu tapi Aiyaz belum terlihat juga.


\*\*\*


Aiyaz sudah tiba di alamat yang dikirim orang itu. Saat masuk ke dalam, semua terlihat sangat gelap. Tidak ada satupun lampu yang menerangi. Aiyaz berjalan dengan menggunakan lampu senter yang ada di ponselnya. Dia mendengar sesuatu dari salah satu ruangan. Saat dilihat, ruangan itu ternyata terkunci.


"Siapa di dalam?" teriak Aiyaz.


Suara itu semakin keras, dia yakin jika Aiyla disekap dalam ruangan itu. Aiyaz mencoba mendobrak pintu ruangan itu, tapi belum berhasil. Saat Aiyaz mencoba membuka pintu itu, seseorang memukul Aiyaz dari belakang sampai dia pingsan.


\*\*\*


Malam itu, Amine sangat merindukan putrinya. Dia menghubungi Ishla untuk berbincang dengannya.


"Halo Ibu! Apa kau belum tidur?" tanya Ishla.


"Bagaimana ibu bisa tidur, kau saja tidak ada disini. Ibu terus saja memikirkan mu, sayang." ucap Amine.


Ishla mencoba menahan air matanya. Dia tidak bisa membohongi perasaannya jika dia juga sangat merindukannya. Saat Ishla sedang berbincang dengan Amine di telepon, seorang pelayan datang dan memberikan bebepa daftar menu makanan.


"Maaf, nona. Kau ingin pesan apa? tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Aku akan memesannya nanti, setelah temanku datang." ucap Ishla.


"Baiklah," pelayan itu langsung pergi dari hadapan Ishla.


"Kau dimana sayang?" tanya Amine.


"Aku memiliki janji dengan Aiyaz di tempat biasa, tapi sampai saat ini dia belum juga sampai. Aku sudah menghubungi ponselnya beberapa kali, tapi selalu di luar jangkauan." jelas Ishla.


Amine teringat kembali kejadian malam itu, dimana seseorang mencoba untuk mencelakakan Ishla saat akan bertemu dengan Aiyaz.


"Ini sudah sangat malam, tidak seharusnya kau menunggu Aiyaz disana. Apa ibu harus menjemputmu kesana?" tanya Amine.


"Tidak, ibu. Aku akan pulang naik taksi saja. Kalau begitu istirahatlah, sampai jumpa besok!"


"Sampai jumpa, sayang!"


Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 malam. Seorang pelayan datang dan memberitahu Ishla jika restoran itu akan segera tutup. Ishla langsung pergi dengan perasan kecewa. Tidak biasanya Aiyaz mengingkari janjinya seperti ini, kalaupun dia tidak jadi datang, dia selalu memberi kabar. Malam itu, Ishla tidak menemukan taksi satupun, akhirnya dia kembali ke hotel dengan berjalan kaki.


\*\*\*


Saat Aiyaz bangun, dia ternyata sudah ada di kamarnya. Dia memegang leher yang masih sakit karena pukulan tadi malam.


"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Aiyaz heran. Dia masih ingat dengan jelas jika semalam dia berada di sebuah bangunan tua untuk menolong Aiyla. Saat turun ke bawah, disana sudah ada Aiyla yang sedang menyiapkan sarapan untuk Aiyaz.


"Selamat pagi," ucap Aiyla.


"Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau disekap semalam?" tanya Aiyaz.


Aiyla bingung dengan pertanyaan Aiyaz. Sejak tadi malam, Aiyla ada di rumah dan baik-baik saja. Dia bahkan tidur lebih awal karena merasa sangat lelah.


Saat sarapan, Aiyaz masih mengingat kejadian malam tadi. Dia memberitahu Aiyla jika seseorang tak dikenal menghubunginya dan meminta uang tebusan 100 juta. Awalnya Aiyaz tidak menganggap serius tapi, saat orang itu mengirim sebuah foto dimana Aiyla sedang disekap saat itulah Aiyaz mulai percaya. Mendengar perkataan Aiyaz, Aiyla malah tertawa. Dia mengganggap Aiyaz sedang mengada-ada dengan semua ceritanya itu. Aiyaz mencoba untuk menunjukkan foto Aiyla saat disekap, tapi foto itu sudah tidak ada di ponselnya.


"Kenapa foto itu bisa hilang begitu saja di ponselku?" tanya Aiyaz.


"Foto apa yang kau maksud?" tanya Aiyla.


"Foto saat kau sedang disekap."


Aiyaz sangat yakin jika itu bukanlah mimpi buruk. Dia pasti sudah dijebak oleh seseorang, cepat atau lambat Aiyaz akan tau siapa dalang dibalik semua ini.


\*\*\*


Pagi itu Myra sudah lebih awal tiba di kantor. Dia melihat sudah ada Amine di ruangan Ishla.


"Selamat pagi, nyonya." sapa Myra sopan.


"Selamat pagi," ucap Amine.


Amine sengaja datang untuk membawa sarapan yang dia buat khusus untuk putrinya. Sebelum Ishla datang, Amine sempat menanyakan soal Aiyaz pada Myra.


"Apa kau tau kemana Ishla pergi tadi malam?" tanya Amine.


"Aku tidak tau nyonya, tapi...


Myra sempat memberitahu Amine tentang pertengkaran Ishla dengan laki-laki bernama Aiyaz. Dia datang marah-marah kerana Ishla sudah menolak kerja sama yang diajukan perusahaannya. Ditambah lagi laki-laki itu datang dengan seorang perempuan seumuran Ishla.

__ADS_1


"Siapa gadis itu?" tanya Amine.


"Kalau tidak salah, namanya Aiyla." ucap Myra.


Saat mereka sedang berbincang, Ishla akhirnya tiba.


"Selamat pagi," ucap Myra.


"Selamat pagi,"


Ishla berjalan seperti menahan rasa sakit.


"Kenapa dengan kakimu, nak?" tanya Amine.


"Tidak apa-apa, ibu."


Amine melihat kaki Ishla yang lecet dan sedikit bengkak.


"Lihatlah! Kakimu bengkak seperti itu, kau bilang baik-baik saja? Ayo kita pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakimu itu!"


"Ibu, jangan berlebihan seperti ini. Aku sudah bilang jika aku baik-baik saja, tidak perlu kita pergi ke rumah sakit." ucap Ishla.


Amine memberikan sarapan yang sudah dia buat pada Ishla. Kebetulan, dihotel Ishla belum sempat memesan makanan. Saat di buka, dari wanginya saja sudah sangat menggiurkan. Ishla mengajak Myra untuk makan bersama.


"Makanannya sangat lezat, nyonya." ucap Myra.


"Terima kasih,"


Amine sangat senang akhirnya bisa melihat kembali senyum yang ada diwajah putrinya.


Selesai makan, Myra kembali bekerja menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda kemarin malam. Sedangkan Ishla, dia bersiap untuk presentasi pagi ini.


"Apa Aiyaz datang semalam?" Pertanyaan Amine membuat Ishla terdiam sejenak. Dia tidak mengatakan apapun. Dari sikap yang ditunjukkan putrinya, Amine yakin jika Aiyaz tidak datang tadi malam.


"Kenapa kau diam saja? Apa Aiyaz tidak datang?" tanya Amine kembali.


"Tidak ibu, dia tidak datang."


"Lalu, kenapa kakimu bisa bengkak seperti itu?" tanya Amine.


Ishla memberitahu Amine jika semalam dia menunggu Aiyaz sampai tempat itu tutup. Dia tidak mendapat taksi satupun, akhirnya dia pulang dengan berjalan kaki. Mendengar pernyataan putrinya, Amine merasa sudah cukup. Dia tidak perlu lagi bertanya banyak tentang Aiyaz, karena semua itu akan membuat Ishla kembali bersedih. Setelah menemui Ishla, Amine tidak langsung pergi ke kantor. Dia meminta sopir untuk mengantarnya menemui Aiyaz.


Tiba disana, Amine langsung pergi menemui Aiyaz. Dia merasa sangat marah karena sudah mengingkari janjinya pada Ishla.


"Selamat datang, nyonya." ucap Aiyaz.


"Kenapa kau mengingkari janjimu pada putriku?" tanya Amine.


Amine memberitahu Aiyaz, jika Ishla menunggunya sampai larut malam. Dia harus pulang dengan berjalan kaki karena tidak mendapatkan taksi. Akibat dari semua itu, sekarang ini kaki Ishla lecet dan bengkak.


"Benarkah? Aku sungguh minta maaf nyonya. Semalam...


"Sudahlah! Aku tidak ingin mendengar penjelasan darimu. Apa kau tidak bisa lebih menghargai perasaan putriku? Dia baru saja merasakan luka dengan kebenaran tentang ayah kandungnya, dan sekarang kau mengingkari janji yang sudah kau buat sendiri, laki-laki seperti apa kau ini? Sangat tidak menghargai wanita! Kau sangat tidak cocok untuk putriku!" ucap Amine sambil bergegas pergi.


Di ruangannya, Aiyaz terlihat sangat marah pada dirinya sendiri. Dia tidak tau kenapa dia bisa lupa dengan janji yang sudah dia buat dengan Ishla? Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya. Tapi bagaimanapun, Ishla harus tau apa yang telah terjadi padanya tadi malam. Aiyaz merasa hubungannya dengan Ishla mulai renggang, dia tidak ingin kejadian tadi malam membuat Ishla beranggapan jika dia sudah mengingkari janjinya. Aiyaz harus mengklarifikasi semuanya. Dia tidak ingin hubungannya dengan Ishla semakin renggang.

__ADS_1


__ADS_2