CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MENGUNGKIT MASA LALU


__ADS_3

Saat Amine tiba di rumah, dia pergi menemui Ishla di kamarnya.


"Ibu? Kau sudah kembali?"


"Baru saja, apakah teman-temanmu sudah pulang?"


"Mereka sudah pulang, kau tahu? Aiyaz juga datang dan kami berbincang bersama." Amine melihat sebuah benda yang ada di atas tempat tidur Ishla.


"Apa itu?" tanya Amine.


"Aghna dan Ashika yang memberikannya untukku." Ishla meminta Amine untuk membuka kado itu. Saat dibuka, sebuah lukisan dimana ada foto Ishla dan Aiyaz saat berada di kota Cappadocia. Ishla ingat, saat di kota Cappadocia dia sempat mengambil foto berdua bersama Aiyaz ketika matahari akan tenggelam. Ishla menempel lukisan itu di kamarnya. Amine ikut senang melihatnya. Dia meminta Ishla untuk menutup matanya.


"Ada apa Ibu? Kenapa mataku harus ditutup?"


"Tutup saja matamu! Nanti kau akan melihatnya." Amine menghadapkan Ishla ke cermin dan memasangkan kalung di lehernya.


"Kau bisa membuka matamu!" ucap Amine.


Ishla melihat dalam cermin dirinya dengan kalung yang ada di lehernya.


"Kalung ini sangat indah, Ibu. Terimakasih." ucap Ishla memeluk ibunya.


"Sama-sama, sayang."


Aiyla terus menatap dirinya di cermin. Entah kenapa dia sangat bahagia mendapat sebuah kejutan dan kado dari Amine. Mereka baru saja bertemu satu kali, tapi rasanya ada ketulusan yang Aiyla rasakan dari Amine yang berbeda dengan ketulusan yang diberikan semua orang di rumahnya. Adlar datang dan melihat putrinya yang sedang duduk di depan cermin.


"Ada apa? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"


"Aku masih tidak percaya dia datang dan memberikan semua ini untukku, padahal aku bukan siapa-siapa baginya. Tapi, dia memberikanku hal sebesar ini."


"Itu berarti, kau beruntung bisa bertemu orang sepertinya." Aiyla berkhayal jika saja dia memiliki ibu seperti Amine pasti akan sangat bahagia.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Adlar.


"Aku sedang berfikir, beruntung sekali suami dan anak yang bisa memiliki seorang ibu sekaligus istri seperti dia." Adlar terdiam, semua perkataan Aiyla memang benar. Saat masih bersama Amine, dia melakukan segala hal untuk bisa membuat Adlar senang. Dia juga sangat pandai mengurus rumah dan keuangan keluarga. Dia melakukan semua hal sendiri, tanpa ada kata lelah yang keluar dari mulutnya, dia simpan dan rasakan itu semua seorang diri. Adlar sangat menyesal sudah meninggalkan Amine saat itu, dia sudah kehilangan perempuan yang sangat dicintainya.


Sesampainya di rumah, Aghna merasa heran kenapa Aiyaz tidak memberikan kotak itu pada Ishla, padahal tadi itu kesempatan yang baik untuk bisa berbincang dengannya berdua.


"Apa kau sedang berfikir kenapa aku tidak memberikan kotak itu pada Ishla?" Aghna terkejut saat Aiyaz bisa menebak isi kepalanya.


"Kotak itu hilang, entah kemana."


"Bagaimana bisa?" Aiyaz menceritakan jika kotaknya itu hilang di ruang kerjanya. Di sempat menaruh kotak itu di atas mejanya, setelah meeting kotak itu sudah hilang entah kemana.

__ADS_1


"Apa ada orang yang masuk ke ruangan mu, dan mengambil kotak itu?" ucap Aghna.


"Aku tidak tahu, tapi saat aku kembali sudah ada Aiyla di ruangan ku." Aghna mencurigai Aiyla sebagai pencurinya. Tidak ada yang berani masuk ke ruangan Aiyaz kecuali Aiyla. Dia melihat kotak itu dan menyembunyikannya. Mungkin... Dia berfikir kotak itu untuknya, tapi saat tahu kotak itu untuk Ishla, bisa saja Aiyla membuangnya. Dia tidak pernah suka jika Aiyaz dekat dengan Ishla.


"Kau kenapa?" Aghna tersadar dari lamunannya.


"Tidak apa-apa." Aghna tidak akan memberitahu Aiyaz apa yang ada dalam pikirannya, dia tidak bisa mencuriga Aiyla begitu saja, dia harus menemukan bukti jika Aiyla yang sudah mengambil kotak itu.



Sekembalinya Adlar dari kamar Aiyla, dia merasa sangat lelah, dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Saat akan memejamkan mata, Nilam datang dan marah-marah pada Adlar.


"Kenapa kau diam saja melihat perempuan itu datang ke rumah ini? Oh... apa jangan-jangan kau yang sengaja mengundangnya kemari?"


"Aku ingin istirahat, kita bisa membicarakannya besok."


"Tidak bisa, harga diriku seperti sudah diinjak-injak olehnya! Kau diam saja saat perempuan itu memasangkan kalung pada Aiyla. Dimana harga diriku sebagai seorang Ibu? Aiyla adalah putriku, hanya aku yang berhak atas dirinya."


"Sudah cukup!" teriak Adlar. "Kau harusnya lihat dirimu sendiri! Apa kau ini sudah menjadi ibu yang baik atau belum? Jika belum, jangan salahkan putrimu jika dia lebih nyaman dengan orang lain." Adlar pergi sambil membanting pintu kamarnya.


"Awas saja kau Amine! Aku tidak akan membiarkanmu merebut suami dan putriku."



"Maaf, Nyonya. Kau mencari siapa?" tanya Selma.


"Dimana Amine?"


"Ada keperluan apa kau mencarinya?"


"Amine... Amine... Keluarlah! Aku ingin bertemu denganmu!" Selma mencoba menahan Nilam untuk masuk. Tidak lama, Amine datang.


"Ada apa ini? Kenapa kau berteriak di rumahku seperti ini?" Amine menyuruh Selma untuk kembali ke dapur. Amine sedikit khawatir jika Ishla tiba-tiba saja muncul, Nilam akan tahu jika Ishla adalah putrinya.


"Apa kau tidak punya sopan santun saat bertamu ke rumah orang?"


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Kedatanganku kemari, ingin memperingatkanmu untuk tidak menemui suami dan putriku. Jika aku masih melihatmu bertemu mereka, aku akan membuat perhitungan padamu!" Amine tertawa mendengar perkataan Nilam.


"Apa aku takut dengan ancamanmu itu? Tidak! Saat kau mengatakan seperti itu, semakin aku akan lebih jauh lagi bertidak. Aku akan membuat orang-orang di sekelilingmu membencimu, terutama putri kesayanganmu." Sudah habis kesabaran Nilam, dia akan menampar wajah Amine, tetapi Amine berhasil menahannya.


"Ingat! Kau berada di rumahku sekarang ini. Aku bisa saja memberitahu media perbuatanmu ini dan menayangkannya di surat kabar. Saat itu juga, kau akan kehilangan nama baikmu."


Nilam mengingatkan Amine jika dia bukanlah saingan yang tepat, Nilam mengungkit masa lalu Amine sebagai seorang wanita penghibur. Dia sudah berhadapan dengan orang yang salah. Sebelum Adlar menikah dengan Amine, dia sudah dijodohkan oleh Azizah dengan Nilam. Tapi entah apa yang sudah meracuni pikiran Adlar sampai-sampai dia lebih memilih Amine dari pada Nilam. Dia tidak tinggal diam, dia dan Azizah mencari cara untuk membuat Adlar meninggalkan Amine dan menceraikannya. Nilam sangat senang jika akhirnya rencananya itu berhasil. Adlar menikah dengannya dan menceraikan Amine. Dia memiliki keluarga baru yang sangat bahagia, dengan dikaruniai dua orang anak.

__ADS_1


"Apa kau sudah cukup? Silahkan keluar dari rumahku!"


"Hahaha, kenapa sekarang kau diam saja? Bukankah tadi kau mengancam ku?"


"Sudah cukup kau menghancurkan pernikahanku dengan Adlar! Kau tidak bisa lagi menginjak-injak harga diriku. Aku akan membalas rasa sakit ini, bagaimanapun caranya." Nilam melangkah pergi. Amine terlihat sangat kesal. Dia menahan rasa sakit hatinya selama ini. Amine sedikit terkejut saat melihat Ishla yang tiba-tiba muncul. Tanpa Amine ketahui, sejak tadi Ishla berada disana dan mendengar pembicaraannya dengan Nilam.


"Aku mendengar semuanya, Ibu. Tidak ada lagi yang bisa kau tutup-tutupi dariku." Perkataan Ishla membuat Amine tercengang.


"Maafkan, Ibu. Ibu tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu. Ibu tidak ingin kau malu memiliki seorang Ibu sepertiku, semua orang akan mempermalukan mu jika tahu kau putri dari seorang wanita penghibur."


"Untuk apa aku malu, Ibu? Aku bangga memiliki seorang Ibu hebat sepertimu. Setelah aku berjalan nanti, aku berjanji akan membalas semua orang yang telah menyakitimu di masa lalu."



Pagi itu, Ethan pergi menemui Kemal. Sampai saat ini dia belum juga memberikan mobil itu padanya. Kebetulan pagi itu Zafer berada di rumah. Dia akan mengantar Ashika ke kampus. Kemal menyambut baik kedatangan Ethan. Dia meminta Bahar untuk menyajikannya segelas teh dan makanan. Ethan tidak bisa berlama-lama lagi, dia langsung meminta mobil itu pada Kemal.


"Dimana mobilku? Aku menginginkan mobil itu sekarang juga!" Sifat buruk Ethan akhirnya terungkap. Dia tidak sebaik apa yang Kemal pikirkan.


"Maaf, Tuan. Mobil itu sudah kau berikan padaku, mana mungkin kau mau mengambilnya kembali?"


"Kenapa tidak? Itu mobilku, dan aku menginginkannya kembali."


Saat dalam perjalanan, Ashika meminta Zafer untuk kembali. Dia meninggalkan tugasnya di atas lemari dekat kamarnya. Tugas itu harus diserahkan sekarang juga. Zafer langsung memutar balik mobilnya. Tiba disana, Zafer melihat sudah ada mobil Ethan yang terparkir di depan rumahnya.


"Untuk apa dia kemari?" ucapnya.


Ethan tidak bisa menunggu, dia sempat mengancam Kemal akan menghancurkan bengkel miliknya. Bukan hanya itu, dia juga akan membuat Kemal menyesal karena sudah bermain-main dengannya.


"Hey! Berani sekali kau mengancam suamiku di rumahku sendiri." Zafer dan Ashika langsung masuk.


"Ada apa ini?" tanya Zafer.


Pandangan Ethan tertuju pada Ashika. Dia bisa menggunakan Ashika sebagai alat untuk mendapatkan mobil itu. Sebelum pergi, Ethan sempat membisikkan sesuatu pada Kemal, "Pikirkan putrimu! Aku bisa saja melakukan hal buruk padanya." Kemal terlihat sangat marah. Kemal mengepalkan tangannya dan...


Buk!!! Satu pukulan keras berlabuh di wajah Ethan.


"Kau? Berani sekali kau...


"Pergilah dari sini! Jangan perlihatkan wajahmu lagi disini." Bahar mencoba menenangkan Kemal.


"Ingat ini anak muda! Sedikitpun kau menyentuh putriku, kau akan merasakan akibatnya." Ashika berlindung di belakang Zafer. Dia sangat takut melihat tatapan mata Ethan.


"Aku sangat takut, Kakak. Bagaimana jika dia...

__ADS_1


"Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam. Aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan pria manapun mendekati mu."


__ADS_2