CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
RENCANA PERNIKAHAN GLAN DAN ISHLA


__ADS_3

Malam itu, Myra datang ke rumah Ishla ditemani ibunya. Tiba disana, mereka disambut dengan baik oleh Amine. Di ruang tengah, sudah ada Keenan dan Glan. Tidak lama, Ishla datang dan ikut duduk bersama mereka.


"Apa kabar nyonya Amine?" tanya Leah.


"Aku baik, nyonya. Bagaimana dengan usahamu?" tanya Amine balik.


"Berjalan dengan baik, nyonya. Terima kasih jika bukan karena kebaikan hatimu juga Ishla, mungkin aku tidak bisa melangkah sejauh ini."


"Jangan mengatakan seperti itu, nyonya. Aku sangat senang bisa membantumu juga putrimu. Ishla sendiri sudah menganggap Myra sebagai saudara kandungnya sendiri." Amine memberitahu Leah jika Amine sedang pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, dia selalu meminta Myra untuk menemani Ishla. Semenjak kehadiran Myra, Ishla tidak pernah lagi sendiri, dia tidak akan kesepian karena selalu ada Myra yang selalu menemaninya. Tidak lama Selma datang dan memberitahu Amine jika makan malam sudah siap.


"Baiklah, karena makan malamnya sudah siap, bagaimana jika kita makan malam bersama, setelah itu baru membicarakan tentang pernikahan Glan dan Ishla?"


"Aku setuju, mari kita pergi ke meja makan!" ucap Keenan.


Sementara itu, Will masih menunggu Azizah keluar dari rumah itu. "Apa Azizah akan menginap di rumah itu?" ucapnya. Tidak lama sebuah mobil keluar. Saat dilihat, ternyata di dalam mobil itu ada Azizah. Saat akan mengikuti Azizah dari belakang, Will melihat ada mobil lain yang keluar dari rumah itu. "Apa itu mobil Ethan? Tapi, akan pergi kemana dia?" ucapnya. Will langsung mengikuti mobil mereka dari belakang.


\*\*\*


Malam itu, Aiyla dan Aiyaz sedang memilih tempat untuk acara pernikahannya.


"Bagaimana dengan tempat yang ini?" tanya Aiyla sambil menunjukkan gambarnya.


"Terserah kau saja, aku yakin semua yang kau pilihkan untuk pernikahan kita, itu pasti yang terbaik," ucap Aiyaz.


"Menurutmu, kapan pernikahan kita digelar?" tanya Aiyla. Mendengar hal itu, rasanya Aiyaz tidak ingin mengatakan apapun, dirinya masih sangat sulit untuk bisa menerima semua kenyataan ini. Jika dari awal dia menolak pemintaan Adlar, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, tapi apalah daya saat nasi sudah menjadi bubur. Lamunan Aiyaz seketika kabur. "Lebih cepat lebih baik, Aiy. Kau cari saja waktunya!" Aiyla tersenyum lebar, dia mengusulkan pada Aiyaz jika hari pernikahannya itu ingin digelar bersamaan dengan hari ulang tahunnya. Saat itu akan menjadi momen berharga dan tidak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Baginya pernikahannya nanti adalah sebuah kado terindah untuk ulang tahunnya.


"Bagaimana menurutmu? Apa kau menyetujuinya?" tanya Aiyla.


"Itu berarti... dalam satu Minggu lagi pernikahan kita akan digelar."


"Tepat sekali!" Aiyaz sempat terdiam, dia tidak ingin jika pernikahannya akan secepat itu, tapi jika dia menolaknya Aiyla akan curiga dan meragukan kesungguhannya itu untuk menikahinya.


"Baiklah, aku setuju," ucap Aiyaz.


"Terima kasih," ucap Aiyla sambil memeluk Aiyaz.


\*\*\*


Setelah makan malam selesai, Amine dan yang lain berkumpul di ruang tengah. Mereka mulai membicarakan tentang pernikahan Glan dan Ishla.


"Kapan rencana kalian untuk menikah?" tanya Keenan.


Glan dan Ishla saling menatap. Mereka merasa masih bingung dalam menetapkan tanggal pernikahannya.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Amine.


"Aku masih bingung ibu, coba tanyakan Glan saja!"


"Bagaimana saat tahun baru nanti?" ucap Glan.

__ADS_1


"Itu berarti kita masih memiliki waktu dua bulan lagi untuk mempersiapkan semua ini," ucap Keenan.


Glan memberitahu semua orang jika tepat satu hari setelah tahun baru, dia memiliki project penting di Dubai. Dia berniat untuk mengajak Ishla kesana bersamanya sekaligus untuk berbulan madu.


"Ide yang sangat brilian, nak. Aku sangat setuju dan mendukung keputusanmu itu," ucap Amine.


"Bagaimana denganmu, sayang?" tanya Keenan. Sebelum Ishla menjawabnya, Amine yang lebih dulu menjawabnya. Dia yakin putrinya itu pasti akan sangat setuju karena belakangan ini dia sempat mencaritahu banyak tentang kota Dubai, dia berniat untuk mengunjungi kota itu tahun baru nanti.


"Jadi... keputusan finalnya?"


"Kami akan menikah saat tahun baru nanti," ucap Ishla.


Semua orang memberi selamat pada Ishla dan Glan. Amine pergi ke dapur dan tidak lama membawa semacam manisan untuk merayakan semua itu.


"Kapan kau akan menyusul?" tanya Glan pada Myra.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..., Myra tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Glan.


"Minumlah dulu!" ucap Ishla sambil memberikan segelas air.


"Tolong carikan dia seorang laki-laki sepertimu, nak! Aku sudah tidak sabar ingin melihat putriku ini menikah," ucap Leah.


"Ibu, kau ini bicara apa? Aku bisa mencarinya sendiri, tidak perlu menyuruh Glan untuk mencarikannya, dia akan sangat sibuk karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang mempelai laki-laki," ucap Myra.


Semua orang tertawa mendengarnya. Ishla sempat memberitahu bibi Leah jika di kantor ada seorang pegawai yang menyukai Myra. Dia selalu mencuri-curi perhatian Myra sampai suatu ketika dia terjatuh saat akan menaiki anak tangga, karena tatapan laki-laki itu terus tertuju pada Myra.


"Jika kau melihatnya sendiri, kau juga pasti akan tertawa bibi," ucap Ishla sambil tertawa geli.


"Sudahlah ibu, itu hal konyol menurutku. Lagi pula, aku tidak menyukai laki-laki itu," ucap Myra yang tidak bisa menahan tawa saat mengingat kejadian itu.


\*\*\*


Setelah beberapa lama, akhirnya Will melihat kedua mobil itu berhenti di dermaga. "Untuk apa mereka di tempat ini?" ucapnya. Will melihat Azizah dan Ethan yang keluar dari mobil dan berjalan menuju kapal. Will langsung memotret kebersamaan mereka di atas kapal dan mengirimkannya pada Amine. Di atas kapal, sempat ada perbincangan diantara Azizah dengan Ethan yang tidak bisa Will dengar. "Apa yang sedang mereka bicarakan diatas sana? Kenapa kelihatannya sangat serius?" ucapnya. Kurang lebih satu jam Will menunggu, akhirnya Azizah dan Ethan kembali masuk ke dalam mobil lalu pergi. Will masih penasaran dengan apa yang dilakukan Azizah dan Ethan di akapl itu, dia turun untuk menyelidikinya. Tidak lama seorang laki-laki keluar dari dalam kapal, dan ternyata dia adalah pemilik kapal itu.


"Maaf tuan, aku ingin bertanya padamu, dua orang yang baru saja datang kemari apa mereka menyewa kapalmu untuk berlibur atau semacamnya?"


"Tidak tuan, mereka bukan menyewa kapal ini, tapi membelinya. Aku sempat mendengar jika mereka akan menggunakan kapal ini dua hari lagi untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh."


"Baiklah, tuan. Terima kasih atas informasinya," ucap Will.


Malam sudah mulai larut, Keenan dan Glan berpamitan pulang begitu juga dengan Mura dan ibunya.


"Terima kasih banyak nyonya, kau sudah mengundangku dan putriku ke rumahmu," ucap Leah.


"Aku akan senang jika kau sering datang kemari, nyonya." ucap Amine.


"Sampai jumpa," ucap Ishla.


"Sampai jumpa," jawab Myra.

__ADS_1


Ishla langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara itu, Amine melihat beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Saat dibuka, dia melihat ada beberapa kiriman foto dari Will. "Azizah dan Ethan berada disebuah kapal? Untuk apa?" ucapnya. Amine langsung menghubungi Will untuk mengetahui lebih banyak lagi informasi tentang mereka. Tidak lama Will menjawab teleponnya.


"Halo, Will! Informasi apa yang kau dapat?" tanya Amine.


"Aku tidak bisa memberitahunya melalui telepon, nyonya. Aku rasa kita harus bertemu untuk membicarakan semua ini," ucap Will.


"Kenapa dari nada bicaramu, kedengarannya ini sangat serius?" tanya Amine sedikit cemas.


"Sepertinya memang sangat serius nyonya," ucap Will.


"Baiklah, kau bisa datang ke rumahku malam ini juga," ucap Amine.


"Baik, nyonya. Aku akan segera datang menemuimu," ucap Will sambil berlari ke arah mobilnya. Saat melihat kedatangan Will, Amine langsung membawanya ke ruang kerja dan bicara disana. Tidak lama Selma datang dengan membawa secangkir teh dengan beberapa manisan. Melihat manisan yang ada di depannya, Will langsung mencicipinya.


"Jika aku boleh tahu, ada acara apa kau membuat manisan seperti ini, nyonya?" tanya Will.


Amine memberitahu Will tentang pernikahan Ishla bersama Glan yang akan digelar dua bulan lagi, tepatnya saat tahun baru nanti. Will ikut senang mendengarnya, dia memberikan do'a terbaiknya untuk pernikahan Ishla dan Glan. Setelah selesai mencicipi manisannya, wajah Will berubah menjadi sedikit serius.


"Ada apa?" tanya Amine.


Will menceritakan semua yang dia lihat sejak di rumah Ethan sampai kepergian Azizah bersama Ethan ke dermaga.


\*\*\*


Saat tengah malam, Ishla terbangun dan melihat lampu di ruang kerja ibunya masih menyala. Dia pergi untuk memeriksanya.


"Ibu?"


"Ishla? Untuk apa kau kemari, sayang?"


"Aku tidak bisa tidur, karena itu malam ini aku ingin tidur denganmu," ucap Ishla. "Kenapa ibu belum tidur? Apa ibu masih bekerja?"


"Tidak sayang, ibu baru saja selesai dan akan pergi tidur. Amine merasa lega karena Will sudah pergi dari rumahnya. Jika Ishla melihat Will dia akan bertanya banyak tentangnya. Amine mengajak Ishla ke kamarnya. Setelah tidur dalam pangkuan Amine, Ishla baru bisa tidur nyenyak. Amine tidak bisa membayangkan jika putri kecilnya itu sudah tumbuh besar dan tidak akan lama lagi akan pergi dengan laki-laki yang dia pilih untuk menjadi suaminya. Jika Ishla tidak ada sejak dulu, mungkin Amine tidak akan bisa bangkit dari semua kesedihan yang dia rasakan. Ishla adalah permata berharga dalam hidupnya, kekuatan bagi jiwa dan raganya.


\*\*\*


Pagi itu, sebuah kiriman paket datang ke rumah Amine. Saat dibuka ternyata sebuah surat undangan pernikahan. Di depan surat itu tertulis Aiyla Shahinaz Diaz dengan Aiyaz Diaz.


"Siapa yang datang, sayang?" tanya Amine yang muncul dari belakang. Ishla menunjukkan surat undangan itu pada ibunya.


"Oh.. kapan tanggal pernikahannya?"


"Satu Minggu lagi ibu, bertepatan dengan tanggal ulang tahun Aiyla yang ke 24 tahun." Ishla memberitahu Amine jika tanggal ulang tahun Aiyla sama dengan tanggal ulang tahunnya. Ishla meminta ibunya untuk menghadiri pernikan itu, Ishla akan mencari kado terindah untuk pernikahan Aiyla juga Aiyaz.


Pagi itu, Will menghubungi Amine jika dia sudah ada di depan rumahnya. Tidak lama Amine pergi bersama Will ke dermaga. Saat dalam perjalanan, Will merasa curiga dengan mobil yang ada dibelakangnya.


"Ada apa Will?" tanya Amine.


"Aku curiga dengan mobil hitam di belakang kita, nyonya. Sejak tadi sepertinya mobil itu mengikuti kita,"

__ADS_1


"Kau benar Will, putar balik mobilnya sekarang juga!" pinta Amine.


Untuk mengelabui mobil itu, Amine meminta Will untuk mengantarnya ke kantor. Benar saja, saat mobil Will menuju ke arah kantor, mobil hitam itu tidak terlihat lagi di belakang. Amine meminta penjaga untuk membawakan mobil kantor. Saat mobil itu datang, Amine meminta Will untuk segera masuk dan pergi menuju dermaga dengan mobil itu.


__ADS_2