
Selesai makan malam, Nilam mencari Adlar di ruang kerjanya.
"Dimana dia?" ucapnya. Nilam pergi menemui Aiyla di kamarnya. Aiyla saat itu sedang asyik dengan ponselnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, nak?" tanya Nilam.
"Aku sedang menonton acara ini, Ibu." Aiyla menunjukkan ponselnya.
"Apa itu?" tanya Nilam penasaran.
"Ini acara peresmian perusahan baru milik Amine Laraz, semua pemilik perusahaan besar diundang ke acara itu, termasuk Aiyaz." Nilam langsung bisa menebak jika Adlar pergi ke acara itu. Nilam meminta alamat tempat itu pada Aiyla, dan bergegas pergi. Sementara itu, Adlar sudah tiba disana. Terlihat tempat itu dijaga dengan sangat ketat, di dekat pintu masuk saja sudah ada beberapa orang yang berjaga disana. Saat akan melangkah masuk, seorang penjaga meminta Adlar untuk menunjukkan kartu undangannya.
"Aku tidak memiliki kartu undangannya, tapi aku pastikan jika pemilik perusahaan ini sangat mengenalku. Jadi, tolong biarkan aku masuk!" pinta Adlar.
"Maaf, Tuan. Aku tidak peduli hubungan apa yang kau punya dengan pemilik perusahaan ini, yang pasti jika kau ingin masuk, kau harus menunjukkan kartu undangan terlebih dahulu." Adlar terus mencari cara untuk bisa masuk ke dalam. Sedangkan di dalam, seorang jurnalis mulai menanyakan beberapa hal pada Ishla.
"Apa kau putri satu-satunya dari nyonya Amine Laraz? Apa ada putri yang lain?" tanya jurnalis itu.
"Aku putri satu-satunya, tidak ada yang lain." jawab Ishla.
"Apa ayahmu juga datang, nona Ishla?" Saat mendengar kata ayah, senyum yang sempat ada diwajah Ishla langsung menghilang. Ishla terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya jurnalis itu. Ishla berusaha untuk tetap tersenyum apapun yang terjadi. Amine tidak bisa melihat Ishla bersedih seperti itu, walau Ishla tidak bereaksi apapun, tapi dari raut wajahnya dia terlihat sangat tertekan dengan pertanyaan itu.
"Sudah cukup!" ucap Amine. "Aku yang akan menjawab semua pertanyaan itu, tidak perlu kau menanyakannya pada putriku!" Ishla tidak peduli dengan pembelaan yang dibuat Amine untuknya, dia sudah menyetujui dengan semua pertanyaan yang akan diberikan padanya. Mau tidak mau, Ishla harus bisa menjawabnya.
"Aku tidak pernah tahu siapa ayahku, dimana dia, karena selama 27 tahun ini aku hanya tinggal bersama ibuku, tidak ada sosok seorang ayah dalam hidupku." Semua orang di ruangan itu dibuat terkejut dengan perkataan Ishla. Dengan berbesar hati, Ishla siap untuk menceritakan kehidupan masa kecilnya di hadapan semua orang.
Dulu, saat usiaku menginjak 7 tahun, Ibu memasukkan ke sekolah. Di sana aku memiliki banyak teman. Saat tanggal 12 November, guruku mengatakan jika itu adalah hari ayah nasional. Dia meminta semua anak muridnya untuk menuliskan tentang ayah mereka. Semua temanku sudah menyelesaikannya, tetapi aku tidak mengumpulkan sampai akhirnya guruku memanggilku, dan bertanya kenapa kamu tidak mengumpulkannya? Aku dengan sangat polosnya hanya bisa mengatakan, ayahku sedang tidak ada, jadi aku bingung harus menulis apa tentangnya. Waktu terus berjalan, ketika aku menginjak usia 17 tahun, aku mulai mempertanyakan siapa ayahku? Dimana dia? Kenapa dia tidak pernah datang untuk menemuiku? Aku sempat berpikir, apa aku ini putri yang tidak diinginkan, atau apa? Semua orang di ruangan itu meneteskan air mata mendengar cerita masa kecil Ishla.
__ADS_1
"Apa kau tidak pernah bertanya pada ibumu, siapa ayah kandung mu?" tanya salah satu wartawan.
"Aku sempat bertanya pada ibuku, tapi sekarang tidak lagi. Pertanyaan itu, membuat perasaan ibuku terluka karena harus mengingat kenyataan pahit di masa lalunya." Saat semua orang hanya fokus pada Ishla, salah satu dari tamu undangan melihat ada pertengkaran yang terjadi di luar. Dia pergi untuk melihatnya.
"Ada apa ini?" tanya tamu undangan itu. "Tuan Adlar? Kenapa kalian tidak membiarkan dia untuk masuk?" Orang itu ternyata salah satu rekan kerja Adlar.
"Maaf, Tuan. Kami hanya menjalankan tugas, orang yang bisa masuk hanya yang memiliki kartu undangan saja, sedangkan dia tidak memilikinya." ucap penjaga itu.
"Biarkan dia masuk! Aku yang akan menjadi jaminannya."
"Baiklah, tuan. Silahkan!" Adlar duduk di kursi paling belakang. Dia sedikit terkejut ketika tahu ada Ishla dalam acara penting itu.
"Untuk apa dia ada disini?" ucapnya. Orang disebelah Adlar memberitahunya jika perusahaan baru milik Amine Laraz diberikan pada Ishla. Perusahaan itu diberi nama IDL Company, dan Ishla pemilik sekaligus pemimpin perusahaan itu.
"Benarkah?" Adlar sangat terkejut mendengarnya.
"Tentu saja, Amine Laraz memberikan semua itu sebagai hadiah yang sangat spesial untuk putrinya."
"Putrinya?" Adlar sempat tertawa mendengarnya. "Apa yang kalian maksud adalah putri dari kerabatnya?"
"Apa kau sedang mengada-ada?" tanya Adlar masih tidak percaya.
"Untuk apa aku melakukan semua itu? Baru saja Amine Laraz sendiri yang memberitahunya, jika Ishla itu adalah putri satu-satunya." Setelah mendengar semua itu, dada Adlar rasanya sangat sesak. Di depan, Ishla masih mencoba menjawab pertanyaan yang masih ditujukan padanya.
"Apa kau merindukan ayahmu?" tanya jurnalis itu kembali.
"Ayah... Mendengar Ishla mengatakan hal itu, Adlar langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Dimana ayahku berada, aku sangat yakin jika dia sangat bahagia dengan keluarga barunya. Tentang aku merindukan dia atau tidak, entahlah. Aku sangat iri pada kalian semua yang memiliki seorang ayah. Cinta, kasih sayang, perhatian, kebersamaan, kalian bisa rasakan itu semua dari seorang ayah. Tapi aku, hidupku tidak seberuntung kalian!"
Acara bahagia itu seakan berubah menjadi derai air mata yang Ishla berikan untuk semua orang. Tidak sampai disitu, jurnalis itu kembali menanyakan hal yang membuat Ishla sangat sulit untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Apa kau membenci ayahmu karena sudah meninggalkanmu juga ibumu?"
"Ibuku tidak mengajarkanku tentang kebencian, dia tidak pernah membuatku membenci ayahku sendiri. Dia hanya mengajariku tentang rasa cinta, bukan benci." ucap Ishla. Adlar yang mendengar semua penjelasan putrinya itu tidak bisa menahan air matanya. Dia ingin sekali memeluk dan menciumnya. Amine melihat Ishla sudah sangat terpukul, dia maju ke depan untuk membawa Ishla pergi darisana.
"Tunggu sebentar nyonya! Aku berjanji, ini pertanyaan terkahir yang aku ajukan untuk putrimu."
"Sudah cukup! Kau tidak bisa meneruskan lagi semua ini!"
"Tanyakan saja! Aku pasti akan menjawabnya." pinta Ishla pada jurnalis itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Amine.
"Suruh mereka untuk bertanya lebih banyak lagi!" Amine tidak paham apa yang sebenarnya Ishla katakan.
"Apa kau ingin ayahmu kembali? Jika ayahmu ada di depanmu saat ini, apa yang ingin kau katakan?"
"Aku tidak ingin ayahku kembali, walau sebenarnya hati kecilku sangat menginginkan dia kembali dan berkumpul bersama aku dan ibu, aku sangat memimpikan hari itu, dimana aku memiliki keluarga yang utuh. Tapi... Aku tidak ingin putri diluar sana memiliki nasib yang sama denganku. Jika aku memaksa ayahku untuk kembali, itu berarti dia harus meninggalkan keluarga juga putrinya. Aku tidak akan merebut seorang ayah dari putri lain, walau itu adalah ayah kandungku sendiri!" Begitu mulia hati Ishla bisa melakukan semua itu. Dia sangat berlapang dada dan ikhlas terhadap semua yang sudah terjadi dalam kehidupannya.
"Ayah... Aku sangat merindukanmu! Tetapi kau jangan khawatir, selama kau tidak ada di sampingku, ibu yang selalu ada untuk mengisi setiap ruang hampa dalam hidupku. Tapi aku sangat minta maaf, karena saat kau ingin kembali, aku tidak bisa dengan mudah menerimamu." Amine memeluk putrinya itu dengan sangat erat. Ishla menangis sejadi-jadinya, air mata yang sempat tertahan, akhirnya meluap juga. Selesai sudah acara malam itu, saat semua orang sudah pergi, pandangan Amine jauh ke depan. Dia melihat Adlar yang bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan ke arahnya.
"Adlar?" Amine sangat terkejut melihatnya. "Bagaimana mungkin dia ada disini?" Amine melihat Ishla masih menangis, dia tidak ingin Ishla lebih bersedih lagi saat mengetahui Adlar adalah ayah kandungnya. Amine meminta Zafer untuk membawa Ishla pulang lebih dulu. Adlar menatap Amine dengan kemarahan.
"Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Kenapa?" teriak Adlar.
"Jangan berteriak padaku seperti itu!" bentak Amine. "Apa yang harus aku katakan pada putriku? Apa aku harus mengatakan padanya, lihatlah nak! Dia adalah ayah kandungmu." ucap Amine sambil menunjuk wajah Adlar. Amine menceritakan semua kebenarannya.
Saat hari anniversary pernikahannya yang kedua, dia berencana untuk memberitahu Adlar tentang kehamilannya. Malam itu, dia menunggu Adlar sampai harus ketiduran di sofa, dan akhirnya pagi kembali menyapa. Saat tahu Adlar belum pulang, Amine mencari keberadaan Adlar di kantornya, dan sekretarisnya bilang Adlar sudah pergi ke Istanbul tiba-tiba karena ibunya jatuh sakit. Perjuangannya tidak sampai disitu, dia terus menunggu kedatangan Adlar kembali. Sampai setelah bayi kecilnya lahir, dia memutuskan untuk pergi ke Istanbul untuk menemui keluarga besar Adlar. Tetapi apa yang dia dapatkan, sebuah kenyataan pahit harus dia terima saat tahu Adlar ternyata sudah menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan darinya. Saat itulah, Amine memutuskan untuk menyembunyikan identitas putrinya dari siapapun. Di sisi lain, Nilam baru saja datang dan melihat tempat itu sudah sepi. Dia mencoba masuk ke dalam, dan mendengar orang sedang berbincang. Karena sangat penasaran, akhirnya Nilam berjalan menuruni anak tangga satu persatu untuk bisa melihat lebih jelas orang itu.
"Kenapa kau membohongiku dengan mengatakan jika Ishla itu putri dari kerabatmu? Padahal kenyataannya, Ishla adalah putri kandungku." Nilam sangat terkejut saat mengetahui orang itu adalah Amine dan Adlar. Dia menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Saat masuk ke dalam mobil, Nilam rasanya masih tidak percaya jika Ishla adalah putri Amine dan Adlar. Nilam mulai merasa gelisah jika nantinya Adlar lebih menyayangi Ishla daripada Aiyla. Dia takut jika suatu hari nanti Adlar akan kembali pada Amine dan mereka akan hidup bahagia.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi." ucap Nilam sambil menginjak gas mobilnya, lalu pergi. Di dalam ruangan, perdebatan Amine dan Adlar masih juga belum usai. Adlar meminta Amine untuk mempertemukannya dengan Ishla. Dia sangat ingin memeluk dan mencium putrinya itu. Bagaimanapun caranya, Ishla harus tahu jika Adlar adalah ayah kandungnya. Mendengar permintaan Adlar, Amine langsung menolaknya. Dia tidak akan membiarkan Adlar menemui Ishla dan menceritakan semuanya. Amine memperingatkan Adlar untuk menjauh dari kehidupan Ishla, karena dia tidak membutuhkan Adlar dalam hidupnya, jika Ishla mau, mungkin dia hanya ingin tahu siapa ayah kandungnya, tetapi tidak ada keinginan untuk bisa hidup bersamanya.
__ADS_1
"Kenapa denganmu? Apa kau tidak mengerti, jika aku ingin sekali memeluk putriku, aku sangat merindukannya."
"Kau merindukannya? Benarkah? Lalu, selama ini kau kemana saja?" Adlar terdiam mendengar pertanyaan Amine. Sebelum pergi, Amine sempat memperingatkan Adlar kembali, "Coba saja kau bicara padanya! Tapi jangan salahkan aku, jika putrimu sendiri tidak menginginkan mu!"