CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KEJUTAN UNTUK AIYLA


__ADS_3

Selesai kuliah, Ashika menunggu Aghna yang masih ada di dalam. Dia mencari di internet kado yang cocok untuk Ishla. Saat sedang memilih-milih, tidak lama Aghna muncul dari belakang.


"Maaf... Aku membuatmu menunggu lama."


"Tidak masalah."


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aghna.


"Aku sedang mencari kado untuk Ishla." Aghna memberitahu Ashika jika tadi Amine menghubunginya. Dia meminta mereka untuk menemani Ishla malam ini. Ashika sangat senang mendengarnya. Sudah lama dia tidak bertemu dengannya. Aghna membawa Ashika pergi mencari kado untuk ulang tahun Ishla.



Azizah, Nilam dan Ethan sedang berkumpul di ruangan.


"Bagaimana dengan mobilmu? Apa kau sudah mendapatkannya kembali?" tanya Azizah.


"Belum, Nenek. Aku masih mencobanya." Nilam memperingatkan Ethan jika dia harus segera mendapatkan mobil itu dan menghancurkannya. Itu satu-satunya bukti yang bisa menjerat dia ke dalam penjara. Saat mereka tengah berbincang, pelayan datang menemui Azizah.


"Maaf, Nyonya. Di luar ada polisi yang ingin bertemu denganmu." Mendengar nama polisi, wajah semua orang terlihat sangat panik, terutama Ethan. Dia terlihat sangat ketakutan.


"Ada apa mereka mencariku?" tanya Azizah.


"Mereka ingin bertanya padamu tentang sebuah kasus kecelakaan."


"Darimana polisi tahu jika aku ini...


"Ethan! Jaga bicaramu itu!" Azizah pergi untuk menemui polisi itu. Ethan sudah tidak bisa tenang lagi, semua badannya gemetar.


"Bagaimana ini, Ibu? Aku tidak ingin masuk penjara."


"Sudahlah diam! Kita lihat untuk apa polisi itu datang kemari."



Sore itu, Amine meminta Zafer untuk mengantarnya pergi membeli kado. Dalam perjalanan Zafer bertanya tentang rencana Amine untuk menjebak Ethan. Untuk saat ini, Amine belum memikirkan apapun. Dia sangat sibuk memikirkan ulang tahun Ishla. Amine tiba di sebuah toko perhiasan. Dia memilih sebuah kalung untuk Ishla. Dia menemukan kalung yang sangat cocok dengannya. Sebuah kalung berbentuk potongan hati. Amine teringat dengan Aiyla, dia juga membelikan kalung dengan bentuk yang sama dengan Ishla. Bukan hanya itu, Amine juga membeli sebuah kue ulang tahun yang berukuran cukup besar untuk Aiyla. Dia akan membuat sedikit kekacauan di rumah besar itu.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan disana!" ucapnya.



Azizah menyuruh polisi itu untuk masuk. Nilam menyuruh Ethan untuk segera pergi ke kamarnya.


"Jangan turun sebelum kondisi kembali aman!" ucap Nilam.


Kedatangan polisi ke kediaman Diaz untuk menanyakan sebuah kasus kecelakaan yang terjadi pada Giorgino tadi malam. Kecelakaan Giorgino disebabkan karena rem motornya yang tidak berfungsi saat akan melakukan balap liar. Temannya bilang, kecelakaan Giorgino ada hubungannya dengan Ethan Diaz, mereka beranggapan jika Ethan yang melakukan semua itu karena mereka musuh bebuyutan.


"Kalian tidak bisa menuduh tanpa ada bukti." Polisi memberikan sebuah bukti berupa jaket yang ditemukan di lokasi kejadian. Ada yang mengatakan jika itu jaket milik Ethan. Nilam melihat jaket itu dengan teliti, itu memang jaket milik Ethan yang baru saja dia beli satu minggu yang lalu. Azizah menjelaskan pada polisi tidak mungkin jika cucunya, Ethan melakukan hal seperti itu. Azizah tidak ingin masalah ini berlarut-larut, dia meminta Nilam untuk membawa Ethan menghadap polisi sekarang juga.


"Tapi Ibu...


"Sudahlah, panggil saja dia!" Nilam pergi memanggil Ethan di kamarnya. Saat itu, Ethan terlihat sangat gelisah. Dia dibuat terkejut saat Nilam mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa Ibu? Apa polisi itu sudah pergi?" tanya Ethan.


"Pergilah ke bawah dan temui polisi itu! Tenangkan dirimu dulu! Jangan sampai sikapmu ini membuat mereka curiga."


"Tapi Ibu...


"Ayolah, mereka sudah menunggumu di bawah." Malam itu, Adlar baru saja tiba di rumah. Dia terkejut saat melihat polisi ada di rumahnya.


"Ada apa ini, Ibu?" tanya Adlar.


"Hanya kesalahpahaman saja, Adlar. Duduklah!" Tidak lama Ethan dan Nilam turun. Polisi meminta Ethan untuk ikut bersamanya ke kantor.


"Kenapa putraku harus ikut ke kantor?" tanya Nilam.


"Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan pada putramu." ucap polisi itu.


"Kau bisa menanyakannya disini, tidak perlu membawanya ke kantor." ucap Nilam.


Polisi hanya menjalankan tugas, setelah selesai Ethan akan terbebas dari semua tuduhan jika memang benar dia tidak bersalah.


"Kau yakin kau tidak bersalah, Nak? tanya Adlar pada Ethan.


"Aku yakin ayah, aku tidak melakukan hal itu. Percayalah...


"Baiklah, ayo kita pergi! Ayah akan menemanimu ke kantor polisi." Akhirnya Ethan bersedia untuk diminta kesaksiannya di kantor polisi. Nilam terlihat sangat khawatir, dia tidak bisa diam saja. Dia harus menyusul Ethan ke kantor polisi.


"Kau mau kemana?" tanya Azizah.

__ADS_1


"Aku akan pergi ke kantor polisi, Ibu."


"Tetaplah di rumah! Biar Adlar yang akan mengurus semuanya."



Malam itu, Ishla sedang bersantai di kamarnya. Dia sedang asyik membaca buku.


Tok... Tok... Tok...


"Masuklah!"


"Permisi, Nona. Di luar ada yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?"


"Kau bisa melihatnya sendiri."


Selma membantu Ishla duduk di kursi rodanya dan membawanya ke luar. Disana sudah ada Aghna dan Ashika yang telah menunggunya.


"Kalian...


"Kejutan... Ashika dan Aghna memeluk Ishla.


"Aku sangat merindukanmu, sudah beberapa minggu ini aku tidak mengunjungimu." ucap Ashika.


"Oh, Iya... Selamat ulang tahun Ishla... Semoga semua mimpimu tercapai. Dan yang paling aku tunggu bisa melihatmu berjalan kembali." ucap Ashika


"Terimakasih."


"Ini kado untukmu dari kami berdua!" Aghna memberikan sebuah benda berukuran lumayan besar berbentuk persegi panjang. Benda itu masih tertutup rapat.


"Terimakasih. Jika kalian ingin datang, datang saja. Tidak perlu membawa sesuatu seperti ini."


"Sudahlah, ini adalah hari ulang tahunmu. Mana mungkin kami datang dengan tangan kosong, Iya kan?" ucap Aghna pada Ashika.


"Iya, lagi pula kan ini acaranya satu tahun sekali."


Ishla menyuruh Selma menyimpan benda itu di kamarnya. Dia mengajak kedua temannya ke meja makan.



"Selamat malam."


"Selamat malam."


"Kenapa tidak memberitahuku jika kau akan datang kemari?" tanya Aiyaz.


"Maafkan aku, ini rencana ku dengan Ashika. Lalu, kenapa kau ada disini?" tanya Aghna. Ishla mempersilakan Aiyaz duduk dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Banyak sekali perbincangan seru yang dibicarakan mereka di meja makan.



Setibanya di rumah, Aiyla tidak melihat ada perayaan apapun. Rumah terlihat sangat sepi. Dia pergi menemui ibunya di ruangan. Azizah menyadari kedatangan Aiyla dan menyambutnya.


"Selamat datang, sayang."


"Terimakasih, Nenek." Sudah dua jam lamanya, tapi Ethan dan Adlar belum juga kembali. Pikiran Nilam sudah kacau, dia takut jika Ethan dinyatakan bersalah.


"Ada apa? Kenapa wajah ibu kelihatan tegang sekali?"


"Polisi baru saja datang dan membawa kakakmu."


"Apa? Pernyataan Nilam membuat Aiyla sangat terkejut.


"Tapi kau tenang saja, ayahmu ada bersamanya." ucap Azizah sedikit menenangkan Aiyla.


Aiyla sangat sedih dan kecewa dimana semua orang tidak ada yang ingat akan hari ulang tahunnya. Dia pergi ke kamarnya.


Mobil Amine berhenti di samping rumah Adlar. Saat akan turun, Amine melihat mobil Adlar yang baru saja masuk ke dalam. Nilam sangat senang akhirnya Ethan sudah kembali. Seorang pelayan memberi tahu jika makan malam sudah siap. Semua orang pergi ke meja makan.


"Dimana Aiyla?" tanya Adlar.


"Dia ada di kamarnya, biar aku yang akan panggilkan." Nilam pergi untuk memanggil Aiyla.


"Kenapa kau tidak turun? Makan malam sudah siap, ayo kita turun! Semua orang sudah menunggumu di bawah." Tidak ada jawaban sama sekali dari Aiyla. Sikap Aiyla membuat Nilam sedikit marah.


"Apa kau tidak mendengar perkataan Ibu?"


"Aku tidak lapar." Nilam menarik tangan Aiyla dan membawanya pergi ke bawah.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku! Aku bukan lagi anak kecil yang bisa ibu suruh sesukanya." Teriakan Aiyla sampai ke telinga semua orang. Adlar pergi untuk melihatnya.


"Ada apa ini?"


Aiyla melangkah pergi ke luar rumah, tapi Ethan berhasil menghentikan langkahnya.


"Tunggu! Kau mau kemana?"


"Lepaskan aku!" Saat Amine akan masuk dia mendengar pertengkaran yang terjadi di dalam.


"Aku benci kalian semua! Hari ini adalah hari ulang tahunku, tapi apa ada diantara kalian yang mengingatnya? Tidak! Kalian semua egois, kalian hanya memikirkan perasaan kalian sendiri." Semua terkejut mendengar perkataan Aiyla.


"Tanggal berapa sekarang?" tanya Adlar.


"29 November." Adlar terlihat sangat kesal. Bagaimana mungkin dia lupa dengan hari ulang tahun putrinya. Adlar mendekati Aiyla untuk memeluknya, tapi...


"Jangan dekati aku!" Saat Aiyla akan pergi keluar, tiba-tiba...


"Selamat ulang tahun, Aiyla." Semua terkejut melihat kedatangan Amine di kediaman Diaz. Amine berdiri tepat dihadapan Aiyla dan membawakannya sebuah kue ulang tahun. Aiyla sangat terharu, kejutan yang tidak dia dapatkan dari keluarganya, harus dia dapatkan dari orang lain. Amine menyuruh Aiyla untuk meniup lilinnya. Aiyla masih tidak percaya dengan kejutan yang dibuat Amine untuknya.


"Selamat ulang tahun."


"Terimakasih." Amine sangat senang melihat wajah mereka semua kesal.


"Bagaimana kau tahu jika ini adalah hari ulang tahunku?" tanya Aiyla.


Amine memberikan kartu nama milik Aiyla. Dia ingat jika kartu itu pernah dia berikan saat ingin menumpang mobil Amine.


"Apa-apaan ini? Kenapa kau datang kesini?" tanya Nilam. Aiyla terkejut saat mengetahui ibunya ternyata mengenal Amine.


"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Aiyla heran.


"Mana mungkin kami saling mengenal. Ini pertama kali kami bertemu. Tetapi mungkin saja kami pernah bertemu di masa lalu, tapi aku sudah lupa itu." Nilam tidak banyak bicara, dia langsung menepis kue yang dibawa Amine dan membuatnya jatuh ke lantai.


"Ibu! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau sengaja menjatuhkan kue itu?"


"Ibu tidak suka jika ada orang tidak kenal memberikan sesuatu padamu, bisa saja dia memberikan racun didalam kue itu. Kita tidak pernah tahu, bukan?"


"Apa kau selalu berpikiran buruk terhadap orang lain, Nyonya? Untuk apa aku menaruh racun dalam kue itu? Jika mau, aku bisa saja melenyapkan putrimu saat pertama bertemu."


"Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nilam. Aiyla memberitahu semua orang jika Amine pernah membantunya saat mobilnya mogok. Dia memberi tumpangan pada Aiyla. Jika saat itu tidak ada Amine, mungkin Aiyla sudah kehilangan pekerjaannya.


"Kenapa kau tidak memberitahu Ibu?"


"Apa peduli Ibu? Kau selalu saja sibuk dengan urusanmu sendiri." Aiyla mempersilahkan Amine masuk. Dia mengajaknya untuk makan malam bersama. Awalnya Nilam tidak menyetujuinya, tetapi Azizah membiarkannya, dia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang Amine rencanakan di rumahnya. Di meja makan, terdapat perbincangan antara Aiyla dan Amine. Mereka terlihat sangat akrab.


"Bagaimana makanannya? Apa kau menyukainya?" tanya Aiyla.


"Aku menyukainya, makanannya saat enak." Aiyla memperkenalkan keluarganya pada Amine.


"Oh iya kakak, apa saja yang polisi tanyakan padamu?" Ethan tersedak saat mendengar pertanyaan Aiyla.


"Apa maksudmu?"


"Nenek bilang tadi polisi datang dan membawa mu."


"Apa yang terjadi? Kenapa polisi membawa Ethan?" ucap Amine dalam hatinya.


"Tidak perlu membicarakan hal itu disini, kita akan membahasnya nanti. Tidak perlu menceritakan apapun, kita sedang kedatangan tamu, jangan sampai dia tahu apa yang seharusnya tidak dia dengar di rumah ini." Amine menatap Azizah, ekspresi wajahnya menunjukkan jika dia sangat tidak menyukai keberadaannya disini. Nilam terlihat sangat kesal, dia memperhatikan Adlar yang sedari tadi terus memperhatikan Amine. Sebelum pergi, Amine sempat memberikan sebuah kado pada Aiyla di hadapan semua orang.


"Apa ini?" tanya Aiyla.


"Aku membelikannya untukmu, semoga kau suka." Aiyla membuka kado itu, dia sangat terkejut saat tahu isinya adalah sebuah kalung berbentuk potongan hati. Aiyla meminta Amine untuk memasangkan kalung itu di lehernya.


"Terimakasih, kalung ini sangat indah. Aku sangat menyukainya."


"Apa-apaan ini? Berani sekali kau memberikan kalung murahan seperti itu pada putriku! Cepat lepaskan kalung itu sekarang juga! Ibu bisa membelikan kalung yang lebih bagus dari itu." Nilam terlihat sangat marah.


"Tidak, Ibu. Memang kenapa dengan kaung ini? Ini sangat indah."


"Biarkan saja dia memakainya, Nilam."


"Apa kau bilang...


"Terimakasih untuk makan malamnya, aku harus pergi." ucap Amine.


"Mari aku antarkan!" Suasana hati Aiyla berubah menjadi bahagia. Dia tidak menyangka kejutan yang dia inginkan akhirnya dia dapatkan, walaupun dari orang lain.


"Sampai jumpa."

__ADS_1


"Sampai jumpa."


__ADS_2