
Hari ini adalah hari terakhir Amine di London. Dia akan menandatangani surat kontrak kerja sama besar ini. Pagi itu, Amine sedang sarapan dengan asisten pribadinya, Celine. "Sebentar lagi kau akan mendapatkan kerja sama ini, nyonya." ucap Celin. "Aku sudah tidak sabar ingin menandatangani kontrak kerjasama ini, lalu kembali menemui putriku." Amine sempat melihat jam di tangannya, dia pikir seharusnya Tuan Syarief sudah datang, tapi semua di luar jadwal. "Bukankah seharusnya Tuan Syarief sudah datang?" tanya Amine pada Celine. "Memang seharusnya pukul 7 pagi ini, nyonya. Tapi aku baru mendapat kabar jika Tuan Syarief akan terlambat datang karena ada sedikit hambatan dalam perjalanannya." Amine sangat merindukan putrinya. Dia tahu jika saat ini adalah waktu makan siangnya. Amine menghubungi ponsel Ishla, tapi mati. "Kenapa ponselnya mati?" Sementara itu, Glan dan Myra sudah sampai di tempat itu. Mereka melihat mobil Ishla yang terparkir di depan kafe. Myra masuk dan mencari keberadaan Ishla.
"Apa kau menemukannya?"
"Tidak, Glan." Myra mencoba bertanya pada pelayan disana, tapi sepertinya tempat itu bukanlah sebuah kafe melainkan sebuah tempat yang sengaja direkayasa menjadi kafe. Pelayan disana juga tidak mengenakan baju khusus untuk bekerja, melainkan baju yang biasa-biasa saja. Myra tidak peduli siapapun orang itu, mungkin saja dia melihat Ishla di kafe itu.
"Permisi, Mba. Apa kau melihat gadis yang ada difoto ini datang kemari?" tanya Myra sambil menunjukkan foto Ishla.
"Dua jam yang lalu dia datang kesini, tetapi tidak lama dia pergi lagi."
"Apa kau tahu dia pergi kemana?"
"Tidak, nyonya."
Di luar, Glan melihat jika ban mobil Ishla bocor. Sebelum mereka pergi, pelayan sempat memberitahu jika gadis itu menanyakan bengkel untuk memperbaiki ban mobilnya yang bocor, tetapi jarak bengkel sangat jauh dari sini. Akhirnya dia meminjam ponsel pelayan untuk menghubungi sopir di kantornya, karena ponselnya mati. Myra ingat jika semua sopir di kantor sedang ditugaskan di perusahaan lain. "Kemana Ishla pergi, Glan?" Saat mereka bingung mencari Ishla, tiba-tiba ponsel Myra berdering. Dia terkejut saat tahu jika yang menghubunginya itu adalah Amine. "Nyonya Amine menghubungiku Glan, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?" Myra terlihat sangat bingung.
"Katakan saja yang sebenarnya, Ra. Bagaimanapun juga dia adalah ibunya, dia harus tahu kebenarannya." Tidak lama Myra menjawab teleponnya.
"Halo Nyonya!"
"Apa Ishla bersamamu? Sejak tadi aku menghubunginya tapi ponselnya mati." Myra sempat lama menjawab pertanyaan Amine.
"Ada apa? Kenapa kau diam saja?" Myra menceritakan semuanya pada Amine. Sementara itu, Ishla terus berlari dari kejaran Ethan. Dia masuk ke dalam hutan. Ishla terlihat sangat ketakutan.
"Tolong..., teriak Ishla.
"Percuma saja kau berteriak, tidak akan ada orang yang akan menolongmu."
Ethan semakin kencang mengejar Ishla, dan akhirnya dia mendapatkannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" teriak Ishla.
Ethan membawa Ishla ke sebuah gubuk yang ada di hutan. Dia mengikat tangan dan kaki Ishla disana. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ishla.
"Kematian! Kau harus mati!" Ethan menatap Ishla dengan kebencian, dia begitu menderita di penjara, tidak ada seorangpun yang bisa mengunjunginya. Sekarang dia menjadi buronan polisi, wajahnya terpampang dimana-mana. Ethan melaksanakan semua ini untuk membalas dendam pada Ishla, dia sudah membuat hidupnya sangat menderita.
"Aku tidak pernah sekejam ini sebelumnya, tapi karena kau aku menjadi seperti ini. Kau dan ibumu sudah membuatku dan keluarga hancur!" Ethan pergi meninggalkan Ishla di tempat itu sendirian. Sebelum pergi, Ethan sempat menyumpal mulut Ishla dengan kain supaya dia tidak bisa berteriak minta tolong.
Di satu sisi, setelah mendengar semua cerita Myra, Amine langsung menyuruh Celine untuk memesan tiket kepulangannya menuju Istanbul. Tidak ada yang lebih penting dari apapun selain putrinya. Dengan segera Celine memesan dua tiket pesawat. Setelah dilihat, hari ini penerbangan menuju Istanbul sedang kosong. Mungkin akan ada hari besok. Amine sudah tidak sabar lagi ingin cepat kembali. Dia sangat menghawatirkan putrinya itu. Di dalam hotel, Amine meminta Celine untuk mencari penerbangan lain. Dia harus segera kembali hari ini juga.
"Maaf nyonya, sudah aku periksa tapi penerbangan menuju Istanbul tidak ada untuk hari ini."
"Tolong pikirkan cara lain! Ya Tuhan, tolong bantu aku ...
"Bagaimana dengan kontrak kerja samanya, nyonya? Apa kau akan membatalkannya begitu saja?"
"Tidak ada yang lebih penting daripada apapun di dunia ini selain putriku, Celine." Di lobi hotel, Amine tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. "Maaf, aku sedang terburu-buru." ucap Amine tanpa menatap orang itu. "Amine?"Langkah Amine terhenti saat mendengar pria itu menyebut namanya. "Siapa kau? Kenapa kau bisa tahu namaku?" Amine mulai memperhatikan wajah pria itu baik-baik. Wajahnya seperti tidak asing lagi baginya. Terlintas dalam pikiran Amine dimana dia pernah bersama orang itu saat kuliah. "Keenan Uzair?" ucap Amine dengan ragu. Pria itu tersenyum senang karena Amine masih mengingat dirinya. "Waw.. ternyata kau masih mengingatku nyonya Amine Laraz..
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik,"
"Apa kau selama ini tinggal di London?" Keenan merasa tidak enak berbincang dengan Amine di tempat umum seperti itu, dia mengajak Amine ke sebuah restoran yang ada disana untuk makan siang sekaligus berbincang. Saat Keenan menanyakan suatu hal pada Amine, dia terlihat seperti sedang gelisah.
"Kau kenapa?" tanya Keenan spontan memegang tangan Amine. Dia terhentak dan menarik tangannya dari Keenan.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu." Amine memberitahu Keenan jika dia harus secepatnya kembali ke Istanbul. Tapi semua penerbangan hari ini sedang tidak ada. Keenan langsung menawarkan tumpangannya pada Amine. Kebetulan dia ada pekerjaan di Istanbul dan akan berangkat siang ini, lagipula dia menggunakan pesawat pribadi miliknya.
"Jika kau mau, kau bisa ikut denganku." ucap Keenan. Mendengar hal itu rasanya Amine sangat lega. Dia kembali ke hotel untuk mengemas semua barangnya. Tidak lupa, Celine juga akan ikut bersamanya. Siang itu, pesawat menuju Istanbul pun lepas landas.
__ADS_1
\*\*\*
Hari sudah mulai gelap. Myra dan Glan masih menelusuri tempat itu untuk mencari Ishla. "Ishla... Kau dimana?" teriak Myra. Saat berjalan, Myra merasa seperti ada sesuatu yang terinjak. Saat dilihat, ternyata sebuah ponsel. "Glan, cepatlah kemari!" Myra menunjukkan ponsel milik Ishla yang sempat jatuh di dekat hutan itu. "Kemana sebenarnya Ishla? Kenapa ponselnya bisa terjatuh seperti ini?" Glan mengajak Myra untuk mencari Ishla ke dalam hutan sana.
Setelah mereka berjalan cukup jauh, Myra menemukan tas juga sepasang sepatu kerja Ishla disana. "Perasaanku tidak enak, Glan. Ishla pasti sedang dalam bahaya. Lihatlah! Semua barang miliknya bertebaran dimana-mana." Sementara itu, di gubuk tua Ishla berusaha untuk melepas ikatan itu dari tangan juga kakinya. Dia mencari benda tajam untuk membukanya. Di sudut gubuk tua itu, Ishla melihat sebuah kayu. Dia berusaha untuk menggapai kayu itu. Ishla mengetuk kayu itu beberapa kali dengan harapan ada orang yang bisa mendengarnya. Ishla mulai lelah, dia hanya bisa menunggu seseorang untuk datang menolongnya. Ishla mulai memejamkan matanya, sambil meneteskan air mata. Dia memanggil Amine dengan lirih, "Ibu... Tolong aku! Aku sangat takut disini,"
Sementara itu, Amine yang berada di pesawat seakan langsung bisa mendengar suara putrinya itu. Firasat seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah salah. Ikatan diantara keduanya sangatlah kuat, tidak ada yang bisa mengalahkan ikatan antara seorang ibu dan anaknya. Dia memegang dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit. "Kau kenapa, nyonya?" tanya Celine. "Aku baru saja mendengar jika putriku memanggil ku, dia sangat membutuhkanku, Celine. Dia sangat ketakutan sekarang ini. Dia sedang dalam bahaya, Celine...
Amine tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dia benar-benar bisa merasakan hal buruk yang menimpa putrinya. Tangisan Amine terdengar oleh Keenan. Dia datang dan menghampiri Amine. "Kau kenapa?" Celine menceritakan pada Keenan apa yang baru saja Amine rasakan terhadap putrinya. Keenan meminta Amine untuk tetap tenang, tidak lama lagi pesawat akan mendarat di bandara Istanbul.
\*\*\*
Hari sudah malam. Ishla yang saat itu tertidur langsung terperanjat bangun karena suara bunyi pintu yang di tutup dengan kencang. Saat dilihat, ternyata itu Ethan. Dia datang kembali dengan membawa banyak sekali kayu bakar. "Untuk apa semua kayu bakar itu?" ucap Ishla dalam hati. Ethan mulai menjejerkan kayu bakar itu di dekat Ishla. Setelah itu, Ethan pergi keluar, dan saat kembali dia membawa sebuah botol yang sudah terisi dengan cairan. Ethan mulai menabur cairan itu di sekitar Ishla. Saat bau itu mulai tercium, Ishla sangat terkejut jika yang Ethan tabur adalah cairan minyak. Ishla mencoba untuk memberontak, tapi mau bagaimana lagi kaki dan tangannya terikat kuat.
"Selamat tinggal!" ucap Ethan sambil melempar satu buah korek api ke dalam kayu itu. Dengan cepat api pun langsung menyebar. Malam itu, Myra sedang mengamati langit malam yang tidak secerah biasanya. Di melihat sebuah asap yang melambung di udara. "Glan, cobalah lihat! Ada asap yang timbul disana! Bagaimana jika kita pergi kesana untuk melihatnya? Siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk mengenai Ishla disana." Myra dan Glan bergegas kesana. Mereka melihat sebuah gubuk tua yang terbakar. "Siapa orang yang sudah membakar gubuk itu malam-malam seperti ini?" ucap Myra.
Di dalam sana, Ishla sudah sangat sesak karena asap itu. Tangan yang masih terikat menggapai kain yang ada di mulutnya. Akhirnya, Ishla bisa bernapas dengan lega.
"Tolong... Siapapun yang ada di luar sana, tolong aku...
Glan dan Myra saling menatap. "Ishla? Itu suara Ishla Glan, Dia ada di dalam gubuk itu!" Api itu semakin membesar. Tanpa banyak berpikir lagi, Glan masuk untuk menyelamatkan Ishla. Terlihat Ishla sudah tidak sadarkan diri, Glan langsung membawa Ishla keluar dari sana.
"Ishla, bangunlah!" ucap Myra sambil menangis.
"Kita harus segera membawa Ishla ke rumah sakit," ucap Glan.
"Bagaimana, Glan? Tidak ada satupun kendaraan melintas di jalan ini."
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyuruh orang untuk membawa mobilku kesini. Tidak lama lagi dia akan datang."
__ADS_1
Tidak lama menunggu, akhirnya orang suruhan Glan telah tiba. Mereka langsung membawa Ishla menuju rumah sakit.