CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
ETHAN KOMA


__ADS_3

Siang itu, Nilam datang menemui Amine di kantornya.


"Dimana Ethan?" tanya Nilam.


"Kenapa kau menanyakan Ethan padaku?" tanya Amine.


Nilam memberitahu Amine jika seseorang pernah melihat mobil Ethan terparkir di samping rumahnya dan setelah itu tidak ada lagi kabar darinya. Ponselnya juga sangat sulit dihubungi beberapa hari ini.


"Bagaimana jika memang Ethan ada bersamaku?" ucap Amine.


"Apa maksudmu?" tanya Nilam.


Amine langsung menghubungi Zafer dan memintanya untuk memperlihatkan keadaan Ethan sekarang ini.


"Lihatlah putra kesayanganmu ini!" ucap Amine sambil memperlihatkan ponselnya.


"Ethan?"


Amine tidak lama mematikan teleponnya. Dia sangat senang melihat Nilam yang begitu terpukul dengan keadaan putranya.


"Apa yang sudah kau lakukan pada putraku? Jawab aku!" teriak Nilam penuh amarah.


Amine memberitahu Nilam jika putranya itu datang dan mengacaukan semua isi rumahnya, bahkan dia sempat menyekap Selma, pelayan rumahnya. Dia yakin Ethan datang untuk mengambil rekaman CCTV itu darinya. Untung saja Zafer segera datang dan langsung membereskan semuanya.


"Cepat lepaskan putraku! Jika tidak, aku akan melaporkanmu pada polisi atas tindak kejahatan." ucap Nilam.


"Apa kau seberani itu? Silahkan saja! Tapi ingat, aku juga bisa berbuat lebih dari itu. Aku akan memberikan rekaman CCTV itu pada polisi, dan putramu akan dihukum dan dimasukkan ke dalam penjara." ucap Amine.


Mendengar semua itu Nilam tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak rela jika Amine melakukan semua itu pada Ethan, tapi dia juga tidak menginginkan rekaman CCTV itu jatuh ke tangan polisi. Bagaimanapun caranya, Nilam harus membawa Ethan keluar dari rumah itu, dan Adlar harus tahu semua ini.


***


Malam ini Ishla mengajak Myra dan ibunya pergi makan malam di luar. Mereka menghabiskan waktu bersama karena besok adalah hari libur. Tiba di restoran, mereka disambut oleh beberapa pelayan dengan diiringi alunan musik.


"Selamat datang nyonya Lea," ucap salah satu pelayan sambil memberi seikat bunga mawar yang sangat cantik untuknya.


"Apa semua ini?" tanya Lea bingung.


"Selamat ulang tahun, bibi." ucap Ishla.


Bibi Lea sangat terharu mendapat kejutan semanis itu. Myra yang kelihatannya biasa saja langsung teringat dengan hari ini.


"Tanggal berapa sekarang?" tanya Myra pada Ishla.


"15 Mei," ucap Ishla.


"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa dengan hari ulang tahun ibuku sendiri?" ucap Myra. "Ibu, maafkan aku...


Myra sangat sedih karena lupa akan hari ini. Dia belakangan ini sangat sibuk bekerja sampai tidak tahu jika hari ini adalah hari yang sangat berarti untuk ibunya.


"Sudahlah, ibu tidak apa-apa. Lagi pula ibu ini bukan anak kecil lagi," ucap bibi Lea.


Pelayan membawa mereka ke tempat yang sudah Ishla pesan sebelumnya. Tempat itu sangat indah dari atas terlihat pemandangan kota dan cahaya lampu yang berkilauan di sepanjang jalan. Myra dan ibunya sangat berterimakasih pada Ishla. Dia sudah berbuat begitu banyak untuknya. Ishla meminta pelayan untuk menghidangkan semua makanannya.


"Nak, banyak sekali makanannya. Semua ini pasti harganya sangat mahal bukan?" tanya bibi Lea.


"Sudahlah, bibi. Kau tidak perlu memikirkan semua ini. Kau dan Myra nikmati saja semua makanannya." ucap Ishla.


Sebelum makan, Myra sempat pergi ke toilet untuk membereskan pakaiannya yang sedikit berantakan. Kembalinya dari sana, Myra sempat bertanya pada pelayan yang ada disana.


"Maaf, apa kau tau gadis yang duduk disebelah sana?" tanya Myra sambil menunjuk ke arah Ishla.


Pelayan itu tertawa mendengar pertanyaan Myra.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu dengan pertanyaanku itu?" tanya Myra heran.


"Dia itu putri dari pemilik tempat ini," ucap si pelayan.


"Apa? Jadi, pemilik tempat ini adalah nyonya Amine Laraz?"


Pelayan itu mengangguk mengiyakan. Dia langsung pergi ke belakang untuk melakukan pekerjaannya kembali. Myra tidak bisa membayangkan berapa banyak kekayaan yang dimiliki Amine. Dia bukan hanya memiliki perusahaan, bahkan restoran juga dia yang punya. Myra tidak tahu apa lagi yang dimiliki Amine selain itu. Dia segera kembali karena tidak ingin membuat ibunya menunggu. Mereka mulai memakan makanannya dan menikmati semua hidangannya.


"Terima kasih, nak. Semua makanannya sangat lezat. Aku sangat menyukainya." ucap bibi Lea.


"Syukurlah jika kau suka, bi." ucap Ishla.


Sebelum pergi, Ishla sempat menanyakan penyakit bibi Lea. Saat mendengar ceritanya, Ishla sempat meneteskan air mata. Sudah dua tahun ini bibi Lea menderita kanker otak. Dia harus segera melakukan operasi. Menurut dokter, bibi Lea akan bertahan hidup satu sampai dua tahun lagi karena penurunan fungsi otak.


"Aku tidak ingin kehilanganmu ibu," ucap Myra sambil memeluk ibunya. "Kau segalanya bagiku, aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Sudahlah, jangan menangis putriku. Itu hanya perkiraan dokter saja, jika tuhan berkehendak lain kita bisa apa?" ucap ibunya.


"Apa kau sudah siap dengan operasi itu?" tanya Ishla.


"Aku sebenarnya sangat takut, nak. Tapi apa dayaku. Aku akan melakukan operasi ini, apapun hasil akhirnya. Aku tidak pernah berhenti berdoa supaya aku ini bisa sembuh dan bisa mendampingi putri ku sampai akhir nanti," ucap bibi Lea.


Setelah makan malam selesai, Myra dan bibi Lea pulang lebih dulu sedangkan Ishla masih tinggal di tempat itu.


\*\*\*


Malam itu, Nilam memberitahu semua orang jika Amine sudah menyekap Ethan di rumahnya. Adlar yang mendengar hal itu tidak mempercayainya.


"Tidak mungkin Amine melakukan semua itu! Aku tau dia perempuan seperti apa."


"Apa kau pikir aku ini bohong? Amine sendiri yang memperlihatkan jika dia menahan Ethan di rumahnya." ucap Nilam.


Malam itu, Adlar pergi untuk memastikan semua kebenarannya. Di satu sisi, Amine sudah menyuruh Zafer untuk melepaskan Ethan. Dia tau jika Adlar akan datang ke rumahnya karena sudah mendengar semuanya dari Nilam. Sementara itu, Ethan berusaha untuk mencari kendaraan. Dia sangat letih karena sudah berjalan cukup jauh. Ethan melihat sebuah truk yang berjalan sangat kencang. Dia berdiri di tengah jalan untuk menghentikan truk itu namun, sayang si pengendara truk mengalami ngantuk berat sampai dia hilang kendali dan menabrak tubuh Ethan sampai terpental ke aspal. Tidak lama setelah kejadian, pihak kepolisian datang bersama ambulans. Ethan dan si sopir truk langsung dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah Amine, Nilam mendapat telepon.


"Maaf, nyonya. Aku dari pihak rumah sakit ingin memberitahu jika pasien yang bernama Ethan Diaz mengalami kecelakaan."


"Apa? Ethan mengalami kecelakaan?"


Nilam langsung menyuruh Adlar untuk memutar balik mobilnya dan pergi ke rumah sakit. Sesampainya disana, dia melihat seorang pasien yang baru keluar dari ruangan dalam keadaan ditutupi kain putih. Nilam berlari untuk memastikan jika itu bukanlah Ethan. Saat dilihat, ternyata sopir truk yang menabrak Ethan yang meninggal.


"Apa kau keluarga dari pasien bernama Ethan Diaz?" tanya salah satu perawat.


"Aku ibunya. Dimana putraku?"


"Mari ikut denganku, nyonya."


Sudah lama mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dan harus memberitahu jika Ethan dalam keadaan koma. Dia kehilangan banyak darah dan harus segera dioperasi.


Mendengar hal itu, rasanya jantung Nilam berhenti derdetak, kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri. Dia hampir saja terjatuh tapi Adlar dengan cepat memegangnya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kau tau putra kita itu sangat kuat. Dia akan baik-baik saja," ucap Adlar.


"Baiklah dokter, langsung saja lakukan operasinya." ucap Adlar.


Dokter sangat menyayangkan karena stok darah di rumah sakit itu sedang kosong.


"Apa golongan darah putraku dokter?" tanya Adlar.


"Pasien memiliki golongan darah AB positif," jawab dokter.


Adlar langsung meminta dokter untuk mengambil darahnya karena golongan darahnya sama dengan Ethan. Sudah enam jam lamanya operasi berlangsung, tapi dokter masih juga belum keluar. Lampu operasi sudah dimatikan, tanda operasi sudah selesai.


"Bagaimana keadaan putraku dokter?" tanya Adlar.

__ADS_1


"Operasinya berjalan dengan lancar, tapi tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan pasien."


"Bagaimana mungkin?" tanya Adlar heran. " Jika operasi berhasil, setidaknya keadaan pasien sedikit membaik, dia sudah melewati masa komanya."


"Aku sendiri tidak tau, tuan. Aku baru pertama menangani keadaan seperti ini. Kita hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban datang pada putramu." ucap dokter.


Nilam merasa sangat marah, dia menyalahkan Amine untuk semua ini. Dia pergi ke kantor polisi untuk melaporkan Amine karena sudah melakukan kejahatan terhadap Ethan. Sesampainya disana, pihak polisi langsung menerima kasus itu dan mereka pergi ke kediaman Amine untuk dimintai keterangan.


"Ayah, dimana kakak? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Aiyla yang baru saja datang bersama neneknya.


"Bagaimana dengan Ethan?" tanya Azizah.


"Dia koma ibu," ucap Adlar.


Aiyla yang tau kakaknya koma dia sangat terpukul dan memaksa masuk untuk melihat Ethan tapi dokter belum mengizinkan siapapun untuk masuk.


\*\*\*


Saat Amine sedang menikmati makan malamnya, dia dikejutkan dengan kedatangan polisi ke rumahnya.


"Nyonya, di depan ada polisi yang ingin bertemu denganmu," ucap Selma.


"Polisi?" Amine langsung pergi untuk menemuinya.


"Dengan nyonya Amine Laraz?" tanya posisi itu


"Ya, aku sendiri."


"Apa kau bisa ikut dengan kami ke kantor? Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu," ucap polisi.


"Baiklah," ucap Amine.


Selma yang melihat polisi membawa Amine sangat khawatir. Dia langsung menghubungi Ishla untuk memberitahu semuanya.


\*\*\*


Saat itu, Ishla sedang berbincang dengan seseorang di telepon. Selma sudah mencoba beberapa kali menghubunginya, tapi Ishla sedang dalam panggilan lain. Setelah Ishla selesai, dia melihat beberapa panggilan keluar dari Selma. Ishla langsung menghubunginya kembali.


"Halo, bi. Maaf aku baru saja menerima telepon lain. Ada apa?"


"Nyonya dibawa ke kantor polisi," ucap Selma.


"Apa? Baiklah, aku akan segera kesana."


Sesampainya di kantor polisi, Amine melihat Nilam disana. Dia sangat marah pada Amine karena dirinya Ethan mengalami kecelakaan dan koma. Mendengar Ethan koma, Amine rasanya tidak percaya. Semua yang terjadi pada Ethan di luar dugaannya. Polisi segera membawa masuk Amine untuk menanyakan beberapa hal. Amine dengan santai menjawab semua pertanyaan polisi, tidak lama Amine keluar dan ternyata tuduhan Nilam terhadap Amine tidak benar. Polisi langsung membiarkan Amine pergi. Nilam tidak bisa menerimanya, dia memberitahu polisi jika Amine memang bersalah karena sudah menyekap Ethan di rumahnya.


"Apa yang kau katakan? Jika memang aku menyekap putramu itu, bisakah kau menunjukkan buktinya?" tanya Amine tersenyum senang.


"Aku memang tidak punya, tapi...


"Sudahlah, karena tuduhan ini tidak memiliki bukti yang akurat, kasus yang kau ajukan akan kami tutup, nyonya." ucap polisi.


"Kau bayar berapa polisi itu?" tanya Nilam.


"Aku tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun untuk ini, kecerdasan lah yang dibutuhkan saat ini," ucap Amine.


Saat mereka masih berdebat, Ishla datang dan langsung memeluk Amine.


"Ibu? Apa kau baik-baik saja? Kenapa polisi membawamu?" tanya Ishla sangat khawatir.


"Semua sudah selesai, nak. Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi. Semua hanya kesalahpahaman saja." ucap Amine.


Nilam melihat Ishla dengan penuh kebencian. Dia berharap jika saja hari itu Ishla tiada, semua tidak akan seperti ini.

__ADS_1


Amine langsung mengajak Ishla untuk pulang tapi dia menolaknya. Dia tidak bisa ikut ibunya, dia harus kembali ke hotel malam ini juga. Amine sangat sedih mendengarnya, tapi bagaimanapun dia harus menghargai keputusan putrinya itu.


__ADS_2