
Hari sudah kembali pagi. Amine datang ke kamar Ishla untuk memeriksa keadaannya. Saat dilihat ternyata putrinya itu masih tertidur. Amine mencium kening Ishla untuk memastikan jika demamnya itu sudah turun. Amine membuka tirai kamar dan perlahan cahaya mentari masuk mengenai wajah Ishla. Dia menggeliat pelan sambil membuka matanya.
"Selamat pagi, ibu." ucapnya.
"Selama pagi, sayang. Bagaimana keadaanmu sekarang ini?" tanya Amine.
"Lebih baik," jawabnya.
Ishla segera bersiap untuk pergi ke kantor. Saat sarapan Amine ingin tahu banyak hal yang terjadi saat dirinya pergi ke Singapura kemarin.
"Apa yang terjadi saat ibu pergi, nak? Kenapa kemarin malam kau sampai tidak pulang dan kenapa bisa Glan menemukanmu duduk di dekat selat?" tanya Amine.
Ishla sempat terdiam. Dia sudah tidak ingin lagi membahas semua itu. Tapi bagaimanapun ibunya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia datang menemuiku dan memintaku untuk mencabut tuntutan terhadap putranya." ucap Ishla.
"Benarkah?" Amine sangat terkejut mendengarnya. Dia tidak habis pikir jika Adlar akan bertindak sejauh itu. Dia tidak tahu jika sikapnya itu akan sangat melukai perasaan Ishla.
"Ibu, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya Ishla sambil memegang tangan ibunya.
"Tentu saja, apa itu?"
"Tolong jangan bahas lagi tentang dia. Mulai sekarang dia hanyalah orang asing bagiku. Aku tidak ingin lagi meminta dia ada bersamaku, cukup kau saja ibu yang ada untukku." ucap Ishla.
Amine sedikit sedih mendengarnya. Dulu, Ishla sangat ingin memiliki seorang ayah. Tapi sekarang, walau sudah tahu siapa ayah kandungnya dia bahkan tidak menginginkannya. Amine sangat mengerti dengan perubahan sikap putrinya itu, semua karena Adlar yang terlalu sering melukai perasaannya. Setelah sarapan Ishla langsung pergi ke kantor dengan diantar sopir.
\*\*\*
Pagi ini, saat Nilam bangun rasanya banyak sesuatu yang sudah direnggut darinya. Saat turun menuju meja makan, dia merasa heran karena belum ada siapapun disana. Dia duduk lebih dulu dan menyuruh pelayan untuk memanggil semua orang.
"Bi, tolong panggilkan semua orang. Suruh mereka turun untuk sarapan." perintah Nilam.
Pelayan itu merasa kebingungan karena saat dia bekerja di rumah besar itu tidak ada siapapun selain Nilam.
"Maaf, nyonya. Tapi disini hanya ada kau dan juga aku."
Nilam sempat marah, dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke halaman rumah. Dia melihat jika dirinya itu sedang berada di rumah lain. Dia melihat ke sekeliling rumah dan dalam pikirannya muncul bayangan wajah Amine dan Ishla yang sedang mentertawakannya.
"Tidak... Pergi kalian dari sini! Pergi kalian semua!!! teriak Nilam seperti orang gila. Pelayan yang mendengar teriakan majikannya langsung datang menghampiri.
"Nyonya, kau kenapa?" tanya pelayan itu.
Nilam berlari ke dalam sambil menyuruh semua bayangannya itu untuk pergi. Sementara itu, sesampainya di kantor Ishla bertemu dengan Myra. Dia memberitahu Ishla jika dia sudah mendapatkan tempat usaha untuk ibunya. Tempatnya tidak jauh dari kantor, kebetulan ini hari pertama ibunya membuka toko. Ishla sangat penasaran dengan tempatnya itu, dia meminta Myra untuk membawanya kesana saat makan siang nanti.
\*\*\*
Pagi ini, Aiyaz pergi ke suatu tempat untuk mempersiapkan acara lamarannya. Dia menyuruh orang untuk menghias tempat itu seindah mungkin. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untuknya dan juga Ishla. Di sisi lain, saat Aiyla tiba di kantor dia tidak melihat Aiyaz di ruangannya. Dia mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif. Saat akan pergi, Aiyla melihat sebuah lembaran di atas meja kerja Aiyaz. Saat dilihat ternyata itu adalah gambar tempat yang Aiyaz pesan untuk acaranya. Disana tertulis alamatnya, Aiyla langsung pergi kesana. Sementara itu sebuah paket datang ke kantor Ishla. Kurir meminta orang untuk mengantarnya pada Ishla, karena paket itu harus diterima langsung olehnya. Salah satu pegawai mengantar kurir itu ke ruangan Ishla.
"Maaf, nona. Ada kurir yang ingin bertemu denganmu," ucapnya.
"Kurir? Suruh dia masuk!"
Kurir memberikan sebuah paket pada Ishla dan menyuruhnya untuk menandatangani sebagai bukti. Ishla terus saja memperhatikan paket itu tanpa membukanya.
__ADS_1
"Siapa yang memesan paket ini untukku?" tanya Ishla.
"Coba saja kau buka! Siapa tahu di dalam ada nama pengirimnya." ucap Myra. Saat dibuka ternyata isinya sebuah gaun indah berwarna hitam. Dia membeberkan gaun itu, dan melihat ada surat didalamnya. Myra yang merasa penasaran mendekati Ishla dan bersama membaca surat itu.
To: My Heart
'Aku ingin pukul 5 sore nanti , kau datang dengan memakai gaun itu '
Aiyaz
Myra yang membaca surat itu merasa sangat iri. Aiyaz seorang laki-laki yang romantis. Dia memperlakukan Ishla dengan sangat manis. Myra meyakinkan Ishla jika hari ini akan menjadi hari yang berkesan untuknya karena tidak biasanya Aiyaz bersikap seromantis ini.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Myra pada Ishla.
"Apa?" ucap Ishla tidak mengerti.
"Apa jangan-jangan... Aiyaz akan melamar mu?" ucap Myra.
"Kau ini, tidak mungkin dia akan melamar ku." bantah Ishla. "Sudahlah, ayo kembali bekerja!"
\*\*\*
Tiba disana, Aiyla memperhatikan Aiyaz dari jauh. Dia terlihat sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Aiyla teringat dengan cincin yang sempat Aiyaz beli kemarin.
"Apa Aiyaz akan melamar Ishla?" batinnya. Dia langsung menghubungi seseorang dan memintanya untuk segera bertemu. Jika benar ini acara lamaran mereka, Aiyla tidak akan tinggal diam. Dia akan membuat acara itu hancur berantakan. Aiyla pergi menemui orang itu di dekat taman. Tidak lama seseorang datang dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan. Dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Aiyla. Saat dibuka ternyata itu foto-foto kebersamaan Ishla dengan Glan tadi malam saat berada di dekat selat. Aiyla sangat yakin dengan semua foto itu Aiyaz akan membatalkan lamarannya. Aiyla akan memberikan semua foto itu disaat yang tepat.
"Aku sangat suka dengan kerjamu," ucap Aiyla.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan segera mentransfernya." ucap Aiyla.
\*\*\*
Tiba di kamar, Nilam segera mengambil obat yang ada di dalam laci lemarinya. Setelah meminumnya Nilam merasa sedikit tenang. Dia mengalami depresi saat Ethan masuk ke dalam penjara dan harus ketergantungan pada obatnya itu. Nilam sangat takut tinggal sendiri. Dia menghubungi Aiyla untuk menemaninya di rumah. Berselang beberapa jam akhirnya Aiyla datang. Dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan ibunya. Saat Aiyla sedang bersamanya Nilam bertingkah sangat aneh yang membuat Aiyla sedikit ketakutan.
"Pergi kalian!" teriak Nilam sambil loncat dari tempat tidurnya. Aiyla dibuat terkejut olehnya.
"Ibu, kau kenapa?" tanya Aiyla.
Nilam berteriak dengan mengatakan hal yang sama. Dia menyuruh Aiyla untuk mengusir Amine dan Ishla dari kamarnya.
Aiyla mencoba untuk menyadarkan ibunya jika tidak ada siapa-siapa di kamarnya selain dirinya.
"Lihatlah, nak! Mereka mentertawakan ku."
"Ibu, sadarlah! Tidak ada siapapun disini." ucap Aiyla.
Nilam memeluk putrinya dan meminta dia untuk tidak meninggalkannya. Sesaat akhirnya Nilam tertidur. Aiyla melihat obat yang ada di atas laci lemarinya. Dia terkejut saat tahu obat itu adalah obat untuk menghilangkan depresi.
"Apa obat ini milik ibu?" ucapnya.
Aiyla pergi untuk menemui pelayanan. Dia menunjukkan obat itu, "Obat siapa ini?" tanyanya.
"Bibi melihat nyonya membawa obat itu beberapa hari yang lalu. Saat bekerja sekalipun obat itu selalu dibawa oleh nyonya." ucap pelayan itu. "Apa bibi boleh mengatakan sesuatu, non?"
__ADS_1
"Katakan saja!"
Belakangan ini ibunya itu bersikap sangat aneh. Dia terlihat seperti orang yang ketakutan. Bahkan dia sering berbicara sendiri di kamarnya. Saat penyakitnya kambuh, dia langsung meminum obat itu dan tidak lama dia mulai tenang setelah meminumnya. Mendengar perkataan pelayan itu Aiyla sangat takut jika ibunya itu sudah ketergantungan terhadap obat. Setelah bangun nanti Aiyla akan membawa ibunya kembali ke rumah.
\*\*\*
Sore ini Ishla segera bersiap untuk menemui Aiyaz. Dia terlihat sangat cantik juga elegan dengan gaun pemberian Aiyaz. Tidak lama Aiyaz mengirim alamat ke ponselnya. Ishla meminta sopir untuk segera mengantarnya kesana. Sedangkan Myra, malam ini dia harus lembur karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat akan pergi untuk membeli makanan dia bertemu Glan dipintu masuk.
"Hey, apa kabar? Lama tidak bertemu." ucap Glan.
"Kabar baik," jawab Myra. "Apa kau datang untuk menemui Ishla?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Glan.
"Tentu saja aku tahu, lagipula tidak mungkin jika kau datang untuk menemuiku." ucap Myra.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" tanya Glan.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."
Myra memberitahu Glan jika sore ini Ishla pergi menemui Aiyaz. Sepertinya Aiyaz akan melamar Ishla hari ini. Siang tadi sebuah paket datang untuk Ishla dan ternyata itu semua dari Aiyaz. Isinya gaun berwarna hitam yang sangat cantik. Mendengar hal itu Glan menjadi gelisah. Jika memang Aiyaz akan melamar Ishla hari ini, itu berarti kesempatan untuk memiliki Ishla sudah hilang.
"Apa kau tahu dimana mereka akan bertemu?" tanya Glan.
"Ini dia," ucap Myra sambil memberikan sebuah kertas kecil yang berisikan alamatnya. Glan langsung pergi menyusul Ishla kesana.
\*\*\*
Saat Aiyaz akan pergi, sebuah mobil menghadangnya dari depan. Keluar dari dalam mobil itu seorang perempuan yang tidak lain adalah Aiyla. Dia meminta Aiyaz untuk turun dari mobilnya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat singkirkan mobilmu itu dari hadapanku!" pinta Aiyaz.
"Kau harus melihat apa yang aku bawa ini!" ucap Aiyla sambil menunjukkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Simpan saja itu nanti! Aku harus segera pergi menemui Ishla." ucap Aiyaz.
Aiyla memberitahu Aiyaz jika isi dalam amplop itu ada hubungannya dengan Ishla. Karena paksaan Aiyla, akhirnya Aiyaz melihat isi dari amplop itu. Dia melihat foto-foto saat Ishla berpelukan dengan Glan. Awalnya Aiyaz tidak percaya dan mengira jika itu hanya settingan. Untuk memastikan kebenarannya, Aiyla meminta Aiyaz untuk menghubungi Ishla dan menanyakan keberadaannya tadi malam. Saat Ishla menjawab panggilan Aiyaz, dia terdengar sangat bahagia.
"Kau dimana?" tanya Ishla. "Dalam waktu dekat ini aku akan segera sampai."
"Dimana kau semalam?" tanya Aiyaz.
"Aku duduk di dekat selat." jawab Ishla.
"Dengan siapa?" tanya Aiyaz kembali.
"Sendiri," jawabnya. "Tapi... Tidak lama Glan datang. Dia tidak sengaja melihatku lalu menghampiriku."
Aiyaz langsung menutup teleponnya. Itu berarti semua foto itu benar. Semalam Ishla ada bersama Glan dan mereka sedang bermesraan di dekat selat.
"Jika Ishla memang benar mencintaimu, tidak mungkin dia bersama orang lain bahkan mereka saling berpelukan." ucap Aiyla membuat suasana semakin panas. "Kau tahu mereka sangat dekat bukan? Ya... Walaupun mereka mengatakan jika itu hanya sebatas pekerjaan. Tapi kau lihat? Saat dibelakangmu sikap mereka sangat berbeda."
Aiyaz terlihat sangat marah. Dia seperti sudah termakan dengan semua ucapan Aiyla. Walau seperti itu Aiyaz tetap pergi. Aiyla terkejut saat tahu Aiyaz tetap pergi menemui Ishla. Dia pikir setelah melihat foto-foto itu dia akan membatalkan lamarannya, tapi tidak. Sementara itu, di tengah perjalanan Aiyaz sempat menepikan mobilnya terlebih dahulu. Dia memikirkan lagi semua perkataan Aiyla tadi. Menurutnya apa yang dikatakan Aiyla itu benar. Jika Ishla mencintainya tidak mungkin dia bersama orang lain sambil berpelukan. Ishla sudah mengkhianati kepercayaannya. Aiyaz memutar balik mobilnya. Dia tidak jadi menemui Ishla sore ini karena dia sudah mengambil keputusan untuk membatalkan acara lamarannya.
__ADS_1