
Pagi itu, Aiyaz pergi menemui Adlar di kantornya.
"Selamat pagi, Tuan Aiyaz." ucap Aara, sekretaris Adlar.
"Selamat pagi. Apa Tuan Adlar sudah datang?"
"Tuan Adlar sedang dalam perjalanan menuju kemari. Kebetulan, akan ada rapat pagi ini."
"Baiklah, aku akan menunggunya."
Hari ini, Kemal baru saja menyelesaikan apa yang Zafer minta. Dia sudah merubah kembali mobil itu seperti semula.
"Selamat pagi, semua." ucap Zafer.
"Selamat pagi, Nak. Duduklah! Sebelum kau pergi, makan dulu sarapannya!" ucap Bahar.
"Bagaimana mobilnya, ayah? Apa sudah beres?" tanya Zafer.
"Kau bisa memakainya hari ini juga."
Pagi ini, Nilam menemani Aiyla ke acara pemotretan. Di tengah perjalanan, Aiyla melihat mobil yang sama persis dengan yang dimiliki Ethan.
"Ibu, bukankah itu mobil kakak?" ucap Aiyla.
"Mungkin hanya mirip saja, sayang. Bukan hanya kakakmu saja yang memiliki mobil seperti itu."
"Lihat dulu, Ibu!" Nilam melihat dengan baik mobil itu. Dia membuka kaca mata hitamnya untuk bisa melihat mobil itu lebih jelas.
"Ini tidak mungkin! Bukankah Ibu sudah menyuruh Ethan untuk menyingkirkan mobil itu? Lalu, kenapa mobil itu masih ada?" ucap Amine dalam hatinya.
Adlar baru saja tiba di kantornya. Aara memberitahu Adlar jika Aiyaz sudah ada di ruangannya.
"Selamat pagi." ucap Adlar yang baru saja datang.
"Selamat pagi."
"Ada apa? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya Adlar.
Aiyaz memberikan semua data Amine yang dia dapat dari Ishy.
"Apa ini?" tanya Adlar.
"Kau bisa membacanya, Paman."
Adlar terkejut saat membacanya. Ternyata, dia memiliki seorang anak dari Amine. Dia tidak percaya dengan semua ini.
"Aku baru tahu, jika kau dan Amine pernah menikah. Tapi yang aku heran, kenapa paman tidak tahu sama sekali tentang ini? Apa paman benar-benar meninggalkannya saat itu?" tanya Aiyaz.
"Terlalu sulit untuk bisa menjelaskannya padamu."
Adlar menyuruh Aara untuk membatalkan pertemuan pagi ini. Dia akan pergi menemui Amine dan menanyakannya langsung tentang semua ini.
Nilam baru saja tiba di depan kantor Aiyla, dia mengantar Aiyla masuk, lalu pergi lagi.
"Ibu, kau mau kemana? Bukankah tadi kau bilang akan menemaniku pemotretan?" ucap Aiyla.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Ibu lupa jika sudah memiliki janji dengan nenekmu."
"Baiklah."
Sesampainya di kampus, Ashika merasa sangat kesepian karena Ishla tidak masuk kuliah hari ini. Saat istirahat, dia harus pergi ke kantin sendiri. Aghna yang melihat Ashika duduk sendirian, datang sambil membawa makanannya.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya Aghna.
"Duduklah!"
"Kenapa kau sendirian? Dimana Ishla?" tanya Aghna sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Hari ini, dia tidak datang."
Aghna melihat Ashika yang sedari tadi diam, tanpa mengatakan apapun. Dia sepertinya tipikal orang yang pendiam, dan tertutup. Tidak mudah untuk bisa mendekatinya.
"Bagaimana aku bisa mencari tahu Ishla darinya? Sejak tadi dia hanya diam saja." ucap Aghna dalam hatinya.
Saat Ashika pergi untuk membayar tehnya, dia meninggalkan ponselnya di atas meja.
"Apa aku cari tahu saja dari ponselnya? Siapa tahu disana ada petunjuk." Aghna melihat ponsel Ashika, dia mencoba membuka passwordnya, tapi selalu salah. Tidak lama, Ashika datang dan membawa ponselnya.
"Apa kau masih ingin disini?" tanya Ashika.
"Ya, aku masih ingin minum teh."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi " Aghna melihat Ashika pergi, dan menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di rumah, Nilam terlihat sangat khawatir. Dia pergi untuk menemui Azizah.
"Apa memangnya yang baru saja kau lihat?" tanya Azizah.
Nilam memberitahu Azizah jika dia melihat mobil Ethan terparkir di pinggir jalan. Azizah tidak menghiraukan perkataan Nilam, dia terus saja fokus pada majalah yang ada di tangannya.
"Ibu, apa kau mendengarkan ku?"
"Lalu, apa kau pikir aku percaya padamu? Apa kau bisa membayangkan seperti apa jadinya jika mobil mengalami reinkarnasi?"
"Sungguh, aku melihatnya Ibu."
"Sudahlah, kau bisa tanya putramu sendiri, aku yang menyuruhnya untuk menghancurkan mobil itu.
Nilam menyuruh pelayan untuk memanggil Ethan segera.
"Ada apa, Ibu?" tanya Ethan yang baru saja datang.
"Apa kau sudah menghancurkan mobil yang menabrak gadis itu?" tanya Nilam.
Ethan mencoba mengingatnya, dia sempat akan menghancurkannya, tapi mobil itu sangat berarti bagi Ethan. Dia tidak tega jika mobilnya itu dihancurkan. Ethan membawa pergi mobil itu ke bengkel untuk diperbaiki.
"Tidak Ibu, aku tidak sempat menghancurkannya." Perkataan Ethan membuat Azizah dan Nilam terperanjat.
"Apa kau bilang? Kau tidak sempat menghancurkannya?" Azizah yang sedari tadi duduk tenang, setelah mendengar perkataan Ethan, rasanya dia ingin sekali meluapkan semua amarahnya pada Ethan.
"Apa kau tahu, baru saja aku melihat mobil milikmu di pinggir jalan." ucap Nilam.
"Maafkan aku, Nenek.
"Sudah cukup! Jika kau terkena masalah gara-gara mobil itu, aku tidak akan membantumu."
__ADS_1
Walaupun Azizah terlihat tidak peduli, bagaimanapun dia harus menyelamatkan nama baik keluarganya sebelum hancur. Dia pergi ke kamarnya untuk membuat rencana agar mobil itu bisa dihancurkan.
Ethan membuat Nilam pusing dengan sikap cerobohnya itu.
"Bagaimana jika kejahatan Ethan terbongkar, dan dia akan masuk ke dalam penjara?" Nilam sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika polisi tahu kejahatan Ethan. Bukan hanya itu, nama besar keluarga Diaz yang selama ini dia jaga akan hancur. Adlar dan Aiyla pasti akan sangat membenci Ethan.
"Apa yang harus aku lakukan, Ibu?" tanya Ethan.
"Pergi, dan cari mobil itu sampai dapat! Jika tidak, kau harus bersiap menempuh hidup barumu di dalam penjara." Perkataan Nilam membuat semangat Ethan menciut, sebelum mobil itu kembali, hidupnya tidak akan tenang. Dia harus siap dengan apapun yang akan terjadi ke depannya.
Amine sedang mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk proyek barunya. Saat proyek ini sudah selesai dibuat, Amine akan memberikannya pada Ishla di hari ulangtahunnya nanti.
Sesampainya di kantor, Adlar meminta sekretaris untuk mengantarnya menemui Amine.
"Maaf, Tuan. Apa kau sudah membuat janji dengan Nyonya Amine?"
"Belum,"
"Maaf, Tuan. Jika seperti itu, saya tidak bisa mengizinkanmu masuk.
Adlar berteriak memanggil Amine. Semua pekerja menatap Adlar aneh.
Amine mendengar seseorang beberapa kali meneriaki namanya. Amine pergi untuk melihatnya.
. "Untuk apa dia datang kesini?" Amine melihat Adlar dari atas, dia segera pergi untuk menemuinya.
"Sudah cukup! Jangan membuat keributan di kantorku ini, aku sudah ada disini. Cepat katakan! Apa tujuanmu datang kemari?"
"Aku ingin menanyakan hal yang sangat penting padamu." ucap Adlar.
Amine melihat semua orang sedang memperhatikannya. Tidak enak jika pembicaraannya di dengar banyak orang. Amine membawa Adlar ke ruangannya.
"Cepat katakan! Ada apa? Aku masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan."
Adlar memberikan semua data yang dia dapat dari Aiyaz. Amine menyimpan data itu di atas mejanya, tanpa dia ingin tahu apa isi data itu.
"Kau tidak membukanya?
"Aku tidak akan membuang waktuku hanya untuk membaca data seperti itu." Adlar memberitahu Amine jika data itu berisi tentang kehidupannya. Dia mendapatkan semua itu dari Aiyaz. Amine tidak peduli apapun yang tertulis dalam data itu. Saat Adlar berbicara padanya, Amine lebih banyak memalingkan wajahnya daripada harus menatapnya.
"Jika sudah selesai, kau tahu dimana arah pintu keluarnya." Secara tidak langsung, Amine mengusir Adlar dari kantornya.
"Dimana putriku?" Amine langsung membalikkan badannya. Dia menatap Adlar tajam, " Apa yang kau sebenarnya ingin kau tanyakan?
"Aku ingin tahu, dimana putriku berada?" ucap Adlar.
"Putri yang mana? Apa maksudmu Aiyla?"
"Jangan bicara berbelit-belit, katakan saja dimana putriku sekarang? Aku adalah ayahnya, aku berhak tahu semua itu."
"Sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Tolong pergi dari sini! Jika tidak, aku akan memanggil keamanan untuk menyeret mu keluar."
"Aku tidak akan tinggal diam, aku akan mencaritahu siapa anakku yang coba kau sembunyikan dariku."
Adlar pergi dari ruangan Amine.
Ahhhh...
"Kenapa dia harus tahu semua itu?" Amine terlihat sangat marah. Dia tidak akan membiarkan Adlar tahu siapa putri kandungnya.
__ADS_1