
Malam itu, Aiyaz baru saja pulang dari kantornya. Dia langsung menemui Aghna di kamarnya.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkan informasi tentang Ishla?"
"Belum," Hari ini Aghna gagal karena Ashika yang tidak membiarkan dia berbicara banyak pada Ishla. Aiyaz masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Amine katakan padanya. Aiyaz meminta sekretarisnya, Ishy untuk mencari informasi tentang Amine.
Malam itu, Zafer kembali dengan membawa mobil itu. Amine pergi untuk melihatnya.
"Terimakasih, kau sudah membawa mobil ini kembali." ucap Amine.
"Ini berkat dirimu juga, Nyonya."
"Apa yang akan kita lakukan dengan mobil ini?"
"Minta ayahmu untuk merubah mobil ini seperti semula." Amine memiliki suatu rencana yang sangat bagus. Setelah mobil itu kembali seperti semula, Amine meminta Zafer menggunakan mobil itu, untuk mengantar dan menjemput Ishla ke kampus. Siapapun pemilik mobil itu, akan ketakutan setelah melihatnya. Mobil ini satu-satunya bukti yang akan menyeret pelaku itu ke dalam penjara.
Amine menyuruh Zafer untuk mengantar Ashika pulang ke rumahnya. Dia juga sudah membelikan sofa baru dan beberapa baju untuk orangtuanya.
Malam ini Ashika akan menginap di rumah orangtuanya. Sebelum pergi, Ashika ingin menemui Ishla lebih dulu.
Tok... Tok... Tok...
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Ashika mencoba membuka pintunya, dan ternyata tidak dikunci. Dia melihat Ishla sudah tidur. Ashika tidak ingin mengganggu Ishla, dia menutup kembali pintunya perlahan.
"Apa kau sudah menemui Ishla?" tanya Amine.
"Dia sudah tidur, aku tidak ingin mengganggunya."
"Baiklah, besok aku akan memberitahu padanya jika kau akan pulang untuk beberapa hari." Amine melihat mobil Aiyaz yang semakin jauh dan hilang dari pandangan.
Aiyla menemui Adlar di ruang kerjanya.
"Apa yang ayah bicarakan dengan Aiyaz siang tadi?" tanya Aiyla.
"Dia mengakui jika dia masih menyimpan foto itu. Tapi, Aiyaz meyakinkan ayah jika dia tidak akan lagi berhubungan dengan gadis itu. Kau harus lebih sabar, jangan terlalu mengatur kehidupan Aiyaz seperti apa yang kau mau, karena dia tidak menyukainya. Beri Aiyaz waktu untuk melupakan gadis itu."
"Bagaimana jika Aiyaz mengingkarinya?" tanya Aiyla.
"Ayah percaya dia itu pria yang baik dan sangat bertanggungjawab, dia pasti akan menepati janjinya."
Aiyaz terlihat sedang menyelesaikan arsitektur pembangunannya. Dia mendapat telepon dari Ishy,
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?"
__ADS_1
"Sudah, Tuan Aiyaz. Aku akan mengirim semua data tentang Nyonya Amine padamu."
"Baiklah, terimakasih Ishy."
Zafer dan Ashika sampai di depan rumahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa yang datang malam-malam seperti ini?" Bahar pergi untuk melihatnya.
"Putriku? Kau datang, Nak?"
"Selamat malam, Ibu." ucap Zafer.
"Ayo, masuklah!"
"Tunggu dulu, Ibu. Kami masih harus menunggu sesuatu." ucap Zafer.
Bahar melihat sebuah mobil box yang berhenti di depan rumahnya.
"Siapa yang membeli sofa itu?" tanya Bahar.
"Aku membelinya untukmu, Ibu. Kita akan memiliki sofa baru. Kau tidak perlu malu lagi jika ada tetanggamu yang datang. Mereka bisa duduk dengan nyaman di sofa itu. Nyonya Amine yang membelikannya."
Bahar memanggil Kemal untuk membantu sopir mengangkat sofanya masuk ke dalam.
Ashika memberitahu Bahar jika untuk beberapa hari ini dia akan tinggal di rumahnya. Bahar sangat bahagia mendengarnya.
"Apa kakakmu juga akan tinggal disini?" tanya Bahar.
"Tidak Ibu, kakak harus kembali. Nyonya Amine sangat membutuhkan kakak untuk membantunya mencaritahu pelaku tabrak lari itu."
Malam itu, Zafer mengajak ayahnya berbincang di teras rumah.
"Mobilmu sudah kembali?" tanya Kemal.
"Nyonya Amine yang memberikannya."
Zafer meminta ayahnya untuk merubah kembali mobil itu seperti semula. Amine akan mencari tahu pelaku tabrak lari itu melalui mobil ini.
"Baiklah, ayah akan melakukannya besok." ucap Kemal.
Nilam membawa kopi ke ruangan kerja Adlar. Dia memberitahu jika siang tadi dia dan Aiyla melihat Ishla. Dia hilang ingatan, dan lumpuh.
"Lalu, bagaimana?" tanya Adlar.
"Aiyla mencoba mempermalukan gadis itu di hadapan semua orang. Dia mengatakan jika gadis itu meninggalkan kekasihnya tiga tahun yang lalu."
__ADS_1
Nilam memberitahu akan ketakutan Aiyla pada Adlar. Dia takut Aiyaz akan membatalkan pertunangannya dan kembali pada gadis itu.
"Kita jangan terlalu ikut campur, Mereka sudah dewasa, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."
Jam menunjukan pukul tiga pagi. Saat itu Ishla terbangun dan meriah kursi rodanya. Dia mulai berjalan menyusuri sisi tempat tidurnya dan berhasil duduk di kursi rodanya dengan susah payah. Ishla menatap air laut yang sangat tenang.
Di sisi lain, Aiyaz membaca semua data tentang Amine. Dia terkejut saat mengetahui Amine itu mantan istri Adlar. Dia juga memiliki seorang anak, namun Amine menyembunyikan anaknya dari semua orang.
"Jika Amine memiliki seorang anak, itu berarti Adlar ayah dari anak itu." ucap Aiyaz.
"Apa paman sudah tahu, jika dia memiliki anak lain?" tanya Aiyaz dalam hatinya. Aiyaz tidak akan tinggal diam, dia akan memberikan semua data itu pada Adlar. Dia harus tahu jika ada seorang anak yang lahir dari pernikahannya dengan Amine.
Pagi datang menyapa, Amine belum mendapati Ishla di meja makan.
"Selma, apa putriku belum bangun?" tanya Amine.
"Tidak tahu, Nyonya. Apa kau ingin aku pergi untuk membangunkannya?"
"Tidak perlu, aku akan melihatnya."
Amine melihat Ishla yang masih tidur. Dia membuat tirai kamarnya, sehingga cahaya mentari masuk dan mengenai wajahnya.
"Ibu, tutup kembali tirainya! Aku masih ingin tidur." Amine membangunkan Ishla karena dia harus segera pergi ke kampus.
"Ayo cepatlah bersiap! Ibu yang akan mengantarmu. Untuk hari ini Ashika tidak akan berangkat denganmu."
"Aku tahu, Ibu. Dia sudah mengirim pesan padaku tadi malam." ucap Ishla dengan mata yang masih tertutup.
"Ibu, kau pergi saja bekerja. Aku tidak ke kampus hari ini, aku akan diam di rumah saja." ucap Ishla kembali menarik selimutnya.
"Baiklah, kalau begitu ibu pergi dulu." ucap Amine sambil mencium Ishla.
"Baiklah, hati-hati."
Pagi itu, Amine sudah mendapati Selim di ruangannya.
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya, jika kau akan datang?" tanya Amine.
"Aku datang untuk memberitahumu identitas pemuda itu."
"Siapa dia?"
Ethan Diaz, nama lengkap pemuda itu. Dia putra dari Adlar Diaz dan Nilam Banun. Dia baru saja kembali dari Amerika setelah tiga tahun tinggal disana. Dia seorang CEO di salah satu perusahaan milik keluarganya yang ada di AS.
__ADS_1
Saat masih kuliah, dia sering sekali berkumpul dengan teman-temannya dan melakukan aksi balapan. Selim memberikan foto Ethan saat masih kuliah. Amine tertuju pada salah satu foto Ethan bersama mobilnya. Mobil itu berwarna hitam sama persis dengan mobil yang Zafer bawa semalam. Dia mencoba untuk menyamakan nomor mobilnya, dan ternyata... sebagian nomor mobil itu tertutupi Ethan.
"Menarik sekali, ternyata pemuda itu putra dari Adlar. Jika dia memang terlibat dalam kecelakaan itu, jangan harap aku melepaskan mu begitu saja, aku akan menghancurkan siapapun yang berusaha menyakiti putriku." ucap Amine.