CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
BERKUNJUNG KE RSJ


__ADS_3

Ishla terlihat begitu sedih karena hubungan yang selama ini dia jalani dengan Aiyaz akhirnya harus berakhir. Melihat Ishla terpukul seperti itu, membuat hati Glan sakit. Dia mengajak Ishla ke sebuah taman dimana disana tumbuh berbagai macam bunga, dan saat itu bunga tulip lah yang sedang ramai menjadi objek para wisatawan di berbagai negara. Sesampainya disana, harumnya bunga tercium begitu pekat seakan mengitari taman. Ishla duduk sambil menikmati semua keindahan yang ada. Glan pergi untuk membeli sesuatu. Saat kembali, dia memberikan sebuah es krim pada Ishla.


"Ambilah! Es krim ini untukmu."


"Tidak, aku sedang tidak ingin."


"Ayolah," Glan memaksa Ishla untuk menerima es krim itu. Saat mencobanya, rasa es krimnya ternyata berbeda dengan es krim biasanya.


"Terima kasih, ini adalah es krim yang terlezat yang pernah aku cicipi selama ini."


Glan sangat senang bisa melihat senyum Ishla kembali. Saat Ishla sedang menikmati es krimnya, Glan dengan jahilnya menyenggol tangan Ishla sampai akhirnya es krim itu mengenai pipinya.


"Glan...,


"Hahaha...


Ishla mengejar Glan yang mencoba pergi darinya. "Glan, jangan pergi...


Ishla terus mengejar Glan sampai akhirnya dia mendapatkannya. "Akhirnya aku bisa mendapatkan mu Glan, kau tidak bisa lagi pergi dariku. Ishla tertawa begitu lepas. Glan menatap Ishla begitu dalam membuat wajah Ishla berubah seketika. Wajahnya merah tersipu malu.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?"


"Aku sangat senang bisa melihatmu tersenyum kembali," ucap Glan. Saat Ishla bersama Glan, semua kesedihan yang ada seakan hilang sudah. Dunianya seakan kembali cerah. Glan melihat seorang tukang balon dan memborong semua balon itu untuk Ishla. "Untuk apa semua balon ini?" tanya Ishla. "Terbangkan lah! Semoga kesedihan yang ada padamu hilang bersama semua balon ini." Ishla akhirnya melepas semua balon itu ke udara. Wajahnya mengadah ke langit menatap kemana semua balon itu pergi. Saat itu juga, Glan berbisik pelan di telinga Ishla, "Aku mencintaimu, benar-benar sangat mencintaimu." Mendengar hal itu Ishla tertegun. Dia tidak tahu harus bersikap apa setelah mendengar perkataan Glan barusan.


"Bisakah kita kembali? Aku sudah cukup lama meninggalkan Myra, dia pasti sangat lelah harus menggantikan posisiku di kantor."


"Baiklah, mari aku antar!"


~~~


Sekembalinya dari proyek, Aiyaz terlihat sangat terpukul. Dia tidak tahu harus mempercayai perkataan Ishla atau Aiyla. Semua sudah berakhir. Cinta dalam hidupnya kini sudah tidak ada lagi. Sementara itu, Aiyla yang menyaksikan putusnya hubungan Aiyaz juga Ishla merasa sangat bahagia. Tidak akan ada lagi orang yang bisa menyaingi dirinya untuk mendapatkan Aiyaz. Kini Aiyaz hanya miliknya seorang. Tiba di rumah, Aiyla tidak menemukan ibunya di kamar. Dia juga tidak melihat neneknya. Keadaan rumah saat itu sangat sepi. Aiyla pergi ke dapur untuk menemui pelayan. "Bi, dimana nenek dan ibu? Kenapa aku tidak melihatnya?" Pelayan itu terdiam sejenak. "Maaf non, baru saja nyonya besar membawa ibu ke rumah sakit jiwa." Aiyla sangat terkejut mendengarnya. "Kenapa nenek memutuskan semua itu tanpa bertanya padaku dulu?" ucapnya.


Pelayan tidak ingin jika Ishla berpikiran salah tentang neneknya. Dia menceritakan semuanya. Saat neneknya duduk di taman belakang, Nilam datang untuk berbincang dengannya. Dia meminta pelayan untuk membawakannya buah. Dengan perlahan Nilam mengiris buah itu dengan pisau. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja dia mengamuk dan menyerang Azizah. Nilam pikir dia itu adalah Amine. Dia terus menyerang Azizah bahkan akan melukainya dengan pisau yang ada di tangannya. Azizah sangat takut jika hal itu sampai terulang lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa Nilam ke rumah sakit jiwa.


~~~


Sesampainya di kantor, perkataan Glan masih terdengar jelas di telinganya sampai membuat Ishla tidak bisa fokus bekerja. Melihat kedatangan Ishla, Myra langsung duduk di dekatnya dan menanyakan banyak hal padanya.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan jawabannya? Apa Aiyaz menyakitimu, Hah? Katakanlah padaku! Jangan diam saja seperti ini."


"Aku sudah mengakhiri semua hubunganku dengannya," ucap Ishla.

__ADS_1


"Apa?" ucap Myra tidak percaya.


Ishla memberitahu Myra jika Aiyaz lebih mempercayai perkataan orang lain dari pada dirinya. Jika dia sangat percaya padanya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aiyaz menuduhnya jika dia bermain dengan pria lain di belakangnya. Bahkan, saat dirinya juga Aiyla akan terjatuh, dia lebih memilih untuk menyelamatkan Aiyla lebih dulu. Semua sikap Aiyaz sangat melukai perasaan Ishla, dia tidak bisa lagi mempertahankan hubungan ini. Dia sangat lelah dengan semua ini. Myra sangat mengerti dengan semua masalah yang dihadapi Ishla. Dia akan mendukung apapun keputusan sahabatnya itu.


Siang itu, Aiyla menengok ibunya di rumah sakit. Saat tiba disana, dia melihat sang ibu yang sedang duduk di taman. Dia terlihat berbicara sendiri. Seorang suster duduk menemaninya. Aiyla pergi menghampirinya.


"Ibu..., Nilam menengok ke arah Aiyla. Dia seperti bingung untuk mengenali putrinya sendiri.


"Dia siapa suster?" tanya Nilam.


"Dia putrimu, dia datang untuk menemuimu." Nilam merasa ketakutan. Dia mengira semua orang adalah Amine.


"Suster... Cepat usir dia dari sini! Dia hanya ingin menyakitiku saja," Nilam bersembunyi di belakang suster.


"Ibu, aku ini putrimu...


"Pergilah! Jangan dekati aku! Nilam berlari ke kamarnya. Suster sangat mengerti perasaan Aiyla, dia pasti sangat sedih melihat ibunya yang lupa akan dirinya.


"Kau harus kuat, nona. Seringlah datang kemari agar ibumu mengingatmu kembali!" ucap suster.


"Tolong jaga ibuku, langsung kabari aku jika terjadi sesuatu padanya."


"Baik, kalau begitu aku permisi dulu."


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu?" tanya Adlar.


Aiyla memberitahu ayahnya jika neneknya memasukan ibunya ke rumah sakit jiwa karena mental yang terganggu padanya, membuat sang nenek hampir saja celaka.


"Bagaimana bisa?" tanya Adlar.


Pagi tadi, seorang pelayan memberitahunya jika saat ibu dan neneknya sedang sarapan bersama, penyakit ibunya kembali datang. Dia mengira neneknya itu adalah Amine, karena itu dia mencoba melukai sang nenek dengan pisau. Adlar sangat terkejut mendengarnya.


"Lalu, bagaimana dengan nenekmu?"


"Dia baik-baik saja, karena takut kejadian itu kembali terulang akhirnya nenek memasukkan ibu ke rumah sakit jiwa."


Aiyla terlihat sangat sedih, sampai dia harus meneteskan air mata.


"Kenapa kau menangis, sayang?"


Aiyla memberitahu sang ayah jika baru saja dia pergi menemui ibunya. Tiba disana, dia terlihat sedang bermain dengan seorang suster. Saat datang, ibunya sama sekali tidak mengingatnya. Dia berfikir jika dirinya itu Amine. Dia sangat ketakutan dan menyuruh suster untuk mengusirnya lalu, dia pergi ke kamarnya. Adlar sangat sedih mendengarnya, dia meminta Aiyla untuk kuat. Ibunya itu sedang dalam proses pengobatan, tidak akan lama lagi pasti sembuh. Mereka akan berkumpul kembali seperti dulu.

__ADS_1


"Jika kau ingin pergi lagi kesana, beritahu ayah. Ayah akan menemanimu."


"Baiklah,"


\*\*\*


Hari sudah gelap. Glan menghubungi Myra untuk menanyakan tentang Ishla.


"Halo, Glan! Ada apa?"


"Apa kau masih ada di kantor?"


"Ya, kenapa memang?"


"Apa Ishla ada bersamamu?"


"Dia sudah pulang tadi sore, kelihatannya dia sangat lelah. Wajahnya sedikit pucat tadi. Apa kau menghubungiku hanya untuk menanyakan Ishla? Kenapa kau tidak langsung saja menghubunginya?"


"Baiklah, terima kasih banyak."


"Dasar orang aneh!"


Malam ini Myra akan lembur. Dia pergi ke toko untuk memberitahu ibunya sekaligus membawa bekal untuk malam nanti takut dia merasa lapar. Tiba di toko, Myra melihat semua kue milik ibunya habis terjual. Lea sampai lupa menyisakan kue itu untuk putrinya.


"Maafkan ibu, sayang. Ibu lupa untuk menyisakan kuenya untukmu. Ibu pikir kau tidak akan datang malam ini."


"Tidak masalah, ibu. Aku senang semua kue buatan ibu habis terjual."


Myra memberitahu ibunya jika malam ini dia akan lembur. Lea pergi ke dapur untuk membuatkan makanan lezat untuk putrinya. Dia bisa memakannya nanti saat lapar. Tidak lama menunggu akhirnya makanan yang dibuat Lea selesai. Dia memberikannya pada Myra. "Ini untukmu, nak. Kau bisa memakannya nanti malam jika lapar." Saat dilihat ternyata itu adalah makanan kesukaannya. "Terima kasih banyak, ibu. Kalau begitu aku akan pergi."


\*\*\*


Setibanya di rumah, Glan melihat-lihat sebuah cincin. Dalam waktu dekat ini dia berniat untuk melamar Ishla. Sebelum Glan membeli cincin itu, dia tidak tahu ukuran jari Ishla. Pikiran Glan langsung tertuju pada Myra. Dia akan meminta bantuan Myra untuk itu. Malam itu, Glan langsung menghubungi Myra.


"Ada apa? Apa kau ingin menanyakan lagi tentang Ishla?" ucap Myra sedikit kesal.


"Tenanglah, apa kau masih marah karena hal tadi?"


"To the point saja, ada apa kau menghubungiku?"


Glan meminta bantuan Myra untuk mengetahui ukuran jari Ishla. Mendengar hal itu Myra langsung bersemangat. Dia sekarang hanya ingin tahu untuk apa Glan memintanya melakukan semua itu. Myra sudah menebak jika Glan akan memberikan sebuah cincin pada Ishla, entah itu untuk lamaran atau pernikahan. Sebelum itu, dia bersikap seolah tidak tahu.

__ADS_1


"Untuk apa kau memintaku melakukan semua itu?" tanya Myra.


Glan memberitahu Myra jika dalam waktu dekat ini dia akan melamar Ishla. Sebelum membeli cincin lamarannya, dia harus terlebih dahulu mengetahui ukuran jari Ishla. Hanya melalu dirinya lah Glan tahu ukuran jari Ishla. Myra sangat kegirangan mendengarnya, tapi dia mencoba untuk menahannya. "Baiklah, itu hal mudah bagiku." Glan meminta Myra untuk tidak memberitahu siapapun, termasuk Ishla.


__ADS_2