CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
KELUARGA DIAZ BERDUKA


__ADS_3

Dua hari berlalu, akhirnya Aiyla sadarkan diri. Saat akan turun dari tempat tidurnya, dia tidak bisa merasakan apapun pada kakinya. "Ada apa dengan kakiku?" Aiyla teriak histeris. Adlar dan Azizah yang baru kembali dari luar terkejut saat mendengar teriakan Aiyla.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Adlar.


"Kenapa aku tidak bisa mengerakkan kakiku, ayah?"


"Dokter bilang... Kau mengalami benturan keras pada kedua kakimu saat kecelakaan, karena itu sekarang kakimu lumpuh."


"Aku lumpuh? Tidak mungkin! Aku tidak ingin lumpuh, ayah! Aku tidak ingin lumpuh...


Adlar meminta putrinya untuk kuat, dia meyakinkan Aiyla jika itu hanya sementara. Setelah melakukan terapi jalan beberapa bulan, pasti kedua kakinya itu bisa kembali berjalan.


"Aku tidak ingin lumpuh, ayah...


Aiyla menangis sejadi-jadinya sambil memukul kedua kakinya yang lumpuh. Adlar memeluk Aiyla untuk menenangkannya.


"Tenanglah, putriku... Aku yakin jika kau giat melakukan terapi jalan, itu lebih cepat untuk penyembuhan mu."


Sementara itu, Azizah pergi untuk membeli minuman. Tiba di kantin rumah sakit, seseorang menariknya.


"Kau siapa?" Ethan langsung membuka penutup wajahnya. "Ethan? Apa yang kau lakukan disini?" Ethan memberitahu Azizah jika dia sangat mengkhawatirkan adiknya. Sebelum ada orang yang melihatnya, Azizah membawa Ethan ke tempat yang lebih aman. Azizah mengajak Ethan ke sebuah cafe di dekat rumah sakit. Disana mereka bisa bicara dengan tenang.


"Apa yang sebenarnya terjadi, nek?" Azizah memberitahu semua yang dia ketahui, karena rasa tidak sukanya pada Ishla, dia membawa-bawa nama Ishla dalam kecelakaan yang dialami Aiyla. Dia menyalahkan Ishla untuk semua itu. Di satu sisi, tanpa mereka sadari tenyata Will ada di tempat yang sama untuk memantau setiap pergerakan Ethan. Dia langsung memotret kebersamaan Ethan dan Azizah dan mengirimnya ke Amine.


\*\*\*


Amine telah sampai di rumah. Dia meminta Keenan untuk membawa Ishla ke kamarnya. Amine langsung menghubungi dokter pribadinya. Tidak lama dokter datang, dan memeriksa keadaan Ishla.


"Bagaimana keadaan putriku, dokter?"


"Tekanan darahnya rendah, itu sebabnya dia pingsan."


"Apa ada hal lain yang sangat serius?"

__ADS_1


"Tidak, nyonya. Putrimu hanya saja harus banyak beristirahat dan jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu, karena itu akan sangat berpengaruh pada kondisi tubuhnya."


"Baiklah, dokter. Terima kasih."


Tidak lama kemudian akhirnya Ishla sadarkan diri. Dia masih merasa pusing di kepalanya. Amine pergi untuk meminta pelayan membuatkan makanan, Ishla harus segera meminum obatnya. Keenan membantu Ishla membenarkan posisi duduknya, badannya terlihat masih lemas.


"Bagaimana keadaanmu, nak?"


"Sedikit lebih baik, paman. Hanya saja kepalaku rasanya masih pusing." Tidak lama Amine datang dengan membawa makanan untuk putrinya.


"Aku tidak ingin makan, ibu!"


"Kau harus makan, setelah itu minumlah obatnya!" Ishla tetap saja menolak untuk makan, selera makannya seakan hilang. Keenan membujuk Ishla untuk makan, dia begitu khawatir saat Ishla pingsan tadi. "Makanlah sedikit!" Akhirnya Ishla mau memakan makanannya dengan di suapi Keenan. Setelah meminum obatnya, Ishla kembali tidur. Dia akan sering tertidur karena pengaruh obat itu.


Saat malam hari, Amine menghubungi Myra. Dia memintanya untuk menghandle semua jadwal yang Ishla miliki tiga hari ke depan. Dia masih harus banyak istirahat, pekerjaan kantor akan membuatnya sangat lelah. Myra langsung mengerjakan apa yang diminta Amine. Di sisi lain, Glan datang dengan membawa buah-buahan untuk melihat keadaan Ishla. Amine menyambut hangat kedatangan Glan di rumahnya. Dia langsung mengantar Glan ke kamar Ishla. Disana Ishla terlihat sedang membaca buku.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Glan.


"Aku baik," jawab Ishla. Glan mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Ishla.


"Aku sama sekali tidak repot," jawab Glan. "Apa kau ingin makan buah?"


"Aku sedang tidak ingin, Glan." Walau Ishla menolak untuk memakan buah, Glan tetap saja mengupas dan memotong beberapa buah untuk Ishla. "Cobalah anggur ini! Rasanya begitu lezat, kau akan ketagihan saat memakannya." Ishla saat tergiur melihat Glan memakan anggur itu, dia tidak bisa lagi menahannya. "Berikan anggur itu padaku!" Glan tersenyum melihat sikap Ishla. Dia bukannya memberikan anggur ke tangan Ishla, Glan malah ingin menyuapinya.


"Bukalah mulutmu!" Ishla melihat Glan lama. Dia merebut anggur itu dari tangan Glan, tapi tidak berhasil. "Berikan padaku! Aku bisa memakannya sendiri, lagi pula aku bukan lagi anak kecil," ucap Ishla.


"Apa aku salah jika ingin menyuapimu?" tanya Glan. "Aku takut jika tanganmu itu belum bisa mengangkat buah anggur ini," ledek Glan penuh tawa. Ishla menatapnya serius, tawa Glan begitu saja menghilang.


"Berikan anggur itu, padaku!" ucap Ishla sambil membuka mulutnya. Glan langsung menyuapi anggur itu untuk Ishla. Secara diam-diam, Amine melihat kebersamaan mereka di balik pintu. Dia sangat senang melihat senyum putrinya itu telah kembali karena Glan.


\*\*\*


Malam itu, suster membawa Nilam kembali ke kamarnya. Sudah beberapa minggu ini tidak ada keluarga yang datang mengunjunginya. Nilam semakin depresi juga stres. Tempat itu membuat Nilam sangat menderita juga kesepian. Dia merasa dirinya sudah diasingkan dengan sangat jauh. Tidak ada lagi orang yang peduli padanya, termasuk keluarganya sendiri. Nilam rasanya sudah tidak ingin lagi hidup, kematian mungkin jalan terbaik baginya. Nilam pergi untuk mengambil kertas juga bolpoin. Dia mulai menuliskan sesuatu di dalam kertas itu.

__ADS_1


Malam sudah mulai larut, Ishla tertidur ketika sedang membaca buku. Glan menatap Ishla begitu dalam, dia sudah tidak sabar ingin menjadikan Ishla satu-satunya perempuan yang akan mengisi kekosongan hidupnya. Mungkin tidak untuk saat ini, tapi Glan yakin jika hari itu akan tiba. Glan mengambil buku itu dari dekapan Ishla, dan membenarkan posisi tidurnya. Dia tidak lupa untuk memakaikannya selimut. Glan menemui Amine di ruangan. Dia memberitahu Amine jika Ishla sudah tidur. Amine menyuruh Glan duduk sebentar, dia akan menyuruh pelayan untuk membuatkannya teh.


"Kalian sudah sangat dekat... Apa kau tidak ada keinginan untuk melamar putriku, Glan?" Pertanyaan Amine membuat Glan terdiam sejenak.


"Apa kau akan merestui hubungan kami, nyonya?" Pertanyaan Glan membuat Amine tersenyum. Dia memberitahu Glan jika selama dia ada di dekat putrinya, Ishla akan baik-baik saja. Air mata yang ada akan menjadi sebuah senyum manis yang terpancar, setiap ketidakpastian yang dia rasakan, akan ada jawaban saat Glan bersamanya. "Aku menyetujui hubungan mu dengan putriku, Glan. Aku akan sangat beruntung jika bisa memiliki menantu hebat sepertimu," ucap Amine dengan yakin.


\*\*\*


Malam sudah semakin larut, Nilam memeriksa keadaan di luar. Saat tahu semua orang sudah terlelap tidur, secara diam-diam dia pergi ke lantai atas. Rumah sakit jiwa itu terdiri dari tujuh lantai, dan Nilam pergi kesana dengan menaiki anak tangga. Tiba di atas, Nilam sempat melihat pemandangan malam yang begitu indah. Tepat di atas kepalanya ada rembulan yang bersinar terang. "Semua terlihat sangat indah, tapi sayang mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melihat semua ini," ucap Nilam. Dia sempat melihat ke bawah, dan ternyata tempat itu lumayan tinggi. Nilam berdiri di tembok itu, dan tidak segan untuk melompat ke bawah.


"Ibu..., Aiyla terbangun karena mimpi buruk yang dialaminya. Sudah beberapa minggu ini dia tidak mengunjungi ibunya disana. Besok Aiyla akan meminta Adlar untuk mengantarnya menemui Nilam.


Malam itu, Aiyla tidak bisa tidur lagi karena terus teringat pada ibunya. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi pihak rumah sakit, tapi dia kembali melihat jam di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 02.15 malam, disaat-saat seperti itu pihak rumah sakit tidak akan menerima panggilan apapun. Aiyla mencoba untuk tetap tenang, dia akan segera menemui ibunya besok.


\*\*\*


Pagi itu, seorang perawat dikejutkan dengan sosok perempuan yang sudah tergeletak di belakang rumah sakit dengan berlumuran darah. Perawat itu segera melaporkan kejadian itu pada pihak rumah sakit. Perawat lebih terkejut lagi saat melihat perempuan itu adalah Nilam. Pihak rumah sakit segera memberitahu keluarga tentang kejadian itu.


Setelah sarapan, Aiyla meminta ayahnya untuk mengantarnya sebentar ke rumah sakit. Dia sangat merindukan ibunya. Saat mereka berjalan ke dalam mobil, ponsel Adlar berbunyi. Dia sangat terkejut saat mendapat kabar jika Nilam telah meninggal. Adlar terlihat lemas, dia menjatuhkan ponselnya begitu saja.


"Ada apa ayah? Siapa yang menelepon pagi-pagi seperti ini?" Aiyla mengambil ponsel ayahnya dan berbicara pada orang itu. Aiyla langsung menangis histeris.


"Ibu....


Azizah yang mendengar teriakan Aiyla langsung datang menghampiri. "Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Adlar memberitahu ibunya jika baru saja pihak rumah sakit meneleponnya dan mengatakan jika Nilam sudah meninggal. Azizah terkejut tidak percaya. Mereka semua langsung pergi ke rumah sakit. Tiba disana, Adlar terlihat sangat marah karena merasa pihak rumah sakit sudah ceroboh dalam mengurus Nilam.


"Dimana ibuku?" Seorang perawat membawa Aiyla menemui Nilam untuk yang terkahir kalinya.


"Ibu, bangunlah! Jangan meninggalkan aku sendiran seperti ini...


Aiyla menangis histeris di depan jenazah ibunya. "Kenapa kau pergi dengan cara seperti ini, ibu?" Sementara itu, pihak rumah sakit memperlihatkan semua rekaman CCTV mengenai kejadian yang menimpa Nilam. Dalam rekaman itu terlihat dengan jelas jika Nilam pergi keluar kamarnya saat pukul 02.00 malam, dan sampai di lantai atas pukul 02.15, tidak berselang lama akhirnya Nilam melompat dari tempat itu ke bawah.


"Apa ini semacam tindakan bunuh diri?" tanya Azizah.

__ADS_1


"Benar sekali, nyonya. Kau tidak bisa menuntut kami ke pengadilan, karena semua ini bukanlah kelalaian dari pihak rumah sakit, tapi semua itu murni dilakukan oleh pasien sendiri," ucap pemilik rumah sakit. Pihak rumah sakit mengizinkan Adlar untuk membawa Nilam ke rumah duka. Saat mobil ambulan di depan, mobil Adlar berada di belakangnya. Semua orang sangat sedih menerima kenyataan pahit ini. Tidak lama, jenazah Nilam sampai di kediaman Diaz. Azizah meminta orang untuk segera mengurus jenazah Nilam, dia juga sudah menyiapkan kuburan untuk Nilam tempatnya tidak jauh dari makam suaminya.


Setelah selesai, semua orang membawa jenazah Nilam ke pemakaman. Keluarga Diaz tidak pernah luput dari media, saat tahu Nilam meninggal semua media sibuk mencari tahu penyebabnya. Kurang lebih satu jam, akhirnya pemakaman Nilam telah selesai. Aiyla menabur bunga di atas makam itu, dan mencium batu nisan yang bertuliskan nama ibunya. Hari sudah mulai sore, Adlar mengajak Aiyla untuk pulang, tapi dia menolaknya. "Biarkan aku disini, ayah! Kasihan ibu, dia sendirian di dalam sana." Adlar meminta Azizah untuk pulang lebih dulu, dia yang akan menemani putrinya di pemakaman.


__ADS_2