CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
CIUMAN PERTAMA


__ADS_3

Amine tiba di rumah sakit. Dia pergi ke ruang perawatan Ishla. Disana sudah ada Ashika dan Zafer yang sedang menunggu di luar.


"Apa yang terjadi?" Ashika menceritakan semuanya. Semua orang di kampus membenci Ishla, mereka melempari Ishla dengan gulungan kertas dan batu yang mengenai jidatnya sampai berdarah. Tidak lama dokter keluar dan mengatakan jika kondisi Ishla baik-baik saja. Amine pergi untuk melihatnya. Ishla masih terbaring di tempat tidur, dia masih belum sadarkan diri. Amine melihat luka di jidat Ishla. Amine sangat berterimakasih pada Zafer karena sudah melindungi Ishla dari serangan orang-orang kampus. Saat itu, Kemal menghubungi Zafer dan mengatakan jika mobil yang ia minta sudah selesai dirancang. Zafer pergi untuk mengambil mobil itu di bengkel ayahnya. Di dalam perjalanan, Zafer menghubungi Ethan untuk menemuinya di suatu tempat. Tiba di bengkel, Zafer sangat puas dengan hasil kerja ayahnya, mobil itu sama persis dengan milik Ethan. Jika seperti itu, Ethan tidak akan curiga sedikitpun jika mobil itu hanyalah palsu.



Tidak lama Ishla membuka matanya. Kepalanya masih terasa sangat pusing. Amine membawa Ishla pulang ke rumah. Di mobil, Ishla terlihat sangat murung. Amine mencoba mengajaknya bicara, tapi dia diam saja.


"Ishla? Apa kau baik-baik saja, sayang? Bagaimana kepalamu? Apa masih terasa sakit?"


"Lagi-lagi... Ibu menyembunyikan sesuatu dariku." Amine menatap Ishla heran. "Ibu pasti tahu berita ini, bukan? Kenapa ibu tidak mengatakan semuanya padaku?"


"Berapa kali ibu harus jelaskan padamu? Ibu sangat mengkhawatirkan dirimu. Ibu tidak ingin kau kenapa-kenapa, sayang."


"Tetapi, tetap saja sesuatu buruk selalu menghampiri ku setiap waktu." Amine mencoba mengalah, dia tidak ingin ada lagi perdebatan diantara dirinya dan Ishla. Mungkin sebaiknya tidak ada lagi sesuatu yang harus Amine tutup-tutupi dari Ishla. Sesampainya di rumah, Amine membawa Ishla ke kamarnya. Dia memberitahu jika siang nanti akan ada rapat penting di kantor, Amine berharap Ishla bisa hadir dalam rapat itu. Tidak ada jawaban sama sekali dari Ishla, Amine mencoba untuk mengerti dengan semua yang dirasakan Ishla saat ini. Tidak mudah berada di dalam posisinya sekarang ini.



Amine pergi ke kantor. Tiba disana, dia sudah disambut dengan kehadiran Adlar dan Aiyla di ruangannya.


"Untuk apa kalian datang kemari?" Sikap Amine terlihat sangat dingin. Dia langsung duduk di kursi kerjanya tanpa memandang sedikitpun ke arah Aiyla.


"Aiyla ingin mengatakan sesuatu padamu...


"Jangan sekarang! Aku sangat sibuk, aku tidak ingin membuang waktuku untuk mendengar semua perkataan putrimu itu."


Aiyla terlihat sangat sedih dengan semua perkataan Amine padanya. Dia memang bersalah, tapi kedatangannya kemari untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan yang renggang diantara mereka.

__ADS_1


"Kenapa kau bicara seperti itu pada putriku? Tidak bisakah kau menghargai keberadaan putriku disini? Dia datang untuk meminta maaf padamu." Amine beranjak dari tempat duduknya. Dia mengingatkan Adlar jika masalah pribadi tidak seharusnya dibicarakan di kantor.


"Apa kau ini tidak bisa profesional saat bekerja? Kau datang ke tempatku dan memintaku untuk mendengar permintaan maaf putrimu? Apa itu tandanya seseorang yang profesional dalam bekerja?" Aiyla tidak bisa terima dengan sikap Amine padanya. Dia memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.


"Tunggu!" Langkah Aiyla terhenti, dia melihat Amine yang berjalan ke arahnya.


"Selamat, Nak. Kau sudah berhasil membuat nama baik Ishla hancur dihadapan banyak orang."


"Sudah cukup! Tidak perlu kau membahas hal itu lagi." ucap Adlar.


"Kenapa? Apa kau tidak bisa menerimanya? Kau bisa pergi darisini! Biarkan putrimu mendengarkan semua perkataan ku ini." Amine memberitahu Aiyla jika semua orang di kampus membenci Ishla dan menuduhnya sebagai orang ketiga dalam hubungannya dengan Aiyaz. Mereka sudah termakan dengan semua perkataan Aiyla di televisi. Mereka melempari Ishla dengan gulungan kertas dan batu. Dia harus dilarikan ke rumah sakit karena jidatnya terluka terkena lemparan batu itu.


"Jika kau pikir aku memafkan mu untuk tindakan mu ini, kau salah. Aku tidak bisa memaafkanmu. Pergi dan temui Ishla! Minta maaf padanya, mungkin dia akan memaafkanmu." Amine melangkah pergi, Aiyla terlihat diam mendengar semua perkataan Amine. Adlar tidak tega melihat putrinya seperti itu, dia membawa Aiyla pergi darisana.


Sudah lama Zafer menunggu, akhirnya Ethan muncul juga. Zafer tidak banyak bicara. Dia langsung memberikan kunci mobil itu pada Ethan, lalu pergi. Ethan sangat senang akhirnya mobil itu kembali dia dapatkan. Azizah dan Nilam akan sangat senang dengan apa yang akan Ethan perlihatkan pada mereka. Ethan pergi dengan mengendarai mobil itu. Tidak sampai disitu, Zafer ternyata membuntuti Ethan dari belakang. Sebelumnya Amine sudah menyuruhnya untuk menjadi mata-mata Ethan. Dia harus memberitahu setiap gerak-gerik Ethan.



"Kau datang?" Amine sangat senang melihat Ishla datang ke kantornya. Dia menyambut Ishla dengan pelukan hangat.


"Maafkan aku, Ibu. Sikapku padamu sangat tidak baik." Ishla mendekap ibunya dengan sangat erat.


"Tidak apa-apa, sayang. Ibu mengerti apa yang kau rasakan. Lupakan semua itu! Yang terpenting sekarang, kau sudah ada disini dan pastinya kau harus ikut serta dalam rapat ini."



Sepulangnya dari kampus, Aghna pergi menemui Aiyaz di kantornya. Dia memberitahu Aiyaz tentang apa yang terjadi pada Ishla saat di kampus. Aiyaz sangat terkejut mendengar semua perkataan Aghna. Dia mencoba menghubungi ponsel Ishla, seperti biasa lagi-lagi Ishla tidak menjawabnya. Aghna memberi tahu Aiyaz jika Ishla sempat pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Ada sedikit luka di jidatnya karena batu yang dilempar ke arahnya.

__ADS_1


"Apa Amine yang membawanya ke rumah sakit?" tanya Aiyaz.


"Bukan, Zafer yang membawa Ishla ke rumah sakit. Dia datang dan langsung melindungi Ishla dari serangan semua orang yang ada di kampus." Aiyaz merasa jika dirinya sama sekali tidak berguna, dia tidak bisa ada disamping Ishla saat masalah terjadi padanya. Tetapi Zafer, dia selalu ada untuk melindungi Ishla.



Sesampainya di rumah, Ethan langsung menunjukkan mobil itu pada Azizah dan Nilam. Mereka sangat senang akhirnya mobil itu bisa Ethan dapatkan kembali.


"Cepat musnahkan mobil itu! Jangan sampai ada orang yang tahu." ucap Azizah.


"Tapi, bagaimana caranya? Tidak mungkin aku menghancurkan mobil ini disini. Nanti yang ada ayah akan mengetahuinya." Nilam menyuruh Ethan untuk menghancurkan mobil itu nanti malam. Dia bisa menyuruh orang untuk membawa mobil itu ke dekat jurang dan memusnahkannya disana. Jika mobil itu sudah lenyap, tidak akan ada lagi barang bukti yang menunjukkan jika Ethan terkait kasus tabrak lari. Ethan akan melakukan rencananya nanti malam.



Dari kejauhan Zafer tidak bisa mendengarkan percakapan Ethan dengan ibunya. Tapi dia sangat yakin jika Ethan sedang membuat rencana untuk menghancurkan mobil itu.


Siang itu, Amine membawa Ishla ke ruang rapat. Dia tidak tahu jika dalam rapat ini dia akan bertemu dengan Aiyaz. Saat masuk ke ruangan, Aiyaz dan Ishla saling memandang. Mereka tidak percaya akan kembali bertemu di rapat kantor seperti ini. Ishla langsung memalingkan wajahnya, dia duduk di sebelah Amine. Ishla ingin sekali keluar dari tempat itu, tetapi baginya rapat ini sangat penting untuk menambah wawasannya tentang perusahaan. Saat Amine sedang menjelaskan, Aiyaz terus saja menatap Ishla, semua perhatiannya terfokuskan pada Ishla. Selesai menjelaskan, Amine meminta setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya.


"Bagaimana menurutmu, Tuan Aiyaz?" Amine memperhatikan Aiyaz yang sedari tadi menatap Ishla.


Ekhm.. Aiyaz tersadar dari tatapannya itu. Dia langsung memfokuskan pandangannya ke Amine.


"Kau bertanya padaku, Nyonya?" Semua sudah mendengar langsung pendapat dari Aiyaz, tinggal tersisa Ishla. Saat mengemukakan pendapatnya, semua orang sangat takjub atas pemikiran Ishla yang begitu cemerlang. Mereka lebih memilih pendapat Ishla, daripada Aiyaz. Selesai rapat Amine mengantar rekan kerjanya ke pintu keluar. Hanya tersisa Aiyaz dan Ishla di ruangan itu. Aiyaz mendekati Ishla dan menatapnya tajam. Ishla sangat tidak nyaman dengan tatapan Aiyaz padanya.


"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" Ishla hanya menunduk, dia tidak berani menatap wajah Aiyaz.


"Tolong jauhi aku! Jangan lagi mencoba untuk mendekatiku! Aku tidak ingin di cap sebagai orang ketiga dalam hubunganmu dengan perempuan yang bernama Aiyla itu." Aiyaz mendongakkan wajah Ishla untuk menatap wajahnya. Aiyaz menatap dalam-dalam mata Ishla, dan mengatakan jika dia sangat mencintainya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkan kau menyakiti perasana Aiyla. Kalian akan bertunangan, tidak seharusnya kau melakukan hal seperti ini." Aiyaz menjelaskan pada Ishla jika Aiyla sudah membatalkan pertunangannya. Dia tidak mencintai Aiyla sedikitpun, baginya Aiyla hanya sebatas teman, tidak lebih. Lagipula, tidak akan ditemukan kebahagiaan dalam hubungan cinta yang dipaksakan. Ishla berusaha untuk menjaga jarak dengan Aiyaz. Dia meminta Aiyaz untuk segera pergi dari ruangan itu sebelum ibunya datang. Aiyaz tidak peduli apa reaksi Amine saat melihat dia mendekati putrinya. Ishla mencoba menjauhkan Aiyaz darinya, tubuh Ishla menjadi tidak karuan saat Aiyaz mendekatinya. Sikap Ishla membuat Aiyaz tertawa, dia bertingkah semakin menjadi-jadi. Aiyaz mendekatkan wajahnya ke wajah Ishla.


"Apa yang akan kau lakukan?" Ishla membuka matanya lebar-lebar. Ishla mencoba mendorong dada Aiyaz tapi dada itu terlihat bidang dan sangat kuat. Ishla menutup matanya, Aiyaz membisikkan sesuatu pelan ditelinga Ishla, "Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu." Aiyaz mencium pipi Ishla, lalu pergi. Ishla membuka matanya perlahan. Dia memegang pipi yang baru saja dicium Aiyaz. Ishla diam mematung, dia tidak pernah bisa untuk mengontrol perasaannya jika sedang di dekat Aiyaz.


__ADS_2