
Malam telah usai, kini pagi datang menyapa dengan penuh kehangatan. Amine melihat putrinya itu masih tertidur.
"Biasanya dia bangun lebih awal, tapi hari ini sepertinya dia tertidur sangat pulas." ucap Amine. Keenan memberitahu Amine jika tadi malam dia dan Ishla menonton film sampai larut subuh.
"Kau tahu, aku dan putrimu ternyata menyukai film yang sama." ucap Keenan.
"Benarkah? Kedengarannya itu menarik." Saat di rumah sakit, Celine datang dengan membawa buah-buahan untuk Ishla. Dia memberitahu Amine jika pagi ini dia ada pertemuan penting dengan klien. Amine meminta Celine untuk membatalkannya, dia tidak bisa meninggalkan Ishla sendiri di rumah sakit.
"Pergilah! Aku akan menjaga Ishla sampai kau kembali," ucap Keenan.
"Tidak, Keenan. Aku sudah banyak merepotkan mu sejak kemarin."
"Tidak sama sekali," Amine memberitahu Keenan jika hari ini dokter sudah mengizinkan Ishla untuk pulang. Dia tidak bisa meninggalkan Ishla sendiri di rumah. Dia pasti akan sangat ketakutan karena kejadian kemarin. Amine juga sangat takut jika Ethan kembali dan mencoba menyakiti putrinya lagi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tapi Ishla masih tertidur. Sementara itu, pertemuan Amine akan dimulai tiga puluh menit lagi.
"Maaf, nyonya. Aku baru saja mendapat kabar jika Tuan Marvell sudah sampai di perusahaan." ucap Celine.
"Bagaimana ini?" gumam Amine.
"Pergilah! Aku akan menjaga putrimu dengan baik, jika kau takut Ishla sendirian di rumah, aku akan membawanya ke rumahku. Setelah bekerja nanti, kau bisa menjemput Ishla di rumahku. Nanti aku akan mengirim alamat rumahnya padamu." Tidak berpikir lama lagi, akhirnya Amine pergi dan mempercayakan Ishla pada Keenan.
\*\*\*
Pagi itu, saat sarapan Adlar menanyakan tentang Ethan pada ibunya. "Dimana Ethan sekarang ini, Ibu?" Aziza terlihat biasa-biasa saja. "Ada di suatu tempat, kau tidak perlu tahu dimana dia." Adlar tidak percaya jika ibunya itu membantu Ethan dalam persembunyiannya. "Apa yang kau lakukan ini salah, Ibu. Tidak seharusnya kau menyembunyikan Ethan dari polisi." Adlar langsung pergi meninggalkan meja makan. Sementara itu, Ishla baru bangun dari tidurnya. Dia melihat hanya ada Keenan yang tengah duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi.
"Selamat pagi, paman."
"Selamat pagi, sayang." Ishla mencari-cari keberadaan ibunya. "Dimana ibu, paman?" Keenan memberitahu Ishla jika Amine pergi ke kantor untuk pertemuan penting. Dia juga memberitahu Ishla jika dokter sudah mengizinkannya pulang. Sebelum pulang, dokter dan perawat datang. Dia memeriksa luka bakar di tangan Ishla, sekaligus mengganti perban lama dengan yang baru. Sesaat kemudian, Ishla pergi berkemas. Keenan memberitahu Ishla jika dia akan mengantarnya pulang, tapi tidak ke rumahnya melainkan ke rumah Keenan.
"Itu tidak perlu, paman. Aku bisa menghubungi sopir untuk menjemput ku pulang. Lagi pula, kau harus bekerja bukan?"
"Tidak nak, aku sudah berjanji pada ibumu untuk menjagamu." Keenan memberitahu Ishla jika Amine sangat mengkhawatirkannya. Dia takut jika Ishla tinggal sendirian di rumah, Ethan akan datang dan mencoba untuk menyakitinya lagi. Mau tidak mau akhirnya Ishla setuju untuk pulang ke rumah Keenan.
\*\*\*
Saat sedang berkendara, Adlar terlihat tidak fokus. Dia terus memikirkan tentang Ethan. "Dimana ibu menyembunyikan dia?" gumamnya. Adlar langsung tertuju pada putrinya. Tadi malam, dia ada saat ibunya berbincang dengan Ethan. Adlar mengeluarkan ponsel dari kantong bajunya, tapi sayang ponsel itu terjatuh. Adlar mencoba mengambil ponsel itu. Tangannya meraba-raba mencari ponsel. Saat sudah ditemukan, dia tidak tahu jika di depannya ada sebuah mobil.
Bug!!!
__ADS_1
Adlar menabrak bagian belakang mobil yang ada di depannya. Pemilik mobil itu langsung keluar untuk melihat mobilnya. "Ya ampun, mobilnya lecet." Pemilik mobil itu tidak lain adalah Keenan. Dia berhenti untuk menunggu Ishla yang berbelanja ke supermarket karena kulkas yang ada di rumahnya belum sempat diisi. Adlar turun dan langsung meminta maaf pada Keenan.
"Maafkan aku, akan aku ganti semua kerugiannya. Kau tidak perlu khawatir." Adlar mengeluarkan sejumlah uang cukup banyak. Dia memberikannya pada Keenan,
"Ambilah semua uang ini sebagai ganti rugi!" Keenan langsung menolaknya. Dia tidak butuh semua uang itu, dia bisa membawa mobil itu langsung ke bengkelnya. Saat keluar dari supermarket, Ishla melihat Keenan yang sedang berbicara dengan seseorang.
"Paman, ada apa? Kenapa dengan mobilmu?" tanya Ishla sambil menenteng tas belanjaannya. Saat mendengar suara Ishla, langkah Adlar berhenti. Dia membalikkan badannya, begitupun Ishla. Dia menatap ke arah Adlar.
"Ishla?" Senyum Adlar melebar saat melihat putrinya itu. Sudah lama semenjak kejadian Ethan, mereka belum bertemu lagi.
"Apa kabar sayang?" ucap Adlar yang mendekat untuk memeluknya.
"Jangan mendekat!" Tangan Ishla menolak untuk dipeluk Adlar.
"Kau mengenalnya, sayang?" tanya Keenan yang sedikit bingung. Ishla tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia meminta Keenan untuk segera pergi dari tempat itu.
"Tunggu, Ishla! Beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya." pinta Adlar penuh permohonan. Ishla rasanya sangat sulit untuk bisa memperbaiki semua hubungan yang ada dengan ayahnya, dia sudah sangat terluka dengan apa yang sudah Adlar lakukan padanya.
"Ayo kita pergi, paman!" Keenan membantu Ishla memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil. Mereka pun pergi dari hadapan Adlar. Di dalam mobil, Ishla terlihat sangat sedih. Dia tidak bisa lagi menahan tangisnya. Keenan sedikit terkejut saat melihat Ishla yang tiba-tiba menangis. "Kenapa kau menangis, nak?" Ishla terus saja diam tanpa menjawab pertanyaan Keenan. Dia menghapus air matanya, dan mencoba untuk kuat. "Aku tidak apa-apa, paman."
\*\*\*
"Glan? Kau disini?" tanya Myra.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Myra mengajak Glan bicara di ruangannya.
"Ada apa?" Glan terlihat sangat bingung. Dia menunjukkan cincin yang sengaja dia beli untuk melamar Ishla.
"Kapan kau membeli cincin ini, Glan? Kau tahu, ini adalah cincin yang disukai Ishla saat mencobanya di toko waktu itu."
"Aku langsung membelinya saat kau juga Ishla keluar dari toko." Glan memberitahu Myra jika dia sangat bingung dengan keputusannya itu. Dalam waktu dekat ini, Glan ingin sekali melamar Ishla. Tapi, keadaannya selalu saja tidak mendukung. Ada saja hal buruk yang terjadi pada Ishla, ditambah lagi sekarang ini Ethan adalah ancaman terbesar untuk Ishla. Jika polisi tidak cepat menemukannya, nyawa Ishla akan selalu terancam.
"Bagaimana jika kau katakan saja niat baikmu itu langsung pada Nyonya Amine?"
"Kenapa harus seperti itu?" Myra meyakinkan Glan jika niatnya itu akan langsung diterima oleh Amine. Kelihatannya, dia sangat menyukai hubungan dekat yang terjalin antara Glan juga putrinya.
__ADS_1
"Katakan saja semuanya itu pada Nyonya Amine! Biarkan dia yang mengatur semuanya!" ucap Myra.
"Seperti itukah?" tanya Glan yang terlihat masih ragu-ragu. Myra meyakini Glan, jika lamaran itu akan Ishla terima. So, Glan adalah pria yang sangat tepat untuk sahabatnya itu. Dia selalu ada disaat Ishla benar-benar dalam kondisi terpuruknya.
"Ayolah, semangat! Aku akan mendukung penuh hubunganmu dengan Ishla." ucap Myra tersenyum lebar.
"Terima kasih,"
\*\*\*
Sudah kurang lebih tiga puluh menit dalam perjalanan, akhirnya Ishla sampai di rumah Keenan. Saat masuk, sudah ada seorang pelayan yang menyambutnya.
"Selamat datang, tuan." ucap pelayan itu.
"Terima kasih, bi. Oh iya, tolong bawakan semua belanjaan ini ke dapur!"
"Baik, tuan." Keenan mengajak Ishla berkeliling rumahnya. Rumah itu sangat luas, ada kolam renang di samping, juga taman bunga yang indah di belakang rumah. Keenan mengajak Ishla ke lantai atas, disana Ishla bisa melihat hamparan perkebunan yang cukup luas.
"Perkebunan milik siapa itu, paman?"
"Milikku, nak. Aku menanam semacam sayuran juga buah-buahan disana. Saat panen nanti, aku akan mengajakmu mencicipi buah yang langsung dipetik dari pohonnya."
"Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu, paman." Keenan memperlihatkan semua ruangan yang ada di rumahnya.
"Ini kamarmu, nak." Ishla melihat kamar untuknya yang begitu luas. Di kamar itu dia bisa melihat perkebunan juga para pekerjanya. "Kamarnya sangat nyaman, paman. Terima kasih." Kamar Ishla berada di lantai atas, sedangkan kamar Keenan sendiri ada di bawah. Jika Ishla membutuhkan sesuatu, dia bisa menekan tombol yang ada di dekat tempat tidurnya. Tombol itu akan tersambung sendirinya pada Keenan ataupun pelayan di rumahnya. Siang itu, Ishla menghabiskan waktunya di kamar. Sementara itu, Keenan pergi ke ruang kerjanya.
Tok... Tok... Tok...
"Masuklah!"
"Ini teh yang kau minta, tuan." ucap pelayan sambil menaruh teh itu di atas meja kerjanya.
"Terima kasih, bi."
"Sama-sama, tuan. Kalau begitu bibi permisi dulu."
Sambil menikmati secangkir teh, pikiran Keenan kembali ke masa saat dia kuliah dulu. Amine dan Keenan adalah sahabat dekat, mereka satu angkatan namun berbeda jurusan. Keenan sering menghabiskan waktu berdua dengan Amine saat kuliah. Mereka adalah sahabat yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena kebersamaan yang ada diantara mereka, Keenan mulai jatuh cinta pada Amine. Dia berharap jika Amine adalah cinta pertama juga terakhirnya.
__ADS_1
Setelah hari kelulusan, Amine berpamitan untuk pergi ke New Zealand. Orang tuanya saat itu dialih tugaskan kesana. Keenan yang bukan siapa-siapa tidak bisa menghalangi kepergian Amine. Tapi, saat Keenan sukses nanti dia akan pergi menemui Amine ke New Zealand untuk mengungkapkan semua isi hatinya. Dua tahun berlalu, Keenan berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses. Ketika itu dia terbang ke New Zealand untuk menepati janjinya. Tiba disana, dia harus menelan kenyataan pahit jika Amine telah bersanding dengan yang lain. Saat itu hati Keenan sangat hancur. Semenjak saat itu Keenan memutuskan untuk pindah ke London tanpa memberitahu siapapun. Sampai saat ini, dia belum juga menikah karena hanya Amine satu-satunya perempuan yang dia inginkan. Keenan pikir penantiannya ini akan berbuah manis, tapi sepertinya ini sebuah rasa yang belum usai bahkan, belum menemukan titik terang.