
Satu hari sudah berlalu, tidak ada tindakan apapun dari Amine maupun Ishla yang membuat Ethan akhirnya disidang. Semua orang datang untuk menyaksikannya, tetapi tidak dengan Aiyla. Dia harus tinggal di rumah sakit untuk menunggu Azizah yang masih belum siuman. Semua berdiri saat hakim ketua masuk. Cukup lama sidang berlangsung, bukti demi bukti sudah sangat memberatkan Ethan. Pengacara tidak bisa lagi membela kliennya karena bukti yang ada terlalu kuat. Berselang satu jam akhirnya semua orang di ruangan akan segera mendengarkan keputusan hakim ketua. Dilihat dari semua bukti yang ada, sudah jelas Ethan bersalah dalam hal ini. Untuk itu, hakim ketua memberikan hukuman lima tahun penjara bagi Ethan. Suara ketukkan palu terdengar jelas, itu artinya keputusan tidak bisa lagi diganggu gugat. Semua orang bubar dari ruangan itu. Polisi membawa Ethan masuk ke dalam sel tahanan.
"Ibu, aku tidak ingin dipenjara." ucap Ethan.
"Maafkan ibu karena tidak bisa berbuat apapun. Jaga dirimu dengan baik disana! Aku berjanji akan mengunjungimu setiap hari." ucap Nilam.
Nilam sangat sedih karena harus melihat putranya mendekam di penjara. Dia menatap Adlar tajam. Saat itu juga Nilam menghubungi Aiyla dan memintanya untuk segera pulang ke rumah. Nilam akan menunjukkan pada Adlar jika perkataannya itu tidak main-main. Dia dan Aiyla akan pergi dari rumah saat dirinya tidak bisa membuat Ishla mencabut tuntutannya terhadap Ethan. Sesampainya di rumah, Aiyla melihat ibunya yang datang dengan diikuti oleh sang ayah.
"Bagaimana hasil sidangnya ibu?" tanya Aiyla.
"Ibu bisa apa nak, kakakmu mendapat hukuman lima tahun penjara." ucap Nilam.
Aiyla sangat sedih mendengarnya. Nilam menyalahkan Adlar untuk semua itu karena dia gagal membujuk Ishla untuk mencabut tuntutannya. Adlar mencoba membela diri dengan mengatakan jika dia sudah sangat bersikeras membujuk Ishla tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan dengan sikapnya itu Ishla sangat terluka dan memintanya untuk menjauh darinya. Nilam tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Adlar. Dia menyuruh Aiyla untuk segera mengemas semua barang-barangnya karena hari ini juga mereka akan pergi meninggalkan rumah.
"Apa kau serius ibu?" tanya Aiyla masih tidak percaya.
"Apa wajahku ini terlihat sedang berpura-pura?" tanya Nilam.
"Tidak, ibu. Aku tidak ingin pergi dari rumah ini. Aku ingin tetap disini bersama kalian."
"Kau harus memilih! Ibu, atau ayahmu?" tanya Nilam.
Jika harus memilih Aiyla tentu saja tidak bisa. Mereka berdua sangat berharga dalam kehidupannya. Dia ingin keluarganya utuh kembali seperti dulu. Aiyla hanya terdiam karena tidak bisa memilih satu diantara mereka. Akhirnya Nilam memutuskan untuk pergi dari rumah seorang diri. Dia pergi ke kamar untuk mengemas semua barang-barangnya.
Melihat hal itu, Adlar langsung memeluk putrinya itu.
"Tolong bujuk ibu agar tidak pergi dari sini, ayah!" pinta Aiyla sambil menangis.
"Biarkan saja ibumu sendiri untuk sementara waktu, setelah semua membaik dia pasti akan kembali lagi ke rumah ini." ucap Adlar.
Setelah mengemas semua barang-barangnya akhirnya Nilam pergi. Aiyla mencoba untuk menahannya, tapi Adlar segera menariknya.
"Ibu, tolong jangan pergi dari sini!" ucap Aiyla.
"Sudahlah, sayang." ucap Adlar sambil memeluk putrinya itu.
"Ibu....
\*\*\*
__ADS_1
Sore ini Amine baru saja kembali dari Singapura setelah melakukan pekerjaan penting. Dalam perjalanan pulang Amine mendapat kabar dari pengacaranya tentang Ethan. Amine tersenyum lepas setelah tau Ethan dihukum dengan hukuman lima tahun penjara. Akhirnya dia mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya itu. Amine sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ishla. Setibanya di rumah, Amine menyuruh Selma membawa semua barangnya ke kamar.
"Dimana Ishla?" tanya Amine.
Selma terlihat diam saja saat Amine bertanya mengenai keberadaan Ishla.
"Kenapa kau diam saja? Dimana putriku?" tanya Amine kembali.
"Maaf, nyonya. Aku tidak tahu dimana Ishla berada. Semalam dia tidak pulang ke rumah. Aku sudah mencoba menghubungi ponsenya tapi tidak bisa." ucap Selma.
Amine segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ishla. Ponselnya tersambung tapi Ishla tidak menjawabnya. Amine yakin ada sesuatu yang terjadi pada putrinya itu. Tidak biasanya dia mengabaikan telepon seperti ini. Amine langsung pergi ke kantor untuk mengecek keberadaan Ishla. Saat memasuki ruang kerjanya disana tidak ada siapapun. Mejanya masih terlihat sangat rapi. Dia mencoba bertanya pada pegawainya tapi mereka tidak ada yang tahu. Amine mencoba menghubungi Myra mungkin saja Ishla sedang bersamanya. Saat dihubungi, ternyata hari ini Myra libur. Dia juga tidak tahu dimana Ishla berada. Amine sangat bingung harus mencari kemana putrinya itu. Tidak lama sekretaris datang dan melihat Amine yang berada di ruangan Ishla.
"Nyonya? Kapan kau datang?" tanya sektretaris itu.
"Baru saja, apa Ishla tidak datang hari ini?" tanya Amine.
"Tidak, nyonya. Terakhir kami berkomunikasi kemarin malam. Nona menyuruhku untuk membatalkan semua meeting hari ini."
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Amine.
"Tidak, nyonya. Tapi...
\*\*\*
Hari sudah semakin gelap. Angin mulai berhembus sangat kencang. Terlihat seorang gadis duduk di dekat selat yang tidak lain gadis itu adalah Ishla. Wajahnya terlihat sangat pucat, karena belum tidur seharian ini. Setiap napas yang dia hembuskan keluar asap karena begitu dinginnya udara malam itu. Ishla merekatkan jaket pada tubuhnya. Sekujur tubuhnya mulai gemetar karena kedinginan tapi dia mencoba menahannya karena belum ingin beranjak daris sana. Dia melihat beberapa panggilan yang masuk ke dalam ponselnya tapi dia lagi-lagi tidak peduli. Sementara itu, Amine sudah tiba di rumah Adlar. Dia langsung masuk dan melabrak Adlar.
"Dimana Ishla?" tanya Amine.
"Apa maksudmu? Kau datang dengan cara seperti ini lalu menanyakan putrimu. Apa kau pikir aku menyembunyikan dia?" tanya Adlar.
Aiyla yang mendengar suara keributan langsung keluar untuk melihatnya.
"Aku bertanya padamu untuk yang terakhir kalinya, dimana putriku?" tanya Amine penuh kemarahan.
"Aku benar-benar tidak tahu dimana putrimu itu."
Amine melihat ada gelas di atas meja makan, dia mengambil gelas itu lalu memecahkannya.
"Bibi, apa yang kau lakukan?" tanya Aiyla yang baru saja datang. "Sudah cukup kau membuat kakakku di penjara, dan sekarang kau ingin berbuat kekacauan di rumahku, apa kau belum puas?"
__ADS_1
"Diamlah!" bentak Amine. "Kau tidak tahu apapun, ini masalahku dengan ayahmu."
Adlar yang melihat Amine membentak putrinya tidak terima. Dia menyuruh Aiyla untuk kembali ke kamarnya. Tanpa membantah perintah sang ayah akhirnya Aiyla kembali ke kamarnya.
"Kenapa kau membentak putriku seperti itu?" tanya Adlar.
"Kau ini sangat lucu, Adlar. Aku baru saja membentak putrimu seperti itu dan kau tidak bisa menerimanya? Lalu bagaimana dengan putriku yang setiap saat kau hancurkan perasaannya apa kau tidak merasa bersalah dengan semua itu? Jika kau saja bisa menyakiti perasaan putriku, kenapa aku tidak bisa?" ucap Amine.
Setelah tahu Adlar mengatakan yang sejujurnya, Amine langsung pergi dari sana. Mendengar kepergian Ishla, rasanya Adlar sangat bersalah karena semua yang terjadi itu karenanya.
\*\*\*
Malam itu Glan baru saja pulang dari kantor. Dalam perjalanan dia tidak sengaja melihat Ishla yang sedang duduk di dekat selat. Glan langsung menghentikan mobilnya dan pergi menemui Ishla.
"Ishla? Kau disini?" ucap Glan.
"Glan? Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Ishla.
"Aku kebetulan lewat, dan melihatmu duduk sendiri disini."
Glan melihat tubuh Ishla yang gemetar, wajahnya juga terlihat sangat pucat. Glan melepas jaketnya dan memakaikannya pada Ishla agar lebih hangat.
"Sedang apa kau disini?" tanya Glan.
"Terlalu banyak masalah yang aku hadapi, sampai aku bingung harus menceritakannya dari mana." ucap Ishla.
Glan memegang tangan Ishla, "Tidak bisakah aku menjadi bagian dalam hidupmu? Jika itu tidak mungkin, biarkan aku menjadi orang yang selalu ada disaat kau sedang sedih seperti ini."
Ishla memeluk Glan dan menumpahkan semua kesedihan dipundaknya. Saat mereka berpelukan, dari jauh ada orang yang secara diam-diam memotret kebersamaan mereka. Glan merasakan tubuh Ishla yang semakin dingin, dia langsung mengantarnya pulang. Sementara itu, Amine masih kebingungan harus mencari putrinya itu kemana lagi. Tidak lama, dia melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Saat dilihat ternyata itu Glan yang datang bersama Ishla. Amine pergi untuk memeluk putrinya itu.
"Kau dari mana saja sayang? Ibu sangat mengkhawatirkanmu." ucap Amine.
Amine merasakan tangan Ishla yang begitu saja terlepas dari pelukannya. Ketika dilihat ternyata Ishla sudah pingsan. Amine meminta Glan untuk membawa Ishla ke kamarnya. Dia segera menghubungi dokter pribadinya. Glan memberitahu Amine jika dia melihat Ishla sedang duduk di dekat selat. Begitu banyak kesedihan yang dia rasakan. Selesai diperiksa dokter memberitahu jika Ishla demam tinggi. Tubuhnya sangat dingin. Butuh beberapa jam agar suhu tubuhnya itu kembali normal. Dokter juga memberitahu Amine jika Ishla kurang istirahat. Dia kurang asupan makanan sampai membuat tubuhnya itu lemas. Dokter menyarankan jika suhu tubuhnya itu tidak turun sampai besok pagi maka Ishla secepatnya harus dibawa ke rumah sakit. Amine sangat berterima kasih jika bukan karena Glan mungkin sampai saat ini Ishla belum sampai di rumah. Sebelum Glan pulang, Amine mengajaknya untuk berbincang sebentar. Dia menanyakan hal yang sangat serius pada Glan.
"Kenapa kau begitu peduli pada putriku, nak?" tanya Amine.
"Aku sangat mencintai Ishla, nyonya. Saat aku bertemu dengannya, disaat itulah aku mulai menaruh hati padanya." ucap Glan.
"Benarkah?" tanya Amine.
__ADS_1
Glan tidak perlu lagi menyembunyikan semua ini. Dia memang benar-benar mencintai Ishla. Amine yang mendengar hal itu merasa sangat senang. Dia lebih setuju jika Ishla menjalin hubungan dengan Glan dibandingkan dengan Aiyaz. Glan akan tetap menunggu Ishla walau dia tahu laki-laki yang dicintai Ishla hanyalah Aiyaz. Tapi, selama janur kuning belum melungkung, selama cincin belum terlingkar di jari, dan selama belum ada janji suci pernikahan yang terlafalkan maka Glan tidak akan berhenti untuk memperjuangkan Ishla.