
Ishla sangat takut melihat kemarahan diwajah Nilam.
"Kau... Kau orang yang sudah membuat hidup putriku menderita!"
"Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu padaku? Aku saja tidak tahu siapa putrimu itu!" Nilam memberitahu Ishla jika Aiyla Shahinaz Diaz adalah putrinya. Ishla terkejut mendengarnya. Nilam menyalahkan Ishla untuk apa yang terjadi pada Aiyla. Dia sudah merebut Aiyaz darinya.
"Ingat ini! Tiga tahun yang lalu, saat Aiyaz koma di rumah sakit, Aiyla lah yang ada disampingnya. Bukan kau!"
"Sudah hentikan! Tolong bawa kapal ini menepi!" Ishla merasakan sakit di kepalanya.
"Apa kau sudah mengingat semuanya? Apa kau sadar, jika kau itu tidak pantas untuk Aiyaz? Hanya Aiyla yang pantas untuknya!" Nilam mencoba untuk mencelakakan Ishla dengan menceburkannya ke laut.
"Apa yang akan lakukan?"
"Diamlah! Setelah ini tidak ada lagi yang akan mengganggu hubungan Aiyaz dan putriku."
"Tolong jangan lakukan itu padaku!"
Ahhh... Byur! Nilam langsung mengendalikan kapal dan membawanya ke tepi.
"Tolong!!! Ishla tidak bisa berenang karena kakinya yang lumpuh. Dia hanya bisa melambaikan tangannya dan berharap seseorang dapat menolongnya.
Ishla? Amine baru saja mendengar suara Ishla. Dia seperti berteriak minta tolong. Ishla sudah tidak sanggup lagi bernapas. Tubuhnya terbawa arus sampai ke dasar laut.
*Setiap kehidupan memiliki waktu batasan. Harapan, Impian, akan berjalan beriringan namun, kelak akan pupus oleh kenyataan diluar dugaan. Setiap insan akan bertahan dalam keadaan apapun selagi waktu masih memberikannya kesempatan. Jika waktu telah habis termakan, setiap jiwa akan kembali ke hadapan sang pencipta dengan penuh pertanggungjawaban*.
Tit... Tit... Tit... Suara dari dalam ruangan yang membuat setiap jiwa bergetar. Sesuatu yang membuat harapan datang setelah lulus ujian. Terlihat Amine duduk di lantai tak berdaya. Dia harus melihat putrinya kembali ke masa sulit.
Malam itu, beberapa penyelam melakukan eksperimen ke dasar laut. Mereka meneliti keadaan di bawah laut saat malam hari. Tidak sengaja salah satu dari mereka ada yang melihat tubuh Ishla terdampar disana. Mereka membawa Ishla naik ke permukaan. Amine mendengar kabar jika seseorang baru saja ditemukan di dasar laut. Amine langsung pergi melihat gadis itu.
"Ishla..., teriak Amine. Dia meminta orang untuk membawanya ke rumah sakit.
Seorang perawat membawa Ishla keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan putriku, dokter?"
"Aku belum bisa mengatakan apapun untuk saat ini. Tubuhnya sudah lama berada di dalam air, karena itu aku akan memindahkannya ke ruang penghangat untuk mengembalikan suhu tubuhnya agar normal kembali."
"Siapa yang sudah melakukan semua ini padamu?" Amine terlihat sangat marah. Dia meminta rekaman CCTV yang ada di restoran itu. Untuk saat ini, Amine tidak bisa meninggalkan Ishla. Dia menyuruh Zafer untuk membawa rekaman CCTV itu kepadanya.
Saat Nilam akan masuk, dia dikejutkan dengan tubuh Ethan yang terbaring di luar. Dia masuk untuk memberitahu semua orang. Adlar saat itu pergi ke dapur membawa segelas air dan menyiramkannya pada wajah Ethan.
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Biarkan saja. Aku sudah memperingatkannya untuk tidak lagi mabuk, tetapi apa yang dia lakukan? Dia sama sekali tidak berubah." Adlar kembali masuk. Nilam mengelap air yang ada di wajah Ethan.
"Ethan, bangunlah!"
"Ibu... Nilam langsung menutup hidungnya. Dia tidak tahan dengan bau alkohol yang keluar dari mulut Ethan. Dia meminta orang untuk membawanya ke kamar. Azizah merasa ada yang aneh, dia melihat keadaan di sekeliling rumahnya. Dia yakin ada orang yang sengaja membuat Ethan mabuk berat dan menaruhnya di depan rumah. Azizah melihat mobil Ethan dalam keadaan baik-baik saja tanpa goresan sedikitpun.
Zafer datang dengan membawa rekaman CCTV itu. Amine sangat terkejut ketika tahu Nilam lah yang membawa Ishla pergi dari tempat itu. Rekaman CCTV itu juga dengan sangat jelas memperlihatkan Nilam yang merebut dan melempar ponsel milik Ishla.
Argh... Amine terlihat sangat marah.
"Aku akan menghancurkan hidupmu, juga putramu. Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan menjadi pemenang, dan siapa yang akan menjadi pecundang!"
Malam itu, Aiyaz langsung pergi ke rumah sakit setelah mengetahui kondisi Ishla yang sebenernya. Amine masih menunggu hasil dari dokter. Amine sedang memikirkan cara untuk membalas dendam pada Nilam dan Ethan. Mereka tidak akan menerima hukuman dengan mudah, jika bisa mereka harus merasakan apa yang dirasakan Ishla saat ini. Amine tidak akan melibatkan polisi dalam hal ini, dia sendiri yang akan menghukum para penjahat itu. Aiyaz datang menghampiri Amine, "Nyonya, bagaimana keadaan Ishla?"
"Untuk apa kau datang?" ucap Amine tanpa melihat wajah Aiyaz.
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya."
"Putriku tidak membutuhkanmu, jadi pergilah sekarang juga darisini!"
"Aku akan menunggunya sampai dia sadar."
"Pergi dari sini!" teriak Amine. "Aku tidak ingin lagi melihat wajahmu, apalagi sampai kau mendekati putriku lagi." Seorang perawat meminta Amine untuk tetap tenang. Dia menyuruh perawat untuk mengusir Aiyaz dari hadapannya.
"Bagaimana keadaan putriku, Dok?"
"Maaf, Nyonya. Aku harus menyampaikan semua ini padamu, putrimu Ishla, dia koma."
"Koma?" Amine meminta dokter untuk mengizinkannya melihat Ishla. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang hening tanpa menyisakan suara sedikitpun.
Ahhhh... Amine berlutut sambil berteriak mengungkapkan semua kesedihan hatinya.
"Kenapa ini semua harus terjadi lagi pada putriku? Kenapa???" Amine menangis sejadi-jadinya meluapkan segala isi hatinya.
Ibu... Amine berdiri dan melihat Ishla ada dihadapannya.
"Nak... Kau kembali?"
"Ibu jangan bersedih, tidak lama lagi aku akan kembali untuk menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan." Amine menghapus air matanya, saat dia akan menyentuh Ishla, tiba-tiba tubuh itu menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Pagi datang menyambut, Amine terbangun karena suara keramaaian di rumah sakit pagi itu. Dia masih melihat Ishla tertidur, dia meminta Zafer untuk menemani Ishla di rumah sakit. Dia harus pergi untuk melakukan sesuatu. Amine kembali ke rumah dan membersihkan dirinya. Setelah itu, dia meminta seseorang untuk mengirimkan sebuah surat ke kediaman Diaz.
Pagi itu Ethan masih merasakan pusing di kepalanya. Saat bangun Ethan langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Dia langsung membersihkan dirinya. Saat akan mengenakan pakaian, Nilam datang ke kamarnya.
"Apa kau mabuk semalam?" Ethan mencoba untuk mengingat sesuatu. Ethan yakin jika Ashika yang sudah membuatnya mabuk tadi malam. Ethan memegang kepalanya bingung.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Semalam gadis itu sempat menanyakan sesuatu padaku, tapi entah itu apa." Ethan mempercepat langkahnya, dia harus bertemu Ashika hari ini juga.
Saat pelayan sedang membersihkan halaman, seseorang datang dan memberikan sebuah surat pada pelayan itu.
"Untuk siapa surat ini?"
"Seseorang mengirimnya untuk Nyonya Nilam Diaz." Pelayan segera menemui Nilam dan memberikan surat itu padanya.
"Surat dari siapa ini?"
"Aku tidak tahu, Nyonya."
"Baiklah, kau bisa pergi!"
'Aku tahu kecelakaan yang terjadi tiga tahun yang lalu, dimana putramu menabrak seorang gadis. Jangan pikir kalian bisa hidup dengan tenang! Cepat atau lambat aku akan membongkar semua kejahatan putramu '
Isi surat itu mengejutkan Nilam. Dia menyobek surat itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Siapa yang berani mengancam ku seperti ini? Apa mungkin ada saksi mata yang melihat kejadian itu?"
Ethan tiba di rumah Kemal. Dia sangat terburu-buru untuk menemui Ashika. Saat tahu Ethan yang datang, Bahar terlihat sangat emosi.
Plak! Satu tamparan keras tepat di wajah Ethan.
"Apa yang kau lakukan pada putriku semalam?" Ethan terlihat sangat bingung.
"Kau mengajaknya pergi dan membuatnya mabuk lalu, membiarkan dia pulang sendirian? Pria macam apa kau ini? Sangat tidak bertanggungjawab!" Ethan semakin bingung, yang dia ingat semalam Ashika sama sekali tidak minum, lalu bagaimana bisa dia pulang dalam keadaan mabuk?
Ibu... Ashika terlihat keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih berantakan.
"Ibu, apa kau sudah membuat air perasan jeruk lemon untukku? Bau alkohol di mulutku masih tercium sangat kuat."
"Baiklah, Ibu akan membuatkannya untukmu." Ashika membuka matanya lebar-lebar, dia berjalan ke arah pintu dan melambaikan tangannya manja, "Hey, Ethan! Kapan kau datang?" Ashika menatap Ethan dengan tatapan layu. Dia berterimakasih pada Ethan karena sudah mengajaknya minum tadi malam. Itu kali pertama Ashika minum, dan dia sangat menikmatinya. Bahar mengusir Ethan dari rumahnya. Dia membawa Ashika kembali masuk. Bahar melihat di jendela rumahnya untuk memastikan jika Ethan sudah pergi jauh.
"Dia sudah pergi." Bahar dan Ashika saling tos, rasanya mereka ingin sekali tertawa melihat wajah Ethan yang sangat kebingungan.
"Kau sangat pintar memainkan drama ini, sayang."
"Ibu juga sangat hebat, bahkan kau menampar wajah Ethan tadi."
Tadi malam, sebelum pulang Amine meminta Ashika untuk berpura-pura mabuk agar Ethan tidak curiga padanya. Dugaan Amine selalu benar, Ethan datang ke rumahnya dan tidak akan terpikirkan jika Ashika juga sama mabuknya dengan Ethan.
Di dalam perjalanan Ethan terus saja memikirkan semua itu, dia merasa sangat bingung.
"Jika bukan Ashika, lalu siapa yang bertanya padaku tadi malam?" Ethan sungguh tidak mengingatnya. Dia dalam keadaan sangat mabuk tadi malam.
Saat koma, Ishla mendapatkan semua ingatannya tiga tahun yang lalu. Walau dalam keadaan tidak sadar, semua kejadian itu terputar kembali di kepala Ishla seperti sebuah film lama dimana setiap tokoh dan kejadian tergambar dengan sangat jelas. Film itu berhenti di akhir cerita Ishla, dimana Nilam menceburkannya ke laut.
Tidak... teriak Ishla sadarkan diri. Zafer yang melihat keanehan itu langsung memanggil dokter. Saat itu juga Amine datang dan sangat senang jika putrinya sudah kembali sadar.
__ADS_1