CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
MENEMUKAN SEBUAH FOTO


__ADS_3

Zafer meminta alamat rumah Ethan pada Giorgino, "Ini alamat rumahnya yang dulu, tapi aku tidak bisa memastikan jika dia masih tinggal disana." Malam itu juga Amine pergi ke alamat yang diberi Giorgino.



"Sudah cukup, aku sangat lelah. Kita akan melanjutkannya lagi besok." ucap Ishla.


Ishla meminta Ashika untuk membawanya ke dapur. Dia ingin sekali dibuatkan minuman yang segar. Sedari tadi Ishla tidak melihat ibunya. Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak mungkin ibunya tidur secepat itu.


"Dimana Ibu?" tanya Ishla. "Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?"


"Nyonya pergi ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal."


Saat itu Ishla dan Ashika sama-sama sibuk mempersiapkan materi untuk presentasinya besok.


Di dalam mobil, Aghna melihat Aiyaz yang lagi-lagi melamun.


"Kakak, kenapa kau sering sekali melamun? Apa ada yang sedang kau pikirkan?"


"Ishla kembali saat aku akan bertunangan dengan orang lain." Yang menjadi pertanyaan Aiyaz sekarang ini, kenapa Ishla tidak mengingatnya sama sekali?


"Kakak, apa kau tidak ingin mencari tahu kenapa dia sampai tidak bisa mengingatmu? Aku tidak ingin kau menyesal nantinya karena sudah salah dalam mengambil langkah."


Aiyaz meminta Aghna untuk mencari tahu dimana Ishla tinggal.


"Jadi kau memanfaatkan ku untuk keuntungan mu sendiri, begitu?" ucap Aghna sedikit kesal.


"Aku mohon, hanya kau satu-satunya harapan yang ku punya untuk menyelidiki semua ini."


"Baiklah, karena aku ini gadis yang baik, aku akan menerimanya."


Zafer tiba di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Amine meminta Zafer untuk mencaritahu siapa pemilik rumah itu.


Zafer masuk dan menekan bel rumah yang ada di dekat pintu. Tidak lama seorang perempuan paruh baya keluar.


"Kau siapa? Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya wanita tua itu.


"Apa ini benar rumah Ethan?" tanya Zafer.


"Siapa Ethan? Aku tidak mengenal nama itu. Semua keluargaku tidak ada yang bernama Ethan." Tidak lama seorang laki-laki muncul dari belakang. Dia sepertinya anak dari wanita tua itu.


"Ada apa?" tanya laki-laki itu heran.


"Dia bertanya tentang Ethan, entah siapa dia ini." Pria itu meminta ibunya untuk masuk. Pria itu memberitahu Zafer jika rumah ini sudah dibelinya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Tentang pemilik rumah ini dia tidak lagi mengingatnya. Setahu dia pemiliknya pergi ke Amerika saat itu. Setelah mendapat informasi, Zafer kembali masuk ke dalam mobil.


"Apa Ethan tinggal disana?" tanya Amine.


"Tidak, Nyonya. Dia bilang keluarga sebelumnya pergi ke Amerika." Amine langsung teringat Selim. Dia akan meminta bantuan Selim untuk mencari tahu mengenai identitas Ethan yang sebenarnya.


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Zafer.

__ADS_1


"Kita harus segera pulang. Tentang masalah ini, aku yang akan mengurusnya nanti."


Sebelum pulang, Amine meminta Zafer untuk mengantar Mustafa ke rumahnya. Ini sudah sangat malam, sangat berbahaya jika dia pulang sendirian.


Nilam menemui Aiyla di kamarnya.


"Kau sedang apa?" tanya Nilam.


"Dua hari lagi aku akan membintangi sebuah iklan, tapi baju yang ada di lemari sudah terpakai semua. Tidak mungkin aku mengenakan baju yang sama saat pemotretan."


"Kenapa kau mempermasalahkan semua itu? Kau bisa pergi untuk berbelanja membeli semua barang yang kau butuhkan, minta Aiyaz untuk menemanimu!" ucap Nilam.


Belum saja Aiyaz sampai di rumah, Aiyla sudah menghubunginya.


"Ada apa?" tanya Aiyaz.


"Apa besok kau sibuk?" ucap Aiyla.


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Kau harus temani aku belanja, oke?"


Belum Aiyaz menjawabnya, Aiyla sudah menutup teleponnya.


"Ada apa Kakak?"


"Aiyla memintaku untuk menemaninya belanja, besok." ucap Aiyaz.


"Kalian belum tidur?" tanya Amine.


"Masih ada tugas yang harus kami selesaikan." Amine menemani mereka sampai tugasnya selesai.


"Ibu, apa aku ini gadis yang buruk?" tanya Ishla.


"Itu tidak benar, sayang. Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Amine.


Ishla menceritakan tentang kejadian siang tadi ketika dia dan kakak dari Aghna bertemu saat akan makan siang. Dia mengatakan jika Ishla sudah meninggalkannya saat dia kecelakaan.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Amine.


"Tidak, Ibu. Tetapi dia bersikap seakan dia sudah mengenalku sejak lama."


"Siapa nama laki-laki itu?"


"Aiyaz." Amine terkejut mendengarnya. Mereka sudah bertemu kembali setelah tiga tahun berpisah.


"Apa yang dia katakan?" tanya Amine.


"Hanya itu yang dia katakan."

__ADS_1


"Aiyaz harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ishla." ucap Amine dalam hatinya. Amine tidak ingin jika Aiyaz berfikir buruk pada Ishla karena sudah meninggalkannya. Dia akan menceritakan semuanya besok.



Pagi-pagi sekali, Aiyla pergi untuk menemui Aiyaz. Dia ingin mengajaknya untuk sarapan di luar. Sejak tadi malam Aiyaz belum sempat tidur. Dia terus saja memikirkan Ishla.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Ishla?" tanya Aiyaz dalam hatinya. Lamunannya kabur ketika bel rumahnya berbunyi.


"Siapa yang datang pagi-pagi sekali?" ucap Aiyaz. Setelah membuka pintu...


"Surprise!!! Aiyla langsung memeluk Aiyaz. Dia terlihat sangat bahagia pagi ini.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya Aiyaz.


"Pertanyaan macam apa itu? Apa aku tidak boleh mengunjungi calon tunanganku sendiri?" Aiyla langsung masuk dan duduk di sofa. Dia melihat barang-barang Arash tergeletak di atas meja.


"Apa kau tidak tidur semalam?" tanya Aiyla.


"Aku harus menyelesaikan arsitektur pembangunan proyek ini." Aiyla memperhatikan Aiyaz yang sedari tadi fokus pada pekerjaannya itu, kehadirannya seperti tidak dianggap.


Pagi itu Aghna baru saja turun untuk sarapan.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi."


"Kakak ipar, kau disini?" tanya Aghna.


"Aku sengaja datang untuk mengajak Aiyaz sarapan di luar."


"Itu tidak perlu." Aiyaz langsung menolaknya. Pelayan di rumahnya sudah menyediakan makanan untuknya, jika dia makan di luar, makanan itu tidak akan termakan dan akhirnya dibuang. Lagipula mereka masih bisa makan di luar lain waktu. Ketika Aiyla bangkit dari duduknya, dia melihat sesuatu di bawah sofa dekat tempat duduk Aiyaz. Aiyla mengambilnya.


"Apa ini?" Aiyla membuka matanya lebar-lebar saat melihat itu adalah foto Ishla.


"Apa-apaan ini? Untuk apa kau masih menyimpa fotonya?" tanya Aiyla sambil melempar foto itu ke arah Aiyaz.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Aiyaz tidak mengerti. Aiyaz melihat foto yang baru saja Aiyla lempar ke arahnya. Itu adalah foto Ishla yang selama ini dia simpan di dalam dompetnya.


"Sebentar lagi kita akan bertunangan, jadi tolong singkirkan jauh-jauh foto itu darimu! Jangan sampai kau berubah pikiran karena gadis di foto itu." Aiyla terlihat sangat marah. Dia mengambil foto Ishla dari tangan Aiyaz, lalu pergi.


"Kau akan membawa foto itu kemana?" tanya Aiyaz.


"Aku akan membakar foto ini." Aiyaz mengikuti langkah Aiyla, benar saja Aiyla menyalakan api dan mulai membakar foto itu. Aiyaz merebut foto itu dan harus menahan sakit karena bekas api itu menempel ditangannya.


"Apa yang kau lakukan? Lihatlah, tanganmu menjadi terluka!"


"Luka ditangan ini tidak ada apa-apanya bagiku, dari pada aku harus melihat foto ini terbakar."


"Sebesar itukah kau mencintainya?" tanya Aiyla.

__ADS_1


"Lebih besar dari apa yang kau pikirkan." ucap Aiyaz melangkah masuk. Aghna yang melihat semua itu hanya bisa diam, sebegitu besar Aiyaz mencintai Ishla. Bahkan, foto Ishla saja sangat berharga, dia harus terluka untuk menyelamatkan foto itu. Aghna melihat Aiyla pergi dengan sangat marah.


"Semoga saja dia tidak melakukan hal aneh lagi." ucap Aghna.


__ADS_2