
Siang ini Aiyla meminta ibunya untuk menemaninya belanja. Saat dalam perjalanan, Aiyla terlihat diam saja.
"Baju seperti apa yang kau inginkan?" tanya Nilam.
Aiyla tidak menjawabnya, banyak sekali sesuatu yang Aiyla pikiran dalam kepalanya.
"Aiyla?" Dia tersadar dari lamunannya.
"Kau mengatakan sesuatu, Ibu?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nilam.
"Aku takut akan masa depanku."
Kejadian tadi pagi membuat Aiyla ragu apakah Aiyaz memang benar-benar mencintainya, atau dia hanya merasa kasihan padanya. Foto itu menunjukan jika Aiyaz masih memikirkan Ishla, dia masih sangat mencintainya. Sebentar lagi pertunagan Aiyaz dan Aiyla akan dilakukan, dia tidak ingin Aiyaz berubah pikiran dan membatalkan pertunangannya. Aiyla tidak bisa membayangkan jika dia harus hidup tanpa Aiyaz.
"Aku takut sekali Ibu, jika Aiyaz meninggalkanku dan kembali pada Ishla." ucap Aiyla.
"Kau tidak perlu khawatir, sayang. Ibu akan mengurus semuanya. Ibu berjanji akan membuat Aiyaz menjadi milikmu selamanya."
"Benarkah?" tanya Aiyla.
"Ibu akan memastikan itu padamu."
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Amine mengajak mereka berkeliling untuk melihat-lihat.
"Jika ada yang kalian suka, katakan saja!" ucap Amine. "Kalian bisa membeli apapun yang kalian suka." Bukan hanya untuk mereka, Amine juga meminta Ashika untuk membelikan sesuatu untuk kedua orangtuanya, tidak lupa juga untuk Zafer.
Ishla memilih untuk membeli buku. Dia lebih tertarik pada buku, daripada fashion seperti baju, tas, dan lainnya. Ketika akan memilih barang, Ashika melihat dulu harganya.
"Wah.. harganya sangat mahal." Ashika tidak jadi membelinya.
"Kenapa kau tidak jadi mengambilnya?" tanya Amine.
"Harganya sangat mahal, Nyonya."
"Tidak perlu memikirkan harganya, kau ambil saja barang yang ingin kau beli."
Amine melihat Ishla yang masih memilih-milih buku. Dia meminta Ashika untuk menemaninya. Amine harus pergi mengambil ponsel yang tertinggal di mobilnya.
Sesampainya disana, Nilam mengajak Aiyla pergi ke toko baju milik temannya. Baju disana sangat bagus dan terkenal. Banyak orang penting yang sering memesan baju di toko itu. Di sisi lain, Ashika membawa Ishla berjalan melewati toko-toko baju yang ada disana.
"Apa yang kau beli?" tanya Ishla.
"Aku ingin membeli sofa baru, sofa di rumah sudah rusak." Ishla menunjukkan toko baju yang sangat berkualitas dimana Amine selalu memesan baju di toko itu untuk acara apapun. Merek baju itu sangat terkenal, begitu juga dengan desainernya, dia adalah teman lama Amine saat SMA.
Ishla meminta Ashika untuk membawanya kesana. Kebetulan Ashika akan membelikan baju untuk ayah dan ibunya.
Saat akan memasuki toko, seorang anak kecil berlarian dan menabrak Aiyla, sampai minumannya tumpah mengenai bajunya. Dia pergi ke toilet untuk membersihkannya. Aiyla terus saja membersihkan bajunya saat berjalan, sampai-sampai dia tidak melihat ke depan.
"Aduh," Aiyla terjatuh, seperti ada sesuatu yang menghalangi jalannya. Setelah dilihat ternyata sebuah kursi roda.
"Kau tidak apa-apa?" Ishla membantu Aiyla untuk bangun.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku! Aiyla mengibaskan tangannya. Saat berdiri, Aiyla terkejut ketika melihat Ishla di hadapannya.
"Kau?" ucap Aiyla sambil menunjuk Ishla.
"Kenapa kau ada disini? Bukankah kau pergi sejak tiga tahu yang lalu? Untuk apa kembali lagi?" ucap Aiyla dengan nada tinggi.
"Hey, pelankan suara mu itu?" pinta Ashika.
"Apa yang kau yang kau bicarakan? Aku tidak mengenalmu sama sekali," ucap Ishla.
Ishla meminta Ashika untuk segera pergi dari sana, tapi Aiyla menahan kursi rodanya.
"Kau akan kemana? Kau masih berurusan denganku." Aiyla meminta perhatian semua orang yang ada di tempat itu, dia menyuruh mereka untuk berkumpul.
"Ada apa ini?" Mereka saling bertanya satu sama lain. Nilam sudah menunggu lama, tapi Aiyla belum juga kembali. Nilam pergi mencarinya.
"Ada apa itu?" Dari jauh tampak orang-orang sedang berkerumun. Nilam yang tengah mencari Aiyla, perhatiannya teralihkan pada keramaian itu, dia pergi untuk melihatnya.
Saat Amine tiba, Ishla dan Ashika sudah tidak ada di tempat.
"Kemana mereka pergi?" tanya Amine sambil melihat ke sekeliling. Dia mencoba menghubungi ponsel Ishla, tapi tidak tersambung. Dia mencoba menghubungi Ashika.
"Halo, Nyonya."
"Kalian dimana?" tanya Amine.
"Kami terjebak dalam kerumunan."
"Tetap jaga Ishla, aku akan datang kesana."
"Aiyla? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tunggu Ibu, biarkan aku bicara dulu."
"Aku ingin kalian tahu, gadis di kursi roda ini gadis yang sangat buruk. Dia meninggalkan kekasihnya tiga tahun yang lalu, dimana saat itu kekasihnya kritis."
"Sudah hentikan!" teriak Ishla. "Kau ini sebenarnya siapa? Apa aku memiliki masalah denganmu?" tanya Ishla.
"Masalahnya ada dalam dirimu. Tidak seharusnya kau kembali. Aku sangat membencimu."
"Sudahlah, ayo pergi! Nilam membawa Aiyla pergi dari sana.
"Untuk apa kalian masih berdiri disini? Cepat bubar!" ucap Ashika.
Tidak lama Amine datang. Amine melihat putrinya menangis.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Ishla tidak tahu lagi harus mengatakan apa, setiap orang baru yang ditemuinya selalu mengatakan hal buruk padanya.
"Ayo, ingatlah sesuatu!" ucap Ishla sambil memegang kepalanya.
"Sudah hentikan, nanti kepalamu bisa sakit." Aghna memberitahu Amine jika baru saja ada seorang gadis yang mengatakan di hadapan banyak orang jika Ishla itu sudah meninggalkan kekasihnya saat kritis. Dia juga mengatakan bahwa dia sangat membenci Ishla.
"Dimana orang itu?" tanya Amine.
"Dia pergi kesana." Ashika memberitahu ciri-ciri gadis itu. Amine meminta Ashika untuk membawa Ishla ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ibu, kau ini apa-apaan? Seharusnya kau biarkan saja aku mempermalukan dia di hadapan banyak orang." Nilam mengingatkan Aiyla jika dia itu keturunan Diaz sekaligus seorang model terkenal. Nilam tidak ingin sikapnya tadi membuat reputasi Aiyla menjadi jelek.
"Aku heran kenapa dia pura-pura tidak mengenaliku?" tanya Aiyla.
"Bisa jadi dia itu memang benar-benar hilang ingatan. Kau lihat tadi, dia duduk di kursi roda."
"Apa Aiyaz sudah bertemu dengan Ishla?" tanya Aiyla.
"Cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu. Kau tidak boleh lengah, kau harus terus di samping Aiyaz, jangan biarkan Ishla mendekati Aiyaz."
Amine terus saja mencari gadis dengan ciri-ciri yang disebutkan Ashika. Dia melihat gadis itu baru saja keluar dari lift, Amine berlari untuk mengejarnya. Saat akan keluar, seorang perempuan menghampiri Aiyla, dia sering melihat Aiyla di internet, dia seorang model. Perempuan itu meminta foto dan tanda tangan Aiyla. Langkah Amine berhenti,
"Apa gadis yang Aghna maksud itu Aiyla?"
Tidak lama Nilam datang dan menggandeng tangan putrinya itu, lalu pergi.
"Jika benar kalian yang melakukan semua itu, aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja, setelah apa yang sudah kalian lakukan pada putriku."
Malam datang menghampiri. Setibanya di rumah, Ishla mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamarnya.
"Nyonya... Ashika menatap Amine. Dia melihat sikap Ishla yang tidak seperti biasanya.
"Biarkan dia sendiri dulu." ucap Amine.
Malam itu Zafer menemui Giorgino di arena balapan. Dia melihat Giorgino sedang berbincang dengan temannya.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Zafer yang baru saja datang.
"Tentu saja," Zafer meminta mobil miliknya kembali. Kebetulan saat balapan malam ini, Giorgino menggunakan mobil milik Zafer.
"Kau sudah memberikannya padaku, jika kau mau mobil itu, kau harus mengalahkan ku dalam balapan malam ini. Bagaimana? Kau mau?" Zafer tidak ingin membuang waktu dengan ikut balapan, dia hanya ingin mobil itu kembali.
"Jika kau tidak bisa memberikannya padaku begitu saja, aku akan membayar mobil itu berapapun harganya." ucap Zafer.
"Berapapun?"
"Berapapun."
Giorgino memikirkan tawaran Zafer, ini hanyalah mobil biasa yang semua orang bisa mendapatkannya. Giorgino memikirkan harga yang pas untuk mobil itu."
"Baiklah, aku sudah memikirkannya. Kau harus membayar dua kali lipat harga mobil ini." Zafer terkejut mendengarnya.
"Apa kau becanda?" tanya Zafer.
"Itu jika kau mau, jika tidak jangan berharap mobil ini akan kembali padamu."
Zafer menghubungi Amine dan memberitahu permintaan harga untuk mobil itu. Entah berapa banyak kekayaan yang Amine punya, dia tidak memiliki masalah dengan harga mobil itu. Dia langsung menyetujuinya. Zafer kembali menemui Giorgino.
"Aku terima tawaranmu itu."
"Waw.. apa kau ini orang yang sangat kaya raya?" tanya Giorgino.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak basa-basi. Berikan kunci mobilnya padaku, besok pagi uang itu akan sampai padamu."
__ADS_1