CINTA DALAM HIDUPKU

CINTA DALAM HIDUPKU
ASHIKA DAN AGHNA MENJADI TEMAN


__ADS_3

Saat mobil Zafer akan pergi, Nilam melihat Aiyaz berada di kampus bersama Ishla.


"Ayo cepat ikuti mobil itu!" ucap Azizah.


"Tidak, Ibu. Ada hal lebih penting daripada itu." Nilam memberitahu Azizah tentang keberadaan Aiyaz di kampus.


"Gadis itu? Kenapa Aiyaz bisa bersama gadis itu?" tanya Azizah.


Nilam tidak tinggal diam, dia turun dan menemui Aiyaz.


"Bibi...


Plak!!! Satu tamparan keras melayang di wajah Aiyaz.


"Kenapa kau menamparku, Bibi?" Nilam melihat Ishla dengan tatapan jahat.


"Untuk apa kau disini? Aiyla pergi ke kantormu, tapi kau disini bersenang-senang dengan gadis tidak tahu malu ini!"


"Cukup Bibi! Jaga sikapmu itu! Semua orang melihatmu. Jangan sampai aku beritahu semua orang siapa dirimu. Jika itu itu sampai terjadi, nama baikmu akan hancur."


"Kau... Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu dan gadis ini!"



Nilam kembali ke mobil. Dia terlihat sangat marah. Dia khawatir jika apa yang ditakutkan Aiyla benar-benar terjadi. Aiyaz akan meninggalkannya dan kembali pada Ishla.



"Kau tidak apa-apa? Apa wajahmu sakit?" Ishla memegang wajah Aiyaz.


Sentuhan lembut tangan Ishla, kini bisa Aiyaz rasakan kembali.


"Aku tidak apa-apa." Ishla segera melepaskan tangannya dari wajah Aiyaz.


"Maaf...


Aghna membawa Ashika ke suatu tempat.


"Apa maksudmu menjauhkan ku dari Ishla? Apa kau cemburu melihat kedekatan ku dengan Ishla?"


"Sudahlah, kenapa kau terus saja mengoceh? Telingaku sakit mendengarnya."


Aghna memberitahu Ashika jika Ishla dan kakaknya adalah sepasang kekasih. Mereka bertemu kembali setelah tiga tahun berpisah. Aghna membawa Ashika pergi dari sana agar kakaknya bisa bicara berdua dengan Ishla.


"Jika mereka sepasang kekasih, kenapa Ishla tidak pernah menceritakannya padaku?"


"Itu yang membuatku bingung. Sejak pertemuan pertama mereka, Ishla tidak ingat jika kakakku adalah kekasihnya. Terkejut lagi saat melihat Ishla duduk di kursi roda."


Ashika memberitahu Aghna jika Ishla lumpuh karena kecelakaan yang terjadi padanya tiga tahun yang lalu. Seseorang menabrak Ishla dan sampai saat ini pelakunya masih belum ditemukan. Bukan hanya itu, Ishla juga mengalami hilang ingatan. Dia tidak akan mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.


"Jadi... Itu sebabnya kenapa Ishla tidak mengingat kakakku?"


"Bisa jadi seperti itu...


Nilam memutuskan kembali ke rumah. Dalam perjalanan, Nilam mendapat telepon dari Aiyla.


"Halo, sayang. Ada apa?" tanya Nilam.


"Ibu, apa kau bisa membantuku untuk menghubungi Aiyaz? Dari tadi aku mencoba menghubunginya, tapi tidak diangkat." Mendengar hal itu, Nilam sangat marah pada Aiyaz karena sudah mengabaikan putrinya.


"Baiklah, Ibu akan mencoba menghubunginya." Bagaimana mungkin Nilam menghubungi Aiyaz, padahal dia sendiri tahu Aiyaz sedang bersama Ishla.


"Ibu, bagaimana ini? Aku tidak ingin putriku tahu jika Aiyaz masih mengejar-ngejar gadis itu."


"Kita akan memikirkannya nanti di rumah. Kau fokus saja ke depan."

__ADS_1



Selesai berbincang, Aghna mengajak Ashika pergi menemui Ishla.


"Tunggu dulu!" ucap Ashika.


"Ada apa?"


"Apa kita bisa berteman?" ucap Ashika sambil mengulurkan tangannya.


"Tentu saja. Aghna menjabat tangan Ashika. "Sekarang kita adalah teman." Ashika dan Aghna saling berpelukan.


"Sebagai teman yang baik, kita harus membuat Ishla mengingat semuanya, kita akan mempersatukan mereka kembali."


"Baiklah, aku sangat setuju dengan ide mu itu."



"Dimana dia?" ucap Ishla sambil mencari-cari keberadaan Ashika. Aiyaz melihat wajah Ishla sedikit pucat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Aiyaz.


"Aku baik-baik saja."


Aiyaz memegang jidat Ishla.


"Kau demam," ucapnya.


Tidak lama, Ashika dan Aghna datang. Mereka terlihat sangat akrab, padahal sebelumnya mereka menjaga jarak satu sama lain.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Ishla.


Ashika dan Aghna saling menatap.


Satu... Dua... Tiga...


Wah... Ishla sangat senang mendengarnya. Akhirnya mereka menjadi teman juga.


"Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat." ucap Ashika.


"Tubuhnya demam."


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengantar Ishla pulang, aku masih ada kelas hari ini." ucap Ashika.


"Ya... Aku juga masih ada kelas." sambung Aghna.


Siang itu, Aiyaz mengantar Ishla pulang ke rumah.


Amine hari ini pulang lebih awal karena merasa tidak enak badan. Dia meminta Selma membawakan teh panas ke kamarnya. Saat bersamaan juga, Ishla tidak bisa melanjutkan kelasnya karena demam. Ishla memberitahu pada Aiyaz dimana dia tinggal. Mobil Aiyaz berhenti di depan sebuah rumah yang tidak lain adalah rumah Amine yang pernah dia kunjungi beberapa hari yang lalu.


"Apa kau benar tinggal disini?" tanya Aiyaz.


"Iya, ini rumahku."


Kepala Ishla terasa sangat pusing. Dia tidak bisa lagi melihat dengan jelas. Saat Aiyaz akan memindahkan Ishla ke kursi rodanya, tiba-tiba dia pingsan. Aiyaz segera menggendong Ishla ke dalam.


"Permisi!! Selama langsung membuka pintunya dan terkejut melihat Ishla dalam keadaan tidak sadar.


"Apa yang terjadi pada Ishla?"


"Dia pingsan. Selma menyuruh Aiyaz untuk membaringkannya di sofa. Dia pergi memberitahu Amine tentang keadaan Ishla.


"Nyonya... Putrimu baru saja datang. Dia dalam keadaan pingsan, seorang pemuda membawanya kemari." Amine pergi untuk melihat keadaan Ishla. Dia sangat terkejut melihat kehadiran Aiyaz di rumahnya.


"Kenapa kau bisa ada di rumahku?" tanya Amine.

__ADS_1


"Dia yang membawa putrimu kemari, Nyonya. Dia juga orang yang kemarin datang mencarimu."


"Cepat hubungi dokter!"


"Baik, Nyonya."


Amine mencoba membangunkan Ishla. Aiyaz sekarang tahu jika Ishla adalah putri Amine. Itu berarti, Ishla juga putri kandung Adlar. Tidak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Ishla.


"Bagaimana keadaan putriku?"


"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Nyonya. Putrimu hanya demam biasa. Aku akan memberikan obat untuk menurunkan demamnya."


"Terimakasih, Dokter."


"Ibu.. ucap Ishla pelan.


"Iya, sayang. Ada apa? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Amine.


Ishla melihat Aiyaz yang berdiri di dekatnya. Dia berterima kasih karena sudah mengantarnya ke rumah. Amine meminta Selma untuk membawa Ishla ke kamarnya. Setelah itu, Amine berbicara empat mata dengan Aiyaz.


"Kau sudah tahu apa yang yang ingin kau ketahui bukan? Aku minta padamu untuk tidak memberitahu siapapun tentang ini."


"Tidak bisa, Nyonya. Paman harus tahu semuanya. Bagaimanapun dia ayah kandung Ishla."


"Sudah cukup!" Amine terlihat sangat marah. "Jangan berbicara tentang itu di hadapanku!"


"Kenapa Nyonya?"


"Tanyakan saja pada pamanmu itu! Apa yang telah dia lakukan selama ini sampai-sampai aku sangat membencinya? Dengarkan ini baik-baik! Jika sampai Adlar tahu semua ini darimu, aku pastikan kau tidak akan bisa lagi menemui putriku untuk selama-lamanya." Amine meminta Aiyaz untuk pergi dari rumahnya. Aiyaz bisa mempertimbangkan ucapan Amine itu. Jika dia memberitahu Adlar semua ini, dia akan kehilangan cintanya. Sedangkan Adlar, dia masih bisa mencari tahu sendiri kebenaran itu. Sebelum melangkah pergi, Aiyaz sempat membalikkan badannya kembali.


"Baiklah, Nyonya. Aku berjanji akan menjaga rahasia ini dari siapapun. Kau juga harus berjanji padaku untuk tidak melarangku untuk menemui Ishla." ucap Aiyaz melangkah pergi.


Sesampainya di rumah, Nilam memikirkan cara agar Aiyaz tidak lagi menemui Ishla.


"Bagaimana ini, Ibu? Sebentar lagi mereka akan bertunangan, tapi Aiyaz... Dia terus saja mendekati gadis itu. Bagaimana jika Aiyla tahu bahwa Aiyaz datang ke kampus dan menemui gadis itu?"


"Apa?" ucap Aiyla yang baru saja datang. "Dia menemui Ishla di kampus? Ibu... Kau tahu aku mencari Aiyaz sejak tadi, dan kau tahu dimana dia. Kenapa kau diam saja?"


"Jika Ibu mengatakan semuanya padamu, hatimu akan terluka. Ibu tidak ingin itu semua terjadi padamu."


"Sudahlah!" Aiyla pergi keluar untuk mencari udara segar.



Hari sudah malam. Nilam merasa khawatir karena sampai saat ini Aiyla belum juga datang. Sesampainya di rumah, Adlar pergi ke kamar Aiyla, tapi tidak mendapatinya disana. Adlar bertanya pada semua orang tentang keberadaan Aiyla.


"Dimana Aiyla? Apa dia belum pulang?"


"Apa peduli mu? Bukankah kau sibuk mengurus perempuan itu?"


"Sudah cukup! Aku bertanya tentang putriku, bukan hal lain." Adlar pergi untuk mencari Aiyla.


Malam itu, Aiyla duduk di dekat selat. Angin disana berhembus sangat dingin. Aiyla terlihat sangat sedih. Dia mencoba menghapus air matanya, tetapi air mata itu terus saja menetes membasahi wajahnya. Seseorang datang dan memasangkan baju hangat di tubuh Aiyla.


"Ayah?" Aiyla memeluk Adlar dan menangis dalam pelukannya.


"Kenapa kau disini? Semua orang sangat mengkhawatirkan mu di rumah." Aiyla menceritakan semuanya pada Adlar. Dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia sangat mencintai Aiyaz, tetapi Aiyaz mencintai orang lain.


"Apa aku ini buruk, ayah? Apa aku harus menjadi Ishla, agar Aiyaz mencintaiku?"


"Kau salah, sayang. Kau tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta seseorang. Kau cukup menjadi dirimu sendiri."


"Kenapa aku tidak seberuntung Ishla? Apa aku ini orang ketiga dalam hubungan mereka? Jika benar... Aku akan melepas Aiyaz. Pertunangan itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan lagi memaksa Aiyaz untuk mencintaiku. Mulai saat ini, aku dan Aiyaz hanyalah sebagai teman, tidak lebih dari itu." Adlar sangat senang mendengarnya. Aiyla mampu memutuskan sesuatu dengan sangat dewasa.


"Jika begitu, besok temui Aiyaz dan katakan semua padanya tentang keputusanmu ini."

__ADS_1


"Baiklah, Ayah."


__ADS_2